"Sekadar memastikan, keberadaan calon anak kita." Satu detik. Dua detik. Hingga tiga detik berlalu, begitu saja. Dea tampak melirik bibir Bima, yang baru saja berbisik hangat, di samping telinganya. Mendapati, bagaimana pria itu yang tampak menarik diri dari samping kanan wajahnya, sembari mengulas satu seringai kecilnya. Membuat Dea tanpa sadar menahan napas dan juga meneguk ludah, begitu pandangan matanya bersitatap kembali dengan kedua netra gelap Bima. "Tt-tapi, Bim--" "Tidak ada tapi-tapian, Dea. Kita harus memastikannya, secepatnya!" tolak Bima tegas, sebelum kemudian memalingkan wajahnya kepada Vano. "Mari, Kakak Ipar!" Bima dan Vano pun tampak melenggang masuk. Sementara Benno tampak melempar senyum dan menganggukkan kepalanya sekali, kepada Dea. Mengangsurkan tas kerj

