Menuju Sarang

1943 Words
"Jika takdir datang untuk membantumu, cinta akan datang menemuimu. Hidup tanpa cinta bukanlah hidup." (Maulana Jalaludin Rumi.) ### Pak Andi, pria sawo matang berambut cepak dengan seragam TNI, meneguk habis air mineral setengah botol di meja kantor. Masih ada sedikit raut curiga pada Raihan yang bertelanjang daada-hanya berbalut perban. Malam itu, ada tiga orang yang berada di koramil. Satu rekanan Pak Andi yang mana berbadan kekar berpostur jangkung, tampak sibuk dengan buku bacaan berjudul Al-Hikam. Pak Andi buka mulut, “Wowon Wisesa, dia adalah dukun yang sudah belasan tahun meresahkan warga. Backing dukun itu adalah tokoh-tokoh besar masyarakat. Saya tidak akan menyeretmu dalam kasus pembunuhannya, karena jujur saja, saya sudah banyak melihat korban ilmu hitamnya.” Raihan bernapas lega. ‘Alhamdulillah.’ “Tapi … dengan dua syarat.” Mengernyitkan dahi, Raihan bertanya, “Apa itu, Pak?” “Pertama, kau harus menceritakan, bagaimana kau bisa memperoleh ilmu untuk mengalahkan dukun itu? Dan kedua, siapa dan di mana orang yang mengajarimu? Aku yakin, kau bukan dukun ataupun bocah yang sembarangan mempelajari ilmu dari YouTrube ataupun web-web internet.” Raihan menghela napas, tangannya merogoh ponseldari saku celana hitam. “Mohon maaf sebelumnya, saya sangat tidak keberatan jika Pak Andi ingin mengetahuinya, tapi … ini berkaitan dengan seseorang yang paling berharga dalam hidup saya. Jadi, bolehkah saya minta izin pada beliau lebih dulu?” Pak Andi mengangguk. “Silakan!” Raihan mengetik lalu mengirimkan pesan pada Ki Panca. Sayang, pesan yang sebelumnya ia kirim, belum terkirim. Nomor Ki Panca tidak aktif. ‘Mungkin beliau sedang tirakat. Hadeh ….’ Lima menit diam dan tak mendapat jawaban, Pak Andi kembali bertanya, “Bagaimana? Mau saya laporkan kasus pembunuhan ini pada kapolsek?” “Mohon maaf Pak, tapi beliau belum membalas. Nomor beliau tidak aktif. Saya tetap akan menunggu beliau sebelum menceritakannya,” jawabnya tegas. Sosok TNI yang semenjak tadi sibuk membaca buku, kini beranjak. Wajah ala medannya tersenyum menatap Raihan. Name tag sosok tersebut tertulis Arsyad B. Pak Andi menarik napas, masih sibuk berpikir menerka-nerka. “Baiklah, kalau begitu, kau masih akan saya tahan di sini sampai kau buka mulut. Silakan kembali ke ruanganmu!” Raihan undur diri dengan raut kesal. Ia menuju kamar yang disepakati sebagai tempatnya beristirahat. “Aduuuh, Cesss, kau ini … mau repot-repot tampung bocah Jawa itu. Buat apa?” nadanya sinis. “Ndak begitu, Bang. Saya cuma menjalankan amanah saja.” Sedikit terkekeh, Pak Arsyad mendekati Pak Andi. “Amanah dari siapa?” “Ki Rikma Seto, tiga hari lalu berpesan, kalau saya bertemu dengan pemuda berbelangkon yang membunuh penjahat, saya harus temui gurunya. Ada yang harus saya berikan pada gurunya.” “Lha? Kalau begitu, kenapa tak kau tanyakan saja langsung pada Ki Rikma Seto di mana dan siapa guru si bocah itu? Mustahil beliau tak tahu, ‘kan? Wong menerawang kita sekarang lagi apa, juga dia bisa? Ya, ‘kan?” Menghela napas berat, Pak Andi menggaruk-garuk rambut cepaknya. “Hadeh, si Abang ini. Perintah guru itu wajib dilaksanakan tanpa dipertanyakan, Bang. Si Abang bacanya kitab terjemahan Al-Hikam, tapi adab pada guru kok dipertanyakan begitu.” Pak Arsyad, tersenyum kecut. Menggeleng sejenak. *** Rombongan anak-anak sekelas Rika, semua sibuk mengecek perlengkapan di pelabuhan. Pagi itu, mereka tampak riang, meski beberapa siswi mempertanyakan mengapa acara study tour mereka dipercepat. Zahra dan Rika, keduanya tampak berjalan bersama. Sebagian siswa masih saja memandang hebat kapal yang akan mereka gunakan. Selain luas, kapal itu juga tampak mewah. Dengan warna putih mencolok dan pintu dekorasi indah. “Kenapa ayahmu tak ikut?” Zahra bertanya sambil menatap Rika. “Ayah tidak pulang semalam. Mungkin sudah menunggu di seberang.” Aku … merasakan firasat buruk. Apakah ada sesuatu yang terjadi pada ayahnya? Entahlah. Guru pembimbing mereka memberi aba-aba untuk menaiki kapal. Usainya, mereka di minta segera beristirahat di kamar masing-masing kelompok. Cindy dan Dinar, dari jauh memandangi akrabnya Zahra dan Rika dengan muka masam. *** “Cong, jangan khawatir untuk mengungkap kebenaran. Ceritakan bila itu memang diperlukan. Sampaikan padanya, aku sendiri yang akan menemuinya di sana, segeralah kamu ke sini. Eleng, aku nunggu koen lhoh.” Raihan membuka mata, menatap langit-langit kamar. Hanya bunyi kipas angin yang menyamarkan detik jarum jam dinding hijau. Arloji hitamnya menunjukkan pukul 03.15 WIB. “Astagfirullah halazim!” Pria berambut tebal itu mengambil belangkon yang ada di almari cokelat samping kanan dipan. ‘Sepertinya beliau memang sedang riadloh di sana, jadi ponselnya tak aktif.’ Ia bangun, keluar dari kamar. Raihan masih jelas mengingat gema suara Ki Panca dalam mimpi tadi. Pak Andi sedang terduduk di meja, tangan kanannya memutar tasbih. Ia berhenti berzikir melihat Raihan bangun. Wajahnya tampak serius, masih menantikan jawaban Raihan. Rambut cepaknya lembap usai berwudu tadi. “Boleh saya duduk, Pak?” Raihan meminta izin, memegang sandaran kursi. Pak Andi mengangguk lirih. “Silakan!” “Beliau guru saya, namanya adalah Ki Panca. Beliau merupakan sosok yang membimbing saya,” ucapnya setelah duduk menghadap sang TNI. Deg! Jantung Pak Andi bergetar mendengar namanya. “Di mana beliau sekarang?” “Untuk keberadaan beliau, sementara masih singgah di Yogyakarta. Tapi beliau berpesan pada saya, bila usai saya kembali menyelesaikan tugas, beliau sudah tidak di Jogja lagi.” Pak Andi melirik ke kanan dan kiri, kemudian kembali menatap pemuda berbelangkon di depannya. “Lalu di mana saya bisa menjumpai beliau?” “Jika berkenan, biar saya simpan nomor Pak Andi. Saya akan kabari Bapak ketika saya sudah bertemu beliau.” Pak Andi menyeruput kopi hitam di meja, ia membuang berat napas. “Lalu … bagaimana kau bisa mengalahkan Wowon Wisesa?” “Qadarullah, Pak. Saya hanya bertarung sebisa saya.” Raihan merogoh saku jaket hitam. Ia mengambil sebungkus rokok. “Latihan apa yang kau lakukan?” “Hanya riadloh seperti umumnya santri-santri di pesantren Jawa umumnya.” Menyipitkan kedua mata, Pak Andi bertanya, “Jelaskan detilnya! Jangan kira saya tak bisa merasakan energi sukma yang besar darimu!” Tiga detik, Raihan menahan napas, kemudian lanjut membakar rokoknya. “Qulhu geni, ijazah jurus itu saya dapatkan usai membaca surat Al-Ahad tiga ribu kali dalam satu malam, selama tujuh hari berturut-turut di sebuah musala desa, sekitar Yogyakarta. Gerakan silat, aku pelajari tiga tahun silam, di sebuah hutan Jawa Timur, selama lima bulan tanpa boleh memakan daging. Juga wajib menjaga wudu.” Pak Andi, kedua matanya tercengang. Ia tak menyangka pemuda yang ia terka berusia 23 tahun itu, telah menjalani tirakat yang ia rasa tak mampu ia sanggupi. Menarik napas dalam, ia melanjutkan, “Apakah … kau bisa melihat semua makhluk giab sejak lahir?” Raihan menggeleng lirih tiga kali. “Ki Panca meminta saya membaca istigfar dan selawat dua ribu kali setiap malam di tengah sungai, selama empat puluh satu hari, tanpa boleh terputus. Dan di pertengahan ritual itu, saya mulai bisa merasakan kehadiran, bahkan melihat mereka jika saya fokus pada Ajna sembari membaca selawat.” ‘Pemuda ini … kuncinya adalah kedisiplinan dan istikamah. Hmm, percuma jika aku mempraktikkan apa yang ia lakukan jika tak ada guru pembimbing seperti gurunya.’ Pak Andi masih saja takjub pada Raihan. Ia memang pernah mendengar latihan batin seperti itu, tetapi Raihan baginya terlalu muda untuk menyelesaikan itu semua. “Allah ….” Raihan mengisap rokoknya. “Allah, Dia yang alhamdulillah meridhoi saya untuk memiliki anugerah ini. Sejatinya, saya bukan siapa-siapa, Pak. Toh, dalam setiap saya hendak menggunakan hal itu, saya selalu nyambat guru-guru saya.” Tiga menit Raihan terdiam, hingga Pak Andi kembali buka mulut, “Jadi tugas apa yang beliau mandatkan padamu?” Raihan tersenyum kecut. “Mohon maaf, Pak. Sesuai perjanjian kita, saya hanya perlu menjawab dua pertanyaan Bapak agar saya bisa pergi.” Pak Andi kini terkekeh. “Baiklah, baiklah. Saya kira kamu akan tertarik membantu saya dalam memecahkan kasus yang MenHan hadapi.” “Apa itu, Pak?” tanyanya mengerutkan kening. “Qodir Suryanta, pemilik perusahaan sekaligus lahan luas kelapa sawit, terlibat persekongkolan bidang ekonomi dengan organisasi L.H.A.” “Apa itu L.H.A?” “Legacy Hunter Association, asosiasi Eropa yang berkecimpung dalam bidang keamanan swasta dunia, yang juga menyelidiki tentang hal klenik. Ada pertentangan di antara Qadir dan asosiasi, sehingga timbul penculikan tadi. Karena menurut pantauan saya, ia mengalami kebangkrutan mendadak.” ‘Raihan mengernyitkan dahi. Ayah Rika, terlibat dengan komplotan si bule wanita itu?’ *** Riko bersama kawan-kawan telah selesai membangun tenda. Di sana ada sepuluh tenda kuning mini. Beberapa guru sedang duduk berbincang. Para siswi sibuk berswafoto. Riko, siswa sawo matang berambut cepak itu mengajak dua orang temannya mencari kayu bakar. Tak seperti teman-temannya, mata Riko menatap tiga orang pria bule dengan kostum tuxedo hitam. Mereka berbicara pada wali kelasnya. Ia segera mengalihkan pandangan ketika satu dari tiga orang bule menatapnya balik. Riko menyusul dua kawannya yang sudah berjalan. “Guys, kalian tahu siapa para turis nyasar itu?” Pria keriting menyahut, “Aku tak tahu pasti. Tapi aku dengar dari obrolan para siswi, mereka kawan ayah Rika. Mereka sedang menanyakan agenda kita hari ini.” “Kalian merasa aneh tidak?” Siswa dengan kulit putih, dengan name tag Rony Dyanto, bertanya. “Aneh kenapa?” sahut Tino, si siswa keriting. “Kita jauh-jauh dari pulau Jawa hanya untuk kemah? Gila? Yang lebih aneh lagi, kenapa cewek-cewek pada girang hanya dengan iming-iming wisata Pontianak. Bukankah Bali lebih menggoda?” “Heleh! Bilang aja ngarep liatin bule-bule pantai!” timpal Tino. Dalam langkahnya, Riko berpikir, Rony benar. Kalau pun ini dibiayai gratis oleh ayah Rika, kenapa mesti di sini? Apa karena … ini adalah kawasan hutan miliknya yang dekat dengan tempat wisata? Apa mungkin hanya karena itu? “Eh, kalian pernah dengar sejarah Pontianak?” Tino mengganti tema. Rony tertawa. “Hahaha … sejarah tentang hantu kuntilanak yang beterbangan dan kabur diusir oleh meriam sultan pertama di sini?” Riko nimbrung, ”Sejujurnya aku bingung. Meriam itu ‘kan benda wujud, emang bisa ya, melukai makhluk halus?” “Keris juga benda nyata, ditempa dari besi. Kok bisa dipakai buat nyantet? Hayo?” timpal Rony. “Iya juga, yak!” Tino terkekeh lirih. Ia mulai memunguti ranting-ranting yang sudah bertebaran di sana. Riko dan Rony diam. Mereka turut mengambil hal yang mereka perlukan. Selama lima menit, Riko dan Rony bersebelahan memungut kayu. Merasa terganggu oleh kekehan, Rony berujar, “Woi, Tin, udahan ngakaknya! Kaya kuntilanak aja lo ngakak mulu!” Tak berhenti, kekehannya makin nyaring. Riko turut berbicara, “Oi, udahan lucunya. Ini bukan sitkom.” “Yeee, sayur! Siapa yang ngakak item!” sahut Tino. Riko spontan diam bersama Rony, tak bergerak. Tino pun terdiam, mendengar saksama suara tawa yang kini menggelegar. Hahahahaha! Mereka bertiga serempak menoleh ke atas pohon Akasia yang paling besar. Jelas tampak sesosok perempuan dengan rambut berantakan dan wajah bak tengkorak berlumur darah, duduk di atas pohon. Sosok tersebut, masih dengan duduk di ranting, perlahan membalik hampir jatuh, memamerkan punggungnya yang berlubang penuh belatung. *** Raihan melangkahkan kaki keluar dari koramil. Pak Andi yang memperhatikannya pergi, mengangkat telepon ketika ponselnya berdering. “Halo, Ndan ….” Raihan melambatkan kaki. Hatinya tertarik menguping pembicaraan. “Pontianak? Jadi L.H.A kembali terpantau di sana pagi ini?” Mimik Pak Andi seketika tegang. ‘Pontianak?’ Raihan, turut mengambil handphone saat benda tersebut bergetar di saku jaket. Sebuah pesan dari Rika. -Assalamualaikum, Bang! Aku baru sampai di Pontianak. Maaf telat membalas pesanmu. Ayah, beliau tidak pulang, mungkin nanti beliau menjengukku di sini. Kemarin dia langsung berangkat sepertinya. Kedua mata pria berbelangkon terpaku menatap pesan di layar ponsel. ‘LHA, Rika, Ayahnya? Kenapa batinku yakin bila dia dalam bahaya!’ Raihan membalikkan badan, kembali mendekati Pak Andi yang memandangnya. “Apakah Bapak akan pergi ke Pontianak?” “Jadi … kau mau ikut?” ‘Tunggu! Tapi … Ki Panca, beliau sudah menungguku! Jika aku tak berangkat ke Pekalongan hari ini, aku tak akan tepat waktu! Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?’
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD