Hari ini aku kuliah seperti biasa, aku memang hanya libur sehari hanya untuk acara ijab qabulku.
Pernikahan yang tak pernah kuinginkan ini memang hanya dilakukan sederhana sesuai keinginan Dira, aku pun tak mempermasalahkannya.
Tak ada pesta, tak ada bulan madu dan tak ada perayaan apapun itu.
Yang berbeda yaitu aku sekarang tinggal di rumah Dira dan hidup dengan keluarga baruku itu.
Ibu mertuaku sebenarnya ingin agar aku diantar kuliah oleh sopir pribadinya, namun aku menolak.
"Kila naik ojek aja bu, Kila udah biasa." jawabku menolak tawaran ibu mertuaku, beliau pun tak memaksaku.
Aktivitasku saat ini hanya kuliah, selebihnya aku adalah istri Dira dan menantu di rumah Pak Bima Sudrajat.
Aku telah berhenti bekerja sambilan, sesuai permintaan mertuaku.
Aku diberi uang bulanan yang sangat banyak setelah menjadi istrinya Dira.
Iya, pagi ini aku menerima transferan, uang yang masuk ke rekeningku mampu membuat mataku ingin melompat dari tempatnya.
Namun aku harus bijak dengan uang ini, aku mengorbankan masa depanku demi untuk menjadi istri Dira.
Sekali lagi, aku berdoa semoga pernikahan yang tak kuinginkan ini tak memberiku luka berlebih.
***
Aku duduk di bangku kelas, sendirian, mataku sibuk mengamati buku di tanganku.
Tak lama kemudian, ada orang yang mengajakku berbicara.
"Kamu Shakila?" terdengar suara lembut seorang wanita.
Aku mendongak, mencari arah sumber suara, tampak 2 wanita cantik.
Wanita yang baru saja menyebut namaku memiliki rambut panjang berwarna pirang, kulitnya putih dan parasnya cantik mempesona.
Sementara di sampingnya, wanita dengan rambut sebahu yang tak kalah cantik.
Rambutnya berwarna hitam dan tubuhnya lebih pendek dari wanita satunya.
"Iya. Kenapa?" tanyaku singkat, aku tak mengenal kedua wanita di depanku ini.
"Siapa kalian?" lanjutku lagi, aku sangat penasaran dengan kedua wanita yang menghampiriku ini.
"Aku pacarnya Soni." katanya lantang dan penuh percaya diri.
"Soni? Siapa?" tanyaku yang masih tidak mengerti kenapa wanita ini menghampiriku.
"Kamu pura-pura bodoh? Jangan kamu pikir aku enggak tahu kalau kamu sama Soni sering bertukar pesan. Soni bahkan sering makan di tempat kamu kerja kan?" ucap wanita di depanku, ia tampak emosi.
Aku ingat, Soni adalah adik tingkatku yang baru semester 2.
Ia memang sering bertukar pesan denganku, walau hanya saling menanyakan kabar.
Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Soni dan aku juga tak memiliki perasaan untuknya.
Mengenai Soni yang sering makan di tempatku bekerja dulu, aku juga tak terlalu memperhatikan.
"Aku sama dia nggak ada hubungan apapun." ucapku sambil menutup bukuku dengan keras, sengaja agar wanita di depanku takut.
"Baguslah, mulai sekarang jangan pernah deketin Soni lagi. Dia pacarku!" teriak wanita di depanku, aku semakin geram padanya.
Aku tak ada hubungan apapun dengan Soni dan aku bahkan sudah punya suami sekarang.
Aku tidak punya waktu hanya untuk mengurusi pacar orang, sementara mengurus suamiku sendiri saja sudah sulit kulakukan.
Aku mengingat tadi pagi aku sibuk memilihkan pakaian untuk suamiku, pakaian yang akan ia kenakan untuk bekerja hari ini.
Di mana aku harus bolak-balik mengambil barang dari ruang pakaian.
Aku harus mengambilkan pakaian yang matching, menurut suamiku tentunya.
Mulai dari kemeja, celana, jas dan juga dasi.
Belum lagi aku harus menyiapkan sepatu dan sarapannya.
Jadi tentu saja aku tak ada waktu hanya untuk ikut campur urusan percintaan orang lain.
"Kalau aku tahu kamu deketin pacar aku lagi, aku akan membuatmu menyesal." ancamnya yang langsung pergi meninggalkanku sendirian di kelas.
Aku tak peduli dengan apa yang wanita tadi katakan.
***
Aku pulang kuliah sore hari, aku langsung pulang ke rumah mertuaku yang cukup jauh dari kampusku.
Butuh waktu 45 menit untuk sampai ke kampus dengan menggunakan ojek.
Aku sedang belajar di kamar, tentu saja hanya duduk di lantai.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar, aku memang sengaja mengetuknya agar mertuaku tidak tahu kalau aku tidur di lantai.
"Siapa?" tanyaku, tak ada sahutan. Aku menduga ini adalah Dira, suamiku yang membenciku.
Aku segera beranjak lalu membuka pintu kamar, benar saja dugaanku.
Dira masuk ke kamar dengan wajah kesal, ia menutup pintu keras.
Brak!
"Kenapa pintunya kamu kunci?" teriak Dira, lagi-lagi dia berteriak kepadaku.
"Kamu bilang kan buat ngunci pintu biar Pak Bima dan ibumu nggak tahu aku tidur di lantai.." jawabku terbata, jantungku masih berdegub tak karuan karena Dira yang tampak emosi.
Dira mendorong kepalaku lagi, tepat di kening, dengan keras sampai tubuhku bergoyang.
"Bodoh!!! Kalau aku nggak ada, kamu boleh pakai kasur itu! Kalau aku ada, baru kamu turun!" teriak Dira lagi, aku semakin sakit hati karena ulahnya.
Baiklah, aku harus bertahan, lama-lama aku akan terbiasa dengan sikap kasar Dira.
Aku hanya diam sambil menahan emosiku, aku tidak mau kalau emosiku sampai membawa dampak pada keluargaku.
Ibu dan bapakku pasti sudah tidak sabar melihat Sera berjalan dengan normal, aku harus sabar.
"Dan apa kamu bilang? Kamu sebut aku apa tadi? 'Kamu'?" tanya Dira yang berdiri semakin dekat denganku, aku mundur perlahan.
"Maaf, mas. Aku masih belum terbiasa, maaf, mas." jawabku yang segera mengakui kesalahanku.
Dira melirikku tajam, setelah itu ia membanting tubuhnya di kasurnya yang super lebar itu.
Aku langsung membantunya melepas sepatunya, bagaimanapun ini adalah tugasku sebagai istrinya.
Dira tiba-tiba duduk ketika aku selesai melepas sepatu dan kaos kakinya.
Aku terkejut, aku pikir dia akan marah lagi padaku.
"Siapkan air hangat, aku mau mandi. Jangan terlalu panas, atau aku akan memandikanmu dengan air panas?" ucapnya tegas, aku langsung berdiri dan menuju ke kamar mandi.
"Kamu nggak mau jawab?!" teriaknya lagi,
"Iya mas.." jawabku setelah aku menghentikan langkahku ketika Dira membentakku lagi.
Setelah itu aku masuk ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat.
Dira masuk ke kamar mandi dengan lilitan handuk di perut six-packnya.
Dira mencelupkan ujung jarinya ke bak mandi.
"Yah!!! Aku bilang siapkan air panas, bukan air dingin!!!" teriaknya lagi, sampai sakit telingaku mendengar teriakannya.
Aku yang masih belum tahu selera Dira tentu saja akan sering mendapatkan teriakan-teriakan menyakitkan di telingaku.
Aku segera menambah air panas di bak mandi, Dira kembali mencelupkan ujung jarinya di bak mandi.
"Sampai kapan kamu mau berdiri disitu? Aku mau mandi?!" ucapnya yang sedikit menurunkan volume suaranya.
Aku kemudian keluar kamar mandi, lalu membuang nafas panjang.
Aku benar-benar harus bersabar sampai operasi Sera selesai.
Kalaupun aku harus selesai, setidaknya sampai Sera sembuh.
Dengan begitu ada harga pantas untuk pengorbananku menjadi seorang janda, tak sia-sia.
Dira keluar dari kamar mandi dengan tangan yang sibuk menggosok rambutnya.
Perut six-packnya kembali dapat kunikmati, aku berhenti menatapnya saat ia menatapku balik.
"Mana bajuku?" ucapnya pelan, aku segera berlari mengambilkan baju untuknya.
Bagaimana aku sebodoh ini, hanya duduk bersantai dan tak menyiapkan kebutuhannya.
Untungnya Dira tak membentakku lagi, aku memilih baju tidur yang nyaman untuk suamiku.
Tanpa protes ia akhirnya mengenakannya, aku langsung berbalik ketika Dira melepas handuknya.
Handuk yang sudah basah itu tiba-tiba sudah mendarat di kepalaku, aku mengambilnya lalu menaruhnya di keranjang baju kotor.
"Mas mau makan apa?" tanyaku pelan,
"Aku udah makan." jawabnya singkat, ia kemudian berbaring di kasur dan menatap ponselnya.
"Berapa uang yang ayah janjikan untukmu?" ucap Dira ketika aku baru saja duduk di lantai.
"Pak Bima akan membayar semua biaya operasi adikku." jawabku, Dira tiba-tiba melirikku tajam
"Mas.." sambungku setelah mengetahui apa letak kesalahanku.
"Kamu punya pacar?" tanyanya lagi, aku menggeleng "Nggak, mas." jawabku singkat.
"Bagus, kalau kamu punya pacar, putusin dia." lanjutnya, aku hanya bengong mendengarnya.
"Nggak jawab?!" pekiknya lagi,
"Iya, mas." jawabku kesal, aku benar-benar lelah harus dibentak terus-menerus.
Bersambung...