Salahkah aku?

1127 Words
Suara adzan subuh yang berkumandang membuatku terbangun, aku mengerjapkan mata berkali-kali, menggeliat dan tiba-tiba menyadari kalau aku sudah tertidur di kasur. "Ah, aku semalam kan tidur sambil duduk, lihat foto sama mas Dira. Apa dia menggendongku?" gerutuku, aku mengedarkan pandangan, mencari sosok suamiku. Namun aku tak menemukan suamiku di kamarku yang sempit ini. Aku segera turun dari kasur, mencoba mencari Dira. Ketika aku keluar kamar, aku melihat Dira keluar dari kamar mandi dengan rambut basah, ia pasti baru saja mandi. "Habis mandi mas?" tanyaku dengan suara serak, ia menjawabku dengan anggukan kecil. "Ambil wudhu, ayo sholat." ucapnya ketika kami sudah berdekatan. Aku menurut saja, aku mengambil air wudhu lalu sholat berjamaah dengan suamiku. Kalau seperti ini terus-menerus, aku mungkin tak akan rela jika harus bercerai dengan Dira. Aku terlalu menikmati kebahagiaan ini, hanya dengan sholat berjamaah saja, aku seperti dianggap sebagai istrinya, makmumnya. "Kamu nggak tidur mas semalaman?" tanyaku setelah kami selesai sholat, kulihat mata Dira tampak sayu. "Iya, aku tidur dulu ya sekarang. Nanti bangunin aku 1 jam lagi, aku pengen tidur aja bentar." sahut Dira sambil merebahkan tubuhnya di kasur, aku tersenyum kecil melihatnya. Kenapa rasanya hatiku tersentuh, melihat Dira yang rela menahan kantuknya semalaman hanya agar aku bisa tidur di rumah orang tuaku? Ah, mungkin saja ini trik Dira untuk mencuri hatiku agar aku tak segera meminta cerai darinya. Atau mungkin Dira berusaha merebut hatiku agar aku benar-benar mau menjadi istrinya dan menerima hubungannya dengan Dista. "Tak akan mas, aku tak akan bisa berbagi dengan wanita itu. Kalau kamu memilihku, kamu harus meninggalkannya." ucapku lirih pada diriku sendiri, sementara kulihat Dira sudah tertidur lelap. *** "Nak Dira bangunin, Kila, sarapannya udah siap." pinta ibuku, aku masih membantunya menyiapkan piring dan sendok. "Bentar lagi aja bu, semalam nggak tidur dia." jawabku santai, "Kenapa? Kamarnya sempit? Nggak nyaman?" tanya bapak, aku tersenyum. "Kamarnya sempit, kasurnya sempit, nggak empuk kayak kasurnya dia, belum lagi kamar rasanya panas, nggak ada AC." paparku, ibu dan bapakku tampak menyesal. "Udahlah, biarin aja, yang mau mas Dira sendiri. Kila udah ngajak pulang, tapi mas Diranya yang ngeyel." ucapku mencoba menenangkan ibu dan bapak, namun kedua orang tuaku masih saja memasang wajah menyesal, tak enak hati mungkin. "Kila bangunin sekarang ya." ucapku yang lalu pergi ke kamar, mencoba membangunkan Dira yang tampak tidur pulas. "Mas.. Bangun, udah hampir jam 7, udah hampir 2 jam kamu tidurnya." ucapku di dekat telinga Dira, namun Dira tak kunjung bereaksi, sepertinya tertidur pulas. "Mas.." panggilku lagi, Dira masih saja tertidur. Aku kemudian memegang lengannya lalu kugoyang-goyang, ia akhirnya menggeliat lalu membuka matanya perlahan, menatapku. "Bangun, udah mau jam 7, kamu nggak kerja?" tanyaku lirih, "Hm..." sahutnya malas, Dira menutup matanya lagi, aku kemudian menarik tangannya dan membantunya duduk. "Bangun! Aku mau kuliah, buruan, aku ada kelas pagi." ucapku lantang, tiba-tiba Dira menarikku sampai aku terduduk di pangkuannya. Dira memelukku lalu menyandarkan kepalanya di lenganku. "Aku udah bilang kan kalau nggak ada kontak fisik lagi." ucapku datar, sebenarnya aku suka namun aku tak ingin larut dalam kebahagiaan semu ini. "Jahat banget kamu Kila. Semalam kamu tidur bersandar di lenganku, sampai ngiler juga, aku nggak masalah." ucap Dira yang membuatku membuka mulutku lebar-lebar. "Mana ada? Aku ngiler?" teriakku tak percaya, "Sebentar aja, 5 menit aja, aku pengen begini dulu." ucap Dira lirih, aku kemudian membiarkan Dira memelukku. Namun detak jantungku semakin lama semakin tak terkendali, aku tanpa menunggu 5 menit, langsung berdiri. "Bangun, bapak sama ibu sudah nunggu kita." ucapku lantang, mencoba menutupi perasaanku yang mulai tak terkendali ini. Aku kemudian keluar kamar dan menuju ke ruang makan, Dira mengikutiku dengan langkah malas. Namun ia menuju kamar mandi terlebih dahulu untuk mencuci wajahnya. Dira duduk di sampingku, ia melempar senyum tampannya sambil mengangguk pada bapak dan ibu. "Maafkan kami nak Dira, rumah kami memang nggak sebagus rumah Pak Bima." ucap bapak yang kemudian dipotong oleh Dira, "Nggak apa-apa Pak, saya belum terbiasa aja. Kalau perlu saya akan mengajak Kila tinggal di sini beberapa hari agar saya juga terbiasa." sela Dira, membuatku mengernyitkan dahi. "Kamu mau dirawat di rumah sakit mas? Nggak tidur semalam aja kamu udah sakit. Apalagi nyampe bermalam-malam." ucapku sambil mengangkat ujung bibirku sebelah kiri. Kaki Dira menendang kakiku pelan, bapak dan ibu tertawa kecil. "Mas Dira ganteng banget, mbak Kila beruntung bisa punya suami seganteng mas Dira." ucap Sera, membuatku meringis heran. "Serius? Mas Dira geer nih." sahut Dira dengan suara manja, aku melongo dibuatnya. Aku tak menyangka kalau Dira bisa semanja itu pada Sera, selama ini telingaku hanya mendengar teriakannya. "Ayo nak, dimakan, maaf kalau makanannya cuma seadanya." ucap ibuku, aku menyeringai. "Bohong deng, keluargaku nggak pernah makan dengan lauk pauk selengkap ini." sahutku tak terima, ibu dan bapak tersenyum, disambut tawa ringan Dira. *** Dira mengantarku ke kampus, aku mengirim pesan ke Soni tentang hal ini. "Nanti pulang jam berapa?" tanya Dira ketika kami sudah tiba di kampusku. "Sore lah mas, biasa. Kenapa?" tanyaku santai sambil melepas sabuk pengaman. "Aku yang jemput ya." ucap Dira, aku mengernyitkan dahi, heran. "Nggak perlu, aku kan ada Soni. Aku pulang sama dia." jawabku tegas, aku tidak ingin Dira semakin baik padaku hanya untuk mencegah keinginanku bercerai darinya. "Apa kamu beneran ingin pacaran dengan Soni?" tanya Dira, aku mencoba membuka pintu mobil, namun masih terkunci. "Buka kuncinya." pintaku, Dira menatapku lekat. "Kamu suka sama Soni?" tanya Dira lagi, tanpa menanggapi permintaanku. "Buka mas. Aku buru-buru ini." tegasku, Dira akhirnya membuka kuncinya dan membiarkan aku turun dari mobilnya. "Aku suka atau enggak sama Soni, itu bukan urusan kamu mas. Selama kamu masih memiliki hubungan dengan wanita lain." ucapku sebelum menutup pintu mobil Dira. Aku berlari menuju kelas sambil sesekali menoleh ke arah mobil Dira yang tak kunjung pergi. "Lihat saja, aku akan buat kamu jatuh cinta sama aku. Walaupun aku harus memanfaatkan Soni." ucapku pada diriku sendiri. *** "Jadi mbak nggak perlu ngasih anak sama Pak Dira lagi?" tanya Soni, aku menceritakan apa yang aku alami. Soni memang menjadi temanku saat ini, orang yang siap mendengar keluh kesahku. Kali ini aku mengajak Soni minum kopi di kafe yang tak jauh dari rumah mertuaku. "Hm..." jawabku malas, "Kenapa lemes begitu? Mbak suka sama Pak Dira? Mbak nggak mau cerai dari Pak Dira?" tanya Soni lagi. "Apa aku salah Son, jatuh cinta sama suamiku sendiri? Apa aku terlalu egois, ingin memanfaatkan kekayaannya dan ingin pula memilikinya?" tanyaku lagi, Soni tampak diam. "Coba mbak pikir matang-matang, apa yang akan mbak tuai nanti kalau mbak biarin perasaan suka mbak ke Pak Dira terus berlanjut? Sanggupkah mbak menerima kenyataan kalau ada wanita lain yang tak bisa dia tinggalkan?" tanya Soni, aku diam dan menatap netra matanya, lekat. "Kalau ada obat yang bisa buat aku benci seutuhnya sama mas Dira, aku ingin membelinya Son. Kamu pikir aku nggak tersiksa dengan perasaanku? Aku sakit, aku nggak rela, aku nggak ihklas, tapi jauh di dalam sini, aku ingin sekali memilikinya." ucapku sambil menunjuk dadaku berulang kali. Tanpa sadar air mataku jatuh, Soni dengan sigap menyeka air mataku. Dan aku secepat kilat memundurkan posisi dudukku karena tak ingin Soni berbuat lebih. "Maaf mbak, aku cuma nggak tega lihat mbak nangis." ucap Soni lirih. "Tolong jangan berharap besar padaku. Aku terlalu sibuk memikirkan perasaanku sendiri, aku nggak ada waktu untuk memikirkan perasaanmu. Maaf." ucapku. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD