Akankah

1112 Words
Setahun kemudian ... “Nak, Nak!” “Pergi Om, jangan sentuh-sentuh saya.” “Nak, Nak ... bangun Nak!” “Nak, nak ... bangun, Nak!” Jemari dingin menggerayang di lenganku padahal sudah berkali-kali kutepis jari dan tangan itu, tetapi tangan itu malah semakin mengguncang kedua lenganku. Aku pun terbangun dari tidurku. Degupku kencang, kelabu memenuhi pandangan, kutatap pedagang bakso lamat-lamat. Ternyata, pedagang bakso itu yang mengguncangku. “Nak ... kamu semalaman tidur di sini?” tanya pedagang bakso, kenalanku. Kuusap mata seraya duduk di dataran merah, tepatnya di tumpukan kardus basahku. Saat duduk, kakiku tak sengaja menyenggol gerobak baksonya. “Maafkan aku,” lirihku pada pedagang bakso. Wajahnya cemas menatapku. Aku pun berdiri lalu menarik kardus basah dan juga kaleng. Kutinggal pedagang bakso itu seraya menarik sisa senjataku untuk pulang ke rumah. *** Waktu sangat cepat berlalu, bukan? Sudah setahun lamanya aku tetap mengemis, tetapi satu perolehan pun belum kudapatkan. Walaupun begitu, aku tetap giat duduk di pinggir jalan ibu kota. Satu kemajuan yang kudapatkan hanya berupa tisu, aku bisa memegang tisu di pinggir jalan. Kumpulan koin tak berguna di kaleng ternyata sangat bermanfaat. Aku mulai rajin menabung dan menukar koin dengan sebungkus tisu di pasar, lalu tisu itu kutukarkan lagi dengan koin yang lebih banyak di pinggir jalan. Aku tak menduga semudah itu. Walau semuanya terlihat sangat mudah, aku malah menjadi mudah lelah. Apalagi setelah disiram sinar mentari dan rintik hujan berhari-hari. Satu atau dua teman mulai kudapatkan karena kelelahan menyendiri di pinggir jalan. Temanku itu pedagang bakso dan pengemudi mobil mewah yang sering membeli tisuku. Pedagang bakso yang awalnya menjual baksonya padaku, berubah menjadi peri sesaat saat melihatku tertidur di pinggir jalan, tengah terbungkus hujan. Pedagang bakso itu menawarkan satu bungkus bakso gratis. Aku terharu, menolak baksonya. Sementara pembeli tisu yang selalu berhenti dengan mobil mewahnya, selalu membeli tisuku dengan harga pas. Aku juga terharu, menerima uangnya. Saat matahari bergerak begitu cepat selama setahun ini, aku juga mulai tersadar akan pengertian takdir yang sebenarnya, contohnya seperti, pedagang bakso akan tetap mendorong gerobaknya, sama seperti pengemudi mobil. Pengemudi mobil juga akan tetap mengemudikan mobil mewahnya. Mungkin terlalu banyak yang kupikirkan di pinggir jalan sampai-sampai aku terlupa dengan kegiatan menunggu seorang malaikat. Mungkin juga karena aku kelelahan menunggu, makanya aku mulai mengenal lingkungan sekitar. Selain lingkungan sekitar, aku juga mulai memelihara kucing liar di rumah dekat pohon. Berbalik dengan pengertianku akan takdir yang menetap, ibu sehari-hari malah semakin cerewet memarahi kucing liarku. Sementara ayah, ayah malah semakin cuek mengurusi koin-koin hasil jualan tisuku dan hasil menebang pohon berbatang lurus. Begitu saja ceritaku selama setahun, semuanya sama, tetap tak berubah. Harapan menunggu akan sebuah malaikat juga menggelembung begitu saja bagaikan mimpi yang terbang jauh ke atas langit. Setelah setahun duduk di pinggir jalan seraya menatap lampu terang ibu kota, aku juga mulai mendapat satu cahaya pikiran, yaitu lampu terang yang menepi di pinggir jalan akan tetap berdiri sendiri walau cahaya meredup karena nantinya, lampu itu juga akan mati sendiri. *** Pagi hari ... Kilau matahari menusuk mataku, aku pun melangkah seraya menyeret kaki kiriku. Entah, aku menginjak semut atau benda kecil lainnya, tetapi kakiku mendapat luka yang sangat besar. Lalu, tiba-tiba saja kucing liarku, Si Jingga menghampiri dan menjilati kakiku. Aku pun menunduk lalu mengelus bulu-bulu yang mengkilap karena air hujan. Kurangkul Si Jingga di tangan bersama dengan senjata basah kuyup yang tak kering-kering dari kemarin malam. “Si Jingga, kamu belum makan ya?” tanyaku pada kucing liarku. Lidahnya menjulur, menjilati jari-jariku. Aku pun terkekeh melihat kucingku seraya terus menyeret kaki di antara daun kering yang bergemeresik. Entah mengapa daun-daun berwarna coklat itu rimbun padahal masih di penghujung musim hujan. “Nak ... kamu baru pulang?” tanya ayah, tiba-tiba muncul dengan kayu di tangan, wajahnya tersenyum gembira. Aku pun tersenyum, menatap ayah lalu menginjakkan kakiku pada kasur kardus di tanah, kuinjakkan secara keras lalu duduk di kardus, sebagai alas. “Kenapa kakimu, Nak?” tanya ayah seraya meletakkan kayu di tanah. Ayah pun menghampiriku dan memeriksa kaki mungilku. “Kakimu ada belatungnya, Nak,” ujar ayah seraya menampilkan eskpersi ‘geli' padaku. Aku hanya tersenyum lebar menatap ekspresinya. Diambillah cacing kecil yang menempel di telapak kakiku. Lantas, tanpa basa-basi lagi, ayah langsung bangun dan mengambil kayunya seraya berucap, “Ibu membelikanmu sandal ... itu sandalnya di sebelahmu,” ucap ayah dengan punggungnya menghadapku. Aku pun mengangguk walau tak dilihat ayah lalu kupakai sandal itu saat ayah kembali berbicara, “Ayah pergi dulu ya, mau jual hasil tebangan pohon,” ucapnya lalu meninggalkanku. Kuturunkan Si Jingga lalu tak lupa kuambil bungkusan nasi yang ada di tanah. Aku pun kembali melangkah pergi, meninggalkan rumah. *** Malam hari ... Kantuk memenuhi diriku, cahaya terang benderang dari lampu jalan menyesakkan diriku. Siluet lampu mobil juga mengganggu tidurku. aku pun terbangun dari tidur dadakanku di pinggir jalan. Kuusap kelopak mataku. Sekilas, kulihat pintu mobil terbuka. Sekeliling amat gelap, hanya gerimis hujan yang menitik di lampu mobil yang terlihat jelas. Jalan begitu senyap, hanya mesin mobil di depan mataku yang bersuara. Aku menguap seraya menepuk-nepuk kasur kardusku lalu aku pun kembali tidur di pinggir jalan. Beberapa menit kemudian, tiba-tiba saja tangan hangat nan raksasa mengusap lenganku. “Pergi, Om!” “Hei, ini aku,” ucap suara maskulin itu. Kelopak mata yang amat berat pun kupaksakan untuk terbuka lalu muncullah siluet seragam hitam-hitam. “Hei ... kau datang!” kejutku, langsung terbangun saat melihat malaikatku menunduk padaku. “Ayo kita jalan-jalan, kau sudah siap?” “Jalan-jalan ke mana?” tanyaku, bersemangat. Tubuhku langsung digendong paksa olehnya, tangan dan kakiku tak henti-hentinya bergerak karena terkejut. Aku dan dirinya pun masuk ke mobil mewah. “Ke Ibu Kota,” ucap malaikatku. “Hah, Ibu Kota ..? Pinggir jalan itu bukan Ibu Kota?” tanyaku seraya menunjuk tempat mengemisku lalu dengan cepat malaikatku menyeringai seraya menggeleng. “Saat aku kecil, ayahku bilang pinggir jalan itu ibu kota ... Hm, berarti ayahku membohongiku?” tanyaku, mengangkat alis. Malaikatku kembali menyeringai seraya menggeleng. Setengah semangat rasanya lenyap dari diriku, aku pun bersandar di sandaran empuk mobil mewahnya. Dia diam, aku juga diam. Lantas, Aku pun kembali mendekatkan wajahku padanya seraya bertanya, mencoba untuk menambah rasa semangat, “Kau usia berapa ... Namamu siapa?” tanyaku pada malaikat. “36 tahun, panggil aku Leo.” “Hei, kita beda 20 tahun ... Usiaku 16 tahun, kau tidak penasaran dengan namaku?” tanyaku, bersemangat lagi karena mendengar paut usia yang cukup jauh. Rasanya aku hanya ingin tertawa karena lucu saja berbicara tidak sopan dengan pria berusia sama seperti ayah. “Tidak ...,” ujar Leo seraya menggeleng lalu ia kembali berucap, “Karena aku akan menamaimu Lili sekarang.” Aku tersenyum, menatapnya. “Kamu ... akan memiliki ayah angkat sekarang."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD