Mencoba percaya

1311 Words
Aku keluar dari mobil dengan berat hati, semua yang dikatakan Soni mengganggu pikiranku. Aku takut selama aku bertahan di rumah ini, perasaanku ke Dira semakin besar. Aku takut Dira akan meninggalkanku lagi karena Dista mengaku hamil anaknya. Aku takut Dira dan Dista akhirnya menikah dan Dista menjadi maduku. Aku takut akhirnya setelah dimadu pun, aku tak pernah mendapatkan kasih sayang yang tulus dari Dira. Dan satu hal yang paling aku takutkan, Pak Bima dan Bu Dewi pasti akan lebih sayang pada Dista karena Dista sedang mengandung cucu mereka. Sementara aku yang mereka harapkan selama ini malah memilih mengambil program KB. "Assalamualaikum.." salamku pada kedua mertuaku yang entah sedang sibuk apa di ruang keluarga. Aku melihat ada banyak dokumen di meja, mereka tampak sedang mengobrol serius. "Waalaikumsalam.." sahut kedua mertuaku kompak, mereka menoleh ke arahku lalu tersenyum melihatku. Aku segera menghampiri mereka lalu mencium tangan mereka. "Tadi siang Dira pulang, nyariin kamu. Kenapa Kila? Dira sepertinya gusar sekali." ucap Pak Bima, aku masih berdiri. "Kila juga nggak tahu ayah." sahutku berbohong, aku tahu Dira mencariku untuk membicarakan tentang kehamilan Dista. Walau aku tak tahu apa yang akan ia bicarakan, namun aku sedikit tersentuh karena Dira rela jauh-jauh pulang ke rumah demi mencariku. "Duduk dulu Kila, ayah sama ibu mau bicara." sambung ibu mertuaku, aku menurut saja lalu duduk di sofa yang tepat ada di depan kedua mertuaku. "Ini sertifikat-sertifikat kebun yang ayah beri buat kamu, yang bapak kamu kelola sekarang." ucap Pak Bima, aku dibuat bengong oleh Pak Bima. Jadi Pak Bima serius memberiku kebun-kebun itu karena aku mau menikah dengan anaknya, Dira? Ada perasaan campur aduk di dalam hatiku. Di satu sisi aku senang karena jika keinginanku untuk bercerai dari Dira segera terealisasikan, aku tak perlu memikirkan ekonomi keluargaku sementara. Namun di sisi lain, aku merasa tak enak hati karena kebaikan Pak Bima dan Bu Dewi yang hanya aku balas dengan perceraianku nanti. Kali ini aku ingin bersikap egois saja, bagaimana pun Pak Bima dan istrinya sudah membohongiku dan keluargaku tentang status Dira dan Dista. Tak apa aku menjadi jahat untuk orang yang sudah melukai perasaanku terlebih dahulu. Aku akan menerima sertifikat itu dengan senang hati, aku tak ingin ragu-ragu yang nantinya hanya akan merugikan diriku dan keluargaku. "Ayah mau ngasih sertifikat itu buat Kila?" tanyaku pura-pura polos, ibu mertuaku tersenyum, sangat teduh menatap senyumannya. "Ini memang milik Kila." sahut ayah mertuaku, "Ayah kamu juga udah beliin kamu toko baju, kamu bisa mulai kerja kapanpun kamu mau. Nggak perlu nunggu lulus kan Kila." sambung ibu mertuaku, aku tercengang, membuka mulutku lebar-lebar. "Toko baju?" teriakku, aku tak percaya mertuaku memberiku banyak hal. "Iya sayang, toko baju, lokasinya nggak jauh dari rumah sakit Dira bekerja. Nanti ayah cari orang buat bantu kamu ngurus toko itu." ucap Pak Bima dengan entengnya, aku masih tak percaya dengan apa yang aku dengar barusan. "Dira juga bisa bantu kamu, Kila sayang." sambung ibu mertuaku, Bu Dewi. "Tapi kebun-kebun itu aja udah cukup ayah, ibu. Kila nggak mau nerima banyak-banyak. Kila malu..." ucapku gemetar, entah setan apa yang merasukiku, aku tiba-tiba menangis. Kebaikan Pak Bima dan Bu Dewi tak mungkin akan kubayar dengan perceraianku dengan Dira nantinya. Sementara keinginan mereka adalah memiliki cucu segera mungkin. Bagaimana kalau Pak Bima dan istrinya tak menerima kondisi Dista yang sedang hamil entah anak siapa. Pak Bima mungkin akan jatuh sakit lagi kalau tahu aku dan Dira akan bercerai nanti. "Kenapa malah nangis lagi? Ayah sama ibu seneng karena kamu dan Dira udah saling suka. Ayah sama ibu cuma mau ngasih hadiah kecil untuk menantu kami. Ibu dan ayah juga minta maaf karena memulai hubungan kalian dengan kebohongan." ucap ibu mertuaku yang kini sudah duduk di sampingku, memelukku, dan aku membalas pelukannya. "Kila nggak pantes nerima semua itu bu, Kila nggak sebaik yang ayah dan ibu kira." ucapku yang semakin menangis, ibu mertuaku melepas pelukannya lalu memegang wajahku menggunakan kedua tangannya yang terasa halus. "Kila sayang, nggak ada manusia yang sempurna. Semua orang pada dasarnya baik, tapi semua orang pasti juga pernah melalukan salah, sekecil apapun itu. Bukan seberapa banyak kesalahan yang harus dilihat, tapi lihatlah bagaimana orang tersebut mencoba memperbaiki kesalahan di masa lalu." ucap ibu mertuaku, aku mengerti apa yang beliau maksud, aku mengangguk lalu menyeka air mataku. "Udah ya, jangan menangis lagi." ucap ibu mertuaku lagi, "Ayah sengaja beri kamu toko baju, biar mudah ngelolanya. Apa kamu mau buka usaha lain, restoran, kafe atau apa?" tanya ayah mertuaku, aku menggeleng cepat. "Nggak perlu ayah, Kila nggak pinter-pinter banget. Ngurus toko baju itu aja Kila nggak yakin bisa atau enggak." ucapku tegas, aku sadar seberapa jauh otakku bisa bekerja. Memikirkan skripsiku yang sudah di depan mata saja aku sudah sering sakit kepala. Apalagi nanti harus belajar mengelola toko baju, semoga saja aku mampu. Tapi jujur saja, aku masih ragu mau menerima toko baju itu, aku seperti lintah darat seperti yang sering Dira ucapkan dulu. "Ya udah kalau begitu, sana masuk kamar, istirahatlah. Kamu pasti capek kan?" ucap ibu mertuaku, aku akhirnya masuk ke kamar setelah pamit dengan membawa sertifikat-sertifikat kebun yang Pak Bima beri untukku. Aku membanting tubuhku di ranjang, mengembuskan nafas panjang lalu memejamkan mataku beberapa saat. Aku kembali menangis, aku merasa tak rela jika harus kehilangan mertua yang baik seperti Pak Bima dan Bu Dewi. Aku benar-benar tak ingin bercerai dari Dira. Tapi bagaimana jika Dira berniat menikahi Dista? Apa mungkin aku mampu dimadu? Tentu saja ada banyak air mata yang seharusnya aku persiapkan. Aku kemudian mandi, setelah itu sholat lalu mengerjakan tugas kuliah. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka dan masuklah Dira yang tampak tergesa, nafasnya terdengar tersengal. Dira masih berdiri di depan pintu, mata kami saling bertatapan, namun kami saling membisu. Setelah beberapa saat, nafas Dira terdengar lebih teratur, ia kemudian mendekatiku yang sedang duduk di sofa. Dira duduk di sampingku, ia menarik dan merubah posisiku agar kami saling berhadapan, aku menurut saja. "Kamu marah sama aku?" tanya Dira lirih, "Iya." jawabku singkat. "Karena Dista hamil?" tanya Dira lagi, "Karena kamu milih aku bukan karena cinta sama aku, tapi karena Dista selingkuh. Iya kan?" teriakku. "Aku kan dari kemarin udah bilang, alasanku milih kamu karena aku sadar Dista cuma manfaatin aku. Ya karena itu, karena Dista selingkuh, aku sadar kalau dia nggak bener-bener cinta sama aku. Dia cuma butuh tubuh aku, bukan hati aku. Makanya aku ninggalin dia, demi kamu." terang Dira, aku masih terdiam. "Lagian Kila, sebelum aku tahu kalau Dista selingkuh, aku memang udah mulai cinta sama kamu. Jadi tolong, jangan tinggalin aku. Ya..." lanjut Dira, ia merayuku dengan tatapan sendunya. "Dia hamil, dia bilang itu anakmu." ucapku sinis, "Selama ini yang berhubungan badan dengannya bukan hanya aku Kila, ada Guna. Belum lagi kalau mungkin ada pria lain, kita nggak tahu." jawab Dira yakin, aku diam lagi. "Kalau itu memang anakku, aku mohon sama kamu, tolong terima anak itu. Jangan tinggalin aku, jangan minta cerai. Aku janji nggak akan berhubungan dengan Dista lagi. Aku hanya akan bertanggung jawab sama anak itu aja. Jadi tolong, bertahanlah denganku. Ya..." rayu Dira. Aku merasa senang mendengar ucapan Dira barusan, entah itu hanya bualan semata atau serius dari lubuk hatinya, aku senang karena dia akhirnya memilihku dan memintaku bertahan. Semoga saja Dira benar-benar akan meninggalkan Dista dan menjadikanku satu-satunya wanita di hatinya. "Aku mau minta cerai kalau kamu mau menikah sama wanita jal*ng itu." ucapku lirih, "Jangan Kila, aku nggak akan mau cerai sama kamu. Aku janji nggak akan berhubungan lagi dengan Dista, apalagi sampai menikahinya. Aku hanya akan bertanggung jawab jika dia benar-benar hamil anakku, kalau tidak ya udah." jawab Dira lantang, ia memegangi tanganku sedari tadi, aku semakin yakin untuk mempercayainya. "Aku sayang sama kamu mas.." akuku lirih, Dira tampak terkejut, namun beberapa detik kemudian ia tersenyum lalu memelukku. "Aku juga sayang sama kamu Kila." ucapnya, aku melepas pelukannya. "Denger mas, aku serius sayang sama kamu. Aku cinta sama kamu. Jadi kalau kamu nyakitin aku lagi, luka itu adalah luka yang sulit untuk disembuhin. Aku nggak akan maafin kamu begitu aja, aku mungkin..." kataku terputus karena Dira kembali memelukku, sangat erat. "Enggak akan, aku nggak akan nyakitin kamu lagi. Aku juga sayang sama kamu, aku juga cinta sama kamu. Tolong percaya sama aku kali ini, aku serius, aku tulus." ucap Dira yang seakan tak ingin mendengar ancaman-ancamanku lagi, ia berusaha keras agar aku mempercayainya. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD