Sikap Dira yang tak bisa ditebak

1008 Words
Dira tampak sangat marah, aku tak mengerti kenapa ia harus semarah ini. Sementara perlakuannya kepadaku selama ini lebih buruk dari 3 wanita yang mengeroyokku tadi. Dira keluar dari ruang pakaian, aku mengikutinya pelan. Aku kira Dira akan segera mandi, namun ia malah menyambar ponselnya yang ada di kasur. Ia menelepon seseorang, "Cek semua cctv di kampus istriku. Cari tahu siapa yang udah mukulin istriku!" ucap Dira yang membuatku tercengang. Entah apa yang aku rasakan saat ini, namun ada rasa senang di hatiku karena suamiku mengkhawatirkan aku. Terlebih lagi dia juga menyebutku istrinya, aku merasa sedikit bangga. "Apa yang akan mas lakuin kalau ketemu mereka yang udah ngeroyok aku?" aku memberanikan diri bertanya pada Dira, suamiku yang masih berdiri di dekat ranjang. "Aku akan beri pelajaran mereka karena udah nyentuh milikku." ucap Dira yang membuatku seperti melayang, entah kenapa. "Kamu istriku, istri yang sudah dibeli orang tuaku. Artinya kamu milikku, kalau ada yang berani nyentuh kamu maka aku akan beri hukuman setimpal." lanjut Dira. Deg! Beberapa detik yang lalu aku merasa tersentuh hatiku. Namun sekarang aku seperti dibanting setelah diterbangkan ke atas. Dira hanya menganggapku sebagai barangnya, tak lebih dari itu. Tiba-tiba saja aku merasa ada yang ingin keluar dari mataku, namun kutahan. "Mas mau mandi pakai air hangat?" tanyaku yang ingin segera pergi dari hadapan Dira karena air mataku sudah tak dapat kubendung. "Aku saja." ucap Dira yang kemudian masuk ke kamar mandi. Setelah Dira masuk ke kamar mandi, aku menangis dalam diam karena tak berani bersuara. Aku yakin Dira akan marah kepadaku kalau melihatku menangis lagi. Selesai mandi dan mengenakan pakaian yang sudah kusiapkan, Dira langsung rebahan di ranjang. Sementara aku duduk membaca buku di meja rias. "Kamu nggak mau tidur?" tanya Dira, aku langsung berjalan ke ranjang. "Nggak jawab?!" teriak Dira, "Iya mas.." jawabku malas sambil memakai selimut. "Sakit?" tanya Dira lagi namun dengan suara pelan. "Iya mas.." jawabku malas lagi, aku memejamkan mata. "Kamu nggak bisa jawab selain iya?!" teriak Dira lagi, aku membuka mataku. Kesal rasanya mendengar bentakan Dira terus-terusan, namun aku tak mau membuat kesalahan yang akan kusesali lagi. "Aku harus bagaimana mas?" tanyaku pelan karena ingin meredam amarahku. "Kamu kan bisa katakan lebih dari sekedar iya. Apa kamu nggak suka bicara sama suami kamu sendiri?" ucap Dira yang sebenarnya membuatku semakin emosi, namun lagi-lagi aku mencoba menahannya. Dulu, ia yang meminta agar aku tak banyak bicara. Sekarang ia memarahiku karena tak banyak bicara. Sebenarnya apa maunya? Apa dia memang hanya ingin meneriakiku? "Maafin Kila mas, badan Kila sakit semua. Kila boleh tidur sekarang?" ucapku masih dengan nada malas. "Kamu nggak mau ngobrol sama aku?" tanya Dira, kali ini dia terduduk dan menatapku tajam. "Ya udah, aku nggak jadi tidur." ucapku yang sebenarnya sangat ingin memaki Dira. "Kesinilah." pinta Dira, aku menurutinya dan duduk mendekatinya. Dira kemudian membuka kembali bajuku, aku terkejut namun tak berani menolak. Baju dan jilbabku ia lepas, hanya tertinggal pakaian dalam saja. "Udah diobatin?" tanyanya pelan, aku mengangguk, "Udah mas..". "Tidurlah." ucapnya, "Bajuku.." jawabku terbata. "Nggak usah pakai baju, aku mau lihat berapa banyak luka di tubuhmu. Akan kubayar 10 kali lipat setiap luka di tubuhmu untuk orang yang berani menyentuhmu." ucap Dira tegas. Aku tak berani menolak permintaan suamiku, namun risih rasanya tidur hanya dengan pakaian dalam sementara ia menatapku seperti ini. "Kamu nggak mau nurutin suamimu?" tanya Dira, aku langsung merebahkan tubuhku dan memejamkan mataku. Tangan Dira menggerayangi tubuhku dengan sangat leluasa, membuatku merinding tak tertahan. Kali ini tangan Dira sudah memegang pahaku, bagian tubuhku yang paling banyak luka lebam. Aku ingin teriak karena tindakannya tersebut, namun tangannya semakin bersemangat menjamah tubuhku. "Mas, geli.." kataku pelan, takut kalau Dira akan marah karena protesku. "Kenapa? Kamu nggak mau disentuh suamimu?" tanya Dira, kali ini dia menatapku lekat. Tatapannya menyapu seluruh tubuhku, mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Aku yang malu namun takut dosa hanya bisa menutup mata. Dira kemudian melempar bajuku tepat di wajahku. "Pakai, aku nggak nafsu lihat tubuh kamu yang nggak ada seksi-seksinya." ucap Dira, aku tanpa menunggu lama langsung memakai baju dan juga jilbabku. Aku sungguh lega karena akhirnya Dira tak meminta jatahnya malam ini. Aku tak peduli kalau Dira menyebutku jelek, aku belum siap kalau harus melayaninya dalam urusan ranjang. "Apa kamu perlu memakai hijabmu itu? Saat tidur? Bareng suami kamu?!" teriak Dira, aku langsung melepas kembali jilbabku dan berbaring lagi. "Nggak jawab lagi?" tanya Dira, "Iya mas, aku nggak akan pakai jilbab lagi kalau tidur." kataku kesal. "Kamu marah sama aku?!" teriak Dira lagi, "Mas, badanku sakit semua. Aku mau tidur, rasanya aku mau sakit lagi." aku mencari alasan agar Dira berhenti mengajakku bicara karena dari tadi dia hanya membentakku saja. Dira akhirnya tampak mereda, ia kemudian merebahkan tubuhnya dan memakai selimut. "Akan kubalas rasa sakitmu dengan setimpal." ucap Dira yang saat ini sudah menutup matanya, aku ikut menutup mata. "Nggak jawab lagi??!" teriaknya, "Terima kasih mas." kataku mengakhiri obrolan yang dipenuhi teriakan Dira. Aku kira Dira sudah tidur, nyatanya dia masih meneriakiku karena aku tak menjawab peekataannya. *** Ketika sarapan, Pak Bima dan Bu Wati akhirnya mengizinkan aku dan suamiku bisa tinggal terpisah dari mereka. Dira langsung menyuruh asisten rumah tangga untuk memindahkan barang-barangku yang ingin kubawa. Sementata Dira tak membawa apapun karena barang-barang di rumah ini memang sengaja ia letakkan di sini. Sehingga ia tak perlu membawa pakaian ganti ketika menginap di sini. "Kamu pulang kuliah jam berapa?" tanya Dira ketika dia mengantarku ke kampus. "Sore mas, kenapa mas?" sahutku, "Nanti kamu pilih mobilmu sendiri, aku jemput kamu." ucap Dira yang membuatku kaget. "Aku naik ojek aja mas, aku nggak bisa nyetir mobil." ucapku yang tak ingin menerima hadiah mahal dari suamiku, Dira. "Aku nggak suka kamu naik motor sama orang lain. Terus, aku akan sediain sopir buat kamu." sahut Dira dengan santai. "Aku udah janji kalau aku akan beliin kamu mobil. Jadi nggak usah nolak, aku yang udah janji." ucap Dira yang tak ingin dibantah. "Mas udah tahu siapa yang mukulin aku kemarin?" tanyaku mengalihkan pembicaraan. "Udah, mereka udah ditahan di kantor polisi sekarang." jawab Dira santai, sementara aku melotot kaget tak percaya. "Bener mas?" tanyaku dengan sedikit berteriak. "Apa kamu pikir aku bohong?" balas Dira yang lagi-lagi meneriakiku. "Mas mau mereka dipenjara?" tanyaku pelan, "Hmmm.." jawab suamiku malas. "Kalau mereka minta maaf, dilepasin aja ya mas. Kasihan kalau mereka putus kuliah." rayuku, "Kamu berani memerintahku sekarang? Kamu lupa diri kamu siapa?" ucap Dira dengan mendorong keningku mengunakan jari tengah tangan kanannya. Aku menciut karena mengingat betapa kejamnya suamiku ini. Aku memang marah kepada ketiga wanita yang sudah mengeroyokku kemarin. Namun aku juga tak ingin mereka dipenjara karena aku. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD