Bersekolah di SMA favorit yang elit dengan fasilitas yang lengkap memang sangat diidamkan oleh banyak siswa. SMA Xaverius adalah sekolah swasta favorit berstandar internasional. Anak-anak pejabat di negara ini bahkan sebagian besar bersekolah di sini. Xaverius menyediakan lengkap untuk anak-anak di negeri ini untuk mengenyam pendidikan dengan baik. Mulai dari jenjang Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), hingga jenjang Perguruan Tinggi semuanya tersedia.
'Bosan' adalah ungkapan Tia untuk sekolahnya. Bagaimana tidak, sejak TK sampai sekarang Tia terus bersekolah di sini. Wajah-wajah yang ditemuinya selama sepuluh tahun lebih di sekolah ini adalah orang yang sama.
Tia sebagai idola para siswa Xaverius, bahkan remaja-remaja putra itu berani melakukan apa saja supaya cinta mereka diterima oleh Tia. Namun, Tia tidak menggubris itu semua.
"Cantik, baik, pintar, dan kaya. Aku sudah punya itu semua. Jadi tolong pergi dari hadapanku," tolak Tia kepada siswa yang sedang mengutarakan rasa kepadanya.
Kepribadian Tia yang cuek itu membuatnya tak memiliki teman di kelasnya, meskipun ia sangat diidolakan murid-murid di sekolah itu. Ia tak tertarik berteman dengan mereka meskipun ia sudah lama mengenal mereka.
"Orang-orang yang sombong dan angkuh, karena bagi mereka uang bisa membeli segalanya," dalam benak Tia.
Di antara teman sekelasnya ada dua siswa baru dari SMPN yang melanjutkan di SMA Swasta yang bertaraf internasional ini. Mereka bisa melanjutkan SMA di sini karena mereka memenuhi kualifikasi dan lulus tes untuk masuk SMA Xaverius sehingga mereka memperoleh beasiswa.
Klak ....
Knop pintu diputar dari luar, kelas yang tadinya riuh … hening seketika. Wali kelas XA memasuki ruangan dan bersamanya ada dua orang siswa baru.
"Selamat pagi anak-anak sekarang kalian mempunyai teman baru di kelas ini. Angga dan Febri silahkan bergabung dan duduk di kursi masing-masing."
Bapak Wali Kelas memperkenal kedua murid barunya dan mempersilahkan mereka duduk di kursi masing-masing. Angga dan Febri mengambil tempat duduk mereka. Angga mendapat posisi duduk paling depan dekat dengan meja guru, sedangkan Febri mendapat kursi paling belakang dan paling pojok sebelah kanan kelas. Sambil berjalan ke arah kursinya, tak lupa Febri melirik gadis yang tepat duduk di sebelahnya. Siswi itu sangat cantik di mata Febri. Febri bergumam dalam hati sambil menduduki kursinya.
"Apa dia primadona Xaverius?" gumam Febri dalam hati.
Bapak Wali Kelas yang sekaligus sebagai guru mata pelajaran Kimia di sekolah itu, ia memulai kelasnya.
"Hust ... hust ...."
Tia menoleh dan mengernyit ke arah suara asing itu berasal.
"Aku Febri Atmaja."
Anak baru itu mengulurkan tangan seraya mengajaknya bersalaman. Tia acuh tak acuh sambil memalingkan wajahnya kembali memperhatikan pelajaran Kimia yang sedang berlangsung.
Setelah pelajaran selesai, anak baru yang duduk tepat di sebelah Tia itu kembali memperkenalkan diri.
"Aku Febri, nama kamu siapa?"
"Tia," jawabnya singkat. Febri bertanya kepada Tia tentang sekolah barunya.
"Aku boleh tanya-tanya kamu tentang sekolah ini soalnya aku masih baru?"
"Ya udah, yuk ikutin aku," ucap Tia.
Mereka berjalan keluar bersama dan Tia menunjukkan semua ruang-ruang kelas, ruang guru, ruang kepsek, ruang olahraga, dll.
"Terimakasih Tia sudah mau bantu."
Sejak saat itu Tia dan Febri berteman. Entah ada magnet apa dalam diri Febri sehingga membuat Tia yang dingin itu mau berteman dengannya. Mereka sering belajar bersama, makan di kantin bersama, bahkan suatu hari Tia bisa sangat mengagumi temannya itu.
Febri yang mandiri, sepulang sekolah ia bekerja paruh waktu untuk tambahan keperluan sekolah. Meskipun ia mendapat beasiswa namun keperluan seperti buku, acara-acara sekolah, dan ekstrakurikuler pun bisa merogoh isi dompet juga. Kemandirian Febri yang membuat wanodya cantik itu jatuh hati. Ternyata Febri pun memiliki perasaan yang sama kepada sahabatnya itu.
Cinta anak muda seperti bara api yang menyala. Kekuatan cinta memang tak bisa diragukan lagi. Cinta akan selalu kaya, tak perlu banyak kata. Karena cinta akan menunjukkan tajinya. Begitu juga dua sejoli SMA ini, asmaraloka sedang bertahta di dalam jiwa.
***
Setelah lulus SMA Tia melanjutkan kuliah, asa dan renjana semakin nyata untuk si pencuri hati. Febri pun sama, ia sangat mencintai kekasih hatinya. Bahkan Febri semakin sering menemui Tia di rumahnya. Hingga suatu hari, saat Febri datang ke rumah Tia, tetapi yang membukakan pintu adalah Rio, kakak pertama Tia.
"Siapa ya?" ujar pria itu.
"Saya Febri kak, Tia-nya ada?"
"Tia lagi nggak di rumah."
Rio berbohong, ia tak ingin adiknya terus berpacaran dengan pria itu. Rio memang sudah mendengar cerita tentang adik kesayangannya menjalin kasih dengan pria yang bukan dari circle mereka, tetapi dia belum pernah bertatap muka dengannya. Hari ini, pertama kalinya ia melihat Febri. Pria yang seumuran dengan adiknya, Tia. Berpostur tinggi, kulit cokelat, bola mata hitam pekat dengan mata yang sipit bak angel eyes itu. Dari perawakan, Rio melihat kekasih adiknya tampak seperti pria baik-baik.
***
Tia memiliki lima kakak laki-laki yaitu Rio, Dika, Zaky, Danu, dan Lintang. Lintang hanya berbeda satu tahun dengannya, membuat mereka seperti kembaran laki dan perempuan. Tia nyaman mencurahkan isi hati kepada Lintang saat gundah ataupun bahagia dan lagi tentang kisah asmaranya yang sedari SMA. Tia mengatakan kepada Lintang bahwa ia ingin menikah muda dengan Febri.
“Terus bagaimana dengan kuliah kamu? Kan baru semester satu, masa udah kebelet nikah gitu?” tanya Lintang kepada adiknya.
“Kan nggak apa-apa Kak, kuliah walaupun udah nikah juga atau udah punya anak, banyak kok mereka yang kuliah setelah menikah.”
“Maksud Kakak, kamu sebaiknya selesaikan kuliah dulu, cari kerja dulu, baru nikah—"
“Kamu juga pasti akan dapat pria yang lebih baik nantinya,” ucap Lintang kepada adik kesayangannya itu.
“Febri itu pria yang baik Kak, mandiri juga, aku yakin kok dia bisa bahagiain aku,” bantah Tia yang membela Febri.
“Ayah pasti nggak akan setuju deh,” ucap Lintang.
“Aku akan bicara sama Ayah sampai aku diizinkan untuk menikah.” Tia pergi ke kamar seraya meninggalkan kakaknya duduk sendirian di depan TV.
***
Cinta bisa menghapus lara. Buntara cinta menaklukkan segalanya, mengalahkan ketakutan dan kemustahilan.
Febri dengan percaya diri datang ke rumah Tia, bermaksud untuk melamarnya dan meminta izin kepada Hendra untuk menikahinya. Mendengar itu semua membuat Tia tersenyum bahagia. Dua sejoli itu menghadap Hendra, Ayah Tia.
"Ayah, aku dan Febri mau bicara mengenai ..." ucap Tia menggantungkan ucapannya. Hendra menutup koran itu yang masih di tangannya. Dia menatap lekat kedua remaja di depannya. Febri membuka pembicaraannya.
"Maaf Om, saya mau minta izin kepada Om bahwa saya bermaksud melamar anak Om, Tia," ucap Febri memberanikan diri. Sontak ayah Tia langsung meletakkan koran yang sedari tadi dibacanya itu, seraya menatap kedua sejoli dengan tatapan dingin dan rahang yang mengeras.
“Tidak bisa, selesaikan dulu kuliahmu Tia, kamu ini baru masuk kuliah!” tegas Hendra.
“Tia mohon Yah, izinkan kami menikah,” ucap Tia memohon kepada Hendra dengan tangisannya.
"Kami udah saling mengenal Yah, kami bahkan udah pacaran selama tiga tahun Yah."
"Sekali Ayah bilang tidak bisa, tetap tidak bisa!” tolak Hendra melarang anaknya untuk menikah muda.
“Saya mohon maaf Om, karena sudah lancang bermaksud melamar anak Om, saya permisi pulang dulu ya Om, Tia.” Febri pamit dan meninggalkan rumah Tia.
“Febri ...” Tia mengejarnya.
“Tia, masuk ke kamar!” tegas Hendra dengan wajah merah padam.
Beberapa hari kemudian Tia memohon kembali kepada ayahnya seorang diri.
“Kamu yang keras kepala ini, membuat Ayah marah, Tia!” ucap ayahnya.
“Yah, Tia mohon, izinkan Tia menikah Yah,” ucap Tia sambil menangis.
“Tia mau melakukan apa saja asalkan Ayah izinkan kami menikah."
Tia memohon bahkan sampai berlutut untuk meminta restu dari ayahnya. Sayangnya, Hendra tetap tidak mengizinkan anaknya menikah dengan Febri. Tia tetap bersikeras memohon izin sang ayah. Sehingga Tia dihadapkan dengan dua pilihan yang sangat berat. Dengan begitu Tia tetap memilih untuk tidak menikahi Febri karena rasa cintanya yang besar terhadap orang tua dan kakak-kakaknya, dalam benak Hendra. Dua pilihan itu, yakni dikeluarkan dari kartu keluarga atau menolak lamaran febri dan jangan lagi berhubungan dengan pria menyedihkan itu.
"Bagaimana mungkin aku akan meninggalkan keluarga yang sangat kusayangi demi seorang pria yang juga sangat kucintai, seorang pria yang bisa membuatku melepaskan duniaku yang kadang membuatku jadi bodoh? Memang cinta bisa membuatku jadi bodoh dan i***t, tapi sejauh-jauhnya pergi keluarga juga tetap jadi tempatku kembali, mereka akan menampungku meskipun tubuh ini sudah hancur berkeping-keping. Sungguh keputusan yang sangat berat," batin Tia.
Dua pilihan itu berkecamuk dalam pikiran Tia, mau tidak mau, cepat atau lambat ia harus memantapkan pilihannya.