Aku benar-benar tak mengerti arti dari sikap suamiku, Dira selama ini.
Dari awal pernikahan kami yang memang terpaksa, dia menunjukkan sikapnya yang dingin dan jahat.
Namun beberapa hari ini dia baik padaku walau masih membentakku dan meneriakiku.
Ia bahkan marah karena melihat badanku yang penuh dengan luka lebam akibat dikeroyok orang. Dira juga menyebutku sebagai istrinya, ada sedikit rasa bangga di hatiku.
***
"Pilihlah, aku akan belikan untukmu sebagai hadiah." ucap Dira.
Kali ini Dira menepati janjinya mengajakku untuk membeli mobil baru untukku.
"Aku nggak ngerti mobil, mas. Mas aja yang pilih, aku manut saja." kataku, aku jujur memang tak paham mengenak mobil karena dari dulu keluargaku tak mampu membeli mobil.
"Aku mau yang itu." ucap Dira pada orang yang menawarkan berbagai jenis mobil yang ada di showroom ini.
Dira menunjuk mobil sedan hitam yang tampak sangat mewah, bagus sekali pikirku.
"Oh itu lagi diskon Pak, harganya sekarang menjadi 635 juta saja." ucap lelaki berpakaian rapi itu.
Aku melongo mendengar harga mobil yang ditunjuk Dira, kenapa mahal sekali pikirku.
"Aku tak peduli, urus surat-suratnya. Aku akan bayar sekarang juga." jawab Dira santai, aku semakin tak percaya dengan apa yang kulihat.
"Mas, beli yang murah saja ya.." pintaku ke Dira karena kupikir mobil yang akan ia berikan padaku terlalu mahal.
"Kamu pikir aku nggak punya uang?" tanya Dira yang sedikit berbisik padaku, tentu saja dengan lirikan mautnya.
Aku akhirnya diam, menerima hadiah mobil yang dibelikan oleh suamiku ini.
Aku pikir Dira sudah mulai membuka hati untukku. Itu sebabnya dia mulai bersikap baik padaku dengan membelikanku mobil mewah.
***
Selesai dengan pembelian mobil, aku dan Dira pulang. Kali ini kami tak lagi pulang ke rumah orang tuanya, namun ke rumah Dira sendiri.
Menurut cerita ibu mertuaku, Dira sudah pisah tempat tinggal dengan orang tuannya sejak berumur 24 tahun.
Artinya, sudah 6 tahun Dira tinggal di rumah ini.
Rumah ini adalah hasil jerih payah Dira, suamiku yang ternyata bekerja sebagai direktur rumah sakit terbesar di kota ini.
Selain itu Dira juga mengelola sebagian kebun milik ayahnya, itu sebabnya Dira termasuk pengusaha muda dengan penghasilan fantastis.
Rumah Dira tak sebesar rumah Pak Bima, namun tergolong rumah mewah.
Rumah yang memiliki 2 lantai ini didominasi oleh warna putih dan gold.
"Ini kamarmu, itu kamarku. Tapi sebisa mungkin kamu jangan menaruh barang apapun di kamar ini. Kamu di sini hanya untuk tidur. Kalau sampai ibu sama ayah tahu, kita akan disuruh kembali ke rumah itu lagi." jelas Dira dengan pelan, kali ini aku tak sadar kalau aku terpesona dengan apa yang ia lakukan.
Aku sepertinya mulai menyukai suamiku, Dira. Semoga saja pernikahan yang awalnya terpaksa ini akan berakhir bahagia.
"Baik mas." jawabku singkat namun dengan melempar senyum pada suamiku.
"Di rumah ini ada 1 asisten rumah tangga, 1 tukang kebun dan 1 satpam. Mulai besok akan ada sopir untukmu sehingga mulai besok ada 2 sopir di rumah ini." lanjut Dira yang masih menjelaskan, aku mengangguk mendengarkannya.
Mulai malam ini akhirnya aku tidur di ranjang yang nyaman, sendirian.
Aku tak peduli Dira punya rencana apa setelah kepindahan kami ini. Namun aku bersyukur akhirnya aku tak perlu berbagi ranjang dengan suamiku yang masih bersikap labil.
***
Pagi hari, aku ke dapur untuk menyiapkan makanan. Aku sangat bersemangat karena tidurku nyenyak tadi malam.
Sesampainya di dapur, kulihat seorang wanita berusia kurang lebih 40 tahun sedang menata makanan di meja makan.
"Udah selesai ya.." ucapku kecewa karena ternyata makanannya sudah siap santap.
"Panggil saya bibik Asih aja non, den Diranya belum bangun?" tanya bibik Asih selaku asisten rumah tangga di sini.
"Sebentar lagj juga turun bik." ucapku sambil melotot melihat makanan di meja yang sangat menggiurkan.
"Mulai besok aku bantuin masak ya bik kalau nggak sibuk." kataku pelan,
"Nggak usah non, ini tugas bibik. Nanti den Dira malah pecat bibik non. Nanti bibik nggak punya pekerjaan." ucap bibik Asih, kupikir apa yang ia katakan barusan ada benarnya.
Kalau Dira marah karena aku membantunya, yang ada bik Asih yang akan kena imbasnya.
Setelah beberapa saat, Dira turun dan kami sarapan bersama, berdua.
Tentu saja kami makan dengan diam, karena Dira tak suka aku bicara lebih dulu.
"Hari ini belum ada sopir untuk kamu, aku anter kamu ke kampus. Pulangnya naiklah taksi." ucap Dira setelah selesai makan, aku mengangguk saja karena mulutku masih dipenuhi makanan.
***
"Mbak, aku mau bicara sama mbak, sebentar aja." ucap Soni ketika aku sedang sibuk membaca buku di perpustakaan.
Aku menuruti apa maunya Soni, kuikuti Soni yang berjalan keluar dari ruang perpustakaan.
"Mbak yang ngelaporin Serli dan teman-temannya?" tanya Soni ketika kami sudah berdiri di luar ruang perpustakaan di kampusku.
"Kenapa?" tanyaku ketus, sepertinya Soni tak suka kalau wanita-wanita yang mengeroyokku kemarin akhirnya ditangani oleh pihak yang berwajib.
"Aku tahu mereka salah mbak, tapi setidaknya jangan ajuin gugatan ke kampus. Mereka dikeluarin dari kampus, kasihan mbak." sahut Soni, aku terperanjat dengan ucapan Soni barusan.
"Maaf, tapi bukan aku yang ngelakuin itu. Suamiku yang mengurus semuanya, dia marah karena kelakuan wanita-wanita itu padaku." terangku ke Soni agar ia paham bagaimana posisiku.
Saat ini aku sudah bukan wanita single, aku sudah bersuami. Segala sesuatu tentangku sudah sewajarnya diurus oleh suamiku. Wajar kalau suamiku mengambil tindakan ekstrim untuk orang yang melukai istrinya.
"Apa mbak nggak bisa bicara sama suami mbak agar mencabut permintaannya ke pihak kampus?" tanya Soni yang tampaknya frustrasi dengan kenyataan bahwa wanita yang memukuliku kemarin dikeluarkan dari kampus dan bahkan dipenjara.
"Aku udah bicara, yang ada suamiku marah. Jadi tolong berhenti memintaku melakukan hal yang akan membuatku rugi sendiri." ucapku yang kemudian pergi meninggalkan Soni.
***
Siang ini aku sudah tidak ada kelas lagi, aku memutuskan pulang ke rumah.
Aku ingin tidur siang di rumah dengan nyaman seperti semalam.
Aku naik taksi sesuai permintaan suamiku, entah kenapa aku tersenyum sendiri mengingat sikap Dira yang mulai melunak kepadaku.
Aku merasa percaya diri, berharap Dira akan bersikap lebih baik setiap harinya.
Aku membiarkan wajahku di siang yang panas ini ditemani senyum yang tak kunjung luntur.
Dira, nama pria yang mulai mengisi hati dan hari-hariku.
Ketika sampai di rumah, aku terkejut melihat mobil Dira yang sudah terparkir di rumah.
Tumben suamiku pulang cepat, hal yang tak pernah ia lakukan selama menjadi suamiku.
Aku masuk ke rumah, mendapati bik Asih yang masih mengepel lantai ruang tamu.
"Mas Dira udah pulang, bik?" tanyaku dengan senyum mengembang.
Bik Asih diam menatapku tajam, seperti melihat hantu, ia tampak gugup tak terkendali.
Aku yang awalnya tersenyum, kini merubah ekspresiku menjadi datar.
Kenapa bik Asih menatapku seperti itu, apa ada hal yang seharusnya tak kuketahui.
Aku langsung naik ke lantai 2, ke kamar suamiku tanpa menunggu jawaban bik Asih.
Aku menaiki tangga dengan gemetar, aku semakin gugup ketika mendengar desahan suara wanita.
Pikiranku sudah membayangkan hal-hal yang tidak-tidak.
Walaupun dengan gemetar, aku tetap melangkahkan kakiku menuju kamar suamiku.
Betapa terkejutnya aku mendengar desahan yang sangat jelas dari kamar suamiku yang seharusnya juga menjadi kamarku.
Aku menempelkan daun telingaku ke pintu, entah kenapa aku melakukan ini.
Aku buka pintu kamar yang tertutup rapat ini, berharap pintu ini tak terkunci agar aku bisa memergoki apa yang suamiku sedang lakukan sekarang.
Jeglek!
Pintu kamar akhirnya terbuka, betapa terkejutnya aku melihat suamiku yang sedang telanjang sedang menindih wanita lain yang juga tak mengenakan sehelai pun benang.
Bersambung...