Asih, gadis manis berusia dua puluh tahunan yang tertidur dengan kerudung tersebut, erat memeluk guling. Dinginnya hawa malam kala itu, mendorongnya ketat, untuk mengencangkan pelukan pada guling.
Netra gadis berbulu lentik kini sayup-setengah terbuka, sesaat setelah telapak tangannya merasakan lembab dari guling yang ia peluk.
Asih yang kini membuka mata, seketika merinding. Bulu roma di sekujur badan, berdiri tegap. Kedua kelopaknya Lebar terbuka oleh dekilnya guling berbalut tanah-sebagian.
Belum lagi, anyir darah bercampur busuknya aroma, meyakinkana diri bila yang ia peluk, adalah sesosok pocong yang tengah memunggunginya. Benar, tapak tangan kanannya, meraba lirih wajah setengah tengkorak. Sosok pocong yang tengah memunggunginya.
“Astaghfirullah hal adzim!” Asih memejamkan kedua mata kuat-kuat.
Selang lima belas detik, ia mencoba meraba-raba lagi wajah dengan tangan. Ia menghela napas lega tatkala kulitnya tak lagi merasakan tekstur aneh-wajah sang pocong. ‘Kayanya Cuma perasaanku aja...’
Memberanikan diri membuka mata, gadis berkerudung itu kini menjerit keras, saat wajahnya dengan wajah si pocong, hanya berjarak tiga sentimeter. Wajah makhluk rusak dirambati belatung, menyeringai-memamerkan gigi yang membusuk.
***
(Desa Cileuweung, Kabupaten Garut, Jawa Barat.)
Suara tokek dan cicitan kelelawar, mulai berisik menemani malam mencekam dari luar daun pintu rumah Mang Jajang-sang ketua RW.
Riko dan Iyan, sedikit lega ketika Mang Jajang kembali ke ruang tamu sembari membawa tiga cangkir kopi hitam panas.
“Silahkan diminum kopinya,” pinta Mang Jajang ramah. Usai menawarkan kopi yang ia bawa dengan nampan putih, pria itu duduk menghadap kedua pemuda.
“Mang, langsung saja. Apa maksud Mang Jajang tadi bilang kalau... Penyebab barang dari rumah almarhumah Nyai Sumini bukanlah penyebab ini semua?”
Menarik napas dalam, wajah Jajang serius. “Saya... Tak tahu siapa pastinya seseorang yang membuat para jurig mengganggu, hingga membawa kedua teman kalian itu. Tapi yang jelas, itu perbuatan seseorang yang mempelajari ilmu sesat seperti si Sumini dulu.”
Kedua mata Riko, terbuka lebar. “Ja.. Jangan-jangan... Ini perbuatan murid dari guru Sumini itu!”
Jajang kembali menarik napas dalam. “Bisa jadi... Dan selain itu... Saya teh curiga kalau dia juga yang membuat teman Kang Riko ini, di tahan oleh pihak berwenang.”
‘Mas Raihan... Benar! Bisa-bisanya ia melimpahkan kesalahannya pada Mas Raihan!’ Riko megepalkan erat tinju kanan. “b*****h tua itu!”
“Kalau begitu, kita seret dia ke deoan warga! Kita akan buat dia mengaku!” Iyan berdiri cepat.
“Eeeh! Sabar dulu atuh! Kang Iyan! Lagi pula kita belum punya bukti cukup untuk menangkapnya...” tambah Jajang.
“Mang!” Remaja bernama Iyan menatap Jajang mantap. “Aku bukan orang yang mudah menuduh seseorang tanpa bukti logis! Tapi yang kita hadapi sekarang pun adalah hal yang tak bisa dilogika! Sejujurnya, entah mengapa aku memang tak suka pada si jawa yang berlagak seperti dukun, tapi aku tak yakin bila dia adalah pelaku hilangnya Gina dan Ari!”
Jajang, menarik napas perlahan. “Sebenarnya... Ada satu hal yang mungkin jadi tempat dimana si penculik membawa kedua teman kalian...” ungkapnya gugup.
Iyan dan Riko, seketika tercengang. “A-apa? Dimana?” Riko turut berdiri.
“I-itu... Ta-tapi...” Gumular ragu menyampaikan.
“Cepat katakan di mana tempat itu!” Iyan mencengkeram kerah kaos Jajang-memaksanya berdiri dari kursi.
“Abi belum yakin, ta-tapi...”
Riko, menarik lirih tangan Iyan dari kerah Jajang. “Tapi apa, Mang?”
“Di sana... Adalah tempat keramat untuk melakukan pesugihan...”
“b******n!” Iyan mendorong keras Jajang hingga terjatuh menimpa kursi.
“Woy!” Riko mencengkeram erat lengan kanan Iyan dengan satu tangan.
“Dia udah tau ada kemungkinan si Gina sama Ari di culik buat tumbal! Tapi kenapa baru bilang sekarang!”
“Maaf... A-abi... Takut bila kalian nekat pergi ke sana, kalian akan celaka...” Jajang duduk perlahan, mengelus pinggangnya yang sakit tersentak pinggiran kursi kayu.
Napas Iyan terburu, ia jongkok-kembali mencengkeram leher Jajang. “Katakan tempat apa dan di mana itu!”
“I-itu... Curug di ujung de-”
Belum selesai Jajang berkata, tubuhnya terlempar kuat ke dinding rumah.
Bral!
Kedua pemuda itu, serempak kaget.
“Hugg!” Jajang, nampak tercekik oleh sesuatu. “Ba-bawa... Ji... mat di... Lema...ri kamar... Saya! Kalian harus... Sege...ra pergi!” ucapnya tertempel di dinding memegangi leher.
Bral!
Brak!
Jajang melayang, membentur ke tembok lima kali, kemudian terjatuh di lantai. Ia tak sadarkan diri seketika.
“Guuuumiiiilaaaaaar!”
Suara serak, menggema di ruang tamu. Riko dan Iyan celingukan, tak berani bergerak, hingga Jajang di arak oleh sesuatu yang tak nampak. Cukup cepat, ke arah pintu keluar yang kini terbuka oleh terpaan kencang angin.
***
“Astaghfirullah hal adzim!” Asih, terbangun dengan keringat dingin membasahi tubuh. Gadis berkerudung itu, bergeridik ngeri-matanya melirik lirih ke arah guling.
“Subhanallah...” ucapnya mengusap wajah dengan kedua telapak ketika guling di dekatnya berwarna biru.
Sadar ada sesuatu yang hilang, Asih kembali menoleh ke sisi guling. “Mitha!” Asih bangkit dari kasur. Hatinya cemas tak karuan. Gadis itu, memburu langkahnya ke pintu.
Dlap! Dlap! Dlap!
Ia, kembali membeku dengan tangan sudah di pegangan pintu. Di belakangnya, sesosok pocong yang ada di mimpi, tengah berdiri mengamati.
Enggan menoleh ke belakang, Asih membuka daun pintu. Menuruni tangga, dan mendengar suara lompatan dari sosok berkain kafan di belakang.
Dlap! Dlap! Dlap!
“Mitha!” jeritnya ketakutan memandangi rumah.
Masih tanpa menoleh ke belakang, Asih berada di dekat sofa ruang tamu yang tertata rapi. “Mitha!” teriaknya lagi saat suara dari lompatan pocong kian mendekat.
“Mitha!”
Teriaknya lagi sebelum menoleh lirih ke arah toilet. Daun pintunya, sedikit terbuka. Gadis berkerudung itu pun, cepat-cepat membukanya.
Mitha. Duduk di atas bak beton toilet sembari menunduk menyisir-nyisir rambutnya yang panjang dengan jemari tangan.
Bisik suaranya, lirih melantunkan lagu Bangbung Hideung. Lirih, namun melengking-lengking.
Asih yang paham bila gadis itu tak bisa bernyanyi, terlebih bersinden, kini gemetaran. Mitha kerasukan, itu yang membuatnya melangkah mundur perlahan.
Plek...
Punggungnya, kini menempel pada sesuatu. Sesuatu yang berbau anyir, bercampur busuk. Asih yang enggan menoleh ke belakang, menatap lantai. Di lihatnya kaki dari tubuh pocong yang terbalut kain kafan dengan noda lumpur.
“
ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْحَىُّ ٱلْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ ۗ مَن ذَا ٱلَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىْءٍ مِّنْ عِلْمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ ۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْعَظِيمُ
Tak seperti sosok pocong yang perlahan menjadi remang kemudian lenyap, Mitha yang dari tadi menyanyikan lagu Bangbung Hideung, kini mendongak lirih ke arah Asih.
Gadis dengan mata yang telah menghitam penuh itu, melesat menerkam gadis berkerudung.
Bakk!
Asih terterkam, kini tertindih dan di cekik oleh sahabatnya. Gadis berkerudung itu, mencoba melepaskan erat cekikan Mitha, namun ia tak kuasa.
“Manusia laknat! Jangan bawa-bawa nama Tuhan!” serunya geram.
Kini, meski bibirnya tercekik dan tak mampu bersuara, Asih sepenuh hati membaca ayat kursi dalam hati. Tanpa sadar, airmatanya mengalir lirih.
“Panass!” Mitha, melepaskan pegangan tangannya. Gadis kerasukan itu, terduduk ke bawah mengkibas-kibaskan kedua telapak tangan yang memerah-serasa terbakar.
Asih, perlahan duduk, lalu tertatih berjalan cepat, menggapai pintu keluar yang tak terkunci.
Namun, saat pintu itu ia buka lebar, sesosok wanita berambut panjang, tengah memunggunginya. Wanita itu, menggesek-gesekan kuku hitam tangan kirinya. Sedangkan di tangan kanan, seonggok kepala dengan darah yang berceceran, menetes ke lantai.
Kepala buntung itu, kini berputar lirih ke belakang. Dengan senyum lebar serta deret gigi dan wajah rusak, ia berkata, “hai kembaranku...”
Asih, menjerit histeris. Ia memilih membalik badan, lalu mencoba berlari. Bersembunyi di kamar akan lebih aman, gagasnya.
Nahas, saat kakinya hendak memijak anak tangga pertama, Mitha cekatan memegang kakinya. Asih pun terjatuh. Kepalanya membentur anak tangga hingga berdarah. “Aarkh!”
Baru Asih akan mulai membaca ayat kursi, Mitha mencengkeram kuat kaki Asih, lalu melemparnya hanya dengan satu tangan. “Jangan kau sebut-sebut DIA!”
Bral!
Prang!
Asih, menabrak jendela kaca hingga terlempar keluar. Gadis berkerudung itu, sesenggukan. Punggungnya lecet oleh serpihan beling di bawahnya.
Memejamkan mata, ia tak lagi berani melawan. Takut bila makhkuk-makhluk itu makin garang.
“Asihh...” kepala buntung yang di pegang oleh sesosok kuntilanak bercakar hitam, memanggilnya serak. “Namamu, seperti namaku...”
Asih yang gemetaran, pasrah ketika sosok wanita berambut hitam panjang melayang makin mendekat. Seringai di wajah seram sang jurig, membuatnya gemetaran.
“Menyerahlah, Asih... Bukankah... Kau sudah tak tahan dengan hidupmu yang sebatang kara itu?”
Tangis gadis itu, makin bertambah. Kuku-kuku panjang sang kuntilanak hitam, perlahan menyentuh leher berbalut kerudungnya.
Asih, pasrah ketika cekikan makhluk astral dengan kuat menekan lehernya.
Baru lima detik berlalu, hembusan angin malam semilir menerpa mereka. Sejuk bagi Asih, namun panas bagi sosok kuntilanak dan kepala buntung.
“Geni... Balia marang geni. Angin... Balia marang angin. Lemah... Balia marang lemah. Banyu... Balia marang banyu...” suara dari sesosok pria, lirih terdengar. Muncul silhoute seseorang melangkah dari bayangan pohon.
Si kuntilanak, dan kepala buntung, menatap geram.
وَ
لَا حَوْلَ وَ لَا قُوَّة اِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ
Wuzz!
Sebilah keris kecil berbentuk wayang semar, melayang dengan api berkobar menyelimuti. Keris itu, menerjang menembus kepala buntung yang kuntilanak hitam pegang, hingga akhirnya menancap di dinding dekat jendela kaca yang telah hancur.
Melepaskan cekikannya, sosok kuntilanak hitam, kini menjadi remang-remang, kemudian hilang. Ia meninggalkan kepala buntung yang kini menjerit-jerit terbakar di samping Asih.
Raihan, melangkah perlahan dari bayangan gelap . Semakin ia mendekat, semakin api yang membakar kepala tersebut membesar, lalu menelannya tanpa sisa.
“Alhamdulillah...” ucapnya kini memandang Asih. Raihan, menawarkan tangan kanannya, seraya tersenyum kecil. Mata sayunya, memancarkan prihatin. “Maaf ya, Mba... Saya sedikit terlambat.”
Merasa pernah melihat Raihan, gadis itu masih terdiam dengan wajah shock.
Menerima tangan Raihan lirih, pemuda berjaket hitam dan blangkon itu, lembut membantu Asih berdiri. Sembari sedikit menoleh ke arah pintu yang terbuka, Raihan bertanya, “dimana Riko dan dua teman Mba itu?” Mata Raihan menajam bak elang, sebelum akhirnya memejamkan mata. Aku tak merasakan keberadaan mereka bertiga dari dalam... Dan... Masih ada jurig dengan tekanan energi yang sama seperti si Kunti tadi.
“Mi-Mitha... Kerasukan di dalam, Mas...”
“Subhanalloh...” Raihan menoleh ke wajah Asih. “Jalan di belakang saya, ya?” Raihan menoleh ke kanan dan kiri. Jurig di area ini... Mereka agresif dan sepertinya di utus oleh penguasa tanah ini untuk membawa rombongan Riko... Batinnya mengawasi sekitar. Ajnanya, melihat begitu banyak sosok astral di berbagai sudut pepohonan.
Asih, mengangguk ketakutan. Hingga wajahnya sedikit memerah saat Raihan dengan lembut menepuk ubun-ubun gadis berkerudung tersebut. “Wes, gak opo-opo mba’e. Sing tenang. Baca shalawat, ya? La Tahzan Innalloha ma’ana,” ucapnya tersenyum, sebelum lanjut masuk ke ruang tamu.