Aku berdiri di depan cermin di toilet di rumah sakit, selesai membasuh wajahku demi meredam amarahku.
"Aku akan buat keluarga kamu menerima akibatnya karena sudah buat ayah seperti ini." itulah ancaman Dira padaku setelah meneriakiku sesaat setelah kedatangannya di rumah sakit.
Aku terus mengingat ancamannya yang membuatku semakin marah kepadanya. Namun tak kupungkiri kalau aku juga takut kalau Dira akan benar-benar melampiaskan kemarahannya pada keluargaku.
Dira yang bersalah namun tetap aku yang disalahkan. Beginilah nasib orang miskin sepertiku, tak akan ada yang menghargaiku.
Terlebih lagi suamiku yang terpaksa menikahiku ini sejak lahir memang sudah memegang sendok emas.
Aku yang tidak ada artinya apapun baginya, tentu tak sulit baginya untuk menyingkirkanku dan keluargaku.
Aku keluar dari toilet, mendapati ibu mertuaku tertidur di bangku yang ada di luar kamar ayah bersandar pada pundak anak semata wayangnya itu.
Dira melirik padaku, aku memutuskan untuk pergi pulang, tentu saja ke rumah orang tuaku.
Baru beberapa langkah aku pergi dari hadapan Dira, ada pesan masuk ke ponselku.
"Kalau kamu berani pergi, aku akan buat adikmu cacat selamanya!" pesan yang dikirim dari nomor tak dikenal, mungkin saja Dira.
Aku menoleh ke pria yang masih sah menjadi suamiku itu, dia menatapku penuh dendam.
Aku ingin pergi dari sini, namun aku tak tega kalau Sera yang akan menjadi tumbal dari keegoisanku ini.
Aku melangkah kembali ke arah ibu mertuaku dan duduk di sampingnya.
***
Sudah larut malam, namun kondisi ayah mertuaku tak kunjung membaik.
Ibu mertuaku masih terus menangis dan Dira tampak gelisah. Dira berkali-kali menggosok wajahnya menggunakan kedua tangannya secara kasar. Rambutnya tampak berantakan, aku hanya diam.
Jauh di dalam lubuk hatiku, aku merasa bersalah pada ayah mertuaku. Aku kasihan melihatnya tersiksa berkat ulah anaknya yang memiliki hubungan dengan istri orang.
Namun aku tak mungkin mengorbankan perasaanku untuk orang lain. Sebelum perasaanku ke Dira berkembang, lebih baik aku melepaskannya sekarang.
"Ikut aku." ucap Dira yang kemudian pergi meninggalkan ibunya, aku mengikutinya.
"Kamu bilang apa sama ibu sama ayah?" tanya Dira ketika kami sudah berasa di luar rumah sakit.
"Aku mau kita cerai." jawabku singkat, aku masih kekeh terhadap keputusanku untuk menggugat cerai Dira.
Aku tak ingin menjadi orang ketiga yang tak dianggap dalam hubungan asmara Dira dan wanita itu.
"Kamu benar-benar nggak peduli sama keluargamu?" ucap Dira yang tampak menyeringai.
Aku hanya diam, sebenarnya aku juga takut kalau Dira akan melampiaskan kemarahannya pada Sera dan bapakku yang tak lain adalah bawahan ayahnya.
"Kalau kamu berani ngomong cerai lagi, aku pastiin kamu akan menyesal selamanya!" ancam Dira sambil memegang daguku, setelah itu dia melempar wajahku keras.
"Aku nggak sudi jadi istri pezina sepertimu!" kataku lantang, Dira menyambut kata-kataku dengan tamparan keras di pipi kiriku.
Hari ini aku ditampar dua kali di tempat yang sama dan oleh orang yang sama, suamiku sendiri.
Namun aku tak akan menangis kali ini, aku bukan wanita lemah yang menangis hanya karena ditampar.
Apalagi bukan aku yang salah di sini, dialah yang salah, dia yang seharusnya menerima tamparan dariku.
"Tampar aku sepuasmu, aku akan tetap meminta cerai darimu!" ucapku lantang sambil memegangi pipi kiriku.
Dira mencekik leherku dan mendorongku sampai tubuhku membentur tembok.
"Lakukan! Aku akan buat kamu berlutut meminta ampun padaku kalau sampai terjadi sesuatu pada ayah!" ucap Dira tegas, aku kesakitan karena ia mencekikku dengan sangat keras.
Dira melepas cekikannya, aku terbatuk berkali-kali mencoba menetralkan kembali deru nafasku.
Aku melirik Dira yang berjalan meninggalkanku sendiri.
Aku jongkok dan meneteskan air mata dalam diam, tak tahu apa yang sudah aku alami hari ini.
Sehari saja rasanya setahun, ada banyak hal yang membuatku sakit hati hari ini.
Tak hanya sekali, rasa sakit datang bertubi-tubi kepadaku hari ini.
Harapanku bisa memiliki hubungan harmonis dengan suamiku sirna sudah. Tak ada lagi yang bisa aku harapkan dari Dira sejak mataku menangkap perselingkuhannya tadi siang.
***
Aku kembali ke dalam, menemani ibu mertuaku yang masih menangis.
Aku dan ibu mertuaku tidur di bangku sampai pagi tiba, aku menangkap sosok Dira yang masih terjaga ketika aku membuka mata.
Mungkin Dira tak tidur semalaman karena khawatir pada kondisi ayahnya.
Pak Bima terbaring lemah seperti ini salah siapa kalau bukan salah anaknya sendiri, pikirku.
"Ibu pulang dulu sama mas Dira, mandi sama sarapan dulu. Biar Kila yang nunggu ayah sekarang, nanti Kila pulang mandi kalau ibu udah ke sini lagi." pintaku ke ibu mertuaku.
Awalnya ibu mertuaku tak mau, namun Dira memaksanya.
Sekarang tinggal aku sendiri yang menunggu ayah mertuaku.
Dokter memanggilku, mengatakan kalau ayah mertuaku sudah siuman.
Aku dipersilakan masuk, kutatap wajah pria yang sudah banyak keriput itu dengan sayu.
Aku duduk di samping ranjang ayah mertuaku, memegang tangannya yang terasa gemetar.
"Maafin Kila ya Pak Bima.." ucapku yang disusul dengan air mata yang entah kenapa mengalir dengan sendirinya.
"Ja..ngan ce..ra..ai.." ucap Pak Bima terbata-bata, aku sungguh tak tega melihatnya.
"Iya Pak, Pak Bima yang kuat, nanti kita pulang bareng, ke rumah Pak Bima yang sangat bagus itu." ucapku merayu ayah mertuaku, entah kenapa rasanya tak tega melihatnya tak berdaya seperti sekarang.
Aku segera menghubungi Dira dan memberi tahunya kalau ayahnya sudah siuman.
Ketika Dira dan ibunya datang, aku hendak pamit pulang untuk mandi terlebih dahulu.
"Kila pulang dulu, nanti Kila ke sini lagi." ucapku ke Pak Bima, beliau masih memegang tanganku erat.
"Kila cuma mau mandi, nggak akan lama." rayuku, tapi Pak Bima tak kunjung melepas genggaman tangannya.
"Dira akan anter Kila yah, kasihan dari kemarin dia belum mandi. Belum sarapan juga, nanti Kila sakit." ucap Dira yang akhirnya membuat tangan Pak Bima melepas tanganku.
Aku terpaksa keluar dari rumah sakit bersama Dira sampai di tempat parkir.
"Aku naik taksi aja." ucapku ke Dira tanpa melihatnya.
Dira menarik tanganku dan menyeretku sampai dekat dengan mobilnya.
"Masuk!" bentak Dira, aku mencoba melepaskan tanganku darinya namun yang ada tanganku semakin terasa sakit.
Aku terpaksa masuk ke dalam mobilnya, di dalam mobil aku hanya diam membisu.
"Apa kamu masih ingin bercerai?" tanya Dira dengan suara pelan, entah apa yang merasukinya sehingga bisa bicara pelan padaku.
"Iya." jawabku singkat dan tegas, Dira melirikku tajam.
"Aku tak akan mengusik hidupmu, aku akan mencukupi kebutuhanmu dan membiayai operasi Sera. Yang aku minta, tutup matamu mengenai hubunganku dengan Dista." ucap Dira, aku meliriknya tajam.
Jadi nama wanita yang sudah berzina dengan suamiku itu Dista. Aku sama sekali tak tahu apapun mengenainya, wajahnya pun aku sudah lupa.
Yang aku ingat, tubuhnya memang sangat bagus bak gitar Spanyol.
Kulitnya putih, rambutnya panjang dan lurus. Tak heran jika Dira menyukai wanita itu, tubuhnya memang sangat bagus.
"Hidupku nggak bisa kamu beli, mas." tegasku ke Dira karena tampaknya ia masih menganggapku sebagai lintah darat yang bisa ia beli dengan uangnya.
"Apa kamu nggak terlalu serakah? Kamu dan keluargamu udah nikmatin uang yang orangtuaku kasih. Jangan bilang kamu juga mengharapkan hatiku. Jangan mimpi!" ucap Dira yang semakin membuatku kesal, dia benar-benat menganggap remeh diriku yang miskin ini.
"Terserah kamu mau bilang apa, aku akan mengajukan gugatan cerai ketika Pak Bima sudah diperbolehkan pulang." jawabku dengan tegas.
"Baiklah, lakukan apa maumu. Jangan minta ampun padaku kalau bapakmu tak punya pekerjaan lagi dan adikmu tak bisa operasi. Jangankan operasi, untuk makanpun aku pastika kalian tidak akan bisa melakukannya." ancam Dira sambil menyeringai.
"Sebenernya mau kamu apa sih? Kalau kamu memang cinta sama wanita jal*ng itu, ceraikan saja aku. Kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau tanpa aku." teriakku yang sudah dikuasai emosi.
"Aku mau kamu hamil anakku, aku mau ayah dan ibu punya cucu darah dagingku." sahut Dira.
"Kenapa tak minta perempuan itu untuk melakukannya?" tanyaku masih dengan berteriak.
"Karena kalau dia hamil, suaminya akan mengira itu anaknya. Dan belum tentu juga itu adalah anakku." jawab Dira, aku bengong tak percaya apa yang barusan kudengar.
"Kamu kaya, tampan, punya pekerjaan mapan, bodohnya hanya jadi b***k cinta wanita yang sudah bersuami." ucapku yang masih tak percaya pada kenyataan yang kuhadapi.
Dira diam, dia masih fokus memperhatikan jalanan yang cukup macet siang ini.
Sampailah kami di rumah Dira, rumah dimana suamiku b******u dengan istri orang.
Aku langsung mandi tanpa menunggu lama, Dira menungguku di ruang tamu.
Selesai mandi, aku makan terlebih dahulu sebelum kembali ke rumah sakit.
"Apa yang kamu mau agar kamu tak minta cerai?" tanya Dira, aku tak mengindahkannya dan masih terus makan dengan mulut yang dipenuhi makanan.
"Kamu mau punya pacar juga?" lanjut Dira, aku membanting sendokku sekeras mungkin.
"Kamu pikir aku sama dengan jal*ng itu? Aku nggak akan melakukan hal keji itu." ucapku tegas.
Bersambung...