Diselingkuhi, aku ingin cerai

1000 Words
Mataku terbelalak selebar mungkin, sampai rasanya bola mataku ini ingin keluar dari sangkarnya. Mulutku juga terbuka selebar mungkin, bahkan nyaris sobek, saking terkejutnya aku dengan apa yang kulihat kali ini. Hatiku hancur, melihat suamiku sedang memadu kasih dengan wanita lain. Sementara aku, istri sahnya saja tak pernah mendapatkan hakku yang satu itu. "Apa yang kalian lakuin?!!" teriakku ketika melihat Dira mencoba bangkit dari aktivitasnya barusan. "Yah! Apa-apaan kamu? Masuk tanpa ketuk pintu dulu, kamu mulai berani?" teriak Dira yang langsung mengambil celana pendeknya demi menutupi k*********a. Aku kaget bukan kepalang menyadari bahwa Dira malah membentakku, bukannya meminta maaf padaku. Sementara wanita yang sudah berzina dengan suamiku itu langsung mengambil pakaiannya dan lari ke kamar mandi. Dira berjalan ke arahku, ia menampar pipi kiriku dengan tangan kanannya, sangat keras. Plak!!! Aku memegangi pipiku yang sakitnya tak ada apa-apanya dibanding rasa sakit hatiku saat ini. Air mataku mulai membasahu wajahku karena saking banyaknya yang keluar. "Berani banget kamu masuk ke kamarku tanpa permisi!" teriak Dira sekeras mungkin. "Jadi ini alasan kamu minta aku merayu orang tuamu agar kita pindah ke sini. Agar kamu bisa berzina dengan wanita jalang itu?!" jawabku dengan berteriak tak kalah keras. Aku sudah dikuasai emosi, aku tak peduli lagi dosa karena sudah membentak suamiku. Dira lah yang seharusnya minta maaf kepadaku karena menghianatiku, bukan aku yang meminta maaf. Bukannya meminta maaf, Dira malah marah kepadaku dan bahkan menamparku dengan sangat keras. "Iya, terus kamu mau apa? Mau bilang ke orang tuaku? Sana, aku pastiin kalau adik kamu nggak akan bisa berjalan normal lagi kalau kamu berani mengadu ke orang tuaku." ucap Dira yang kali ini dia mengancamku. Aku tak habis pikir dengan orang kaya yang saat ini sudah sah menjadi suamiku ini. Bagaimana bisa dia menikahiku kalau dia tak menginginkanku. Bagaimana bisa dia melakukan hubungan intim dengan wanita lain sementara ia tak pernah melakukannya padaku. Hatiku sakit, hancur berkeping-keoing, sulit rasanya aku menerima kenyataan ini. Tanganku masih memegangi pipiku yang ditampar Dira, air mataku semakin deras terjatuh. Kakiku rasanya gemetar, begitu pula jantungku yang sudah berdegub tak terkendali. Aku tanpa menjawab ucapan Dira langsung berjalan menuju kamar mandi, melihat kembali wanita yang sudah tidur dengan suamiku. Aku menggedor pintu kamar mandi, wanita jalang itu menguncinya dari dalam. Dira menarikku sampai keluar dari kamarnya, ia lalu mendorongku sekuat mungkin sampai aku tersungkur di lantai. Dira kemudian menutup pintu kamarnya, sangat keras. Aku menangis tak karuan, menyadari betapa menyedihkannya hidupku ini. Aku yang hanya dari keluarga miskun harus menikah karena keadaan. Sementara suamiku tak menginginkanku, sangat kejam padaku dan ternyata memiliki wanita lain di hatinya. Aku menangis cukup lama, sampai akhirnya bik Asih menghampiriku. "Non Kila nggak apa-apa?" tanyanya sambil membantuku berdiri. "Bik Asih tahu semua ini?" tanyaku dengan isak tangis yang mulai dapat kuatur. Bik Asih mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku berbalik lalu langsung menuruni tangga dengan berlari. *** Aku pergi ke rumah mertuaku dengan menggunakan jasa taksi online. Aku mulai bisa mengontrol air mataku, bahkan saat ini aku sudah tak menangis lagi. Ketika aku bertemu dengan mertuaku, mereka memintaku untuk duduk terlebih dahulu. "Ibu sama ayah tahu kalau mas Dira punya wanita lain?" tanyaku dengan gemetar. Kuamati ekspresi kedua orang yang saat ini menjadi mertuaku, mereka menunduk dan tampak gelisah. Kupikir aku di sini hanya dibodohi oleh keluarga kaya raya yang tak berperasaan. Aku sudah ditipu oleh kebaikan mereka berdua, nyatanya mereka sama jahatnya dengan Dira, suamiku. "Jadi kalian sudah tahu?" lanjutku lagi, kali ini aku mulai ingin menangis lagi. Kugigit bibirku sekeras mungkin agar aku tak menangis lagi, namun percuma. Pada akhirnya aku menangis meraung-raung menghadapi kenyataan yang teramat pahit bagiku. Ibu mertuaku memelukku, aku hanya pasrah dan terus menangis dalam pelukannya. Aku menangis cukup lama, sampai akhirnya ibu mertuaku mulai menceritakan awal mula kenapa Pak Bima memintaku sebagai menantunya. *Dira yang pandai dalam pekerjaannya memilih untuk tinggal di rumahnya sendiri. Tanpa curiga orang tuanya membiarkan Dira hidup seorang diri Sampai pada suatu saat Bu Dewi yang merupakan ibu mertuaku melihat Dira sedang melakukan hubungan intim dengan wanita di rumahnya Dira. Ibunya kaget dan meminta mereka menikah dari pada harus berbuat dosa. Namun ternyata wanita yang sedang memadu kasih dengan anaknya tersebut adalah istri orang. Wanita itu bernama Distaa, salah satu staf kantor di rumah sakit tempat Dira bekerja. Dista sendiri memiliki suami seorang dokter yang bekerja di rumah sakit yang sama. Itu sebabnya orang tua Dira menjodohkan aku dengan Dira ketika melihat peluang. Awalnya niat Pak Bima menolong keluargaku ketika Sera dioperasi adalah ikhlas. Sampai terbesit pikiran di benak Pak Bima untuk memanfaatkan kesempatan itu agar bapakku mau menikahkanku dengan anaknya, Dira. Pak Bima sadar betul kalau Dista tak akan pernah meminta cerai kepada suami sahnya. Dista hanya melakukan itu dengan Dira hanya untuk memenuhi kepuasan hasratnya saja. Sementara Dira melakukannya karena ia mencintai wanita itu yang merupakan istri orang. Akhirnya terciptalah hubungan cinta segitiga, yang kemudian aku masuk di antaranya dan menjadi orang keempat. Rencana ayahnya Dira menikahkan kami secepatnya agar Dira dapat melupakan Dista dan hidup bahagia denganku. "Aku mau cerai bu, pak." ucapku lantang, tegas dan tanpa ragu sama sekali. Kutatap wajah kedua mertuaku ini yang tampaknya terkejut dengan permintaanku. "Kila, tolong bertahanlah demi..." ucap Pak Bima terputus, saat ini Pak Bima pingsan dengan memegang d**a kirinya. Aku dan ibunya Dira berteriak sekeras mungkin, datanglah mbok Ijem yang ikut membantu. *** Ayah mertuaku saat ini terbaring dan tak sadarkan diri di ruang ICU. Aku duduk di samping ibu mertuaku yang tak kunjung berhenti menangis. Beliau terus meminta maaf padaku dan memintaku untuk tak bercerai dengan Dira, aku hanya diam mendengarnya. "Dira mau menikah dengan kamu karena ayahnya yang sakit-sakitan. Ayahnya sangat ingin memiliki cucu sebelum meninggal. Tolong bertahanlah sebisa mungkin, tolong selamatkan ayahmu itu Kila..." ucap ibunya Dira yang sungguh menyayat hatiku. Mengingat semua kebaikan Pak Bima kepada keluargaku selama ini, rasanya aku tak tega melihatnya terbaring tak berdaya di rumah sakit. Namun aku juga tak bisa mengabaikan rasa sakit hatiku karena penghianatan yang dilakukan suamiku. Aku benar-benar tak mampu memaafkan Dira yang sudah berselingkuh. Belum lagi atas tamparannya dan semua sikap buruknya selama ini. Terdengar suara langkah kaki yang iramanya sangat cepat, Dira rupanya. Dira mendekati ibunya, " Bagaimana keadaan ayah, bu?" tanyanya cemas. Ibunya Dira tak menjawab dan hanya menangis serta menggeleng-gelengkan kepala. Dira kemudian menatapku, ia menarik bajuku sekuat mungkin sampai akhirnya aku berdiri sempoyongan. "Apa yang kamu lakukan? Ha?" teriak Dira yang lupa kalau kami ada di rumah sakit. Ibunya Dira melerai kami, aku hanya menyeringai menatap Dira yang sepertinya sangat cemas kepada ayahnya. Bersambung..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD