"Agar pikiran dan hatimu tenang, yakinlah bahwa tidak ada kebaikan dari sesuatu yang Allah ambil darimu." (Syaikh Mulawalli Asy-syarawi.)
###
‘Zahra, aku mohon maaf padamu atas semua perlakuanku padamu semasa hidup. Aku sungguh tak tahu, bila kau adalah gadis istimewa yang mendapat karunia. Aku mohon maaf, dan aku mohon padamu, jaga Uni. Kumohon ….’
Zahra membuka mata. Ia tertidur saat menjaga Rika yang pingsan di UKS. Di sana hanya ada mereka berdua. Meski begitu, ia ingat samar suara dari adik kembar Rika, Rita. Suara sendu yang menggema merasuk kalbu. Ia memberanikan diri menoleh ke sekitar. Namun, tak ada siapa pun. Bahkan, makhluk gaib pun tak ada di sana. ‘Jika barusan adalah suara Rita, berarti sosok perempuan yang tadi … itu bukan dia. Itu pasti si hitam!’
“A-Ayah … Ayah ….” Rika mengigau.
Zahra perlahan menggoyang-goyangkan tubuh Rika, seraya berkata, “Rika … bangun, Rik! Bangun!”
Membuka mata yang perlahan berlinang air mata, ia menatap gadis berambut pendek. Rika yang siuman lantas erat memeluk Zahra. Siswi berkerudung berhidung mancung, mulai menangis. “Zahra … maaf! Maaf bila aku membebanimu! Tapi pada siapa lagi aku harus bercerita tentang hal-hal mencekam ini. Hanya kau yang ku percaya dan kau yang lebih tahu soal ini. Maaf, Zahra!”
Mengelus lirih punggung Rika, Zahra turut membiarkan air matanya menetes. “Saat aku berusia lima tahun … aku melihat tiga sosok tuyul berlarian di tengah pasar.”
***
(Masa kecil Zahra.)
Seorang pria berkumis dan beralis tebal bergaris lurus, menggendong Zahra. Mereka berjalan, melihat-lihat sepeda di tengah pasar padat warga.
“Tuan putri Ayah, mau pilih yang mana?” tawar sang ayah, sembari mengangkat Rika ke gendongannya.
“Itu, Ayah … yang ada gambal kuda, kuda oyen,” ucapnya menunjuk sepeda roda tiga paling depan. Zahra memilih sepeda itu karena ada dua sosok tuyul yang duduk tertawa-tawa di atasnya.
“Sebentar, ya?”
Ayahnya menurunkan Zahra kecil yang berdandan bak peri kecil. Ia merogoh mengambil dompet dari saku belakang celana. Hingga matanya terbuka lebar, uang lembaran yang seharusnya ada di sana, hanya tersisa satu lembar saja.
Zahra si gadis mungil, kini memperhatikan dua tuyul yang menunjuk ke belakangnya. Ada lima sosok tuyul yang terbahak berlari membawa uang sang ayah. “A-Ayah! Ayah! Ayah!”
‘Kenapa uangnya bisa hilang? Mustahil kalau copet hanya ambil beberapa lembar dan menyisakan begini! Aku sudah taruh di sini tadi!’ batin sang ayah.
“Ayah! Itu Ayah uit-nya!”
“Duit?” Pria berkumis menoleh ke bawah, menatap penasaran respon sang Putri. “Di mana, Nak?”
Zahra menunjuk ke sebelah kiri si Ayah sambil berkata, “Itu Ayah, uit-nya dibawa Kakak gundul!”
Mendengar penjelasan Zahra, pria beralis lebat sejenak diam. Dalam hati membaca asmaul husna. Tanpa berlama, ia kembali menggendong Zahra. Matanya jelas melihat lima sosok tuyul berlari menjauh. Mengingat wejangan sang almarhum kakek dahulu, bila mengejar tuyul haruslah dengan arah sebaliknya, ia mulai berlari ke arah kanan. Tuyul yang tadi sempat hilang dari pandangan, kini kembali tampak.
Ayah Zahra sigap melesat, menjewer telinga tuyul di hadapannya. Empat tuyul lain berlari. Namun, tuyul yang ada pada jeweran kirinya tak mampu berlari. Sosok gaib tersebut menangis.
“Sekarang, tunjukan di mana majikanmu, jin cilik!”
Mendengar teriakannya, beberapa orang menengok. Zahra yang ada pada gendongan lengan kanannya, justru memohon pada Ayahnya untuk melepas si tuyul botak. Gadis kecil itu iba.
***
(Masa kini)
Menarik napas lewat hidung yang beringus, Zahra melanjutkan, “Dan kau tahu? Ayahku mendatangi majikan si tuyul. Ayahku berteriak dan membuat orang-orang di sana memperhatikan. Majikan si tuyul adalah tokoh masyarakat yang memiliki toko sembako besar. Meski begitu, ia terbukti menyimpan tuyul dan jenglot.”
“La-lalu?” Melepas pelukan perlahan, Rika penasaran masih dengan wajah rembes.
“Semenjak kejadian itu, setelah Ayah berhasil membuktikan pada warga kalau orang itu adalah pemelihara tuyul, Ayah sakit-sakitan. Bahkan aku pernah melihatnya memuntahkan laba-laba. Beberapa orang yang coba menyembuhkan Ayah, tak sanggup membantu. Mereka hanya berkata bila ilmu dukun yang menyantet Ayah cukup tinggi.”
Zahra menarik napas dalam, melanjutkan, “beberapa bulan kemudian, sesaat sebelum Ayah meninggal, datang seorang habib. Beliau hanya berkata di depanku dan Nenek, biarkan Allah yang membalas manusia itu, lewat santri dari keturunanku. Dan semoga, semua harapan baikmu terkabul, Nak. Insyaaallah.”
Rika memeluk erat Zahra kembali. “Andai saja aku tahu siapa dukun jahat itu, akan kulaporkan pada Ayah agar ia ditangkap!”
“Tak apa, aku sudah ikhlas dengan kepergian Ayah.” Zahra memejamkan mata. “Ketika Nenek menanyakan siapa nama dukun yang tega menyakiti Ayah, beliau sebut namanya.”
“Si-siapa?”
***
(Di gedung tua terbengkalai pingiran Kota Jakarta.)
Sang dukun mengangkat tinggi tangan kanannya, membuat Raihan terpelanting ke langit-langit. Saat Raihan bermaksud bangkit, sang dukun kembali melontarkan tangannya ke arah kiri, membuat Raihan terlempar menabrak dinding.
“Aing Wowon Wisesa! Jawara tanah Sunda! (Namaku Wowon Wisesa! Jawara tanah Sunda!)” teriaknya lantang, memandang remeh Raihan.
“Cuih!” Raihan meludah. “Wowon segawon!” bentak Raihan. “Jawara banci yang hanya berani bertarung dari jarak jauh!”
“Wanian b***k leutik! (Berani sekali kau bocah cilik!)” Ia mengarahkan jemari tangannya ke arah Raihan, membuat si pemuda berbelangkon melayang, tertarik cepat.
Tep!
Tangan kanan sang dukun kini menerima leher Raihan, mencekiknya. “Mati sia! (Mati kau!)”
Memegang tangan sang dukun dengan kedua tangan, pemuda berbelangkon memijak wajah musuhnya dengan kedua kaki. “Pangan kie mati! (Makan ini mati!)”
Blaak!
Usai membuat musuhnya jatuh, pemuda berbelangkon segera menginjak tangan kanan sang dukun, lalu menendang jemarinya keras menggunakan kaki kiri.
Dak!
Dua cincin akiknya terlepas dari jari-jari. Bergerak dengan wajah murka, si dukun mencengkeram balik Raihan, lalu membantingnya hanya dengan satu tangan.
Blag!
“Allah!” Raihan memegangi bahu yang terluka oleh kuntilanak kuda di mimpi.
“Balik maneh b***k leutik! Teu perlu ilu campur kaperluan arurang! b***k saumuran jagong siga maneh, teu sopan ngalawan jawara siga aing. Jasad maneh bakal dijieun tumbal pikeun kasaktian aing! (Pergi kau bocah cilik! Tak perlu ikut campur urusanku! Bocah seumur jagung tak patut melawan jawara sepertiku! Kalau kau bersikeras jasadmu akan kubuat jadi tumbal kesaktianku!)”
Raihan melirik ke arah cincin lawan yang sudah terlepas. ‘Dia tak bisa menyerangku dari jauh lagi. Dadaku, tapi masih terasa sesak. Tekanan energi sukma ini, pasti berasal dari salah satu cincinnya. Akan sulit bagiku melepasnya. Ya Allah ….’ Raihan lirih terkekeh.
“Bocah leutik blegug! Memangna, maot teh lucu ceuk maneh? (Bocah cilik bodoh! Apa yang kau tertawakan?)” Sang dukun berkeriput melompat, menerjang sasaran.
‘Punten Ki, tapi mau tak mau aku harus memakai ajian ini untuk melawan manusia seperti dia!’ Raihan segera menarik napas lewat hidung, lalu mengeluarkannya perlahan. Sekujur tubuh pemuda berjaket hitam, merinding seketika seiring dengan tenaga alam yang mengalir deras.
Bral!
Kaki sang dukun meleset, memijak lantai hingga hancur. Raihan berhasil berguling terlebih dulu, lalu sigap bangkit dengan kuda-kuda. Menarik napas, perlahan ia bersuara, “Allah….” Ketika ia menariknya lewat hidung. “Hu ….” Ketika ia membuang halus napas.
‘b***k leutik ieu! Kakuatan sukmana ningkat m**i gancang! Ajian naon ieu! (Bocah cilik ini! Kekuatan sukmanya meningkat drastis dalam waktu singkat! Ajian apa ini!’) batinnya.
Raihan keras membaca surat Al-Ahad. Ia membacanya tiga kali, diawali dengan basmalah. Tangan kanannya ia angkat ke atas, lambat laun kian memanas. Kedua netra pemuda beralis lebat terpejam, tetapi ia jelas mendapati gambaran lawan di depan. Bahkan, ia mampu melihat parewangan berupa entitas gaib milik si dukun, dari harimau, kuntilanak merah dan pocong, yang menonton di sudut ruangan.
“Rasakeun ieu b***k leutik! (Rasakan ini bocah cilik!)” Sang dukun kembali menghampiri, dua tapak tangan meniru cakar harimau.
Raihan membaca taawuz, lalu menyeru, “Qulhu Geni!” ia meluncur menangkap tangan kiri lawan. Gerakannya tiga kali lipat jadi lebih gesit. Remasan tangan kanan Raihan pada lengan sang dukun serasa membakar bak bara api. “Haah!” serunya melempar lawan ke ujung ruangan.
Blag!
Melihat lawan nyingir kesakitan setelah mendarat keras di dinding yang sedikit retak, Raihan mengayuh kedua kaki cepat, mengarahkan tinju kanan.
“b***k leutik! (Bocah cilik!)” gumamnya kesal seraya berguling mengelak dari serangan lawan.
Bral!
Dinding yang dihantam Raihan, hancur berlubang. Tangan pemuda berjaket hitam pun berlumurkan darah. Perih yang ia rasa tak sebanding dengan amarah di daada.
‘Kumaha carana, b***k leutik kos maneh sasakti ieu! (Bagaimana mungkin bocah cilik ini jadi sesakti ini!’ batin sang dukun. Ia kini berlutut satu kaki, merapal sebuah mantra, menempelkan telapak tangan kirinya ke lantai. “Hai Maung aing! Wujud! Wujud! Wujud!”
Groam!
Sesosok harimau jingga dengan raut garang dan posisi siap menerkam, muncul di sudut ruangan.
‘Subhanalloh! Jin itu mawujud!’ batin Raihan menatap kaget sosok tersebut, hingga lirih suara Ki Panca terngiang dalam hatinya, ‘Wong jowo iku, ojo gethon ojo gumun.’
Harimau jingga berlari cepat ke arah Raihan, melompat mengarahkan cakar dan taringnya. “Groaaam!”
Sigap, Raihan menggeser posisi, lalu mengayunkan tapak kanannya pada perut harimau kuat-kuat.
Blaammm!
Sang harimau terpental jauh, meraum kesakitan.
Wowon yang takjub sejenak, meraih keris dari balik ikat pinggang. Ia lanjut menerkam dari belakang Raihan. “Mati sia!” Ia berhasil menghujamkan keris tepat di punggung lawan.
Clek!
Keris itu hanya separuh yang masuk menembus jaket dan kulit Raihan. “Hurrgh!” Ia reflek membanting sang dukun ke bawah dengan tangan kiri. Lanjut mencabut keris di punggung menggunakan tangan kanan. Tanpa ragu, ia menancapkan senjata itu ke paru-paru sasaran.
Jlep!
Seluruh badan keris masuk menembus daging. Wowon muntah darah. Harimau jingga yang tadi terkapar tak berdaya, lenyap saat Raihan membalikkan badan. Pemuda tersebut terduduk lesu, merasakan pendarahan di punggung. “Astagfirullah halazim, ya Allah! Ki Panca! Allahuma ya Allah!”
Keringat dingin kini tersisa di wajahnya. Ia memperhatikan sang dukun yang mencoba mencabut keris, tetapi tak kuasa. Raihan kini memilih berdiri, bermaksud mengejar ayah Rika di lantai dua.
Parau, lirih, sang dukun kembali berucap, “balik maneh b***k leutik, teu perlu ilu campur kaperluan arurang! (Kembali kau kemari bocah cilik! Jangan ikut-campur urusanku!”
Karena tak mengerti bahasa yang diucapkan, Raihan melangkah mantap meninggalkan lawan yang diambang ajal.
“Eh kedap, abdi karunya ka anjeun. Sabaikna, ulah disilidikan ieu! (Hai tunggu! Aku sarankan padamu sebaiknya urungkan niatmu!)”
“Aku gak paham koen ngomong opo,” balasnya berhenti sambil sedikit menoleh, “tapi, aku tak akan ragu dalam menegakkan kebenaran! Itu sumpahku!”
***
Lantai teratas gedung, tepatnya di balkon, Ayah Rika dibawa masuk ke sebuah helikopter hitam. L.H.A, tulisan itu besar tertulis di sisi kanan dan kiri helikopter.
Raihan yang baru saja memanjat, hanya bisa menyaksikan benda tersebut mulai membumbung naik perlahan oleh baling-baling yang berputar. di ujung rooftop gedung, seorang wanita berkacamata hitam, jaket merah tebal, dengan bulu-bulu lebat beruang di kerahnya. Wanita berwajah bule, tersenyum picik pada Raihan.
“Hai Javanesse guy, it's better for you to stay from us, or else, you'll get the concequences. (Hai orang Jawa, sebaiknya kau menjauhi urusan kami, atau kau akan menanggung akibatnya.)” Pusaran angin memutar mengitari pergelangan wanita tersebut. Sosok itu melayang, membumbung ke pintu helikopter yang masih terbuka. Wanita itu masuk.
‘Kami? Jadi mereka berkomplot?’ Paham dengan yang diucapkan, Raihan menyipitkan mata. ‘Dan di-dia! Terbang!’
Raihan masih saja tak percaya pada matanya. ‘Ajian apa yang ia gunakan? Tu-tunggu! Ayah Rika! Halah Gusti! Aku terlambat!’
Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!
Tembakan peluru mengenai badan helikopter. Semuanya terpental, tak ada satu pun peluru yang mampu menembusnya. Raihan membalikkan badan. Ia melihat seorang pria dengan seragam TNI. Pemuda itu menatap ke arah Raihan.
“Siapa kau dan apa hubunganmu dengan asosiasi itu?” Pria tersebut menodongkan alat penembak ke arah Raihan. Name tag di sana bertuliskan Andi.