Organisasi Rahasia dan Dukun tua

1893 Words
"Dan berbahagialah orang yang selalu menerima takdir, menunggu setiap perlakuan pemegang takdir, beramal sesuai takdir,berjalan bersama takdir, dan tidak mengingkari nikmat yang telah ditakdirkan." (Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani.) ### Basah kuyup oleh keringat dingin di sekujur badan, Raihan terbangun dengan napas tersengal. Mimpinya terasa begitu nyata, hingga pelan ia meraba lengan kiri. Ada rasa perih yang teramat nyata. Ia melepas jaket hitam dan menyingsingkan lengan kiri kaos. Kedua matanya terbelalak, ada tiga goresan benda tajam, lebih mirip seperti luka cakar-masih sedikit lembap. Ia menarik napas dalam-dalam. “Astagfirullah haladzim!” Cahaya terang nan putih adalah hal terakhir sebelum ia bangun dari mimpi buruk. Meski pendarahan telah berhenti, tetapi sakit yang ia rasa masih saja menggigit. “Makhluk itu … benar-benar tak mau aku menelusuri lebih jauh mengenai kasus Rika dan Zahra,” gumamnya lirih. Tangan kanannya meraih ponsel yang berada di bawah bantal. Belum ia membuka kunci layar, ponsel menyala. Kontak bernama Ki Panca baru saja mengirim pesan. "Coong … Coong …. Koen banyak anjurkan orang-orang buat jaga wudu saat sebelum tidur, tapi kamu sendiri malah ndak melakukannya. Jangan jadi Jarkoni! Tau apa Jarkoni? Biso ngajar ora biso nglakoni!" Raihan menaikkan garis bibir sebab emotikon tawa yang sang guru kirim di belakang teks. Ia mengetik pesan hanya dengan jemari kanannya. "Luput Mas, punten. Ngomong-ngomong soal mimpi saya yang kemarin, pripun nggih, Ki? Setan kurang ajar di mimpi saya, bagaimana Mas?" Selang tiga menit ia mengirim pesan, Ki Panca kembali membalas. "Tiga hari lagi, apa pun dan bagaimana pun caranya, saya tunggu kamu di makam Mbah Wali Tandur, Kabupaten Pekalongan, Kecamatan Paninggaran." Raihan sejenak terdiam. Mencoba mengingat nama yang belum pernah ia dengar, tetapi seolah pernah ia tahu. Pekalongan? Jawa Tengah, bukan? Itu berarti hari Jumat depan, aku harus sudah di sana? batinnya. Raihan mulai membalas pesan. "Sendiko dawuh, Ki." Namun, tak ada laporan pesan terkirim. ***  (Kediaman Rika.) “Ayah!” Rika sudah rapi mengenakan seragam SMA. Batik khas sekolah membalut tubuh gadis berpostur semampai itu. Ia berlari, dengan raut semringah. Langkahnya cepat menuju ruang makan. Tampak seorang pria berkacamata bertubuh gemuk. Rambutnya cepak berhias secuil uban. Ia duduk santai menghadap lima lembar roti tawar. Di sana, ada pula telur mata sapi dan selai kacang. Pria paruh baya itu berkemeja biru dengan celana jeans. “Good morning, Rika!” sapa sang ayah. “Ayah kapan pulang? Kok enggak kabar-kabar?” tanya Rika sebelum memeluk si pria paruh baya. “Ayah sampai di Jakarta kemarin malam. Ada meeting dadakan, jadi semalam Ayah menginap di hotel,” jawabnya tersenyum menerima pelukan. “Ayo sarapan dulu!” Gadis manis berkerudung duduk lantas mengambil dan mengoles selai pada roti di tangan kiri. “Mama di mana, Yah?” “Mama barusan keluar sebentar, mau beli sesuatu,” jawabnya dengan mulut penuh roti. “Mama beli apa sepagi ini?” Rika menaikkan alis kanan. Menelan makanan yang dikunyah, Ayah menjawab, “Entahlah, mungkin kosmetik karena Ayah pulang.” Rika hanya mendengung menanggapi. Ia kembali fokus pada roti, lalu memakannya. Rika spontan berhenti mengunyah roti, ketika dua puluh detik sang ayah tak bersuara. Muka lesu sang Ayah jadi perhatian. “Ayah…kenapa?” Lima detik sang Ayah diam, lalu menarik napas panjang. “Ayah baru saja tutup cabang lagi, Ni.” “Ke-kenapa, Yah? Kok bisa?” tanyanya kaget. Lelaki berkacamata, buang napas. “Para karyawan kelapa sawit di cabang Pontianak, mendadak kabur semua.” “Kabur karena?” Rika mengernyitkan dahi, perlahan mengunyah, lalu menelan. “Mereka semua diteror oleh kuntilanak.” “Uhuk!” Rika tersedak. Sang Ayah menuangkan air putih, menyodorkan pada putrinya. “Minum, Nak!” “Sejak kapan, Yah?” tanyanya usai meneguk minuman. Pria cepak gemuk menunduk, menopang dahi dengan kedua tangan. “Sejak kecelakaan kalian, banyak kuntilanak meneror pabrik. Mereka bergentayangan. Bahkan, banyak yang mengalami teror di siang bolong.” Ini … sungguhan? Haruskah aku menceritakan Bang Raihan pada Ayah? Apakah … dia mau membantu keluargaku? Rika termenung. “Entahlah, Nak. Sudah, tak apa.” Sang Ayah memaksakan senyum, menatap putri satu-satunya. “Apa Ayah sudah coba hubungi orang pintar? Kiai, mungkin?” “Sudah banyak Ayah suruh orang untuk menangani masalah ini, tapi nihil hasilnya. Cabang perusahaan yang tersisa, kini hanya di Pontianak.” Berarti … lima perusahaan di Lampung, tiga perusahaan di Sulawesi, tutup? batinnya. “Semoga saja, masalah ini segera selesai,” ucapnya membuang napas berat. “Tapi ngomong-omong, Ayah ada kejutan buatmu.” “Kejutan apa, Yah?” Sang ayah tersenyum. “Kamu akan tahu di sekolah.” *** Bel masuk kelas baru saja berbunyi. Satu per satu siswa memasuki ruangan dan duduk berbincang, sebagian sibuk memainkan ponsel. Berbeda dengan Zahra, gadis itu mendekati meja Rika. Ia tak memedulikan Cindy dan Dinar yang mulai menatap ke arahnya. “Rika, aku mau bicara.” Nada bicaranya sedikit keras, tampak kesal. Cindy segera menyahut, “Eh, bocah autis! Ngapain lo?” “Baiklah. Ayo!” Rika berdiri. Ia beranjak dari kelas, mengiyakan. Cindy dan Dinar hanya menggerutu sebal, Rika meminta mereka tinggal di kelas. Tiba di koridor yang sepi, Rika buka mulut. “Ada apa, Zahra?” “Rika, aku tak tahu jelas dan tak mau tahu pasti mengenai apa hal gaib yang kau alami. Mulai hari ini, aku sudah tak mau lagi berurusan dengan masalah itu, paham?” Dengan raut iba, gadis yang lebih tinggi dari Zahra mengangguk. “Zahra … aku minta maaf. Aku tak tahu kalau kau ….” “Sudah! Tolong jangan dibahas!” ucapnya membalikkan badan, bermaksud kembali masuk ke kelas. Rika hanya diam. Ia ingin tahu tentang solusi yang harus dilakukan, karena ia benar-benar tak mengerti hal gaib. Namun, ia pun iba pada Zahra, karena dirinya juga, neneknya jatuh sakit. Zahra berhenti melangkah. Ia sedikit menoleh ke belakang. “Tapi terima kasih. Terima kasih telah meminta Mas Raihan datang menjenguk nenekku. Berkatnya, Nenek sudah pulih.” “Alhamdulillah!” Rika bernapas lega. *** (Jakarta kota, di saat awan mendung.) Raihan berdiri di depan ruang kotak ATM. Ia mengantre, menunggu seseorang dengan tubuh sedikit gemuk berkemeja, keluar dari sana. Dari jarak ia berdiri, Raihan merasakan sesuatu getaran yang tak asing. Tiga menit waktu terbunuh. Pria paruh baya itu keluar dengan wajah pucat. Sosok berkacamata itu, sekilas menatap Raihan. Ada jeda sekitar satu sampai tiga detik, cukup bagi Raihan menerawang sejenak. Saat orang tersebut berlalu, Raihan kembali melangkah. Kaki kanan yang terbungkus sepatu sport hitam menginjak sebuah dompet. Akal dan hati Raihan yakin, bila lelaki barusan adalah si pemilik. Namun, tangan kiri pemuda itu tergerak untuk membuka, bukan bermaksud mengambil uang di sana. Qodir Suryanta adalah nama yang tertera pada KTP orang tersebut. Kelahiran Pontianak, 1975. Wajah itu adalah wajah ayah Rika, wajah yang juga ia dapati ketika mencoba menatap dalam gadis SMA. “Pak! Pak!” Raihan membalikkan badan, memanggil orang yang baru akan memasuki mobil sedan hitam. Menengok dengan ekspresi dingin, ia menatap pemuda berbelangkon. Saat Raihan melambai-lambaikan tangan dengan dompet, perlahan ia meraba saku celana jeans. Ia mendekat, mengerti bila itu adalah miliknya. Raihan tersenyum, menyodorkan dompet hitam. “Dompetnya jatuh, Pak.” Mengecek isi dompet, pria tersebut kembali menyimpan dompet dalam saku. “Terima kasih, Bang!” ucapnya sedikit tersenyum. Tak buang waktu, ia kembali ke dalam mobil. Raihan mengambil ponsel. Ia mengetik pesan pada Rika. "Assalamualaikum, Rika. Apakah nama lengkap ayahmu, Qodir Suryanta?" Tak menunggu balasan, Raihan melangkah masuk bermaksud menarik uang. *** Bel pulang sekolah berbunyi, membuat segenap siswa merapikan buku, memasukannya ke dalam tas. Namun, sang ibu guru mendadak menghentikan mereka untuk tidak langsung pulang, membuat seisi kelas bersorak. “Sekolah ini dapat tawaran dari Ayah Rika, untuk study tour ke Pontianak. Nanti, semua anggota kelas 11 A akan dibiayai penuh.” Serempak mereka bertepuk tangan, menatap ke arah Rika. Hanya Zahra, siswi yang terdiam menatap ke arah jendela. Ia samar memperhatikan punggung seorang siswi berkerudung di luar kelas. 'Dia siapa? Kenapa dia di luar kelas? Kalau dia pulang, mana tasnya?' batinnya. Ada rasa penasaran, sesuatu yang membuat tergerak untuk tahu. Usai pengumuman, semua murid berjalan keluar. Namun, Zahra memutari kelas. Ia berjalan seorang diri, bermaksud memastikan siswi yang memunggungi dari luar jendela tadi. Rika melirik saat Zahra melangkah melewatinya. *** Keluar dari ATM, Raihan membuka lirih pintu kaca. Jalan raya di depan penuh oleh beberapa kendaraan yang berjajar. Ia terpaku pada sebuah mobil sedan hitam yang terjungkir, sekitar tiga puluh meter darinya. "Itu! Mobil bapak tadi! Apa yang terjadi?" Raihan mengayuh kaki, sembari mengingat gambaran mobil sosok yang ia jumpai. Di samping kanan mobil hitam yang terjungkir, sesosok pria dengan kacamata hitam, menarik keluar lelaki paruh baya berkacamata, ayah Rika. Pria ber-tuxedo hitam itu membopong, naik ke sebuah motor sport hitam yang mana telah ditumpangi oleh priak berkostum sama. Namun, rambut si pria penyetir, berwarna pirang dengan tubuh tinggi tegap. Ia langsung tancap gas, membawa ayah Rika yang tak sadarkan diri. Terus mendekat, Raihan membaca istigfar berkali-kali, hingga ia menoleh ke sisi kiri jalan. Gerombolan ojek yang memandangi mobil sedan. Sebagian segera menelepon polisi, sebagian lain berkasak-kusuk memandangi orang yang membawa pergi pria tadi. “Bang, tolong kejar orang itu!” seru Raihan dari jauh, mendekati seorang pria dengan motor matik. “Itu tadi siapa, Mas?” Si ojek mulai memasang kunci, bertanya penasaran. “Aku khawatir ini penculikan,” jelasnya menaiki motor. Beberapa ojek yang nguping, spontan kaget. *** Zahra perlahan mendekat pada sosok gadis yang membelakangi. Tubuhnya gemetar tanpa sebab jelas. Perlahan mendekat, ia memberanikan diri menepuk punggung gadis di depan. Namun, sebelum jemari lembut Zahra menyentuh, kepala siswi berkerudung itu, berputar 180°. Rita, adik kembar Rika, dengan wajah yang remuk bersimbah darah, menatap marah. “Zah … ra ….” Hantu itu membalikkan badan. Rika berteriak histeris. Ia seketika ambruk, tak sadarkan diri. Zahra yang mendengar teriakan dari belakang, memutar badan, menatap Rika yang pingsan. Kembali menoleh ke arah si hantu, sosok tersebut raib. *** Jakarta Utara, kawasan perkantoran sepi. Tak ada satu pun mobil angkutan yang lewat sore itu. Hanya tampak beberapa motor yang kebut-kebutan di jalan. Si penculik, memarkir motor di deretan gedung sepi. Mereka berdua membopong ayah Rika yang masih terluka. Si pria berkacamata dengan rambut pirang, menoleh ke belakang, di mana Raihan berlari menghampiri. Tangannya merogoh saku, menelepon seseorang. “Woi!” Raihan berteriak, terus berlari. Pemuda berjaket hitam dengan belangkon, melangkah masuk ke sebuah gedung tua berlantai tujuh. Ia bermaksud mengejar dua orang yang sudah masuk ke sana. Dua orang di sana membawa ayah Rika ke lantai atas. Namun, saat Raihan hendak mengejar, seorang lelaki tua berjenggot abu-abu dengan busana serba hitam, menghadang. Ia memakai tiga buah cincin akik di tangan kiri dan dua lain di tangan kanan. Matanya tajam menyorot wajah Raihan. Deg - deg! Menghentikan langkah, Raihan memegangi d**a. Ia merasakan sentakan kuat di jantung. Ia tanpa ragu membalas tatap tajam sang dukun. 'Apa mungkin dia, orang yang mengguna-guna keluarga Zahra? Aku yakin dua orang asing tadi yang menyuruh dukun ini.' “Maneh wawanian teuing, b***k! Emangna, Nyai Ratu acan mere maneh wancangan?” Sang dukun tetap tegap berdiri. Rautnya marah. Raihan menaikkan garis bibir kanan ke atas. Ia memajukan kedua tangan ke depan, kaki pemuda berbelangkon meragakan kuda-kuda silat. 'Mas, sepertinya kali ini aku mesti menumbangkan seorang dukun. Bila engkau di sini, mungkin kau akan bilang, dukun lawan dukun,' batinnya. “Hehehe ….” Raihan terkekeh. “Naon maneh nyeungseurikeun, b***k? Emangna, maot teh lucu ceuk maneh? Mun kitu, maju sia!” “Cangkeman!” Raihan melesat, menyerang lebih dulu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD