Prahara rumah tangga pun melanda setelah hampir satu setengah tahun mereka membina rumah tangga. Sepulang kerja Tia dikejutkan oleh pertanyaan ibu mertuanya.
"Tia kamu kan anak orang kaya, apa kamu nggak punya uang tabungan buat biaya sekolah adik kamu?”
“Tabunganku udah habis Ma, buat keperluan kita sehari-hari sama buat biaya sekolah Adek saat Febri masih menganggur dulu Ma.”
“Ayah sama kakak-kakak kamu kan pengusaha semua, apa mereka cuma diam saja melihat kita yang sengsara serba kekurangan ini?”
“Ma sebenarnya aku sudah dikeluarkan dari keluarga besar kami Ma, karena sudah mau menikah dengan Febri.”
“Ketika keadaan sulit kayak gini kamu baru menyalahkan Febri, iya?” ucap Linda dengan nada yang tinggi.
Febri yang sedang istirahat di kamarnya, begitu juga dengan ayah dan adik-adiknya yang sedang makan malam menghampiri mereka karena mendengar suara mamanya yang sedang marah.
“Ada apa sih Ma?” tanya Febri.
“Apa kamu nggak mikir sudah menikahi perempuan yang memang sudah dibuang dari keluarganya sendiri?”
“Maksud Mama apa, aku nggak ngerti?” tanya Febri bingung.
“Kamu tahu, istri kamu ini diusir oleh Ayahnya karena memilih nikah sama kamu?”
“Sudah Ma,” ucap Atmaja mencoba menenangkan istrinya.
“Iya aku tahu Ma, tapi kami menikah karena kami memang saling mencintai,” ucap Febri.
“Mama setuju kamu menikahinya, karena Ayahnya itu tajir melintir, Febri!” ucap Linda.
“Mama capek hidup miskin terus—”
“Kalian juga udah setahun lebih menikah, masih belum juga punya anak, apa Mama nggak kesal!” lanjut Linda.
“Ma!” ucap Febri menghentikan ucapan ibunya.
Mendengar perkataan ibu mertuanya membuat perasaan Tia hancur. Linda mengatakan itu semua di depan Febri, dan juga ayah serta adik-adiknya mendengar kata-kata menyakitkan itu. Tia meneteskan air matanya dan berlari menuju kamar yang disusul pula oleh Febri. Dalam kamar itu, suaminya datang bukanlah untuk memeluk atau membela setelah Linda menghinanya karena belum juga dikaruniai keturunan.
“Tia, aku kan sudah bilang jangan pernah katakan pada Mama, jika kamu sudah tidak berhubungan lagi dengan keluarga kamu—”
“Ujung-ujungnya begini kan jadinya?” ucap Febri marah.
“Sayang … maafkan aku,” ucap Tia.
Sejak saat itu Febri berperilaku dingin terhadap istrinya. Bahkan jalan aspal yang halus pun memerlukan batu kerikil untuk bahan bakunya. Begitu pun dengan rumah tangga pasti akan datang masalah-masalah kecil yang mengganjal, hanya saja bagaimana kita menyikapinya.
Hari-hari pun berlalu Tia masih bekerja sebagai ART di rumah Bu Dini. Kala petang adalah saatnya ia berkumpul dengan keluarganya. Tetapi apa yang didapatnya, ia yang lelah dan lapar sepulang bekerja, ia mendapati suami dan keluarganya baru saja beranjak dari meja makan setelah menyantap makan malam mereka.
Tia yang belum makan itu melihat makanan tak bersisa sedikit pun, ia ditinggal makan duluan oleh semuanya, dan mereka habiskan pula makanan untuknya. Sehingga Tia harus memasak terlebih dahulu, dan terkadang bahan makanan untuk dimasak pun tidak ada. Sampai Tia terbiasa dengan perilaku mereka seperti itu terhadapnya.
"Suamiku, kau terkadang dingin dan cuek terhadapku, aku sangatlah mencintaimu. Tapi aku yakin dalam lubuk hatimu yang paling dalam kau masih sangat mencintaiku." Ucapan Tia yang akan abadi dalam tulisannya.
Keadaan keuangan keluarga yang sulit, ketidakhadiran seorang buah hati, komunikasi yang kurang, perbedaan level keluarga, mertua ikut campur urusan anak dan menantunya, ipar yang mendukung mertua mengurusi rumah tangga mereka merupakan pemicu prahara rumah tangga. Tia tetap bertahan dengan cintanya, ia bisa saja meninggalkan Febri dan kembali kepada ayah dan kakak-kakaknya, tetapi ia tetap memilih hidup bersama suami tercinta.
Linda memandang rendah Tia karena ia belum juga mengandung anak Febri. Linda sudah tak sabar untuk menimang seorang cucu. Entah berapa banyak kata menyakitkan yang dilontarkan oleh Linda. Terlebih lagi Linda sudah tahu bahwa Tia dibuang oleh keluarganya demi Febri. Linda tidak terima anaknya menjadi alasan Hendra mengusir Tia. Linda hanya mengharapkan pengaruh Tia sebagai putri pengusaha, untuk kehidupan mereka yang lebih baik. Tetapi harapan Linda salah besar, ternyata Tia tidak akan berhubungan lagi dengan keluarganya. Mengetahui itu semua membuat Linda membenci Tia, yang semula baik sekali padanya ternyata karena ada maunya saja.
Oleh karena Tia memberitahukannya kepada Linda, membuat Febri marah besar. Febri ingin Tia merahasiakan bahwa setelah menikah ia dihapus dari keluarga Hendra. Ia tak ingin ibunya membenci Tia. Karena kejadian hari itu, Febri sering bersikap dingin dan cuek, kadang juga seperti tak mempedulikan Tia sama sekali.
Namun, Tia tetap bersikap lemah lembut meskipun mereka memperlakukan Tia sebaliknya. Kadang ada mertua yang menganggap bahwa belum hadirnya buah hati dalam rumah tangga adalah kesalahan fatal seorang menantu.
***
Setelah dua tahun membina rumah tangga, Tia akhirnya mengandung buah cintanya dengan Febri. Dalam dua tahun ini, Tia sudah melakukan pengobatan kemana-mana untuk mendapatkan keturunan, ia mengikuti Promil hingga pengobatan alternatif tapi ia belum juga diberi kesempatan untuk menjadi seorang ibu.
Beberapa hari ini, saat pagi hari Tia merasa mual dan kadang muntah, kepalanya pusing, dan badan terasa kurang fit. Tia berobat ke klinik bidan terdekat, bidan anamnesis kondisi kesehatan Tia, Tia menceritakan semua yang dirasakannya, mulai dari mual, pusing, dan mudah lelah. Bidan pun bertanya.
"Apakah Ibu terlambat menstruasi?"
"Iya Bu Bidan, saya sudah 3 bulan ini belum datang bulan," jawab Tia.
"Saya curiga Ibu sedang mengandung, jadi Ibu test pack dulu," ucap bidan sambil menjelaskan kepada Tia bahwa Tia akan dilakukan PP Test.
Tia sudah menadah air urinnya ke dalam sebuah wadah. Kemudian bidan mencelupkan bagian ujung strip tes pack ke dalam urin. Setelah 5-10 detik, sudah tampak jelas ada dua garis merah pada strip itu.
"Selamat ya, Ibu positif hamil—"
"Ayo kita ke ruang pemeriksaan lagi, saya periksa Ibu dulu," ucap bidan.
Bidan melakukan pemeriksaan terkait kondisi kesehatan Tia, dan juga melakukan pemeriksaan palpasi pada perut Tia.
"Ballotement teraba, menghitung dari hari pertama haid terakhir (HPHT) kehamilan Ibu sudah masuk 11 minggu, untuk detak jantung janin belum bisa terdengar dengan alat ini," ucap bidan seraya menunjuk sebuah alat pemeriksaan jantung janin (Doppler). Setelah pemeriksaan bidan memberikan terapi obat untuk ibu hamil dan melakukan konseling terkait kehamilan, Tia mendengarkan dengan seksama.
"Ini vitamin penambah darah wajib diminum sehari sekali, obat ini efeknya mual, ada baiknya Ibu minumnya malam hari sebelum tidur. Ini vitamin asam folat, karena janin dalam perut Ibu masih dalam proses pembentukan, jadi asam folat ini wajib diminum ya Bu supaya janinnya sehat. Dan ini untuk obat mual dan pusingnya ...." Bidan menjelaskan semua terapi obat yang diberikannya berikut dosisnya.
"Kurangi makan yang asem-asem dulu ya Bu seperti buah karena akan memicu mual tambah parah. Boleh makan buah-buahan asalkan jangan berlebihan. Dan jangan lupa minum s**u ibu hamil ya," ucap bidan menjelaskan.
"Saya tidak suka minum s**u Bu Bidan, saya sering mual kalo minum s**u. Apakah ada alternatif lain?" tanya Tia.
"Jika tidak suka s**u ibu hamil yang berwarna putih, Ibu bisa memilih rasa lain seperti cokelat, vanila, atau rasa buah. Tapi jika Ibu tidak bisa minum s**u sama sekali, bisa diganti dengan makan es krim, karena es krim juga kaya akan kalsium."
"Baik Bu Bidan," ucap Tia sambil menganggukkan kepala.
"Dan perbanyak konsumsi makanan yang mengandung protein ya Bu, itu bagus untuk pertumbuhan otak si janin."
Bidan menjelaskan secara rinci dalam konselingnya. Kehamilan pertama biasanya membuat bingung si ibu hamil, apakah boleh makan ini atau tidak mengingat banyaknya mitos-mitos yang berkembang di masyarakat. Setelah mendengar penjelasan dari bidan, Tia mengerti.
"Setiap hari Mama mendambakan hadirmu Sayang, Mama dengan sabar menanti, hari berganti, bulan pun berganti, tahun lalu hingga tahun ini Mama selalu berdoa untukmu Sayang. Mama bahkan sudah tidak sabar untuk bersamamu, memelukmu, dan mencium kamu Sayang." Tulisan dalam buku harian Tia akan penantian sang buah hati.
Febri sangat bahagia akhirnya mereka mendapatkan keturunan setelah bertahun-tahun menanti, setelah berobat kemana-mana dan drama rumah tangga antara menantu dan mertua yang menginginkan seorang cucu.
Meskipun sedang hamil muda dan mengalami morning sickness, Tia masih bersemangat menjalani pekerjaannya. Ia tak menghiraukan keadaannya yang mual-mual itu, ia tetap bekerja untuk menabung sedikit demi sedikit sebagai persiapan melahirkan nanti, karena ia tak pernah tahu bagaimana keadaan ekonomi mereka saat ia melahirkan nanti.
Namun, mual-mual itu semakin parah, membuatnya mengalami mual muntah berlebihan. HEG (hiperemesis gravidarum) yang begitu parah membuatnya dehidrasi berat hingga pingsan. Tia dirawat selama beberapa hari hingga tubuhnya membaik.
“Jangan capek-capek dulu ya Bu. Istirahat yang cukup dan nutrisi harus terpenuhi, Ibu kan sedang hamil, nutrisi yang baik untuk pertumbuhan janin. Untuk mengatasi mual, makannya sedikit tapi sering ya Bu.”
Nasihat dokter untuk Tia yang bersiap pulang dari rumah sakit. Febri tidak akan membiarkan Tia mengalami pingsan kembali, Febri melarang Tia untuk bekerja.
“Jangan kerja lagi ya Sayang, demi bayi kita—"
“Biarkan aku saja yang mencari uang, Sayang,” ucap Febri kepada istrinya.
***
Beberapa bulan kemudian, lagu lama terulang lagi. Keadaan mereka yang sedang terhimpit ekonomi, membuat mereka harus memutar otak tentang adik-adiknya yang akan terancam putus sekolah.
Suatu hari datanglah surat pemberitahuan dari masing-masing sekolah di mana adik-adiknya bersekolah. Surat itu menggetarkan tubuh mereka, apakah itu pemberitahuan bahwa kelima adiknya akan drop out dari sekolah.