Ketika makan malam tiba, Pak Bima, ayah mertuaku membicarakan soal permintaanku ingin pindah ke rumah Dira.
"Kalau kamu kurang nyaman tinggal bersama kami, ayah akan izinkan kalian tinggal di sana. Tapi sesering mungkin kalian ke sini, paling tidak seminggu sekali. Kalau tidak, ayah dan ibu akan tinggal di sana." ucap Pak Bima, aku tersenyum lalu mengangguk.
"Iya pak, saya dan mas Dira bakalan sering main ke sini." ucapku senang dengan keputusan Pak Bima.
"Panggil ayah." sahut Dira dengan senyum mengembang di wajahnya, hal baru yang belum pernah kulihat selama ini.
Mungkin karena ia terlalu senang berkat usahaku yang akhirnya berhasil, merayu mertuaku agar kami pindah ke rumah Dira.
"Ah iya, ayah. Maaf, Kila belum terbiasa." sambungku lagi, kali ini aku menangkap ada yang aneh pada ekspresi Dira yang terus-menerus tersenyum.
***
Hari ini aku kuliah setelah izin sakit, aku memilih naik ojek lagi.
Sampai di kampus, di depan gerbang aku melihat Soni dan kawan-kawannya.
Ia tersenyum melihatku lalu menghampiriku dan ikut berjalan mengikuti irama langkahku.
"Pagi mbak.." sapanya, aku tersenyum seperti biasa dan membalasnya "Pagi.".
"Mbak udah nggak kerja di rumah makan itu lagi?" tanya Soni, aku mengangguk.
"Iya." jawabku singkat.
"Kenapa mbak? Udah nyusun skripsi ya?" tanya Soni lagi,
"Nggak, oh iya ada cewek yang ngaku pacar kamu. Minta aku buat nggak deketin kamu. Jadi tolong jangan deket-deket aku lagi. Aku nggak ada waktu buat.." ucapku yang terputus karena Soni segera menyahutku.
"Aku nggak ada pacar kali mbak. Siapa juga yang ngaku-ngaku jadi pacarku? Haha, ada-ada saja." ucapnya dengan santai, aku mengernyitkan dahi kebingungan.
"Nggak usah bohong deh, aku nggak suka dibohongin. Kalau kamu ketahuan bohong,.." lagi, aku belum sempat menyelesaikan kata-kataku namun Soni memotongnya lagi.
"Sumpah mbak, nggak ada aku. Aku malah deketin mbak Kila biar bisa jadi pacar mbak." ucapnya yang membuatku menghentikan langkahku.
"Kamu suka sama aku?" tanyaku blak-blakan,
"Iya. Mbak mau nggak jadi pacar aku?" tanya Soni yang tampak percaya diri.
Baiklah, Soni memang lebih muda 2 tahun dariku.
Namun parasnya yang sangat tampan membuatku beberapa kali meliriknya.
Banyak yang menyukai Soni, aku dapat melihat dari banyak gadis yang mendekatinya di kampus.
Namun aku tak suka dengan pria yang terlalu tampan, aku lelah kalau harus sakit hati ketika ada perempuan lain yang mendekatinya.
Suasana pagi ini cukup dingin sehingga menambah rasa canggung di antara kami.
"Soni, maaf. Aku udah menikah, dan sekalipun aku masih single, aku tak akan pacaran. Jadi tolong lupain perasaan kamu ke aku." tegasku, sekuat hati aku menolak perasaan juniorku yang sangat tampan ini.
"Apa? Mbak udah menikah? Kapan?" tanyanya dengan volume suara yang meningkat.
"Belum lama ini, udah ya, aku duluan." ucapku ke Soni yang lalu berjalan meninggalkannya.
Bukannya menuruti permintaanku, Soni malah lari mengejarku dan memegang tanganku untuk menghentikan langkahku.
Aku menepis tangan Soni dengan keras, walaupun terhalang bajuku, aku merasa Soni sudah kelewatan karena berani menyentuhku.
"Maaf mbak, aku nggak bermaksud kurang ajar. Aku cuma mau tanya, apakah mbak serius udah nikah? Atau cuma mau menghindariku? Kalau mbak nggak suka sama aku atau nggak mau pacaran dulu, nggak perlu juga mbak bohong." papar Soni,
"Aku beneran udah menikah, itu sebabnya aku nggak kerja lagi. Semua kebutuhanku sudah ditanggung olehnya. Udah ya, tolong berhenti mengikutiku." pintaku dengan tegas agar Soni berhenti mengharapkanku.
Ketika aku berjalan melewati lorong di dekat toilet, seseorang menarikku dengan keras.
Ia menarikku sampai kami masuk ke toilet, ternyata cewek kemarin yang melakukannya.
"Kamu budeg ya? Aku kan udah bilang jangan deketin Soni, kamu mau mati?" teriak wanita ini, sementara di belakangnya ada 2 wanita lagi.
Satunya wanita yang pernah kulihat sebelumnya, sementara satunya merupakan wajah baru.
Wanita yang ada tepat di depanku menarik jilbabku sampai rambutku ikut tertarik.
Ia kemudian menarikku sampai ada di depan wastafel.
Ia berusaha menyiram kepalaku dengan air, aku melawan.
Aku menyikut perut wanita ini sekuat tenaga sampai ia melepaskan tangannya dari jilbabku.
Ia tampak marah mencoba mendorongku sampai akhirnya aku terjatuh.
Ia mendekat, aku menendang kakinya sekuat tenaga sampai akhirnya ia ikut terjatuh.
Kedua temannya menolongnya, aku berusaha berdiri ketika mereka sibuk sendiri.
Tiba-tiba saja ada tangan yang menjambakku lagi, lalu tamparan keras mendarat di pipi kiriku.
Aku tak hanya tinggal diam, aku melawan sekuat tenaga sebisaku.
Aku menendang sekenanya, lalu menjambak wanita di depanku.
Ketiga wanita ini menyerangku secara bersamaan sehingga aku kualahan untuk melawannya.
Aku menerima banyak pukulan sampai akhirnya aku duduk meringkuk.
Ketiga wanita ini juga menendangku, tak peduli aku teriak kesakitan.
Brak!
Tiba-tiba ada suara keras, seperti orang yang mendobrak pintu.
"Kalian sudah gila? Aku nggak akan biarin kalian lolos." terdengar suara Soni, ketiga wanita yang sudah mengeroyokku langsung kabur.
Soni menghampiriku lalu membantuku berdiri, aku segera melepas tangannya setelah aku berdiri tegak.
"Maaf." ucapnya yang menyadari kalau aku tak ingin disentuhnya.
"Kita ke rumah sakit ya, mbak." ajak Soni, aku menggeleng dan menatapnya kesal.
"Kamu lihat, pacar kamu yang buat aku seperti ini. Kalau kamu terus deketin aku, aku bisa mati karena ulahnya." ucapku kesal, aku langsung pergi meninggalkan Soni tanpa membenahi penampilanku.
Aku akhirnya masuk ke ruang UKS, aku mengecek mana saja bagian tubuhku yang terasa sakit.
Ada banyak bagian yang lebam, mulai dari pipi, lengan dan juga paha.
Setelah melihat lukaku, aku segera membenahi penampilanku.
Aku membuang nafas kasar, kesal rasanya karena aku kalah oleh wanita-wanita tadi.
***
Aku pulang ke rumah mertuaku dengan was-was, takut kalau mereka menanyakan lebam di pipiku.
Saat rumah sepi, aku langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu.
Aku segera mandi dan berganti pakaian, kemudian mengolesi luka-luka lebamku menggunakan salep yang sudah kubeli ketika di jalan pulang tadi.
Ketika makan malam, Dira belum pulang juga sehingga hanya aku dan kedua mertuaku yang makan malam di meja.
Ketika aku beranjak dari tempat dudukku ketika aku sudah selesai makan, kudengar suara mobil Dira datang.
Aku tak jadi pamit dan segera melayani suamiku di meja makan.
"Pipi kamu kenapa Kila?" teriak ibu mertuaku yang akhirnya melihat luka lebam di pipiku.
"Ah tadi kepleset bu, kepentok pintu." kilahku, ibu mertuaku diam, entah percaya atau curiga dengan alasanku.
Selesai makan, Dira dan aku pamit ke kamar.
"Kamu dipukuli orang?" tanya Dira ketika aku membantunya melepas jas dan dasinya.
Aku masih diam, bingung harus jujur atau berbohong.
"Kamu bisu!?" teriak Dira,
"Iya." jawabku pelan yang kemudian pergi ke ruang pakaian untuk menyimpan jas suamiku.
Dira berjalan mengikutiku, ia menarik bajuku untuk mengecek tanganku.
Tidak puas di tangan saja, Dira melepas kancing bajuku dan menanggalkannya.
Kini aku hanya memakai pakaian dalam saja.
Dira tampak sibuk mengecek tubuhku, aku malah malu bercampur takut.
"Siapa yang lakuin ini?" tanyanya, aku segera mengambil bajuku lalu mengenakannya kembali.
"Siapa?!" teriak Dira,
"Aku nggak kenal, mereka ngeroyok aku begitu aja." jawabku, aku takut melihat Dira yang saat ini tampak sangat marah.
Untuk apa dia marah? Bukankah selama ini dia hanya menganggapku sebagai lintah darat. Untuk apa dia bersikap seakan peduli padaku??
Bersambung...