Raihan yang melangkah setengah mengendap, sigap memutar badan. Ia mendorong tubuh Asih untuk menyingkir.
“Graakh!”
Mitha, dengan pecahan beling yang ia pegang erat sampai darah telapak tangannya mengalir, baru saja menempel di dinding bak cicak, lantas melompat menerjang Raihan. Meski gerakannya gesit, serangannya gagal.
“Setan kurang ajar!” Raihan sang pemuda berjaket hitam, menunjuk mengacungkan telunjuk ke wajah Mitha. Mata hitam pekatnya, bertemu dengan sorot mata Raihan yang seketika memancarkan rasa jengkel.
“Kau! Untuk apa kau ikut campur! Ini bukan urusanmu!” gertak Mitha dengan posisi siap menerkam bak harimau di lantai.
“Apa kau di utus oleh penguasa gaib tanah ini untuk mencelakai dia dan kawan-kawannya? Atau manusia penyimpan kitab terkutuk itu yang menyuruhmu mencelakai mereka!” Raihan mendekat pelan, langkahnya mantap tanpa takut dan gentar.
“Pergi kau manusia! Jangan usik kami!” serunya jengkel
Menarik napas lewat hidung, Raihan mengepalkan tangan kanan erat-erat. Batin pemuda berbelangkon tersebut merapal doa sepenuh hati.
Mitha yang di kuasai oleh sosok astral melompat mundur, mengatur jarak. Rautnya persis seperti binatang yang siap menerkam. Ia mendesis lirih. Secara gaib, sosok yang berada dalam tubuh Mitha melihat begitu banyak bintik-bintik cahaya putih yang terkumpul-menyatu ke tubuh pemuda berbelangkon cokelat.
“Enyah kau manusia!” hardiknya memijak kuat lantai, melesat menerkam ke arah Raihan.
Dengan tenang, sang pemuda beralis lebat mulai mengucap sesuatu yang gurunya ajarkan, “Ya Alloh... Dzatulloh... Sifatulloh... Wujudulloh... Nurulloh.... Sirrulloh!”
Tep!
Tangan kanan Raihan, mencengkam tangan kiri Mitha, sedangkan tangan kirinya, menempel di perut gadis tersebut. Pemuda berbelangkon memutar badan, mengangkat-menjatuhkan Mitha keras-keras ke lantai.
Brak!
Gadis yang tengah dikuasai sosok astral, seketika meraung kesakitan. “Manusia bodoh! Kau akan membunuh gadis i-”
Belum selesai si jurig betina berbicara, Raihan menduduki punggung gadis tersebut. Tangan kanannya, cepat menempel di tungkak Mitha. Lirih, Raihan membaca surat Al-Ahad, ayat satu hingga akhir.
“Panas!” Mitha, menjerit meronta-ronta. Namun semakin lama, ia kelelahan dan terdiam pasrah sembari menangis sesenggukan.
“Qulhu Geni!” Raihan menekan tungkak Mitha kuat-kuat.
Gadis itu menjerit-meraung sejadinya. Tetapi tubuh yang dikuasai tak kuasa lagi berontak. “Ampun... Ampun Tuan... Ampun!”
“Heh, demit kurang ajar! Tak kubiarkan kau keluar dari jasad ini sebelum kau beri tahu siapa Tuanmu!”
“Ampun... Tuan... Panas... Ampun!” rintihnya memelas.
Lelaki berjaket hitam melotot. “Maka katakan siapa tuanmu!”
Asih yang sedari tadi menyaksikan pertarungan dahsyat tersebut, perlahan berdiri. Wajahnya iba bercampur kalut. Ia bingung untuk berbuat apa.
Mengatur napas lewat hidung, Raihan menajamkan mata. “Jika kau tak mau bicara, aku panggang kau disini!”
“Aaaaaaarkh! Ampun tuaan ampun!” si jurig merintih memelas.
“Katakan siapa yang me-”
Wuzz!
Angin kencang meniup Raihan dari punggung Mitha. Pemuda berjaket hitam dengan blangkon, mendarat menabrak sofa ruang tamu kuat-kuat. “Urgh!”
‘Duh Gusti! Tekanan ini...’ Kembali mengatur napas, Raihan memejamkan mata. Ia, fokus pada Ajna.
Yang ia saksikan ketika memejamkan mata, adalah sesosok wanita cantik dengan mata dan bagian tubuh bawah berwujud ular. Busana yang makhluk gaib kenakan, serupa kebaya berwarna kehijauan. Sosok berhidung mancung dengan sanggul di kepala, menarik paksa seekor ular hitam bertubuh besar dari tengkuk belakang gadis yang kerasukan-Mitha.
Diiringi sensasi kepala yang cenat-cenut, Raihan memaksakan diri tuk bangkit berdiri. Sepasang telinganya, berdengung hebat. “Ya Alloh Gusti...”
“Anak muda! Jika kau masih berani mencampuri urusanku, maka sukmamu yang akan aku bawa!”
‘Getarannya... Setara seperti ratu kuntilanak waktu itu!’ Raihan mengatur napas, merogoh saku jaket hitamnya sembari memejamkan mata.
Saat tangan Raihan masuk ke dalam saku jaket tuk menyentuh tasbih, sosok wanita bertubuh ular yang hanya bisa dilihat dengan Ajna, menoleh ke belakang sembari mengayunkan tangan kanan bercakar tajam.
Wuzz!
Angin kencang berhawa panas, menerpa meniup tubuh lelaki berjaket hitam. Pemuda itu terempas ke dinding. “Ugh! Gusti!” Tubuhnya turun ke bawah, terduduk di lantai dengan wajah nyingir.
Bug!
“Wahai para jurig! Akan ku berikan imbalan besar bagi kalian yang mampu membawakan kepala pemuda itu padaku!” serunya lantang. Sosok bertubuh ular itu, kemudian lenyap membawa makhluk yang menguasai raga Mitha tadi.
Asih cepat menghampiri Raihan. Wajah pucatnya cemas. “Ma-Mas... Baga-”
Raihan, memotong suara Asih. Ia mendesis menutup bibir dengan telunjuk. “Mbak... Apa kau mampu menggendong temanmu sampai ke perkampungan?” tanya Raihan menatap Mitha yang tergolek lemah tanpa kesadaran.
“Ke-kenapa?” Asih jongkok menyetarakan tinggi pada Raihan.
“Subhanalloh...” Raihan bangkit, berdiri tegap memejamkan mata. Ia lirih melangkah mendekati pintu masuk rumah.
Cetar! Prang! Prang! Prang! Prang!
Seluruh kaca di bangunan yang mereka singgahi, retak. Sebelum akhirnya remuk berserakan di lantai sebab tekanan energi tak kasat mata. Kelebatan hitam di luar rumah pun mulai berseliweran.
Asih yang kaget, memeluk Raihan dari belakang. “Huwaaa!”
“Mbak... Kalau Mbak kuat bawa teman Mbak yang di sana... Larilah dari sini. Tetap baca shalawat Nabi meski hanya dalam hati.” Raihan, membalik badan, perlahan menyingkir dari pelukan Asih.
Hih hih hihih hihihih!
Tawa kuntilanak, berpantulan di dinding ruangan, kemudian makin menjauh. Tak seperti Raihan yang mencoba tenang, Asih nampak gusar celingukan. Tangan lembut gadis tersebut erat mencengkam badan kekar berlapis jaket hitam Raihan.
Lelaki berbelangkon cokelat menarik napas dalam-dalam. “Kuat, kan?” Raihan bertanya, memegang kedua bahu Asih. Netra mereka bertemu.
Sekilas wajah Asih memerah. “I-insyaallah, Mas...” jawabnya manggut sekali.
Raihan tersenyum lega, mengangguk menegapkan badan. “Baiklah...” Raihan, menggerakan jari telunjuk kanan. Ia menggambar sebuah bentuk kotak memutari tubuh Asih dan Mitha bergantian. Bibir pemuda tersebut merapal doa.
Yang Asih dengar adalah surat Annas, Al Falaq, Al ikhlas, dan Al Fatihah, lirih terucap dari mulut pemuda berbelangkon. ‘Apa yang dia lakukan?’
Set!
Ia menggotong tubuh gadis yang tak sadarkan duri ke punggung Asih untuk di gendong. Kepala pemuda berjaket dan celana hitam, tertuju pada belasan ekor ular hitam yang merayap memasuki rumah lewat pintu depan.
Sementara dari arah tangga menuju lantai dua, belasan ekor ular hijau pun turut tiba. Mereka bergerombol, mendesis menuruni tangga. Lidahnya serentak keluar-masuk dijulurkan.
“Ma-mas... Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?” Asih pucat. Tangannya yang menopang badan Mitha, gemetar hebat.
“Tenanglah. Insyaalloh sudah tak kenapa-kenapa. Bawa dia lari dari sini saja. Ular-ular itu, tak berani menggigitmu.” Raihan tersenyum, menenangkan. “Insyaalloh.”
“Ta-tapi...” Matanya menyapu ke sekitar.
“Jika kau tak yakin pada saya, maka yakinlah pada seseorang yang membimbing saya sebagai wasillah-Nya. Beliau, seorang ulama yang dekat dengan-Nya. Namun jika kau tak yakin pada beliau, maka yakinlah pada Baginda Nabi. Sebab, Baginda Nabi adalah leluhur beliau. Tapi... Jika kau kurang yakin, maka yakinlah pada Sang Pencipta.”
Mencengkeram balik lengan Raihan, Asih menahan air mata. “I-iya Mas!”
“Sekarang, larilah secepat kau bisa, dan... Apapun yang terjadi, jangan menoleh ke belakang!” seru Raihan sambil mendorong Asih menjauh.
Seperti tak melihat dan tak menyadari keberadaan gadis berkerudung yang tengah menggendong Mitha, ular-ular itu hanya terdiam ketika Asih berlari melewati-bahkan menginjak beberapa ekor dari mereka.
Menghela napas berat, Raihan menaikan garis bibir kanannya. “Alhamdulillah, Gusti... Engkau menghadapkan hamba pada makhluk yang ingin sekali hamba remuk!” Raihan, kembali merogoh saku jaket hitam. Ia, menarik keluar sebuah tasbih berbiji besar sebesar biji salak. “Maju kalian!”
***
Asih yang terus berlari, kini tergoda bergerak tuk untuk menoleh ke belakang di saat suara perempuan tua memanggil-manggil namanya.
“Asih... Mau kemana kau nak...”
‘Tidak! Tidak! Jangan!’ Teringat kata-kata Raihan, Asih yang sejenak berhenti tuk balik badan, memilih melangkah lebih cepat. Tangannya erat memegang Mitha yang tergendong di punggung.
“Asih... Kau membuat lenyap Asihku!” suara parau itu, makin dekat. Seperti berada tepat di belakang telinga kanan. “Berhentilah, Asih! Ikutlah denganku!” Suara itu berpindah, seperti berada dari telinga kiri belakang.
Gadis berkerudung itu, bibirnya, mulai bergerak membaca sholawat. Matanya reflek menutup oleh kencang terpaan angin dingin dari depan. Hingga...
“Asih!” wujud nenek-nenek tua dengan tubuh yang remang, berdiri di hadapannya.
beruntung, Asih yang terlambat sadar, berhasil menembus, melewati sosok tersebut.
***
“Ya Alloh... Dzatulloh... Sifatulloh... Wujudulloh... Nurulloh... Sirrulloh... Sirrulloh... Sirrulloh... Sirrulloh... Sirrulloh... Sirrulloh... Sirrulloh! Ya Mujib Ya Mujib Ya Mujib, karunikan hamba kelebihan yang Engkau anugerahkan pada Ki Panca! Wa la khaula wa la quwwata illabillahil ‘aliyyil adzim!”
Cetas!
Raihan meremuk satu biji tasbih di tangan kananya. Ia, lanjut mengayunkan pelan telapak tangan kanannya yang terbuka, dari bawah ke atas-dengan siku tertekuk. Ia lantas menepuk keras lantai di bawahnya hingga retak.
Brak!
Memejamkan mata, yang ia saksikan lewat mata ketiga, adalah para makhluk halus berwujud wanita dan pocong yang tergeletak di lantai. Raihan mengatur napas perlahan, mengucap khamdallah. “Sampaikan pada ratu kalian! Jika tak mau kerajaannya ku obrak-abrik, kembalikan saudara-saudaraku yang telah dia bawa!”
Bledak!
Sofa ruang tamu, dengan cepat melayang ke arah Raihan. Pemuda itu, reflek memutar badan lalu menendangnya hingga menabrak dinding.
Blak!
“Tunjukan dirimu!” serunya dalam posisi kuda-kuda. Kedua tangannya, terbuka.
“Hai kisanak! Ini sudah jadi perjanjian anak manusia pada kerajaan kami! Kau tak berhak mengganggunya!” suara besar, menggelegar di ruangan.
Bledak! Blak!
Lelaki berjaket hitam, dengan tenang mengelak dari lukisan dan beberapa perabotan lain. Saat serpihan kaca melayang ke arahnya, ia melompat melakukan roll belakang.
Prang!
Kembali berdiri siaga, Raihan berteriak menyapukan pandang ke sekitar, “tunjukan wujudmu! Pecundang!”
Lampu yang semenjak tadi tergantung, serentak berjatuhan, di awang-awang benda-benda tersebut melayang ke arahnya. Pemuda berjaket hitam, melompat ke depan, ke arah pintu. Cahaya lampu seisi rumah telah padam.
Dari depan pintu rumah mewah nan megah, mata Raihan menajam. Ia memperhatikan sepasang sinar merah yang menyala di kegelapan pepohonan.
“Groaaagr!” Sesuatu yang besar, melesat cepat di gelapnya ruangan. Raihan, menutupi wajah dengan kedua tangan.
Blak!
Sesosok makhluk dengan badan atas berwujud manusia berkulit hijau, dengan wajah bak topeng Buto, baru saja membenturkan kepala tepat ke tangan Raihan. Tubuh bawah si makhluk hijau, berwujud ular panjang sehijau daun.
“Buto Ijo?” Netra pemuda berbelangkon mengamati wujud si monster. “Hmmm...” Raihan mendengung paham. “Jadi... Sosok wanita tadi itu... Ratu siluman ular hijau di sekitar sini, ya?”
Mengacungkan jari berkuku tajam ke wajah Raihan, si Buto Ijo geram. “Berani sekali kau menyebut Ratu kami sembarangan!”
“Tuan ular, mohon dengar baik-baik.” Raihan mengatur napas. “Jika kalian mengembalikan para manusia itu, maka kami akan pergi dengan damai. Tapi jika tidak... Jangan salahkan kami jika harus menggunakan kekerasan.”
“Hai bocah! Umurku ratusan tahun! Separuhnya aku gunakan untuk bertapa menyeberang ke alam padhang (nyata)! Berani sekali kau mengancamku!” Matanya mulai menyala merah. Liur di sela-sela taring tajam, mengalir menetes ke bawah, berjatuhan.
“angel pancene cangkeman karo siluman (Memang susah berdiskusi dengan siluman!)” Raihan kembali mengeluarkan tasbihnya. “Maju koen! (Maju kau!)”