CHAPTER 2

1163 Words
Keputusan adalah awal dari sebuah langkah. Tia memantapkan hatinya, memutuskan alur hidupnya ke depan yang ia tidak tahu persis, akankah berakhir dengan bahagia atau tidak. Tia menemui ayahnya bahwa ia rela dikeluarkan dari kartu keluarga demi sang pujaan hati. "Baiklah, Ayah tidak bisa memaksakan kehendak Ayah kepadamu. Ayah akan mengalah tentang masalah ini, menikahlah kau dengan lelaki menyedihkan itu dan jangan pernah kembali ke rumah ini lagi jika kau masih bersamanya." Ucapan ayahnya membuat tubuh kecil Tia bergetar, ia tak menyangka jika ayahnya benar-benar akan mengeluarkannya dari keluarga mereka. Padahal Tia berharap ayahnya hanya memberikan gertakan. “Baiklah Ayah,” ucapnya singkat. "Pesta pernikahan akan berlangsung tiga hari dari hari ini. Berarti kau punya kesempatan selama tiga hari sebelum akad. Jika kau berubah pikiran Ayah masih memberimu ruang—" “Pastikan kalian berdua menemui Ayah besok!" perintah Hendra. “Baik Ayah,” ucap Tia kepada ayahnya. Hendra adalah seorang ayah yang sangat menyayangi keenam anaknya, terutama si bungsu, ia bahkan sangat memanjakannya. Sayangnya, caranya memanjakan si bungsu dengan harta ternyata salah, membuat anak bungsunya itu bernyali membuat keputusan yang bisa merugikan diri sendiri seumur hidupnya. Sejak kehilangan ibunya saat masih kecil, membuat Tia berkepribadian dingin hingga akhirnya ia bertemu Febri yang bisa membuka matanya bahwa cinta itu ada. Kehadiran ibu pengganti dalam keluarga mereka tidak menggugah dinginnya hati Tia, walaupun sang ibu sambung juga seseorang yang berhati lembut. *** Hari ini, waktunya Tia dan Febri menghadap Hendra yang sudah memberinya kesempatan untuk berubah pikiran. Gadis belia itu bak rahara yang tak sabar mengarungi bahtera rumah tangga bersama kekasih hati. Dengan khalis Tia mengutarakan keputusan itu kepada ayahnya. "Ayah aku sudah mantap dengan keputusanku, aku siap menerima kehidupan apa pun yang menimpaku kelak, aku pun siap hidup sederhana dan akan kupastikan untuk menepati semua janjiku." “Febri!” Suara Hendra yang menyebut namanya, membuat dirinya merasa kecil di depan calon ayah mertuanya itu. Febri tetap mendengarkan dengan seksama apa saja yang disampaikan oleh ayah Tia. "Febri, seorang anak yang sangat saya sayangi, dia lebih memilihmu daripada keluarganya sendiri. Setelah kalian menikah ia akan mengikutimu sebagai imamnya, ia akan terlepas dari keluarga besar kami, ia akan menerima nasibnya, dan jangan buat saya kecewa! Kalian akan menikah lusa." “Iya saya berjanji Om,” ucap Febri dengan percaya diri. Perasaan Tia yang bercampur aduk, jantungnya berdebar kencang, ekspresi datar di wajah remaja itu tampak jelas. Tia masih tidak rela dibuang dari keluarga besar Hendra karena keputusannya itu, tetapi Tia bukanlah perempuan yang bisa menjilat air liurnya sendiri. Tia memang sangat mencintai Febri tapi bagaimanapun ia sangat mencintai keluarganya. Ayah dan kakak-kakaknya adalah nyawa baginya. *** Jarum jam terus berputar mengikuti jalan takdirnya, lampu tidur berpendar temaram di kamar itu, malam sudah larut, mata Tia masih belum bisa terpejam. Hari pernikahan itu akan berlangsung esok hari. Waktu ijab semakin dekat, tetapi masih membuat hati dan logikanya dilema. Sementara di luar sana, di halaman yang selesa telah berdiri tegak singgasana pengantin, pihak wedding organizer sudah menata segalanya untuk pernikahan besok, bahwa semuanya telah siap. Bahkan gaun pengantin yang selaras dengan tubuhnya yang langsing itu sudah ada padanya. Pesanan catering pun sudah siap dan undangan sudah disebar dalam tiga hari ini. "Apakah aku salah akan menikah dengan Febri? Kuliahku juga akan putus tengah jalan, keluargaku akan menjauh, aku akan hidup dengan sangat sederhana." Tulis Tia dalam buku hariannya. Logika Tia berkata, tetapi perasaan cinta yang kuat dalam hati mengalahkan apa yang ada dalam kepala. Meskipun cinta tak rasional, cinta tetaplah cinta. "Akad nikah akan berlangsung setengah jam lagi, bahkan Ayah masih membuka ruang untukku berubah pikiran. Aku tidak boleh kalah dari pikiranku sendiri, bahkan aku sudah dengan cantiknya didandani seperti ratu ini dengan gaun mahal yang indah ini, tamu undangan sudah duduk rapi untuk menyaksikan akad kami, panitia sudah menjalankan tugasnya, semua orang sudah meluangkan waktu mereka untuk pernikahanku, bagaimana mungkin aku berpikir untuk membatalkan pernikahan ini. Pikiranku sendiri tak boleh menguasaiku, pengantin cantik sepertiku harus tersenyum bahagia, ada Febri dan keluarganya sedang menungguku di dalam sana. Bunda, Bundaku sayang yang ada di surga, sebentar lagi aku akan duduk di kursi pelaminan itu. Apakah keputusan ini salah, Bunda?" Tulisan tersebut terbentang rapi dalam buku hariannya. "Saya nikahkan engkau, Febri Atmaja bin Atmaja Wiratmoko dengan anak kandung saya Tia Agusnista binti Hendra Wijaya, dengan mas kawin seperangkat alat salat dibayar tunai." "Saya terima nikahnya Tia Agusnista binti Hendra Wijaya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." "Sah …." "Saksi-saksi pernikahan dan semua orang yang ada di sana mengatakan “sah”, bahwa fiat Ayah dan janji-janjiku pada Ayah sudah berlaku serta tidak bisa diganggu gugat lagi," batin Tia. Ketika seorang ayah mengatakan "saya nikahkan engkau dengan anakku", berarti ia sudah melepas tanggung jawabnya atas putrinya, dan semua tanggung jawab itu sudah diambil alih pria pilihan putrinya. Hendra sudah menikahkan anak perempuannya secara hukum dan agama serta acara berjalan lancar. "Semua orang mengatakan selamat kepada kami, semua terasa hambar bak lautan samudera yang airnya tawar. Ayah menitikkan air matanya saat menjabat tangan Febri dengan mengucapkan ijab pernikahan. Membuat dadaku terasa sesak, ketakutan menghampiriku atau nestapa dalam penyesalan. Ini pertama kalinya aku melihat Ayah yang dingin itu menangis." Curhat Tia di buku kesayangannya. "Ayah kenapa kau menangis? Bukankah Ayah yang selalu mengajariku untuk menjadi kuat, bukankah kau yang sudah membuatku tidak bisa menangis setelah Ibu meninggalkanku dari dunia ini? Kau selalu menguatkanku, kau juga selalu menghilangkan kesedihanku dengan dinginmu itu. Ayah maafkan anakmu ini sudah membuatmu menangis," gumam Tia. "Perjalanan hidup dan pekerjaan seumur hidup sudah kutemui, yaitu menikah. Menikah dengan seseorang yang sangat kucintai yang juga sangat ditentang oleh Ayah. Selamat tinggal." Lembaran baru telah tertulis dalam buku itu. "Selamat tinggal Ayah, Ayahku sayang, kebanggaanku, kekuatanku, kebahagianku, guruku, pahlawanku, dan hidupku, itulah Ayahku. Ayah wajahmu memang dingin, senyummu tersembunyi, sedihmu pun jauh lebih tersembunyi, tapi hatimu hangat sehangat pelukan Bunda saat aku masih kecil dulu, aku bisa merasakannya, Ayah. Ayah maafkan anakmu yang keras kepala ini, maaf telah mengecewakanmu, Ayah. I love you Ayah, tetap sehat Ayah, aku pamit." "Selamat tinggal Kak Rio, yang menjadi pengganti Ayah ketika dia jauh dari diri ini. Kak Rio maafkan adikmu yang bandel ini, selalu tidak mendengarkan nasehatmu. I love you Kak Rio, aku pasti akan rindu dengan omelan bijakmu itu." "Selamat tinggal Kak Dika, kakak yang selalu jadi kebanggaanku, kakakku yang hebat tak terkalahkan. I love you Kak Dika, kau akan tetap jadi idola di hatiku Kak." "Selamat tinggal Kak Zaky, kakak yang sangat perhatian padaku, yang selalu mengingatkanku waktu jam makan, mengingatkanku untuk belajar, dan yang selalu mengenakan selimut untukku ketika aku lupa memakai selimut saat tidur. I love you Kak Zaky, akankah ada alarm yang lebih perhatian daripada Kakak?" "Selamat tinggal Kak Danu, kakak yang sering mengerjaiku, sering membuatku menangis saat kecil dulu karena ulahmu yang usil itu. Tapi di balik itu semua, kau menangis tersedu-sedu saat aku sedang dirawat di rumah sakit. I love you Kak Danu, aku pasti akan rindu dengan tingkah usilmu itu." "Selamat tinggal Kak Lintang, teman curhatku, teman berantemku, teman kejar-kejaranku, kakak yang orang bilang adalah kembaranku. I love you Kak Lintang, akankah kita jadi teman curhat lagi?" "Selamat tinggal Mama, perempuan berhati lembut yang menenangkan suasana rumah ini. Seorang ibu pengganti yang juga orang yang sangat kusayangi. I love you Mama, aku pasti akan rindu padamu Ma." Selamat tinggal duniaku. Selamat datang kehidupan sesungguhnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD