"Maafkan aku Kila.." ucap Dira lirih, namun aku mampu mendengarnya dengan jelas.
"Sebenernya kamu minta maaf karena apa? Karena kamu nggak bisa ninggalin dia demi aku? Atau karena kamu nggak bisa biarin aku deket dengan pria lain?" teriakku lagi.
"Dua-duanya." ucap Dira datar, membuatku berdecak kesal.
"Jangan gila mas." ucapku lirih, jantungku rasanya berdegub lebih kencang, emosiku seperti memuncak karena ucapan Dira yang tak masuk akal.
Dira tak ingin mengakhiri hubungannya dengan Dista namun tak juga berniat menceraikanku.
"Aku mungkin memang sudah gila." ucap Dira yang masih terdengar lirih.
Aku sampai tak bisa berkata-kata, rasanya marah, kesal, sakit hati, bercampur menjadi satu.
"Baiklah, kita hentikan kegilaan ini. Aku udah muak. Aku udah nggak peduli lagi dengan Sera dan Pak Bima. Kita cerai sekarang mas." ucapku lantang, aku seperti sudah dikuasai emosi yang semakin memuncak.
Walaupun aku senang Dira mulai menyadari perasaanya padaku, namun aku tak rela kalau harus menjadi yang kedua, selamanya.
Aku beranjak dari sofa, berniat menemui mertuaku dan mengungkapkan semuanya. Aku merasa lelah harus berpura-pura bahagia sementara hatiku menjerit kesakitan.
Dira menyusul langkahku lalu mendorong tubuhku sampai menyentuh dinding kamar. Kedua tangannya mengurungku secara posesif, ia tak ingin aku pergi dari kamar ini.
Aku yakin, Dira hanya mementingkan kesehatan ayah nya, dia menahanku bukan karena benar-benar tak ingin kehilanganku.
Dira menatapku tajam, aku membalasnya tak kalah tajam.
"Sekarang kamu milih mas, aku atau Dista?" tanyaku pelan, Dira kemudian menunduk dan menatap lantai kamar.
Tak lama kemudian ia menaikkan wajahnya kembali, menatapku, wajahnya semakin dekat dan semakin dekat.
Bibir kami hampir bersentuhan.
"Kalau kamu nyium aku sekarang, aku akan menganggapnya sebagai salam perpisahanmu dengan wanita itu." ucapku tanpa mengalihkan pandanganku pada Dira yang wajahnya hampir menyentuh wajahku ini.
Dira tak jadi menciumku, ia bahkan melepas kedua tangannya dari dinding kamar.
"Kamu maunya apa? Pacaran sama Soni? Apa lebihnya dia dibanding aku Kila?" tanya Dira yang tampaknya kesal, aku menyeringai.
"Jelas beda, dia masih muda dan yang pasti aku nggak jadi yang kedua." sahutku lantang.
"Aku sama Dista cuma ketemu pas di kantor, di jam kerja. Sementara di rumah, waktuku cuma buat kamu. Apa kamu nggak mau menerima kondisi itu? Aku akan berusaha adil buat kalian." ucap Dira.
"Mas, hubungan kalian haram." sahutku lantang,
"Dosaku, biar aku yang tanggung Kila." sambung Dira yang tampak lesu.
"Aku nggak mau jadi yang kedua mas." ucapku lagi, Dira tiba-tiba memelukku, sangat erat.
Aku ingin melepas pelukannya, namun jauh di dalam lubuk hatiku, aku menikmatinya, sangat nyaman.
Andai saja d**a bidang yang nyaman untuk bersandar ini hanya milikku, aku pasti akan sangat bahagia.
Tanpa sadar, air mataku menetes, pelan. Dira masih memelukku, aku tak menolaknya lagi, tak pula membalasnya, aku hanya diam.
"Bilang kalau kamu suka sama aku mas, bilang kalau kamu cinta sama aku." ucapku dengan suara serak, aku menangis semakin dalam.
Namun Dira tak berkata apapun, ia hanya memelukku, membuatku semakin mengharapkannya.
Dira masih memelukku, aku yang mulai sesak, mendorong tubuhnya sekuat mungkin. Dira akhirnya melepas pelukannya, lalu menatapku tajam, lagi.
"Tolong jangan bilang sama ayah, jangan minta cerai sekarang." ucap Dira yang kali ini memasang wajah sendu.
Wajah yang selama ini selalu garang di depanku, kali ini berubah menjadi wajah tampan yang semakin mencuri hatiku.
"Baiklah, tapi sobek perjanjian yang kamu buat itu. Aku nggak mau melayani kamu di ranjang, apalagi sampai hamil anakmu. Kalau kamu memaksaku, aku akan pergi dari hidupmu bersama benih yang kamu tanam di rahimku." pintaku dengan suara pelan, setelah menangis, aku mulai bisa mengontrol emosiku.
Dira menatapku lekat, "Aku nggak tidur sama Soni, aku masih perawan. Aku bukan tipe w************n seperti wanitamu itu, mas." lanjutku lagi, Dira tampak memasang wajah lega.
"Kamu nggak bohong kan?" tanya Dira, aku berdecak kesal.
"Sobek perjanjian itu sekarang, atau aku akan menceritakan semuanya sama ayah? Tentang Dista dan hubungan kalian, dan tentang kecewaku karena sudah dibohongi keluarga kalian. Aku akan melayangkan gugatan cerai hari ini juga, kalau perlu." ancamku, Dira kemudian berjalan menuju meja untuk mengambil tas kerjanya.
Dira kemudian berjalan lagi ke arahku lalu menyodorkan kertas perjanjian yang ia buat dulu dan memaksaku menanda-tanganinya.
Aku menyambar kertas tersebut lalu menyobeknya, lalu kubuang robekan kertas itu ke tempat sampah.
Dira menatapku lekat, aku akhirnya kembali duduk di sofa.
"Inget mas, aku bertahan sampai kondisi Pak Bima membaik. Jangan ada lagi kontak fisik di antara kita. Dan jangan lagi kamu melarangku dekat dengan siapapun." tegasku, Dira hanya diam, ia masih berdiri di posisi semula.
"Kalau kamu berani memukul Soni, aku juga akan mendatangi Dista. Kalau perlu aku akan ceritakan semua kebusukannnya di depan suaminya." ancamku lagi.
***
Malam ini, makan malam dilakukan seperti biasa. Ayah mertuaku masih bersikap wajar, sementara ibu mertuaku beberapa kali melirikku aneh.
Ibu mertuaku pasti tahu kalau kemarin malam aku pergi karena marah, namun aku bersikap acuh saja.
"Kila, kalau kamu masih enggak enak badan, besok kamu nggak usah kuliah lagi aja." ucap ibu mertuaku.
"Kila udah sehat bu." jawabku singkat dengan suara datar, rasanya aku masih belum bisa memaafkan kebohongan keluarga Dira pada keluargaku.
Tanpa banyak obrolan lagi, aku kembali ke kamar setelah selesai makan malam. Dira berjalan di belakangku, sejak tadi siang, kami hanya saling membisu satu sama lain.
"Kamu mau tidur di rumah orang tuamu?" tanya Dira ketika kami sudah ada di kamar.
Bahagia rasanya aku setelah mendengar tawaran dari Dira, aku rindu keluargaku, aku ingin pulang.
Aku menoleh pada wajah tampan Dira, aku melihat ada ketulusan dari tatapannya.
"Aku boleh menginap disana?" tanyaku antusias,
"Harus denganku. Orang tuamu akan curiga kalau kamu pulang sendiri." sahut Dira.
Apa yang diucapkan Dira ada benarnya, bahkan ketika aku menceritakan perselingkuhan Dira pada orang tuaku, bapak malah memarahiku karena aku pulang tanpa izin suamiku itu.
Selama aku masih menjadi istri Dira, bapak pasti tak suka aku pulang ke sana, sendiri.
"Kamu mau ikut menginap?" tanyaku lirih,
"Bersiap-siaplah, aku siapin mobil." jawab Dira yang kemudian pergi keluar kamar.
Dengan senang hati, aku langsung menyiapkan baju ganti untuk Dira dan untukku lalu berlari keluar kamar.
Namun baru saja aku membuka pintu kamar, aku malah tak sengaja menabrak Dira.
"Aw, maaf." ucapku, keningku tak sengaja membentur dagu Dira, ia tampak meringis kesakitan.
"Kamu sesenang itu? Sampai lari-lari begitu." ucap Dira sambil memegangi dagunya.
"Aku kangen sama orang tuaku." jawabku lirih, merasa malu.
"Kalau kangen, kenapa semalam nggak pulang ke sana. Malah pergi sama Soni." ucap Dira yang kemudian merebut tas berisi baju ganti yang kupegang sedari tadi.
"Ayah sama ibu mana?" tanyaku sambil mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru rumah, aku tak melihat kedua mertuaku itu.
"Ibu sama ayah ke rumah temen mereka. Aku udah bilang kalau kita menginap di rumah orang tuamu, nggak perlu pamit lagi." ucap Dira tanpa menoleh kepadaku.
Kali ini Dira tak membiarkan sopir pribadinya yang membawa mobil, namun ia sendiri yang melakukannya.
"Sopir kamu kemana mas?" tanyaku penasaran ketika kami sudah ada di dalam mobil.
"Ada." jawabnya singkat, namun dengan suara pelan, rasanya aneh juga kami bisa mengobrol dengan tenang seperti ini.
"Bersikaplah seperti biasa pada orang tuamu." lanjut Dira, aku hanya diam.
"Kita nggak tahu apa yang akan terjadi hari esok. Mungkin saja kita bisa bertahan menjadi pasangan suami istri. Bukankah lebih baik kalau orang tuamu nggak tahu pertikaian kita?" ucap Dira lagi.
"Aku udah cerita sama bapak dan ibuku kalau kamu selingkuh mas." jawabku jujur, Dira melirikku beberapa saat sambil fokus menyetir.
"Baiklah, kita pura-pura kalau hubungan kita baik-baik aja." lanjutku, Dira tampak terkejut dengan ucapanku barusan.
"Apa yang mereka katakan tentang aku?" tanya Dira setelah kami terdiam cukup lama.
"Kata bapak.." ucapku ragu, Dira menungguku berbicara, "Perceraian bukan satu-satunya jalan untuk menyelesaikan masalah rumah tangga." akuku.
Dira tampak tersenyum, walaupun hanya tipis saja, aku mampu melihat ujung bibirnya naik ke atas.
Sesampainya di rumah orang tuaku, aku disambut pelukan hangat ibu dan bapak. Dira menjabat tangan kedua orang tuaku sambil melempar senyum dengan wajah tampannya.
Sera ikut menyambut kedatangan kami, senang rasanya akhirnya aku bisa berkumpul dengan keluargaku lagi.
Rumah orang tuaku dan rumah mertuaku memiliki jarak cukup jauh sehingga membuatku jarang pulang ke rumah orang tuaku.
Ibu membuatkan kopi dan pisang goreng untuk kami semua, Dira tampak menikmatinya.
Lagi, perasaanku pada Dira semakin berkembang, berharap kalau Dira akan selamanya menjadi menantu orang tuaku.
Kami mengobrol semalaman, aku tak menyangka Dira orang yang supel dan mudah bergaul. Apa saja yang bapak dan ibu katakan, ia menanggapinya dengan baik, pengetahuannya juga sangat luas.
"Udah malam, kalian pasti lelah, cepetan ajak suami kamu istirahat di kamar, Kila." ucap bapak, aku menurut saja setelah melirik jam, sudah jam 12 lebih rupanya.
Aku mengajak Dira ke kamarku, betapa terkejutnya aku mendapati ukuran ranjangku. Aku baru teringat kalau ranjangku berukuran kecil, aku tak mungkin tidur seranjang dengan Dira di atas ranjang kecil ini.
"Ah, kenapa aku melupakan hal ini." gerutuku, Dira sibuk mengedarkan pandangannya di kamarku yang tak lebih luas dari kamar mandi di rumah mertuaku.
"Kamu tidur di sini aja, aku akan tidur dengan Sera." ucapku lirih,
"Kamu mau orang tua kamu tahu kalau kamu masih perawan sampai sekarang? Kamu nggak takut dimarahin bapak kamu karena kamu nggak jadi istri yang baik?" sahut Dira yang membuatku menggigit bibirku.
Aku akhirnya dengan terpaksa, berbagi ranjang dengan Dira, ranjang yang sempit untuk kita berdua.
Bapak akan memarahiku lagi kalau tahu aku tak pernah melayani suamiku di ranjang.
Dengan ukuran ranjangku ini, membuat tubuhku dan tubuh Dira saling bersentuhan.
Dira tampak gusar, ia berkali-kali mengubah posisinya, mungkin karena kepanasan, kamarku memang tak dilengkapi dengan pendingin ruangan.
Aku sendiri merasa gerah karena harus berdekatan dengan Dira, keringatku mulai bercucuran.
Dira duduk, ia kemudian melepas kaos yang ia kenakan dan memilih bertelanjang d**a, aku hanya diam, pura-pura sudah tidur.
Dira kembali berbaring di sampingku, aku memilih memunggunginya. Dira tak kunjung tertidur, ia masih terus bergerak, mencari posisi yang nyaman mungkin.
Kasurku pasti tak terlalu nyaman untuknya, belum lagi kondisi kamar yang terasa panas, Dira mungkin tak akan tidur semalaman.
Aku kemudian duduk, menatap suamiku itu dengan kesal.
"Ayo kita pulang aja." teriakku.
Kalau Dira tak tidur lagi, bisa saja ia sakit seperti waktu ia tidur di sofa terakhir kali.
Dira ikut duduk dan menatapku, tiba-tiba aku menelan ludahku, entah kenapa rasanya aku merasa aneh ketika melihat d**a Dira yang menurutku malam ini terlihat seksi.
Keringat yang membasahi dadanya tampak menggodaku, aku langsung mengalihkan pandanganku.
"Apa kamu biasanya tidur di kamar sepanas ini?" tanyanya lirih,
"Iya, aku cuma orang miskin, tidur di kasur yang keras dan kamar yang panas seumur hidupku." sahutku sinis.
"Maaf. Ada es? Bisa ambilin aku air es?" pinta Dira, aku kemudian menuju dapur dan mengambilkan air es untuknya.
Ketika aku kembali ke kamar, kulihat Dira duduk di lantai, bersandar di kasur, sambil melihat album fotoku.
Aku berlari ke arahnya, mencoba merebut album foto itu darinya, malu rasanya. Namun tangan Dira lebih dulu menghadangku.
Aku mengerucutkan bibirku, Dira kemudian merebut gelas berisi air es di tanganku.
"Aku cuma lihat, nggak boleh?" tanyanya setelah menelan air es,
"Aku malu." ucapku lirih, Dira malah tersenyum.
Jujur saja, aku tergoda lagi melihat senyumannya yang membuatnya terlihat semakin tampan.
Aku kemudian membiarkan Dira melihat album fotoku sejak kecil sampai aku dewasa itu.
Aku bahkan ikut duduk di sampingnya, menceritakan beberapa peristiwa di balik pengambilan foto itu.
Aku dan Dira sesekali tertawa, tertahan, tak berani tertawa terlalu keras, takut mengganggu ibu dan bapak yang sedang tidur.
Aku sangat menikmati malam ini, bahagia rasanya bisa bercanda dan tertawa bersama Dira. Sampai akhirnya aku tertidur, di lengan suamiku yang masih melihat foto-fotoku.
Bersambung...