Cerita Dira

1097 Words
Aku berdiri, menatap Dira lalu menyeringai padanya. Setelah beberapa saat kami betadu tatap, kutinggalkan Dira dengan perasaan sakit hati yang teramat. "Sebenernya apa yang kalian sembunyiin dariku?" ucapku lirih lalu menuju kamar mandi demi mengambil air wudhu. Aku keluar kamar mandi, disambut dengan tatapan tajam suamiku. "Tunggu aku, kita jamaah." ucapnya lirih, tanpa menunggu jawabanku Dira langsung masuk ke kamar mandi. Aku menunggu Dira, sampai akhirnya kami sholat dzuhur secara berjamaah. "Aku mau bicara sama kamu." ucap Dira setelah kami selesai sholat. Aku hanya diam sambil menatap layar ponselku, menyibukkan diri untuk hal-hal yang tidak penting. "Kila.." panggil Dira pelan, membuatku terkekeh mendengarnya. "Setan apa yang merasukimu mas? Bisa-bisanya mulutmu itu memanggilku namaku dengan suara pelan." ucapku yang sengaja ingin memancing emosi Dira. "Maaf kalau selama ini aku kasar sama kamu." ucapnya pelan, aku menyeringai lagi. "Kamu mau ngomong apa? Minta aku tutup mata dan tutup mulut lagi? Agar hubunganmu dengan jal*ng itu tetep lanjut? Nggak perlu mas, tanpa kamu suruh pun, aku terlalu malas mengurusi hidup kalian." ucapku kesal, Dira tampak menatapku lekat. "Kamu mau apa sekarang?" tanya Dira lagi, masih dengan suara pelan. "Enggak ada." jawabku malas, kali ini aku merebahkan tubuhku di sofa, aku masih sibuk menggerakkan jempolku di layar ponselku. Terdengar suara embusan nafas Dira, panjang. Aku mencoba mengabaikannya karena aku sendiri bingung harus bagaimana. Jujur saja, aku ingin tahu cerita yang sebenarnya tentang Dira dan Dista. Tapi untungnya buat aku, apa? Toh aku ini bukan siapa-siapa Dira, ada atau enggak ada aku, tak akan memberi pengaruh pada kehidupan Dira. "Aku dan Dista kenal sejak pertemuan pertama kami di rumah sakit. Aku langsung suka sama dia, tapi ternyata dia udah punya pacar. Sampai suatu hari, dia nangis-nangis, cerita kalau dia diputusin pacarnya karena nggak direstui orang tua pacarnya." Dira mulai menceritakan kisahnya, aku hanya diam mendengarkannya. "Kami akhirnya semakin deket, sampailah aku dan dia melakukan hal yang nggak seharusnya kami lakukan. Tapi setelah itu, aku langsung menikahinya, walaupun secara siri. Karena dia nggak mau orang-orang di rumah sakit berpikir aneh tentangnya." lanjut Dira, aku menatapnya lekat. "Kami berjanji akan mengurus surat-surat pernikahan setelah kondisi membaik.". "Namun sebelum itu terwujud, Dista dateng dengan tangisannya lagi. Dia minta cerai karena mantan pacarnya melamarnya lagi, orang tuanya telah merestui hubungan mereka. Cih, Dista sangat mencintai pria itu, makanya dia milih ngelepas aku.". Aku masih diam, mataku menatap mata Dira yang tampak sayu itu dengan seksama. "Aku akhirnya ngelepas dia, percuma juga aku bertahan. Dia lebih mencintai pria itu.". "Terus kenapa kamu masih berhubungan dengannya sampai sekarang, mas?" tanyaku dengan suara gemetar. Dilihat dari cerita Dira, dialah yang terluka di sini. Tapi kenapa mereka masih berhubungan sampai sekarang kalau Dista sudah melepaskan Dira? "Dia nggak puas dengan nafkah batin yang suaminya beri." jawab Dira lirih, aku terkekeh, keras. "Jadi kamu cuma jadi b***k s*ks doang mas?!" teriakku tak percaya, Dira hanya menunjukkan wajah datarnya. "Aku mencintainya Kila, dia mengancam akan melakukannya dengan pria lain kalau aku nggak mau berhubungan dengannya lagi." sahut Dira lirih, kenapa sekarang aku merasa kasihan pada sosok pria kejam di hadapanku ini. "Kalau gitu, minta dia cerai dari suaminya lalu nikahi dia? Sesulit itukah?" teriakku kesal, "Dista sangat mencintai suaminya, dan aku sadar kalau aku cuma dijadikan pemuas nafsu untuknya. Tapi aku bisa apa? Aku juga sangat mencintai Dista, Kila. Aku nggak rela kalau dia sampai melakukan itu dengan banyak pria." teriak Dira yang terdengar gemetar. Aku terkekeh, tertawa, tak percaya dengan apa yang barusan aku dengar. Dira yang sangat sempurna, tampan, kaya, pintar, semuanya ia miliki, kecuali akal sehat karena dengan bodohnya ia mau menjadi b***k cinta istri orang. Dengan sadar diri ia tahu kalau ia hanya dimanfaatkan, namun ia tetap melakukannya. "Terus orang tua kamu tahu perjalanan cinta kamu yang sangat bod*h itu? Akhirnya kalian bohong ke orang tuaku dan memanfaatkan kekayaan kalian demi kepuasan kalian?" teriakku, Dira hanya diam. "Aku nggak tahu apa yang ayah sama ibu katakan sama orang tua kamu. Ketika aku tahu ayah sakit-sakitan karena aku, aku hanya mencoba menjadi anak yang berbakti dengan menikah sama wanita yang aku sendiri nggak kenal." jawab Dira lantang, aku terkekeh lagi. "Jujur saja, dari awal aku nggak mau melibatkan kamu di sini. Tapi aku juga nggak bisa abaikan kondisi ayah begitu aja. Ayah dan ibu adalah satu-satunya keluargaku, tak ada yang lain. Aku nggak sanggup membayangkan hidupku tanpa ayah, apalagi kalau ayah sakit-sakitan karena aku, aku nggak tega." lanjut Dira. Aku hanya diam, aku mencoba mencerna setiap cerita Dira dengan kepala dingin. Entah kenapa aku merasa Dira tak sepenuhnya salah, atau memang karena hatiku sudah terlanjur mencintainya, sehingga alasan apapun yang ia katakan, mampu meluluhkan hatiku? Entahlah. "Aku dari awal mencoba jaga jarak dari kamu agar hubungan kita tak lebih buruk dari ini. Tapi..." ucap Dira terhenti, aku diam dan menunggunya melanjutkan kata-katanya. "Tapi sekarang aku nggak rela lihat kamu sama pria lain, Kila. Aku seperti merasa memilikimu, aku marah saat tahu kamu pergi sama Soni. Hanya membayangkan kamu tidur dengannya, aku ingin sekali menghancurkan Soni saat itu juga." lanjut Dira yang seperti membuatku terbang, aku senang karena akhirnya ia mengaku cemburu padaku. Apabila aku memaafkan Dira dan memberinya kesempatan, apa mungkin kami bisa hidup bahagia nantinya? Tapi, apakah bisa Dira melepaskan Dista? Sementara selama ini, dia rela menjadi yang kedua hanya karena alasan dia mencintai wanita itu. Bagaimana kalau sampai mati pun, Dira mencintai wanita itu? Apa aku sanggup melihatnya? Mana mungkin. "Apa sekarang kamu mengakui perasaanmu padaku mas? Kamu mengakui kalau kamu mulai menyukaiku? Atau bahkan mencintaiku?" tanyaku lantang. "Entahlah, perasaanku ke kamu dan ke Dista berbeda Kila. Aku mencintai Dista, tapi aku tak rela kalau kamu dengan pria lain. Aku mau kamu menjadi istriku sepenuhnya, aku nggak ingin nyeraiin kamu." sahut Dira, aku terkekeh lagi. "Mantapkan hatimu mas! Pilih wanita jal*ng itu atau aku. Aku akan memaafkanmu kalau kamu tinggalin wanita itu. Tapi kalau kamu masih mempertahankannya, lepasin aku mas." pintaku, aku secara tegas meminta Dira bersikap jantan. Aku mungkin akan berpikir dua kali jika Dira meminta izin untuk berpoligami. Namun saat ini, Dista memiliki suami, sehingga status Dira dan Dista bukan lagi status halal, aku tak ingin berada di dalam kapal yang penuh dosa ini. "Maafkan aku Kila." sahut Dira singkat, menyayat hatiku yang sudah penuh luka ini. "Kalau begitu, jangan larang aku dekat dengan siapapun." ucapku lantang. "Baik besok, lusa, atau bahkan tahun depan, suatu saat kita akan berpisah. Apa kamu nggak terlalu egois kalau kamu melarangku dekat dengan Soni? Setidaknya aku harus menyiapkan segala sesuatunya untuk perpisahan kita mas!" ucapku lagi, Dira tampak mengetatkan dagunya. Ucapanku barusan hanya untuk membuat Dira sakit hati. Aku tak akan mungkin berpaling ke Soni, sementara saat ini aku merasa perasaanku ke Dira semakin berkembang. Setelah mendengar kisahnya dengan Dista, aku ingin menyelamatkannya dari genggaman Dista. Aku tak rela jika Dira dimanfaatkan oleh wanita jal*ng itu selamanya. 'Bodohnya kamu mas.' batinku. Bersambung... *Semoga nyambung ceritanya ya. Kalau ada salah, kasih tahu, nanti tak revisi hihi. Jangan lupa klik tombol lovenya ya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD