Memanfaatkan sakitku

1056 Words
Aku menatap layar ponsel ketika aku bangun tidur, aku terperanjat melihat jam. "Ah, aku kesiangan." ucapku, aku duduk dengan memegang kepalaku karena rasanya pusing sekali. Aku sibuk mengumpulkan tenagaku untuk beranjak dari ranjang. Namun aku malah semakin kesakitan, kepalaku rasanya sakit bukan main. "Istirahatlah, hari ini nggak usah kuliah." ucap Dira yang ternyata sudah berpakaian lengkap, hari ini aku tidak membantunya menyiapkan pakaiannya. Apa Dira akan marah karena aku bangun kesiangan? Tetapi kenapa dia malah bicara pelan dan menyuruhku istirahat, ah entahlah. Aku kemudian berbaring lagi dan mencoba memejamkan mataku lagi. Sepertinya demamku tak kunjung reda, malah kondisiku semakin buruk. Tok tok tok, terdengar suara ketukan pintu namun aku masih memejamkan mataku tak peduli. Dira tahu kalau aku sakit, aku yakin dia yang akan membukanya. "Dokternya udah dateng ini, mas." terdengar suara mbok Ijem, aku lalu membuka mata. Kulihat seorang perempuan muda dengan pakaian rapi dengan membawa tas yang tidak kecil. Ia mengeluarkan stetoskop lalu memeriksa kondisi tubuhku. "Sepertinya cuma demam biasa, nanti saya kasih resep. Langsung ditebus aja ya, Pak." ucap wanita tersebut yang tak lama kemudian pergi. Baru saja aku ingin memejamkan mata, kudengar suara ibu mertuaku menanyakan keadaanku ke wanita tadi yang mungkin adalah seorang dokter. "Kila makan dulu ya, ibu udah bawa makanan. Ayo, duduk sebentar." ucap ibu mertuaku, beliau kemudian membantuku duduk dengan usaha yang cukup keras. Dira hanya diam saja melihat ibu mertuaku kesusahan membantuku duduk. "Aku kerja dulu." pamit Dira, tak lama kemudian ia keluar dari kamar. Entah apa pekerjaan suamiku itu, aku tak pernah tahu. Sementara Pak Bima, ayahnya, adalah orang kaya yang memiliki banyak tanah dimana-mana. Bapakku sendiri mengerjakan setidaknya 5 hektar kebun milik Pak Bima. Entahlah kalau sekarang, sebelum menikah aku mendengar kalau kebun-kebun itu sudah menjadi hak milik bapak karena mau menikahkan aku dengan anak Pak Bima. Sementara alasan Pak Bima memilihku menjadi jodoh anaknya, masih menjadi misteri bagiku. *** Seharian aku hanya tidur di kamar, sampai tiba sore, rasanya tubuhku sudah merasa baikan. Mungkin obat yang diberikan dokter tadi pagi manjur. Aku mandi menggunakan air hangat, rasanya gerah karena seharian tak mandi dan hanya tiduran saja. Selesai mandi, aku keluar kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit dan menutupku sebagian tubuhku. Aku terperanjat melihat sosok Dira, suamiku yang sudah duduk di bibir ranjang. Ia menatapku lekat sembari melepas kancing-kancing kemejanya. Aku malu, namun aku sadar aku tidak boleh lari lagi. Bagaimanapun, Dira adalah suami sahku, apapun alasannya. Dira berhak atas tubuhku, jangankan hanya melihat, menyentuhpun tak masalah baginya. Aku yang serba salah langsung berjalan dengan cepat menuju ruang pakaian. Tak biasanya Dira pulang cepat, dia lebih sering pulang malam. Kenapa hari ini dia pulang cepat dan menangkap basah aku yang hanya memakai handuk saja. Aku buru-buru memilih pakaian, Dira berjalan menuju ke arahku. Aku memejamkan mata, malu rasanya karena ini pertama kalinya bagiku ada orang lain menatap tubuhku walau tak sepenuhnya telanjang. Aku pura-pura tak melihat Dira, masih sibuk mencari pakaian dalamku yang tak kunjung ketemu. Dira kemudian menyentuh lenganku dengan punggung tangannya. Ia menggerakkan tangannya tersebut dengan lembut, dari atas sampai siku. Aku merinding berkat perbuatan suamiku ini, ingin sekali rasanya aku menolaknya namun aku takut dosa. "Kamu udah sembuh?" tanya Dira pelan, aku mengangguk, "Udah mas." jawabku singkat. Aku sudah menemukan pakaian dalamku, aku ingin segera memakainya. Namun Dira masih berdiri di sampingku, aku malu kalau harus membuka handukku dan bertelanjang di depan Dira. "Kenapa nggak buruan dipake bajunya?" ucap Dira yang saat ini berdiri di belakangku, membuatku semakin tak nyaman dengan keberadaannya. "Aku malu mas." ucapku pelan, berusaha jujur dari pada harus menanggung dosa. "Kenapa malu? Aku suami kamu, bukankah seharusnya kamu melayaniku sejak kamu menjadi istriku." ucap Dira, tangannya menarik handuk yang kupakai sampai terlepas dan saat ini tubuhku tak tertutup sehelai benang pun. Aku memejamkan mata karena malu, entah apa yang Dira pikirkan. Bukankah kemarin ia bilang kalau ia tak sudi menyentuhku, karena aku hanya lintah darat baginya. Aku masih diam, tangan Dira sudah mendarat di pinggangku. Aku dapat merasakan embusan nafas Dira di pundakku yang membuatku merasakan desiran aneh pada tubuhku. Tok tok tok, tiba-tiba terdengar suara ketuka pintu yang tanpa sengaja menyelamatkan aku dari situasi mencekam ini. Aku buru-buru memakai pakaianku ketika Dira berjalan keluar dari ruang pakaian untuk membuka pintu. "Siapa?" teriak Dira, "Ibu." ternyata ibu mertuaku, untunglah pikirku. Aku segera keluar setelah memakai pakaianku dan jilbabku. "Ibu mau lihat kondisi Kila, apa sudah baikan?" tanya ibu mertuaku, Dira tak menjawab dan hanya pergi begitu saja. Aku mendekati ibu mertuaku lalu kami duduk berdampingan di bibir ranjang. "Kila udah baikan, bu. Kila habis mandi juga, nih udah nggak demam." ucapku yang kemudian menarik tangan ibu mertuaku lalu kutempelkan di keningku. Ibu mertuaku tersenyum lalu menggenggam kedua tanganku. "Maafin ibu ya sayang, baru 3 hari tinggal di sini kamu udah sakit. Apa kamu nggak nyaman tinggal di sini?" tanya ibu mertuaku yang membuatku memberanikan diri untuk meminta apa yang Dira mau. "Kalau Kila sama mas Dira tinggal di rumah mas Dira boleh nggak, bu?" tanyaku pelan, aku takut ibu mertuaku ini marah. Namun aku tetap harus memberanikan diri demi menyelamatkan nasibku agar tak tidur di lantai selamanya. "Ayahnya Dira yang minta kalian tinggal di sini sampai kamu hamil. Tapi nanti coba ibu tanyakan pada ayah ya." ucap ibu mertuaku dengan membelai lembut pipiku. Aku tersenyum girang, aku berharap segera keluar dari rumah besar ini yang tak lebih seperti sangkar bagiku. Karena aku tak bisa melakukan apa yang aku mau dengan bebas. "Kenapa, kamu nggak suka tinggal di sini?" tanya ibu mertuaku, aku menggeleng. "Ah, enggak bu, cuma pengen hidup mandiri aja." alasanku yang cukup logis pikirku. "Biar aku sama dia bisa bulan madu, bu. Kayak nggak pernah jadi pengantin baru aja. Kami juga pengen punya privasi, bu." sahut Dira yang dari tadi hanya sibuk dengan ponselnya namun ternyata menyimak pembicaraanku dengan ibunya. "Apa ibu mengganggu kalian?" tanya ibu dengan ekspresi meledekku, aku menggeleng lagi. "Iya, barusan juga ibu ganggu." belum sempat aku menjawab, Dira sudah menyahut dan membuatku malu di depan ibunya. "Ah, maafkan ibu." ucap ibu mertuaku yang langsung tertawa kecil dan menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya. "Semalem Kila sakit, Dira jadi nggak bisa minta jatah. Sekarang mau minta jatah, ibu malah ganggu." sambung Dira lagi yang membuatku membelalakkan mata tak percaya dengan apa yang ia ucapkan barusan. Lagi-lagi ibu tertawa, ibu langsung beranjak dan keluar dari kamar setelah meminta maaf kepada kami. "Bagus, aku akan belikan kamu mobil kalau kita bisa keluar dari rumah ini." ucap Dira dengan wajah dinginnya. Jadi ucapannya barusan memang hanya akal-akalannya saja agar kami bisa keluar dari rumah ini dan pindah ke rumanya. Mana mungkin ia beneran ingin menikmati tubuhku yang hanya ia anggap sebagai lintah darat. Setelah mendengar ucapannya barusan, aku mulai ragu untuk menurutinya agar kami pindah ke rumahnya. Apa yang sebenarnya dia rencanakan jika kami sudah tinggal di rumahnya? Apa dia akan semakin kejam padaku? Entahlah. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD