"Ya enggak lah mas! Mas tahu sendiri aku masih virgin sampai kamu minta hak kamu. Masih aja mikir yang aneh-aneh." jawabku kesal. Aku senang Dira sudah memperlakukanku layaknya istri yang dicintai, namun aku kesal kalau ia masih tak mempercayaiku. Dira kemudian duduk, mendekatiku, menarik daguku agar kami saling bertatapan, lekat. "Terus tadi kamu pergi ke mana sama Soni? Aku tanya ibu, kamu pulang sore. Habis dari kafe tadi kamu ke mana?" tanya Dira. Aku sedikit gemetar, detak jantungku sudah tak karuan, aku ingin mengaku kalau aku tadi ke rumah sakit. Tapi Dira pasti akan marah dan aku tidak mau hubungan kami yang baru saja mulai membaik ini harus renggang lagi. Aku yakin Dira akan marah besar kalau tahu aku mengambil program KB. Sementara ayah dan ibu sudah sangat mendambakan kehad

