Di tempat lain, tidak ada hubungannya dengan keluarga Febri. Ada dua orang sahabat tengah asyik berbincang-bincang.
"Marko aku membutuhkan bantuan darimu untuk menggunakan namamu," ucap seorang sahabat kepada Marko dalam ruangan direksi sebuah perusahaan swasta ternama, Dirgantara Group.
***
Di rumah Febri, Linda membuka isi amplop yang berisi surat pemberitahuan itu.
“Surat Pemberitahuan Beasiswa SD, SMP, SMA hingga kuliah.”
Linda membaca isi surat itu dan didengar oleh anak-anaknya. Seseorang berhati malaikat sudah mau membantu mereka. Berita bahagia itu membuat mereka tak perlu memusingkan lagi tentang ancaman drop out dari sekolah. Namun mereka tidak mengetahui siapa orang yang berhati malaikat tersebut yang akan menanggung biaya pendidikan kelima adiknya hingga menjadi sarjana.
"Tuhan memang sangat mencintai keluarga kami, Kau mengirimkan orang baik dan entah siapa dia. Mungkin saja kami tidak mampu membalas budinya yang sangat baik kepada kami sekeluarga. Uang yang dia gunakan untuk membiayai sekolah Sinta, Alya, Chika, Intania dan Meilani hingga menjadi sarjana bukanlah nominal yang sedikit. Untuk membayangkan lembaran rupiahnya saja kami tak sanggup, apalagi untuk mengembalikan uangnya. Itu sangatlah tidak mungkin dengan kondisi keuangan kami yang seperti ini. Terima kasih Tuhan ada orang yang berhati malaikat seperti dia. Aku ingin sekali bertemu dengannya untuk mengucapkan terimakasih." Tulis Tia dalam diary.
Terdapat satu surat lagi yang belum terbuka, surat apakah itu. Linda pun membuka surat itu juga dengan perasaan penasaran. Tia, Febri, Atmaja dan kelima putrinya juga penasaran tentang isi surat yang akan dibaca oleh Linda.
"Surat ini yang berisi pemberitahuan berupa tawaran melanjutkan kuliah dengan beasiswa untuk Tia," ucap ibu mertuanya seraya melihat ke arah Tia.
Ini adalah kesempatan besar bagi Tia untuk meraih mimpinya, untuk mewujudkan cita-citanya untuk menjadi seorang pengacara hebat. Tia pernah melanjutkan pendidikan di sebuah perguruan tinggi negeri di kotanya. Ia sangat ingin menjadi pengacara setelah lulus kuliah. Namun mimpi itu lenyap ketika ia harus berhenti kuliah karena janjinya terhadap sang ayah. Jika ia memaksa untuk menikah dengan Febri, ayahnya akan mencabut semua fasilitas yang dimiliki Tia, termasuk kuliahnya. Hendra akan lepas tangan dengan biaya kuliah Tia yang cukup mahal itu. Uang tabungan Tia pun bahkan tidak cukup untuk membayar uang kuliah di kampusnya. Keluarga Febri pun tak sanggup membiayai kuliah Tia. Terpaksa kuliahnya harus putus tengah jalan. Tia berjanji pada dirinya sendiri dan kepada Hendra, bahwa ia akan menerima semua nasib dan takdirnya.
Meskipun berhenti kuliah saat itu, Tia masih berharap kelak ia akan melanjutkan pendidikannya kembali, ia akan meraih cita-cita yang sejak kecil ia impikan. Tia sangat bahagia mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan kuliah lagi, tetapi ia menolaknya ia lebih memilih menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang istri. Yang mana keadaannya sekarang sedang hamil besar dan dalam menyiapkan diri untuk menunggu kelahiran sang buah hati. Ia ingin menjadi ibu yang baik kelak. Ia tak ingin akan sering meninggalkan bayinya di rumah karena harus pergi ke kampus. Ia berjanji akan menjadi seorang ibu yang baik untuk bayi yang sudah ia nantikan selama tiga tahun terakhir.
"Tidak apa-apa aku mengabaikan kesempatan emas yang menghampiriku. Bagiku bayi yang masih dalam perutku ini lebih berharga daripada apa yang ada di dunia ini. Memang kesempatan tidak datang dua kali. Tapi aku masih berharap bisa kuliah lagi nanti setelah anakku sudah besar. Semoga Tuhan tetap melimpahkan rezeki-Nya untuk kami sehingga apa yang aku cita-citakan juga bisa tercapai. Amin." Doa yang ia tulis dalam diary.
***
Seminggu kemudian.
"Hadirmu adalah kado terindah yang Tuhan anugerahkan untuk Mama," ucap Tia.
Tia sudah dua hari ini merasa tidak nyaman, tidak bisa tidur, ia sering merasakan nyeri pada perut bagian bawahnya. Tia tetap tidak menghiraukan rasa sakit yang ia alami, ia tetap menjalankan aktivitasnya di rumah, seperti memasak dan membersihkan rumah. Tia mudah sekali merasa lelah dan nafasnya pun lebih cepat dari biasanya, karena perutnya yang semakin membesar.
Ibu hamil memang sering mengalami hal tersebut. Kehamilan trimester 3 memang mudah lelah dan nafas yang pendek dan cepat. Tia beristirahat dan tidur nyenyak malam ini. Ketika bangun tidur pagi harinya, ia berdiri dari tempat tidur dan sangat terkejut karena air mengalir dari k*********a. Itu adalah air ketuban yang sudah merembes keluar. Tia langsung dilarikan ke rumah sakit yang tidak terlalu jauh dari rumah mereka.
"Mama sudah tidak sabar bertemu denganmu Sayang. Mama sangat nervous, Mama grogi," gumamnya.
Tibalah hari kelahiran bayi mereka, Febri merasa gugup ketika istrinya sedang terbaring di bed ginekologi yang penuh dengan ketegangan. Pagi ini lahirlah seorang bayi perempuan mereka yang cantik sekali. Akhirnya ketegangan mereka menjadi rileks setelah berjam-jam peluh dan nyeri luar biasa yang di alaminya.
"Naila Febriana, nama anak kita ya Sayang," ucap Febri, mencium kening istrinya yang sudah berjuang bertaruh nyawa untuk sang buah hati melihat dunia.
Bayi Naila, bayi emas yang dinantikan keluarga besar Febri. Linda merasa senang luar biasa karena yang ia minta terus-menerus kepada Tia dan Febri, sekarang sudah di depan matanya. Meskipun ia belum bisa mencium cucu cantiknya yang sudah dinantikannya sangat lama, melihat langsung dari luar saja sangat membuatnya bahagia.
Di tengah kebahagian mereka, bayi Tia yang cantik ini lahir dengan BBLR sehingga harus perawatan intensif dalam inkubator sampai berat bayi menjadi normal minimal 2500 gram.
Bayi cantik yang tadinya lahir dengan berat badan 2200 gram, setelah tiga hari ia akhirnya boleh keluar dari kehangatan inkubator rumah sakit. Sekarang Bayi Naila berat badannya sudah 2,7 kilogram. Berat badannya cepat meningkat karena menyusunya sering dan dilakukan perawatan metode kangguru juga sambil menyusui.
"Akhirnya kamu juga boleh pulang Sayang," batin Tia.
"Proses persalinan Tia dengan KPD ditambah bayi Naila yang harus perawatan dalam inkubator, pasti biaya administrasinya besar sekali," gumam Febri dalam hati.
Biaya rumah sakit sangat besar, tetapi sebelum ia menyelesaikan administrasinya, semua biaya rumah sakit sudah dibayar lunas oleh seseorang yang tidak mau disebutkan namanya.
"Biaya sekolah, beasiswa kuliah, biaya rumah sakit dan biaya perawatan bayiku. Siapakah orang yang berani memberikan uangnya sebanyak itu untuk memudahkan urusan kami. Apa mungkin Ayah? Tapi Ayah pasti tak akan melanggar janjinya. Apa dia Kak Rio atau Kak Zaky? Yang pasti dia adalah orang baik yang dikirim Tuhan untuk kami. Terimakasih untuk kamu yang selalu peduli dengan kami." Tulis Tia dalam bukunya.
Tia berucap dalam hati penasaran dengan seseorang yang misterius ini. Tia sangat ingin mengucapkan terima kasih kepadanya.
Kehadiran Bayi Naila di tengah-tengah keluarga Febri, membuat suasana menjadi tenang. Linda yang biasanya suka marah-marah, sekarang menjadi lebih lemah lembut. Ia bahagia sekali karena sudah menjadi seorang nenek dari cucu cantiknya, Bayi Naila.
Linda, perempuan yang sudah kepala lima itu akhirnya mendapatkan apa sudah lama ia inginkan. Ia yang lebih tua lima tahun daripada Atmaja itu merasa sangat bahagia.
Anak lelaki Linda dari pernikahan terdahulu yang sudah lama tak dilihatnya, pasti sudah tampan dan gagah sekali. Anak kesayangannya itu sangat membenci Linda karena skandalnya puluhan tahun silam, sehingga ia mengandung Febri—buah cintanya dengan Atmaja dari hubungan gelap itu.
Kehadiran bayi Naila membuat Linda melupakan lara dan nestapa tentang penyesalannya yang lalu—yang sudah membuat anak sulungnya sangat membenci dirinya.