Ijazah Aji Tapak Wesi!

1408 Words
Melesat dengan tubuh bawah ular, si Buto Ijo berbadan kekar seukuran atlit binaragawan di hadapan Raihan, mengayunkan cakar kanan dan kiri bergantian. Wajahnya menyeringai, memamerkan deret gigi tajam yang siap mengoyak. “Hrrrraaaagh!” Wuss! Wuss! Raihan melakukan roll depan, membelakangi ekor si Buto Ijo. Bibirnya lirih merapalkan surat Al-Ahad. Tangan kanannya yang terkepal, ia angkat perlahan. “Graaaaaakh!” Sang Buto bertubuh bawah ular, memutar badan-menyabetkan ekor pada pria berbelangkon. Raihan, menahan-menangkis sabetan lawan dengan kedua tangan. ‘Duh Gusti!’ Dorongan itu terlalu kuat, membuat pemuda berbusana serba hitam terempas ke arah semak belukar sebelum akhirnya jatuh tersungkur dalam gelap. ‘Gusti! Bukan main…’ Raihan menggulirkan tubuh, bangkit menahan nyeri. “Urgh…” Saat ia berdiri, matanya tak lagi menjumpai sosok mengerikan tadi. Sorot matanya menajam, benaknya menerka-nerka. Yakin bila sosok siluman kini berada di belakang, sang dukun muda memutar badan dengan kuda-kuda silat. Namun, tak ada yang ia temukan selain gelap bayangan hutan. “b***k leutik... Kau terlalu hijau untuk melawanku!” Buto Ijo yang ekornya terbelit di dahan pohon terdekat, kepalanya berada di belakang sasaran. Sosok berwajah mengerikan, tergantung membalik, membiarkan rabut gimbal kusamnya terjuntai ke bawah. Sraaak! Si Buto Ijo berlengan kekar melepaskan ayunan cakar, berhasil menggores punggung Raihan hingga jaket hitamnya sobek. “Allohu Akbar!” Pemuda berbelangkon melesat menjauh tuk mengatur jarak dari lawan. Ia sigap memutar badan. Perih di punggung tak membuatnya lengah. “Pak Kyai... Maaf karena banyak menggunakan titipan ini...” Raihan mengatur napas, merasakan helaan masuk keluar udara. “Ya Alloh...” Sepasang netra pemuda itu terpejam. Sang siluman kekar bermata melotot segera mengerti bila lawanya hendak melakukan serangan pamungkas. Hal itu membuatnya melesat tuk menyerang ulang pemuda berbusana hitam panjang. Raihan sigap mengelak ke samping, ia tetap menjaga ketenangan batin. “Dzatulloh...” Ia sama sekali tak mengerjapkan mata yang tertutup. Sang Buto Ijo jelas melihat adanya sesautu serupa asap yang mulai menyeruak dari tubuh Raihan. Asap baerwarna abu-abu transparan. “Haaakh!” Buto Ijo melesat cepat hendak meandaratkan cakar tajam. Jlappp! Namun Raihan lagi-lagi berhasil menghindari serangan hanya dengan sedikit menggeser badan. ‘Gerakan bocah ini makin gesit!’ pikirnya saat ujung runcing kukunya menancap dalam pada sebuah batang pohon mangga. Grreettaakkkk! Sang Buto Ijo mencabut paksa batang pohon manga yang ia tusuk, sedetik kemudian melempar benda di tangan pada sasaran. Swung!  “Sifatulloh...” Pemuda berbelangkon cokelat sigap melompat ke dahan pohon yang berada satu setengah meter darinya tuk menghindari terjangan pohon. Bukan mata yang ia gunakan sebagai pedoman tahu arah serangan lawan, melainkan bisikan batiniah. Swuuss! “Tak akan kubiarkan!” Makhluk berambut gimbal meraung keras seraya melesat ke atas. Raihan melakukan roll belakang sebanyak lima kali, menghindari serangan dari atas sang lawan. Napasnya masih stabil, tak tersengal sama sekali. Dengan memuncaknya amarah lawan, ia makin paham menghenai arah gerakan lawan sebab aura yang menyeruak dari badan Sang Buto Ijo. Gagal menyerang tuk kesekian kali, Sang Buto Ijo meraih batang pohon di tanah yang sempat ia lempar pada sasaran. “Sampai kapan kau akan terus menghindar!” serunya geram mengayun benda tersebut berkali-kali pada pemuda berjaket hitam. “Wujudulloh...” Raihan mengelak tenang. Tiga belas ayunan batang pohon lebar ia hindari. Menunduk, menapak ke kanan, berguling ke kiri, bahkan sesekali memijak pada batang pohon di tangan lawan, kemudian membelakangi lawan. “Cukup lulumpatanana!” Sang Buto Ijo, kini menusuk tanah dengan ekor ularnya.  Jlup! “Nurulloh!” Raihan memasang kuda-kuda dengan tasbih berbutir besar pada tangan kanan. Jraaaatt! Dari tanah di belakang Raihan, ekor sang Buto Ijo muncul keluar-menyabet punggungnya agar terlempar ke arah sang Buto Ijo. “Kena kau, bocah!” Sang siluman besar kekar, melayangkan cakar kiri terlebih dulu. Mulut bertaringnya lebar membuka, bersiap tuk menyusul-ditancapkan pada lawan. “Graaaaaaaah!” Raihan yang telah terluka di punggung dan tangan kanan, kembali terlempar dengan luka tusuk-cakar Buto Ijo. Bagaimanapun netra pemuda tersebut masih terpejam, berusaha menstabilkan ketenangan batin. Blak! Punggung Raihan mendarat keras di batang pohon. Darah mengalir lirih lewat sela bibir kiri yang naik. Tersenyum simpul. “Sirrulloh... Sirrulloh... Sirrulloh... Sirrulloh... Sirrulloh... Sirrulloh... Sirrulloh!” Geram, sang Buto Ijo kembali melejit. “Bocah b*****h!” *** (Beberapa tahun silam, Pegunungan Kabupaten Pekalongan.)   “Cung....” Ki Panca, sosok bertubuh ramping dengan busana serba putih bersih, memandangi air terjun yang tak terlalu tinggi. Terusan air terjun yang memantulkan sinar surya pagi, berbentuk sungai jernih, mengalir di samping kiri mereka. Sedang di samping kanan, sebongkah batu besar berdiameter tiga meter, berdiri kokoh di bawah tebing berhias tanaman rambat hijau. Raihan, pemuda telanjang daada dengan celana hitam panjang, berdiri loyo dengan wajah pucat kelelahan. Celana hitam yang ia kenakan basah kuyup setelah berendam tiga jam lamanya di sungai. “Ngger… Apa kau tahu, kenapa pedang ditempa, direndam, dibakar, dipalu, bahkan terkadang dikikis serta dipotong?” tanyanya tanpa balik badan. Raihan mengatur napas yang tersengal. “A-agar tajam, Ki?” Ki Panca tersenyum seraya balik badan menghadap sang santri di belakang. “Jika jadi palu, maka jadilah palu keras yang tak mudah hancur. Jika jadi pisau, maka jadilah pisau yang tak mudah tumpul dan berkarat. Jika jadi pakaian, jadilah busana yang tak mudah sobek dan membuat nyaman si pemakai. Dengan kata lain?” Raihan, mendengung memandang sosok bermata jeli di hadapannya. Ia memikirkan sebuah jawaban yang pastinya memiliki makna mendalam. ‘Apa ya?’ “Jangan setengah-setengah dalam berproses,” ungkapnya. “Sendiko dawuh, Ki...” ucapnya sedikit menunduk. Seekor ikan mujair, tiba-tiba melompat dari air jernih dan menggelepar di daratan. Raihan dan Ki Panca, menoleh bersamaan memperhatikan binatang tersebut. “Dia binatang. Jadi tak mampu belajar bagaimana memaksimalkan diri untuk beradaptasi di darat. Tapi kita? Manusia. Khalifah. Semua yang mustahil, bisa dilakukan dengan satu syarat utama,” jelas Ki Panca seraya jongkok. Mengernyitkan dahi, Raihan bertanya. “A-apa itu, Ki?” Ia beralih pada wajah sang guru. “Ridho dari Alloh,” jawabnya singkat. Raihan mendengung paham. ‘Dengan kata lain, manusia terkuat, adalah manusia yang paling dekat dengan-Nya.’ “Hemm... Wis koyo demit wae yen nyebrang marang alam manungso... (Sudah seperti makhluk gaib saja, menyebrang kea lam manusia…)” ucapnya kembali menaruh ikan ke dalam air.   “Demit yang menyebrang ke alam manusia... Apa akan jadi selemah itu, Ki?”   Ki Panca mengangguk. “Yo Ngono iku. Sedikit berbeda dengan kita, yang mampu mewujudkan energi gaib yang besar di alam nyata.” Ki Panca berdiri, lanjut menempelkan telapak tangan pada batu besar di dekatnya. Raihan, dalam sekejap merinding. Ia merasakan sensasi energi tak kasat mata. Cukup besar, sampai-sampai detak jantungnya melemah. ‘Apa ini? Badanku merinding?’ Mengatur napas dengan bibir yang lirih melafalkan doa atau pun mantra, Ki Panca menatap benda keras itu. Mata jeli laki-laki berhidung mancung focus pada benda yang ia sentuh, Hingga... Bralll! Batu itu hancur, luluh lantak seketika jadi kepingan kecil serupa kerikil. Tak seperti Raihan yang melongo, Ki Panca tersenyum memamerkan gigi bersihnya. “Mantap tha?” Ia menepuk-nepukan kedua tangan untuk membersihkan debu yang tersisa di tangan. “Mben li koen biso dewe... (Nanti juga kamu bisa sendiri)” “No-nopo niku... Ki? (A-apa yang barusan itu, Pak Kyai?)” *** (Masa kini.) “Allohuma ya Alloh! Anugerahkan hamba kelebihan yang Engkau berikan pada Ki Panca! Wa La khauwla wa la quwwata ila billahil ‘aliyil adzim!” Raihan, menarik napas pelan-pelan. Menahannya di perut sejenak, kemudian membaca lirih surat Al Hadid ayat lima belas. Tangan kiri Raihan, mencengkeram pergelangan tangan kanan. Ia menunggu jarak serang untuk menyentuh Buto Ijo yang tengah merayap cepat mendekatinya. “Hargh!” Sosok Buto Ijo berkulit hijau, membuka lebar mulut menunjukan deret gigi tajam serta lidah berbentuk ular. Melihat lawan sudah jangkauan jarak serang, Raihan memijakkan kaki, membuat badannya maju ke depan seraya menempelkan tapak tangan kanan ke badan kekar si Buto Ijo berekor ular. “Aji Tapak Gunung Wesi!” ucapnya mengalirkan tenaga yang bertumpuk di tubuh, tuk mengalir dan meledak keluar dari tapak tangan yang menempel lawan. Braal! Akibat daya serangannya sendiri, Raihan terdorong hingga menumbangkan batang besar pohon yang ia punggungi. ‘Duh Gusti!’ Brraaaakkk! Sementara raga sang Buto Ijo, meledak berserakan jadi serpihan kecil daging-daging. Sedetik kemudian, kepingan daging jasad sang siluman yang bertebaran di tanah, menghitam sebelum akhirnya lenyap ditiup angina malam.   Tekanan dorong dari energi alam yang Raihan lepaskan, mendorongnya jauh hingga belasan meter meski sudah membuatnya menabrak tumbang sebuah pohon. Pemuda bercelana hitam terus terguling di tanah. ‘Alloh Gusti…’ Saat terhenti oleh sebuah pohon lain, napasnya lemas. Matanya sayup-sayup hendak tertutup. Kaki dan tangannya gemetaran, tak mampu ia gerakkan. “Alhamdulillah Gusti... Kelar,” gumamnya lirih.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD