Memberi kesempatan

1202 Words
"Berhenti memanggil Dista jal*ng!" teriak Dira padaku, aku beranjak lalu pergi dari ruang makan itu karena sikap kasarnya. Aku menuju keluar rumah setelah menyambar tasku, Dira menarik tanganku. Aku berhenti melangkah setelah Dira memegang tanganku erat. Aku menatapnya penuh dendam, seharusnya ia memohon padaku bukannya terus-menerus menyalahkanku. Tidak cukup baginya menamparku dua kali, Dira masih saja membentakku walau dia yang salah. "Lepas!" teriakku ke Dira, suamiku yang usianya 9 tahun lebih tua dariku. Namun sikapnya tak jauh beda seperti anak kecil karena tak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. "Kamu mau kemana?" teriak Dira, aku masih mencoba melepas tanganku dari genggaman Dira. "Bukan urusanmu!" teriakku yang sudah dikuasai emosi. "Aku masih menjadi suamimu, aku masih berhak mengetahui semua urusanmu." kata Dira yang enggan melepaskan tanganku. "Suami macam apa yang punya hubungan gelap dengan istri orang?" tanyaku dengan lantang. Dira kemudian mendorong tubuhku sampai aku membentur tembok. Dira mengangkat kedua tanganku sampsi di atas kepala dan menguncinya. Dira mendekatkan wajahnya, seketika saja aku memalingkan wajahku. "Kamu bener mau lihat bagaimana aku bisa membuat keluargamu sengsara? Ha?" teriak Dira tepat di telingaku. "Lepas mas!" teriakku lagi, namun Dira semakin erat mengunci tanganku. "Kenapa? Bukannya kamu juga mau menikmati tubuhku?" ucap Dira sedikit berbisik di telingaku, aku risih mendengarnya barusan. Dira mencium pipi dan merambah ke telingaku, membuatku merasa aneh. Aku menyerang bagian sensitif Dira menggunakan lututku. Seketika saja Dira melepas tanganku lalu meringkuk kesakitan.  Aku puas melihatnya kesakitan karena perlakuannya barusan yang menyakiti hatiku. Aku pergi meninggalkan rumah Dira dan pulang ke rumah orang tuaku. Aku pulang membawa air mata di wajahku, ibuku segera memelukku erat. Aku menceritakan semua kejadian pilu yang kualami pada ibu dan bapakku. Tentu saja dengan air mata dan isak tangis yang menggema di rumah orang tuaku ini. "Bagaimana pun, tak seharusnya kamu pulang ke sini kalau suamimu tak mengizinkanmu. Neraka yang akan menantimu." ucap bapakku yang bagaikan petir di siang bolong. Aku berharap mendapat pembelaan dari keluargaku sendiri. Nyatanya bapak malah menyalahkanku karena pulang tanpa restu suamiku. "Aku mau cerai Pak, aku nggak bisa bertahan sama dia." ucapku sambil meraung, menangis bak anak bayi. "Cerai bukan satu-satunya solusi untuk masalah keluarga. Setiap orang punya masalah keluarga sendiri-sendiri. Hanya karena tidak bercerai bukan berarti tidak ada masalah. Begitu juga sebaliknya, hanya karena ada masalah kecil lalu meminta cerai." lanjut bapak yang semakin mengoyak hatiku. Aku benar-benar tak habis pikir kalau bapak akan menyalahkan keputusanku untuk pulang ke sini. Aku semakin keras menangis, ibu memelukku erat dan ikut meneteskan air matanya. *** Selesai sholat magrib, bapak dan ibu mengajakku ke rumah sakit. Aku manut saja karena setelah kupikir-pikir, apa yang bapak bilang tadi siang ada benarnya. Walaupun aku tidak ingin bertemu dengan Dira, aku masih khawatir pada Pak Bima. Secara tidak sengaja, memang aku yang menjadi penyebab Pak Bima sakit seperti sekarang ini. Ketika di rumah sakit, aku mendapati Dira yang sedang merayu ayahnya untuk makan. Pak Bima tampak diam dan tak segera membuka mulutnya. Ketika aku masuk, Pak Bima langsung tersenyum padaku. "Biar aku yang nyuapin ayah." ucapku pelan ke Dira, Dira beranjak dari duduknya dan memberiku mangkok berisi bubur. Aku duduk di samping ranjang Pak Bima lalu menyuapinya sesendok penuh bubur. Pak Bima langsung membuka mulutnya lebar dan mengunyahnya pelan. "Ayah kira kamu tidak mau ke sini." ucap Pak Bima sedikit terbata, aku tersenyum dan menyuapinya lagi. "Maaf, tadi Kila pulang ke rumah orang tua buat ngajak mereka ke sini, jenguk ayah." ucapku dengan lembut, mencoba menenangkan hati Pak Bima. "Kenapa nggak sama Dira?" tanya Pak Bima yang masih terdengar gemetar. "Biar Dira bisa nemenin ayah di sini, Kila kan bisa naik taksi." jawabku berbohong. Ibuku dan ibu mertuaku keluar kamar, mungkin ada yang ingin mereka bicarakan. Selesai menyuapi Pak Bima aku ikut keluar kamar, ternyata Dira mengikutiku. Aku duduk di bangku yang lumayan jauh dari ruangan Pak Bima. Dira ikut duduk di sampingku, aku langsung menggeser posisi dudukku agar menjauh darinya. "Maafin aku." ucapnya pelan, terdengar merdu di telingaku. "Buat apa?" tanyaku memastikan, "Karena udah selingkuh dan karena sikap burukku ke kamu selama ini." jawab Dira. Kali ini Dira mengajakku bicara dengan lemah lembut, mungkin ia benar-benar menyesali perbuatannya. "Aku tetap akan meminta cerai, maaf." sahutku ke Dira dengan tegas. "Tunggulah setidaknya 3 bulan, aku akan melupakan Dista. Setidaknya sampai adikmu dioperasi dan sampai kondisi ayah membaik. Saat ini ayah sedang dalam kondisi yang buruk." ucap Dira dengan tatapannya yang tampak sendu. "Kalau aku masih berhubungan dengan Dista setelah 3 bulan, silakan gugat cerai aku." lanjutnya dengan menatapku lekat. Aku tersentuh dengan apa yang Dira lakukan saat ini. Entah kenapa rasanya Dira serius ingin mempertahankan rumah tangga kami dan ingin meninggalkan kekasih gelapnya itu. Aku luluh setelah usahanya kali ini, aku memilih percaya dengan ucapannya. Setidaknya aku bisa menunggu sampai ayahnya Dira sembuh. Jika apa yang Dira katakan benar, bukankah lebih baik mempertahankan rumah tangga ini dari pada harus bercerai? Aku juga ingin menuruti apa maunya bapakku yaitu mencari solusi lain selain cerai. "Baiklah, tapi kalau kamu masih berhubungan dengannya lagi, aku tak akan pernah memaafkanmu lagi." ucapku tegas sambil menatap mata Dira dengan lekat. Dira mengangguk pelan lalu melebarkan senyuman di wajahnya. "Terima kasih sudah memberiku kesempatan." ucapnya dengan suara merdunya. 3 hari kemudian, Pak Bima sudah diperbolehkan pulang. Aku dan Dira ikut pulang ke rumah Pak Bima, kami berjanji akan tinggal di situ lagi. Setelah mengantar ayah mertuaku ke kamarnya, aku langsung pamit masuk ke kamarku. Sesampainya di kamar, kulihat Dira sudah duduk manis di pinggir ranjang. Aku ikut membaringkan tubuhku di sisi yang berlawanan dengan Dira karena tak ingin dekat-dekat dengannya. Rasanya lelah sekali, mengurusi ayah mertuaku sambil kuliah selama beberapa hari ini. Aku ingin segera memejamkan mataku walau hari masih pagi. "Kamu lelah?" tanya Dira dengan suara lembutnya. Setelah kejadian itu, Dira memang menjadi lebih perhatian dan lemah lembut padaku. Aku pura-pura tak mendengarnya dan pura-pura tidur, sengaja ingin mengabaikannya. Pasalnya, sejak aku melihat Dira berselingkuh, baru kali ini kami di kamar hanya berdua. Aku masih sulit melupakan kenangan pahit itu, namun aku percaya waktu akan mengobati semuanya. "Kamu mau aku panggilin tukang pijat? Atau mau aku saja yang memijat?" tanya Dira yang membuatku sedikit bergidik. "Aku mau tidur aja." jawabku singkat dan masih dengan mata merem. "Aku bisa memijatmu." ucap Dira yang kemudian mendekatiku, aku secara reflek membuka mataku lebar-lebar. "Aku mau tidur!" teriakku ketik Dira sudah duduk di sampingku, tanpa jarak. "Kamu nggak mau disentuh suamimu?" tanya Dira yang sepertinya mulai meledekku. "Mas, aku mau tidur, aku capek banget dan ngantuk." kataku tegas agar Dira tak menyentuhku. Aku masih belum bisa melupakan kenangan pahit itu, masih risih aku kalau Dira menyentuh tubuhku. "Itu sebabnya aku mau pijitin kamu supaya kamu bisa tidur nyenyak. Karena mungkin nanti malam aku akan membuatmu lebih capek dari sekarang." ucap Dira yang mampu membuatku kaget, aku langsung duduk di samping Dira. "Mas mau apa?" tanyaku sedikit gemetar, "Tentu saja meminta hakku yang selama ini belum kamu berikan. Sekarang aku sudah tak berhubungan dengan wanita lain, aku hanya akan melakukannya denganmu saja." sahut Dira dengan lembut. "Tapi nggak harus malam ini kan mas?" tanyaku malu, aku sebenarnya tidak ingin menolak ajakan suamiku. Hanya saja aku masih belum bisa melupakan perselingkuhannya yang menyayat hatiku. "Aku sudah beberapa hari tidak melakukannya, aku ini pria normal. Aku ingin melakukannya sekarang juga, tapi aku tahu kalau kamu capek. Jadi aku akan menundanya sampai nanti malam." ucap Dira yang entah kenapa rasanya ada yang berbeda mengalir pada tubuhku. Aku tak menjawab ucapan suamiku itu dan hanya berkedip beberapa kali. "Kenapa diam?" tanya Dira, akhir-akhir ini dia tak membentakku sama sekali dan selalu berbicara lemah lembut padaku. "Kalau begitu pijat aku nanti malam saja, aku mau tidur sekarang." jawabku pelan lalu kubaringkan tubuhku dan memunggungi suamiku. Apa dia akan benar-benar meminta haknya malam ini? Ah kenapa rasanya jantungku berdegub kencang sekali? Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD