Plin-plan

1064 Words
"Kamu tampan Guna, sangat tampan. Kamu nggak perlu ngelakuin hal kotor untuk balas dendam sama mas Dira dan Dista." ucapku, Guna menunduk dengan kedua tangan yang menyangga kepalanya. Aku mencoba memberi masukan ke Guna agar ia tak perlu mengotori hatinya, tangannya dan menyia-nyiakan waktunya hanya untuk balas dendam. "Aku bukannya mau ngebela suami aku, tapi menurutku yang salah itu Dista. Iya, mas Dira juga salah, cuma.. Dista selalu menahan mas Dira agar dia tetap bisa berhubungan dengan mas Dira." lanjutku, Guna masih diam dan menunduk. "Kamu tahu, mas Dira dan Dista udah menikah, sebelum kamu menikahinya." lagi, Guna tampak terkejut dengan ceritaku. "Maksud kamu?" teriak Guna, sepertinya dia benar-benar tak tahu wanita seperti apa yang sudah menjadi istrinya. "Mereka menikah waktu orang tuamu nyuruh kalian putus. Masih siri, dan mereka berencana mau bikin resepsi. Tapi tiba-tiba kamu minta balikan sama Dista, dan... Ya begitulah sampai sekarang." terangku, Guna terkekeh mendengarku. Sesekali Guna melirik ke Soni, mungkin Guna malu karena harus berbagi aib keluarganya di depan orang asing, Soni. Namun aku terpaksa mengajak Soni karena tak ingin berdua saja dengan Guna. "Dista yang aku kenal nggak seperti itu. Dista yang aku nikahi adalah wanita baik-baik yang tak pernah aneh-aneh. Aku nggak tahu kenapa dia bisa seperti itu di belakangku." ucap Guna lirih, aku hampir saja menangis, menangis kasihan melihat Guna yang ternyata lebih bodoh dariku. Entah berapa tahun Dista sudah membodohinya, membohonginya dan menduakannya. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ternyata bukan hanya Dira yang jadi pemuas nafsunya saja. Dira POV Aku pulang demi mencari Kila, istriku. Namun ternyata Kila belum pulang, aku bingung dan takut. Bingung harus mencari Kila ke mana, aku sama sekali tak tahu apapun tentang istriku, apa yang disukainya dan di mana tempat yang paling sering ia kunjungi, tak ada yang kutahu. Dan aku takut, takut kalau Kila akan pergi dari hidupku. Aku tahu dia pasti kecewa dan marah karena ulah Dista yang mengaku sedang hamil anakku. Aku memukul kemudi berkali-kali ketika aku tak tahu harus mencari Kila ke mana. Sementara jam istirahatku sudah berakhir sejak 30 menit yang lalu. Aku dengan terpaksa kembali ke rumah sakit walaupun aku sangat ingin menemui Kila saat ini. Aku mencoba menghubungi nomor ponsel Kila ketika aku di jalan, kembali ke rumah sakit. Namun Kila tak kunjung menjawab telepon dariku. *** Kila POV "Kalau kamu mau nyeraiin istri kamu, silakan. Tapi kamu nggak perlu hancurin karir mereka. Mas Dira punya banyak usaha selain bekerja di rumah sakit. Lalu bagaimana dengan Dista? Kalau kamu nyeraiin dia, dia harus cari nafkah sendiri untuk anaknya." ucapku ke Guna. "Kalau aku cerai sama Dista, bukannya Pak Dira akan menikahinya? Kamu bilang kalau Dista mengaku itu anaknya Pak Dira?" tanya Guna, aku mengangguk. "Aku nggak tahu apa yang akan mas Dira lakuin. Apa dia akan menceraikanku atau ninggalin Dista. Tapi sepertinya mas Dira marah sama Dista karena Dista punya hubungan dengan Danu atau Dani tadi." ucapku. "Danu, dia salah satu dokter di rumah sakit kami. Dia terkenal c***l, aku sempet takut kalau Dista menjadi korbannya. Nggak tahunya malah Dista menikmatinya, ck, f*ck!!!" ucap Guna, aku benar-benar kasihan melihat kondisi Guna sekarang. "Entah keputusan apa yang akan kamu buat. Aku nggak mau ikut campur lagi dalam balas dendam kamu. Aku akan mundur kalau mas Dira memang lebih milih Dista. Tapi pesenku, maafkanlah mereka, kamu baik dan tampan Guna, carilah kebahagiaanmu tanpa mengotori tanganmu. Masih ada karma, Guna." ucapku lantang. "Aku pamit dulu, semoga kamu bisa ngambil keputusan yang bijak." pamitku yang langsung berdiri, meninggalkan Guna sendiri. Soni mengikutiku, tanpa banyak tanya Soni hanya berjalan di belakangku. Aku hanya diam saja ketika di mobil. Soni ikut diam, aku pikir Soni tahu kalau aku tak ingin berbicara apapun kali ini. Atau Soni hanya memberiku waktu untuk berpikir, entahlah. Sampai akhirnya kami tiba di halaman rumah mertuaku, aku segera melepas sabuk pengaman. "Mbak.." panggil Soni, aku menoleh lalu menatapnya. "Kalau mbak Kila nggak sanggup, larilah. Jangan memaksa diri mbak buat bertahan di rumah ini." ucap Soni, aku hanya diam dan menatapnya lekat. "Aku akan bantu mbak, apapun itu." lanjutnya, "Aku cinta sama mas Dira, Soni." selaku, aku tak ingin memberi ruang di hatiku untuk Soni. Aku sadar aku jahat padanya, menahannya hanya untuk menemaniku, mencarinya hanya saat kubutuh. Namun apa yang pernah Dira katakan benar, tak ada manusia yang sempurna. Di saat aku terluka oleh kenyataan dan takdirku, aku dengan terpaksa membawa Soni masuk ke dalam kehidupanku yang rumit ini. Aku dengan egoisku membiarkan Soni terlibat di dalam masalahku, walau aku tahu kalau dia menyukaiku. Aku sengaja menjadikannya temanku, pundakku untuk bersandar ketika aku terluka oleh sikap Dira. "Aku tahu mbak, aku tahu betul itu. Tapi apa mbak sanggup dimadu sama Pak Dira? Kalau benar wanita itu hamil anak Pak Dira dan suaminya menceraikannya? Mbak mungkin akan selamanya menjadi yang kedua, selalu kalah karena rasa cinta Pak Dira mungkin lebih besar sama wanita itu." lanjut Soni, jantungku berdegub kencang, tak terkendali. "Aku mau cerai Son, kamu tahu kan aku udah ambil program KB." ucapku yang bagai ABG labil, atau mungkin lebih cocok seperti air di daun talas, tak punya pendirian. Baru saja aku bilang cinta kepada suamiku, tapi tiba-tiba bilang akan meminta cerai. Aneh. "Nggak usah nyari-nyari alasan, jangan bohongi aku, mbak nggak perlu lakuin itu. Yang harus mbak pikirin sekarang yaitu gimana caranya mbak bisa bertahan tanpa harus melibatkan rasa cinta mbak itu. Kalau mbak begini terus, mbak bukan bertahan demi Sera. Tapi demi perasaan mbak sendiri karena mbak nggak mau pisah sama Pak Dira." ucap Soni, ia seperti mengeluarkan semua hal yang ia ingin ucapkan sejak tadi. "Kalau aku lihat dari cara mbak ngomong ke suami wanita jalang itu, mbak seakan nggak mau kalau dia sampai balas dendam ke Pak Dira. Itu bukti nyata kalau mbak sangat peduli sama Pak Dira. Mbak udah jadi b***k cinta Pak Dira, sadar mbak. Mbak bilang mau cerai kan? Tapi sikap mbak tadi nunjukin kalau mbak nggak akan pernah ngelepasin Pak Dira." lanjut Soni. Aku terdiam, semua yang Soni katakan mungkin benar. Kalau aku bertahan bukan hanya karena Sera saja. Tapi juga karena perasaanku ke Dira yang semakin hari semakin berkembang. Apalagi perlakuan Dira kemarin mampu membuatku merasa spesial. Selama ini aku memang menutup diri dan memilih sibuk kuliah dan bekerja. Aku tak pernah memberi kesempatan ada pria yang mendekatiku, sekali pun aku memang tak pernah pacaran. Namun setelah menikah dengan Dira, aku dengan bodohnya jatuh cinta padanya dan mengharapkannya. Setelah semua pengkhianatan yang ia lakukan, setelah kebohongan dan sikap kasarnya selama ini. Aku memang bodoh, akal sehatku seperti kalah oleh perasaanku padanya. Namun aku berharap akan ada akhir bahagia untukku nanti. Sekali pun aku tak bisa memiliki Dira selamanya, semoga saja hatiku ikhlas menerima. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD