CHAPTER 3

1082 Words
"Hidupku, tak apa sederhana, aku mempunyai cinta dan hati yang selalu kaya, mengalahkan kekayaan Ayah," kata Tia dalam hati. Tia terlepas dari keluarga besarnya yang mungkin saja tidak akan pernah bertemu dengan mereka lagi selama dua sejoli ini bersama. Tia tinggal dalam keluarga yang sangat sederhana dengan seorang ayah mertua, ibu mertua, dan kelima adik ipar perempuannya yang masih duduk di bangku sekolah. Orangtua kedua Tia, yakni mertuanya, pada awal pernikahannya mereka sangatlah baik kepada Tia. Mereka mengajarinya pekerjaan perempuan di dapur, sedangkan dirinya yang baru pertama kalinya mengaduk-aduk bumbu yang dimasukkan ke dalam masakan itu merasa bangga bisa menyulap itu semua menjadi makanan, pastinya hidangan yang akan mereka nikmati malam ini. Tia pun harus bisa menggosok pakaian dengan sabun cuci dan menyikatnya sampai bersih. Ia harus banyak belajar untuk beradaptasi dengan keluarga barunya itu, ia juga harus bertahan di atas dinginnya lantai semen yang sedikit kasar dan dinding yang masih terlihat jelas susunan dari batu bata merahnya itu. Hidup adalah perjalanan, hidup adalah rentang waktu, hidup adalah nasib dan takdir, hidup adalah kebersamaan, hidup adalah jiwa, hidup adalah mata dan telinga, dan hidup adalah sebuah pelajaran. Belajar menangis saat dilahirkan, belajar berkedip saat melihat, belajar duduk, berdiri, berjalan dan berlari mengejar mimpi. Menikah adalah mimpi terindah. Rumah tangga yang bahagia adalah wujud nyata indahnya dunia. Karena hidup sangat berharga. *** Sebulan berlalu Tia sudah terbiasa dengan pekerjaan seorang ibu rumah tangga. Ibu Febri yang sangat baik kepadanya semakin membuatnya bahagia. Adik-adiknya yang cantik itu pun membuat mereka sangat dekat. Febri yang sering pulang malam setelah bekerja pun, tak begitu membuat Tia merasa resah karena kebersamaan menantu dan mertua yang akur itu. "Tak apa sederhana, yang penting aku selalu bahagia bersama mereka, bersama keluarga baruku, keluarga besar Febri. Febri dan aku bahagia karena kekuatan cinta kami berdua." Kata-kata indah terbingkai dalam diary. Lima bulan menjalani rumah tangga, Tia dan Febri dihadapkan dengan sebuah cobaan. Febri yang bekerja sebagai karyawan tetap dari sebuah perusahaan swasta, hari ini ia di-PHK, semua orang yang menjadi bagian dari PT. Indrajaya terpaksa mengalami pemutusan hubungan kerja secara tiba-tiba, karena perusahaan itu collapse dan tak mampu bangkit lagi. Karena kebangkrutan dari perusahaan itu membuat Febri harus menganggur. “Feb, kerja ikut Papa saja,” ucap ibu Febri kepadanya. Febri pun ikut ayahnya yang kerja sebagai buruh bangunan. Tanpa gaji bulanan dari Febri, bagaimana kelima adiknya bisa melanjutkan sekolah bahkan dua adiknya yang kecil masih duduk di bangku sekolah dasar. Febri dan Ayahnya banting tulang untuk keluarga besarnya untuk kebutuhan hidup sehari-hari dan biaya sekolah adiknya. Hari demi hari, kebutuhan keluarga semakin banyak, sedangkan kerjaan semakin sedikit. Ibu mertua sering marah-marah karena keadaan ekonomi semakin sulit. Febri dan Ayahnya pun tidak ada pekerjaan, belum ada bangunan yang akan dikerjakan. Tia pun memutuskan untuk mencari pekerjaan. Akhirnya Tia menjadi ART paruh waktu dari pagi sampai sore saja, ia bekerja di rumah tetangganya yang tidak jauh dari rumah mereka. Tia harus bangun pagi sekali untuk membereskan rumah dan masak untuk sarapan mereka, pukul enam ia harus ke rumah tetangganya untuk bekerja. Di sana pekerjaan Tia dimulai dengan membereskan bagian dapur dan membuat sarapan untuk majikannya, menyapu, dan mengepel lantai. Setelah rumah rapi, Tia mulai menggiling semua pakaian mereka dalam mesin cuci dan mengeringkannya. Setelah jemuran semua kering ia melanjutkan menyetrika hingga semua pakaian tersusun rapi dalam lemari. Sore hari Tia mulai bekerja di dapur untuk memasak semua menu permintaan majikannya, untuk makan malam mereka. Ketika jam menunjukkan pukul lima sore saatnya ia harus pulang. Sampai rumah, semuanya menunjukkan wajah bingung, mereka bertanya kepada Tia. “Tia, kamu dari mana saja?” tanya Linda, ibu Febri. Sepulang dari rumah majikannya, Tia diintrogasi oleh semua anggota keluarganya. Tia memang tidak memberitahu suaminya bahwa ia mencari pekerjaan, berangkat kerja pun tidak berpamit dahulu, suaminya pun hari ini mendapat pekerjaan dan berangkat lebih dulu daripada dirinya. “Maaf Ma, tadi aku tidak sempat pamit, karena tadi pagi Mama masih tidur." “Sayang, emang kamu habis pergi ke mana?” tanya Febri yang baru saja tiba di rumah setelah seharian bekerja. “Aku habis bekerja …” ucap Tia terbata. “Kerja?” tanya Linda dan Febri secara bersamaan. “Tia, kamu nggak perlu kerja Nak, kan Febri sama Papa sudah dapet kerjaan.” Linda merasa sedikit menyesal karena beberapa hari ini ia sering marah-marah mempermasalahkan keadaan ekonomi keluarga mereka. Tia mengatakan kepada Febri bahwa ia bekerja sebagai ART di rumah tetangga yang tidak jauh dari rumah mereka. Tia merasa sedih melihat suaminya harus banting tulang demi keluarga besar mereka, ia tak ingin ibu mertuanya sering menyalahkan Febri karena ia lebih sering berada di rumah ketimbang bekerja. *** Linda dahulunya adalah istri dari seorang pengusaha kaya, karena skandal antara ia dan adik iparnya sendiri yang tertangkap basah oleh anaknya, sehingga ia diceraikan oleh Dirgantara—mantan suaminya, dan terpaksa menikah dengan adik iparnya, Atmaja. Kala itu ia sedang mengandung anak dari Atmaja hasil hubungan gelap mereka. Atmaja sudah membuat aib yang memalukan dalam keluarga Wiratmoko karena ulahnya itu. Setelah pernikahan mendadak itu, mereka diusir dari keluarga Wiratmoko. Hasil pernikahan antara dirinya dan Atmaja, mereka dikaruniai enam orang anak, yaitu Febri, Sinta, Alya, Chika, Intania, dan Meilani. Sinta dan Alya masih duduk di bangku SMA, Sinta kelas XII sedangkan Alya masih kelas X, Chika masih kelas VIII SMP, dan dua yang kecil masih SD. Di dalam kamar, Tia dan Febri berbaring di atas kasurnya. Febri menoleh memandangi wajah istrinya. “Sekarang aku udah bekerja Sayang, kamu besok nggak usah kerja lagi ya.” “Aku nggak enak sama Bu Dini Sayang, dia kan tetangga kita, nanti apa kata dia kalo baru sehari kerja udah berhenti.” “Tapi Sayang ….” “Aku nggak apa-apa kok Sayang, kerjaannya dikit kok, cuma nyapu, ngepel, beberes gitu doank Sayang.” “Tapi kalo keluarga kamu tahu kamu kerja jadi ART, apa kata mereka nanti Sayang?” “Selagi halal, kita nggak perlu malu dengan pekerjaan kita Sayang.” Tia akhirnya diperbolehkan oleh suaminya untuk bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga itu. Bagi Tia selagi pekerjaan itu halal dan tidak merugikan orang lain, apa salahnya ia bekerja. Pekerjaan itu memang membuat Tia letih dan penuh keringat, tetapi baginya untuk membantu seorang suami yang sangat ia cintai, ia akan dengan tulus ikhlas melakukan pekerjaannya. Seperti kata motivator, jika kita menikmati pekerjaan itu, maka kita tidak akan bekerja hanya sehari atau dua hari saja. "Do what you love! Love what you do!" Tak terasa setahun berlalu ia bekerja di rumah Bu Dini sebagai ART, pergi pagi pulang petang, begitu juga dengan suaminya yang mengerjakan bangunan untuk sebuah gedung olahraga di kota mereka. Tia sangat bersyukur suaminya pun mendapat pekerjaan kembali, kebutuhan keluarga sangatlah banyak ditambah untuk biaya pendidikan adik-adik mereka. Mereka tidak boleh tidak mendapatkan pendidikan yang layak. Pendapatan Febri dan Ayahnya bisa untuk membayar uang SPP sekolah mereka, sedangkan gaji bulanan Tia cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD