Rika terjerembap ketika ayunan kuat wanita bercakar mendorong keras punggungnya. “Aaah!” Gadis itu menjerit, spontan membalik badan. Sepasang telinganya jelas mendengar nyaring tawa sosok kuntilanak hitam. Kartu pelajar dengan name tag Rika Khoirunissa, terjatuh dari saku celana di saat bersamaan.
“Kau tak akan bisa sembunyi dan kau tak akan bisa lari dari kami! Ihihihihi!” kecamnya melayang di udara mendekati Rika.
“Rika!” Zahra si gadis berambut pendek, berlari lantas menarik tangan Rika sekuat tenaga. Ia menyeret sahabatnya menjauh dari sosok berwajah seram. Merasa tangan kanannya tak cukup kuat untuk membawanya, Zahra memakai dua tangan tuk mengangkat tubuh Rika.
Selang beberapa saat, sosok mengerikan tersebut bergerak-melayang lamban, diikuti empat sosok kuntilanak hitam lain. Mereka tertawa memandang Zahra yang kesusahan mengangkat gadis berkerudung. Sosok kuntilanak hitam yang ada di tengah memutar-mutar kepalanya 180°, membuat Zahra tahu bila sosok itulah yang pernah mencelakai Rita.
“Gadis kecil! Kau juga harus ikut jadi b***k kami!” seru sang kuntilanak hitam di tengah.
Terkekeh lantang, mereka berlima melayang cepat, menyambar Zahra dan Rika. Kedua gadis itu serempak jatuh ke tanah basah. Buku diary Zahra terjatuh dari saku sweater-nya yang lebar. Pada lembaran awal diary tersebut, tampak sebuah cermin kecil.
Melihat cermin, para setan berhenti melayang, memandang benda yang memantulkan sinar purnama.
Zahra turut menatap cermin, tak tahu bagaimana mungkin ada cermin kecil pada buku diary mininya. Terlebih, ia pun tak paham bagaimana mungkin diary itu ada pada sweater kuningnya. Namun, yang paling ia ingat adalah wejangan sang Nenek di saat ia kecil.
'Nok, kalau kamu diikuti setan kuntilanak, suruh si kuntilanaknya ngaca. Begitu-begitu, mereka tak mau lihat wajah mereka yang buruk rupa.'
Menajamkan tatapan, Zahra nekat mengambil kaca, lalu mengarahkan benda tersebut pada para dedemit. “Hai buruk rupa! Pergi kalian! Dasar muka b***k! Jangan ganggu kami!”
Aaaa!
Mereka berlima berteriak, menutupi wajah dengan lengan, enggan menatap Zahra dengan kacanya.
Berhasil! Ini berhasil! batin Zahra girang, hingga tiba-tiba ….
Bleg!
Sesosok siluet memukul punggung Zahra dari belakang keras-keras. Gadis itu tersungkur, merintih kesakitan. Para kuntilanak lanjut tertawa saat seseorang itu menginjak hancur cermin dengan sepatu pantofel.
Rika dan Zahra serempak menoleh pada sosok tersebut. Seseorang dengan tuxedo hitam rapi, badan gemuk berambut putih. Pria paruh baya itu berkacamata.
Rika membendung air mata, melihat pria yang ia panggil ayah, memukul-mukul punggung Zahra yang tersungkur lemah. Perlahan air mata menetes, diiringi oleh tawa gembira setan di sana.
“Ayah! Hentikan! Apa yang Ayah lakukan?” seru Rika, memeluk kaki kiri sang ayah.
Plak!
Sang Ayah ringan mengayun tangan kanannya, membuat hidung Rika berdarah sekaligus terjengkang. Gadis berkerudung itu mengaduh kesakitan.
Dengan napas tersengal serta wajah sebal, ia berhenti memukul Zahra. Pria itu menatap Rika saat mendengar gadis itu menangis. “Diam kau anak pungut!”
Mendengar bentakan sang ayah, ia kembali terkejut.
“Kenapa kau tak langsung mati saja bersama adikmu waktu itu? Sampai-sampai aku harus turun tangan sendiri seperti ini!” Pria itu menatap jengkel Rika. Ia perlahan jongkok, menyetarakan tinggi dengan Rika yang terduduk.
“Sang ratu, beliau meminta jatah pesugihan padaku jika anak kembar angkatku, berusia 17 tahun! Sudah 17 tahun aku turuti semua kemauanmu dan adik manjamu itu! Tapi kenapa kau tak mati saja waktu itu!”
Plak!
Tanpa ragu, Qadir Suryanta menampar Rika hingga terjatuh ke tanah.
Melihat Rika tersungkur, ia mengatur napas. “Tapi sudahlah … aku tak permasalahkan itu,” ucapnya kembali bangkit, “aku sudah memberi banyak jatah pada sang ratu, terutama tumbal perjaka.”
Menutup mulut, Rika teringat pada Riko dan beberapa kawannya. “Ayah! Kenapa Ayah bisa sejahat ini?”
“Aku Qadir Suryanta! Sudah takdirnya aku menerima kekayaan seperti leluhurku! Dan kau!” Ia menunjuk Rika. “Kau hanya tumbal kekayaanku!”
Rika menangis makin keras. Para hantu turut tertawa, bahkan kini gerombolan kuntilanak berkostum putih, turut berdatangan menyaksikan drama tersebut. Satu di antara mereka adalah wanita dengan punggung berlubang.
“Mau ke mana kau?” teriak kuntilanak hitam pada Zahra, saat gadis itu mencoba berlari sekuat tenaga meninggalkan Rika.
***
Gadis berambut pendek berkulit langsat, berlari di tengah belantara hutan. Napas tak beraturannya berpadu dengan kekhawatiran di tengah malam. Hanya purnama penuh yang turut prihatin, menyinari langkah putus asanya. Semak belukar dan licinnya tanah membuatnya kesulitan.
Hahahaha!
Tawa dari lima sosok transparan perempuan berbaju hitam, membuat keringat dinginnya mengucur deras. Para kuntilanak hitam itu melayang tepat di belakang. Jarak si gadis bercelana jeans dengan mereka hanya tujuh hasta.
Sebelum akhirnya gadis itu tersandung sebuah akar. Bruk! Ia tersungkur, segera membalikkan badan dalam posisi duduk. Hanya menatap mata dan wajah rusak para jurig, membuatnya tak mampu berdiri. Raganya lemas.
Tak lama, langkah tapal kuda membuat para kuntilanak urung mendekat. Mereka serempak menoleh ke belakang. Kini, tampak sesosok wanita berwajah tua dengan mahkota. Tubuh bagian bawahnya berupa badan kuda putih. Mirip seperti sosok Centaur dalam mitologi Yunani kuno.
Perlahan mendekat, sosok berwajah keriput dengan mata putih belok itu terkekeh. Kedua tangan bercakarnya membelai rambut putih tuanya. Gaya kemayu bak sang ratu zaman dulu. “Cah ayu …,” panggilnya lirih, “kau terlalu banyak tahu urusanku. Tak semestinya manusia sepertimu ikut campur dengan para abdiku!”
Gadis itu mundur, perlahan masih dengan posisi duduk. Sekujur tubuhnya bergetar hebat, tak terkecuali jantungnya yang berdebar kencang. Air matanya kering, tak lagi keluar. Matanya sudah sembap semenjak lima sosok kuntilanak mengejar. Gadis berambut hitam itu tak sengaja menabrak-lirihkan punggungnya pada pohon cengkih di belakangnya.
Ini … aku tidak ikut campur! Sungguh! Aku tak tahu! Aku hanya … aku hanya berbicara atas apa yang aku lihat! batin sang gadis. Mulutnya hanya setengah terbuka, menahan isak tangis. Berteriak maupun bersuara, tenggorokannya seolah tak mampu.
“Benar,” ucap sang sosok bertubuh kuda, “kau mencampuri urusanku dengan banyak bicara seperti itu. Mungkin matamu akan jadi sesembahan terbaik dari abdiku. Hehehehe!”
Semua kuntilanak yang ada di sana melayang berkerumun. Mereka tak sabar, menyaksikan kematian Zahra oleh sosok bertubuh kuda.
***
Rika tengah dicekik oleh pria bertubuh gemuk. Ia sudah mencoba meronta sekuat tenaga, tetapi napasnya makin habis. Gadis itu menangis pasrah pada cekikan sang ayah. Samar ia mendapati gambaran adik kecil tersayangnya, Rita.
“Nah! Begitu lebih baik! Agar kematianmu lebih cepat!”
Clep!
Riko dengan wajah berdarah-darah dan baju penuh cairan merah, menusukkan serpihan cermin milik Zahra, tepat di tengkuk Qadir Suryanta. Pria itu meraung memegangi leher belakangnya.
Clep!
Riko kembali menarik-tusuk kaca di genggaman eratnya pada pria tersebut. Siswa itu sama sekali tak menggubris rengekan Rika yang memintanya berhenti.
Perlahan jatuh, Qadir kesulitan bernapas. Ia tak bisa bergerak saat Riko menaiki perutnya.
“Ini untuk Tino!” Riko memukul keras wajah Qadir usai membuang serpihan kacanya. “Ini untuk Rony!” Riko melompat mengarahkan siku kanannya pada hidung Qadir. “Dan ini … untuk Rika!” Riko mengangkat kedua tangannya tinggi, lalu mengentakkan pada wajah Qadir yang bonyok.
Riko mulai mengatur napas, merasakan punggungnya ditarik lirih oleh Rika. Namun, saat tahu ada pergerakan di paru-paru, Riko mengambil sebuah pena dari saku celana, lalu menusukkannya pada perut lawannya.
Clep!
***
Sesaat sebelum sang kuntilanak bertubuh kuda mendaratkan cakarnya, gema syahadat membuatnya melompat mundur.
“Asyhadu alaa ilaaha illalloh, wa asyhadu ana Muhammadurosululloh!” Pemuda dengan belangkon cokelat, berbalut jaket hitam dam celana jeans panjang, berdiri tegap menatap sosok wanita bertubuh kuda.
Raut ratusan kuntilanak yang tengah melayang, serempak memandang benci Raihan.
“Wahai setan biadab! Sudah cukup kau menjadi sebab kesedihan saudara-saudara seimanku! Jika kau tetap nekat melukainya, maka kau dan seisi kerajaan demitmu akan kuobrak-abrik!” Raihan melangkah mendekati mereka, perlahan. Tangan kanannya ia taruh di saku jaket, gemetar, begitu pun dengan kedua kakinya.
“Hahahaha! Siapa kau bocah! Dengan tubuh gemetaran seperti itu, mencoba menghalangiku?” tanyanya menunjuk Raihan menggunakan telunjuknya yang bercakar.
Kumpulan kuntilanak seketika meluncur ke arahnya, bersiap mengarahkan cakar tajam mereka.
Raihan, hatinya teringat ketika ia duduk berdua dengan Ki Panca. Kata-kata Ki Panca kembali jelas terngiang. Cong, nalikane koen wes yakin dumaten Gusti Moho Agong, ora mung demit siji, loro, telu tok! Ewonan demit neng pantai selatan wae, iso dilibas anggo tangan siji! Kuncine opo? Haqqul yaqin dumateng Gusti.
Raihan lirih membaca doa, “Ya Allah, Dzatulloh, Sifatulloh, Wujudulloh, Nurrulloh, Sirruloh, Sirrulloh, Sirulloh, Sirruloh, Sirruloh, Sirrulloh, Sirrulloh! Ki Panca!” teriaknya saat menyebut nama sang guru.
Cletas!
Bunyi seperti kelereng remuk berasal dari saku jaketnya. Raihan cepat-cepat mengayunkan tangan kirinya.
Werrr!
Angin yang teramat kencang meniup dedaunan dan para kuntilanak, termasuk lima sosok kuntilanak hitam. Mereka semua terhempas jauh oleh angin, lenyap dari pandangan dalam sekejap.
Zahra hanya menutup mata, masih dengan menyender pada pohon di belakangnya.
Kuntilanak berbadan kuda murka. Taringnya memanjang, bersamaan dengan kuku-kuku hitamnya yang tumbuh seukuran pedang. Sosok itu melesat cepat, rambut putih kusamnya tertiup ke belakang.
Menyipitkan kedua mata, Raihan mengangkat kedua tanganya ke atas. Ia membaca selawat dan lanjut membaca surat Al-Ahad. Saat jaraknya dengan kuntilanak berkisar tujuh meter, ia berteriak lantang, “Kulhu Geni!”
Bleg!
Ia menginjak tanah keras-keras, bermaksud membuat lawannya jatuh. Namun, sosok itu tetap berlari. Lawannya jelas mengarahkan cakar padanya.
Memiringkan badan, Raihan menjambak rambut sang kuntilanak. Alhasil, ia ikut terbawa berlari sebab laju kencang sang kunti.
“Panaaas! Panaaas! Panaaas!”
Raihan sigap melompat menunggangi sosok tersebut, mencekiknya dari belakang seraya berzikir, “Sirrulloh! Sirrulloh! Sirrulloh! Sirrulloh! Sirrulloh!”
Wanita itu menunggingkan badan kudanya, berhasil membuat Raihan terpental menabrak pohon besar. Ia meraba tengkuknya yang terdapat cap luka bakar telapak Raihan.
“Kurang ajar kau manusia! Beraninya kau!”
Raihan lirih mengambil kuda-kuda silat. Ia merogoh saku jaket hitamnya. Sejenak, ia melirikan kedua mata ke kanan dam kiri. Kuda … kuda … kuda …. Kedua matanya terbuka lebar, bibir kanannya terangkat naik sedikit. Ia menemukan cara. “Ya Allah, Dzatulloh, Sifatulloh, Wujudulloh, Nurrulloh, Sirruloh, Sirrulloh, Sirulloh, Sirruloh, Sirruloh, Sirrulloh, Sirrulloh! Ki Giling Wesi Sang Abdi Pajajaran!”
Tanpa ia kehendaki, kedua tangannya meniru cakar harimau. Ia mempertemukan deretan gigi atas dan bawah. Raihan menggeram bak harimau murka. Pemuda berbelangkon itu mengambil posisi rendah, bak harimau siap menerkam mangsa.
“Dasar manusia! Kaukira aku takut pada gretakanmu!” Sang kuda kembali berada di hadapannya.
Bukan menghindar, Raihan justru menerjang lawan. Di udara, ia mengelak dari tusukan cakar wanita setan, lalu menggigit lehernya tanpa ragu. Kedua tangannya mencakar secara vertikal, membuat kulit dan dagingnya jatuh ke tanah.
Belum berhenti, Raihan membuat gigitannya pada leher lawan, sebagai daya tolak melompat ke punggung kuda. Mendarat cepat, Raihan mengayunkan tangan kanannya bak cakar pada tengkuk lawan.
Bral!
Leher dan badan makhluk itu terpisah. Jasad makhluk itu lenyap perlahan bagai abu tertiup angin.
Napasnya ngos-ngosan. Saat menoleh ke belakang dan melihat Zahra yang takjub memandangnya, Raihan beristigfar, “Astagfirullah halazim!”
Beh! Cuih! Cuih! Beh!
Raihan meludah, mengusap mulut yang tadi ia gunakan sebagai senjata. Hadeh Gusti. Ngene temen ajian ingon-ingone Prabu Pamanah Rasa. Astagfirullah halazim, batinnya seraya mengusap bibir dan berjalan.
Namun, baru lima langkah ia jejakkan, Raihan spontan memegangi dahi. Keringat dingin dengan cepat membasahi raganya. Ia berlutut satu kaki. Kedua telinganya berdenging, sehingga teriakan cemas Zahra tak ia dengar.
Melihat Zahra berlari ke arahnya, Raihan mengangkat tangan kanan, memberinya aba-aba untuk tak mendekat. Ya Allah Gusti! Siapa lagi ini?
“Hai bocah bagus! Sopo siro wani ganggu tentrem kerajaanku?” Suara wanita menggema di udara.
Raihan menatap lurus. Ia melihat sesosok wanita berbusana serba hijau dengan mahkota emas. Sosok itu melayang cepat mendekatinya.
“Siro wes dadi sebab matine patih kerajaanku, nyowo siro, kudu dado gantine! (Kau jadi sebab tewasnya patih kerajaanku, nyawamu harus jadi gantinya!)” Sosok itu sudah tepat di depan Raihan. Sosok berwajah cantik itu mengarahkan telapaknya dari jarak sebelas hasta ke leher Raihan.
Hug!
Raihan terasa dicekik. Tubuhnya perlahan melayang, menjauh dari tanah. Ya Allah Gusti! Aku tak bisa … bernapas!
Zahra yang nekat menghampiri mendadak terpental, menabrak pohon cengkih tadi. Ia pingsan.
“Ruh-mu, kudu dadi ganti patihku!”
Jedar!
Petir dari langit menyambar cepat ke bumi. Wanita tersebut melayang segera ke belakang. Ia menyapu pandangan, siapa penyebab halilintar barusan.
“Raihan Abdi Pangestu, iku santriku! Aku seng tanggung jawab karoan opo-opo seng santriku lakoni, fidunya wal akhiroh! (Raihan Abdi Pangestu, dia itu santriku! Aku yang bertanggung jawab pada apa-apa yang terjadi pada yang santriku lakukan!)” tegas Ki Panca. Ia sudah berada di belakang Raihan.
Menatap sosok berbusana dan berbelangkon putih, wanita itu mendarat, tak lagi melayang. Ia mengambil posisi berlutut.
“Bangsamu, gembien mlayu marang seberang kene. Yo podo wae diusir dateng Sultan Al Kadri gara-gara bangsamu seng cekikikan samben wengi gak oleh babat alas. Yen saiki koen iseh ngeyel, tak babat dedemit jenismu seng neng lemah iki! (Bangsamu dahulu melarikan diri ke seberang sini. Pun sama saja diusir oleh Sultan Al-Kadri karena bangsamu yang selalu menebar tawa teror tiap malam dan tak memperbolehkan manusia mendirikan peradaban. Jika kau sekarang masih keukeuh, aku babat semua makhluk sejenismu di tanah ini!)”
Wanita itu seketika menangis. Ia menunduk, tak berani menatap Ki Panca secuil pun. “Ampun Kanjeng, ta-tapi … manusia itu yang sudah membuat perjanjian dengan kerajaan kami.”
“Apesmu urusan karo santriku. Pengikutmu wes matek. Nyowo perawan kae, lan perawan seng neng mburiku, melu dadi tanggunganku! Yen ono cecungukmu seng ganggu cah-cah iki, urusan karo aku! Paham! (Sialmu sendiri berurusan dengan muridku. Pengabdimu sudah tewas. Nyawa gadis itu, dan gadis di belakangku, jadi tanggung jawabku! Jika anak-anakmu mengganggu mereka, maka kalian berurusan denganku! Paham!)”
Sang wanita lanjut menangis, mengangguk lirih. “Pa-paham, Kanjeng Raden!”
Raihan yang kesadarannya setengah hilang tak mampu mendengar jelas percakapan sang Mursyid dengan sosok yang ia yakini sebagai ratu kuntilanak. Ia memilih merebahkan tubuh di tanah becek berumput. Mengerti ada Ki Panca sebagai wasillah Sang Maha Kuasa, membuatnya tenteram seketika.
***
Jakarta, siang hari ketika mentari terik bersinar. Tepatnya, di sebuah kafe outdoor. Raihan, Zahra dan Rika duduk melingkar di meja bundar. Hanya Raihan yang menghadap kopi hitam pahit, sedangkan kedua siswi SMA itu menghadap jus jeruk.
“Ja-jadi … Mas Raihan yang menaruh kaca di buku diary-ku?” tanya Zahra menatap Raihan.
Deg!
Jantung Raihan berdenyut bak terentak sekejap. Namun, ia diam.
Mengisap rokok, pemuda berbelangkon itu mengangguk. “Hanya sikap pencegahan, agar kuntilanak itu tak lagi mengganggumu. Siapa sangka itu benar-benar berguna.”
“Ta-tapi kapan?”
“Rika memintaku mengembalikan diary-mu. Saat aku hendak menjenguk nenek di rumahmu, aku menyelipkan kaca itu di bukumu. Dan nenekmu, sepertinya lupa bilang kalau dia telah menaruh diary-mu di saku sweater kesayanganmu.”
Zahra mendengung paham.
“Bang, boleh aku bertanya?” Rika lirih meminta.
Raihan berdeham mengiyakan.
“Apakah benar Rita gentayangan? Karena … aku melihatnya di samping kelas waktu itu.”
Zahra menyahut, “Tidak, bukan. Aku yakin kuntilanak hitam itu yang menyerupai almarhumah Rita saat itu.”
Raihan tersenyum, mengangguk kecil, mengiyakan. “In syaa Allah, adikmu sudah tenang di sana. Jika kamu masih tak percaya, sering-seringlah kirim surrotul fatihah dan mohon pada Allah agar bertemu adikmu di mimpi.”
Rika perlahan menarik napas lega. Matanya berkaca-kaca.
“Rika, lalu … bagaimana dengan … ibumu?”
Menitikan air mata, Rika menunduk. “Ayah mengurung Ibu di dalam kamar gudang belakang. Sejak dulu, Ibu tak pernah setuju dengan pesugihan yang Ayah jalankan.”
Mengisap habis rokoknya, Raihan merasa lega. Tugasnya, ia rasa selesai di sana.
“Mas Raihan, terima kasih banyak telah menolong kami!” ucap Zahra tersenyum.
Deg!
Raihan kini paham dengan alasan jantungnya terhenyak. “Zahra, panggil Bang, nama langsung, atau kakek pun, tak apa. Jangan panggil Mas.”
Rika lirih mengusap matanya, mendengung sebentar. “Kenapa, Mas?”
Deg!
Menyaksikan gadis tinggi berbibir tipis menyebutnya “Mas”, Raihan teringat seseorang. “I-itu … kalimat sakral, hehe.”
“Ciee ciee!” Zahra tersenyum semringah. Gadis tanpa hijab itu tampak manis tersenyum pada Raihan.
Alhamdulillah ya Allah … Engkau jadikan hamba lantaran kebahagiaan mereka.
“Oh, iya Mas, eh, Kang. Itu, mmm … anu ….” Zahra ragu bertanya.
“Apa? Katakan saja.”
“Itu, emmm, Kang Raihan … bagaimana bisa melibas ratusan kuntilanak dalam satu … kibasan?”
“I-itu ….” Raihan lirih merogoh saku jaket hitamnya. Ia merasakan 13 butir tasbih di jemari.
***
(Sesaat sebelum Raihan sampai di hutan Pontianak, suatu tempat di Kabupaten Pekalongan.)
Raihan membaca selawatnya yang terakhir. Di saat itu pula, sebelum kedua matanya terbuka, telinganya berdenging keras. Titik mata ketiga di antara alisnya serasa ditekan keras.
“Assalamualaikum warohmatullah, wahai hamba Allah!”
Sesosok lelaki dengan busana serba hitam, duduk bersila tepat di depannya. Wajahnya terhalang oleh caping bambu yang dikenakan.
“Waalaikumussalam warohmatullah wabarokatuh!” jawabnya sembari membiarkan tubuhnya bergetar.
Sosok itu menyodorkan sebuah tasbih dengan biji-biji sebesar biji salak ukuran kecil. Tasbih itu terdiri dari lima belas buah butir. “Bacalah syahadat, sambung dengan doa yang pernah gurumu sampaikan, lalu pada wirid terakhir, ulangi tujuh kali. Setelah itu, sebut nama leluhur atau orang yang kau kenal punya kesaktian. In syaa Allah saat kau hancurkan satu butir tasbih ini, Allah berkenan menganugerahimu kesaktian sosok yang namanya kau sebut.”
Menerima tasbih dengan kedua mata terbelalak, kedua tangannya yang hendak menerima, gemetar. “Asyhadu ala ilaaha illalloh, wa asyhadu ana Muhammad Rosululloh. Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah, Barokallah ….”
“Berbijaklah dalam memakainya, hai hamba Allah! Tugasmu masih panjang.”
Mengangguk lirih, Raihan sejenak dapat menatap kedua sorot mata teguh-tegas nan sejuk milik sosok tersebut.
Dan ketika aku keluar makam, aku sudah di hutan Pontianak.
***
Raihan diam. Ia hanya menjawab dengan senyuman. Biarlah, rahasia tetap jadi rahasia.
“Assalamualaikum!”
Sesosok pria berbelangkon dengan kaus dan rompi ala jaqa kuno dan celana hitam, menghampiri meja Raihan. Pria yang menghampirinya berkumis dan beralis lebat. Namun, kulit cerah dan matanya membuatnya tampak tampan.
Mereka bertiga serempak menjawab salam.
“Raihan Abdi Pangestu? Perkenalkan, saya Ronggo Jati, dari Pusaka Nusantara.”