Para Pemuda dan Kitab Kematian

1558 Words
(Tiga tahun kemudian, Kantor Polsek Wilayah Jawa Barat) “Allohuma ya Alloh! Berikanlah hamba hidayah! Pahamkanlah hamba pada perkara sukar yang Engkau hamparkan ini Ya Rabbul ‘alamin!” jerit Raihan dalam batin. Pemuda berblangkon itu, terduduk lemas sambil bersandar pada dinding penjara yang dingin malam itu. Langkah kaki seseorang kian mendekat, namun tak mampu mengganggu konsentrasinya yang tengah khidmat bermunajat dalam posisi yang tak mungkin dicurigai tengah berdoa. “Hai, anak muda! Mau sampai kapan kau diam begitu? Jika kau tak mau berbicara, maka kau akan tetap berada di sana!” Acuh, Raihan mengatur napas. Perlahan memejamkan mata, mencoba mendengar dan merasakan sesuatu yang bergejolak dari lubuk hati. ‘Pukul 20.00 WIB? Batinnya melirik jam tangan. Ia, kembali memejamkan mata. Duh Gusti... Hamba perlu...’ Deg! Raihan, membuka mata lebar. Sejenak diam, lalu ia arahkan pandangan pada opsir polisi yang masih sibuk mengomel. “Bapak polisi yang terhormat, saya akan berbicara,” ucapnya lirih. “Nahh... Kenapa tak dari tadi saja, Anak muda!” “Tapi saya mohon, pinjamkan saya Alquran!” tambah Raihan. “A-apa? A-Alquran? Kau gila! Ini kantor polisi! Bukan masjid!” Baru usai ia berbicara, seorang pria Berjidat lebar dengan kumis tipis, berjaket cokelat parasit, mendekat. “Ada apa, Pak?” tanyanya dingin. “Apa dia sudah mau bicara?” Sang atasan menoleh ke wajah Raihan dari luar sel. “Dia mau bicara asal kita pinjamkan Alquran!” ucap si Opsir dengan name-tag Handoko. Menatap sang detektif, Raihan berkata, “bukankah, ada Alquran di ruangan paling belakang gedung ini? Ruangan dekat toilet yang bapak-bapak terhormat gunakan untuk salat? Ada di atas lemari yang buat simpan sajadah dan sarung?” Kedua polisi itu, menatap tajam Raihan. mereka bungkam, bingung bagaimana mungkin lelaki tersebut bisa tahu letak barang yang dimaksud. *** (Hutan Desa Cileuweung, Kabupaten Garut, Jawa Barat.) “Yan!” Riko memanggil remaja di sebelahnya dengan wajah tegang. Pemuda berambut jabrik berhidung pesek, menoleh lirih. Nampak raut kesal bercampur takut. Mereka berdua melangkah di jalanan setapak hutan yang begitu sepi. Pepohonan di sela jarak rumah warga, membuat mereka waspada sesekali. Meski terbilang asri, tetapi rumor mencekam yang terjadi akhir-akhir ini di sana, membuat mereka gentar. “Setau gue... Yang namanya makhluk halus, gak bisa celakai manusia. Kecuali karena beberapa hal?” Iyan berhenti melangkah. “Maksud lu?” Turut berhenti sejenak, Riko kembali berjalan ketika bulu romanya samar berdiri. “Study tour SMA gue dulu... Gue sama rombongan kelas, pergi ke Pontianak.” Terbesit gambaran masa lalu Riko yang kelam. “Terus?” Menaikan alis kanan, Iyan melangkah menyusul. “Gue dan teman-teman gue... Di ganggu sama jurig-jurig wujud kuntilanak.” “Kuntilanak? Apa maksud lu, ini gara-gara gue bawa lu ke sini jadi kuntilanak yang ganggu elu, neror kita!” Iyan, dengan wajah merah padam di bawah sinar rembulan, mencengkeram leher Riko. Set! Riko, mendorong Iyan. “Sabar dulu, goblog!” “Maksud lu apa?” Iyan emosi. Mengatur napas, Riko buka mulut, “Turns out, bapak dari temen sekelas gue, yang jadi tersangka.” “Tersangka?” Iyan melirik dengan raut skeptis. “Maksdunya gimana?” “Dia... Yang sengaja buat study tour ke Pontianak, biar anak angkat dia sendiri, sama semua anak-anak sekelas, jadi tumbal pesugihan kuntilanak.” Iyan menggulirkan mata ke kanan dan kiri. “Jadi maksud lu, kita di teror di sini, buat tumbal pesugihan juga, gitu!” “Atau kemungkinan kedua... Di antara kita... Ada yang buat kesalahan sama bangsa mereka.” “Kesalahan gimana! Jelas-jelas...” Iyan terdiam. Berlian yang ia ambil dari rumah dukun wanita itu, terbesit dalam gambaran. Sial! Apa gara-gara gue ambil barang itu? Riko, berhenti melangkah. Ia membalik badan. “Yan, lu gak ambil sesuatu atau rusak sesuatu yang ada di rumah kosong itu, kan?” Iyan yang terdiam bingung, melirik ke kanan dan kiri. Ia tak mampu menyangkalnya. Tap... Tap... Tap... Langkah kaki seseorang mendekat. “Jika itu hanya karena benda keramat yang di ambil di sana... Abi teh teu setuju.” Gumilar, muncul mendekat. Kedua pemuda serempak menoleh. “Maksud Mang Gumilar, apa?” Riko bertanya. Menoleh ke kanan dan kiri dengan wajah pucat, Gumilar mengajak, “mari lanjut bicara sebentar di rumah saja... Ada yang mesti saya sampaikan pada kalian...” “Ta-tapi... Asih dan Mitha di sana sendiri, Mang...” “Ini... Mengenai dua teman kalian yang hilang di bawa jurig...” *** Tangan Raihan nampak lembab usai wudhu barusan. Tep! Ia, menerima sebuah kitab suci dari sang detektif. Pemuda itu, lanjut memejamkan mata. Lirih, bibirnya membaca syahadat tiga kali berturut-turut, di lanjut membaca istighfar tujuh kali. “Wahai Dzat yang Maha Tinggi lagi Maha Memudahkan, berikanlah hamba jalan keluar dari masalah yang pelik ini!” ucapnya lirih-tegas, masih dengan kedua mata terpejam sembari jari telunjuk yang ia masukan secara acak pada lembaran Alquran yang tertutup. Cet! Pemuda berjaket hitam dengan blangkon itu, kini membuka kitabullah. Telunjuknya, berhenti tepat di surat Al Muthafifin ayat 7. كَلَّاۤ اِنَّ كِتٰبَ الۡفُجَّارِ لَفِىۡ سِجِّيۡنٍؕ “Sekali-kali jangan begitu! Sesungguhnya catatan orang yang durhaka benar-benar tersimpan dalam Sijjn.” Raihan, menganga dengan mata dan mulut yang lebar terbuka. “Pancene kae manungsa!” gerutunya kesal, sembari bangkit, lalu memberikan kitab itu pada sang opsir. “Sekarang, katakan! Siapa kau! Apakah benar tuduhan warga bila kau adalah dukun yang sedang mencari-cari tumbal!” Raihan, masih dengan tenang menempelkan kedua tangan pada jeruji besi. “Pak...” sebut Raihan lirih. Mendengar suara lirih nan mantap dari pemuda itu, kedua anggota itu bergetar merinding. Nyali mereka menciut. “Jika setiap manusia yang kalian tahu-di berikan kuasa untuk berurusan dengan hal gaib, adalah seorang dukun, maka... Ya. Saya dukun. Namun...” Raihan, ia mulai membaca lirih surat Al-Ahad. Cengkeraman tangannya pada jeruji besi, kian menguat. “Namun jika... Seperti yang saya sampaikan dari awal, saya hanyalah Musafir yang kebetulan harus singgah di tempat itu!” Bral! Jeruji besi tersebut, meleleh sebagian, lalu hancur ketika pemuda berblangkon mencabutnya dari tempat. Saat spontan kedua polisi hendak mengambil pistol dari sisi sabuk, Raihan telah lebih dulu melesat cepat, meninggalkan kedua anggota polisi di depan penjara yang terbuka. *** Gerimis, rintiknya perlahan turun membasahi bumi wilayah Pasundan. Hawa dingin beserta nuansa mencekam menyeruak di sekitar Desa Cileuweung. Asih dan Mitha, terbaring di sebuah rumah tingkat berdinding beton. Kamar mereka, di sinari temaram jingga lampu meja. Jendela dan pintu, telah rapat di kunci. “Bangbung hideung...” Suara samar dari seseorang yang ia kenal, membuat Mitha membuka mata. Suara nyanyian itu, beriring dengan bunyian gamelan. Bunyi gamelan yang pernah mereka dengar di dekat rumah kosong. “Bara.... Bara... Teuing diri....” Suara melengking indah itu, tak asing bagi Mitha. “Itu! Suara Mitha!” Terkanya berdiri menyingkirkan selimut. Namun, baru ia akan bangkit, tangan dari sosok di sebelahnya, cepat mencegat. Mitha, menoleh ke belakang, dimana Asih sudah duduk menunduk. “Sih! Lu de-denger juga, kan?” Tak merespon, Mitha kembali bertanya. “Sih? Lu... Denger gak?” Diam, suara gamelan itu pun sirna bersamaan dengan bisu kawannya. “Asih?” Mengangkat wajahnya lirih, kedua mata Asih menghitam. Liur mengalir di sela-sela taring yang entah sejak kapan tumbuh menajam. Mitha, melotot menoleh ke arah tangannya yang terasa perih. Lengan kirinya, tengah di tusuk oleh cakar hitam Asih. Darahnya, lirih mengalir membasahi tangan. Mitha pun menjerit histeris. Ia, berontak melepaskan cakar Asih yang kerasukan, meski membuat daging tangannya terkoyak. “Mithaaaa!” suara serak Asih, menciutkan nyali. Tubuhnya lemas, ia paksakan menyingkir dari dipan-lanjut membuka daun pintu yang terkunci. Blag blag blag! Dengan tangan gemetaran, Mitha mencoba memutar-mutar kunci di lubangnya. Saat menoleh ke belakang, Asih menyeringai memamerkan gigi taring. Gadis itu, bersiap menerkam Mitha. “Haaargh!” Asih melompat, menerkam dan menancapkan giginya di pundak Mitha. Di saat itu pula, Mitha berhasil membuka daun pintu. Gadis itu, sontak melempar-banting Asih dari punggung, turun ke lantai. Tertatih dengan luka sobek dan darah membasahi tubuh, Mitha menuruni tangga. Kembali menoleh ke belakang, Asih tengah melangkah merayap cepat menghampiri. Saat Mitha kembali menatap ke arah tangga, pada anak tangga ketiga dari tapak kakinya, seonggok kepala berambut panjang, telah menyeringai menanti. Mitha, ia pun jatuh terguling sebab hilangnya keseimbangan. Ia, tak sadar bila kepala wanita berambut panjang beserta Asih yang kerasukan, tengah menuruni tangga. Kepala buntung itu menggelinding cepat. Mitha, dalam kepanikan segera menoleh ke sana kemari mencari tempat sembunyi. Wajahnya yang pucat, tertuju pada pintu toilet. “Haaargh!” Asih, kembali melompat, namun meleset. Ia justru mendarat di sofa ruang tamu. Tak menunggu lama, Mitha segera membuka pintu toilet. Ia bergegas masuk, dan bersandar pada pintu toilet. Blag! Blag! Blag! Pintu di belakangnya, di dobrak dari sisi luar. Mitha pun, mulai menangis. “Pergi!” jeritnya. Blag! Blag! Blag! “Aku bilang pergi!” jeritnya lagi. “Haaargh!” Asih, kembali meraung di sisi luar toilet. Keadaan pun, hening untuk beberapa saat. Mitha, lemas. Ia perlahan duduk, menyeret punggungnya tergeser di daun pintu. Ia menutup wajah dengan siku. Kedua kakinya di tekuk. Gadis itu, terus mengalirkan airmata ketakutan. “Anak Manis... Kamu kenapa? Apa kamu takut?" Sesosok wanita tua, duduk di samping kanannya. Mitha, yang menoleh cepat, kini terdiam. Wajahnya pucat. Mulutnya sedikit menganga. "Kamu cari temanmu, kan? Mari sini... Biar Nyai antarkan kamu ke tempat temanmu..." tambah si sosok berkeriput. Mitha, membeku ketakutan. Ia tak mampu sekedar menggerakan jemarinya. "Jangan Takut... Itu ada yang temani kamu nanti,” ujarnya menunjuk ke samping kiri Mitha, di mana sesosok pocong duduk diam. Wajahnya rusak, sebagian telah jadi tengkorak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD