bc

Hira

book_age16+
178
FOLLOW
1K
READ
family
tomboy
brave
like
intro-logo
Blurb

Apasih yang buat kamu bahagia? Uang, wajah cantik atau mungkin kebebasan. Bagi gadis bernama Hira Nirbita Airlangga Hirawan kebebasan adalah hal yang ia tunggu sejak dulu. Uang tak memberinya kebahagiaan yang hakiki. Hanya sebatas formalitas yang memperjuangkan hak sebagai anak yang ingin di mengerti dan di pahami. Sesederhana itu namun sulit di gapai.

chap-preview
Free preview
Ha
Manusia diciptakan berbeda-beda sekalipun mereka diciptakan dalam satu wadah yang sama. Berbeda menit saja sudah beda sukma dan pribadinya. Seperti halnya dua remaja yang sedang duduk di sebuah cafe kawasan Mertoyudan. Dengan nuansa ala-ala remaja yang membuat nyaman untuk dijadikan tempat nongkrong bahkan untuk mengerjakan tugas. "Bang, kapan pulang sih? Masa aku yang harus nemuin abang ke Magelang mulu. Capek tau bolak-balik, mana ayah nggak bolehin aku naik motor sendiri dan harus di anterin Om Ari segala. Bete pokoknya!" gadis muda itu mencebik dan melipat tangannya di d**a. Sedangkan sang abang di depannya itu hanya diam mendengarkan ocehan sang adik yang mirip kereta itu. "Nanti kalau dapat jatah liburan semester." Plak! Buku menu cafe mendarat mulus di kepala sang abang. Lantas sang abang mendelik, "Nggak sopan Hira! Abang bilangin ke mama ya!" Hira acuh dan bahkan menjulurkan lidahnya, "bilang aja. Dasar tukang ngadu!" Kemudian Raksa memilih memainkan gawainya. Menanggapi adiknya pun tak akan ada akhirnya jika dia yang bukan mengalah. Akhirnya setelah seminggu tak bisa main gawai, hari ini ketika pesiar ia bisa memainkan gawainya dengan leluasa.  "Abang ada pacar ya? Dari tadi main hape mulu, heran." Kembali Hira bertanya, seperti biasa, gadis itu memang suka sekali berbicara persis sang eyang putri dari pihak mama. Mulutnya gatal ketika Hira tak berbicara di depan abangnya itu. "Pacar pacar… nggak ada lah. Abang lagi nunggu temen yang mau kesini. Masih kecil nggak usah pacar-pacaran!" Lalu Hira mencebik, "yah abang nggak seru! Hira udah gede bang, udah 17 tahun, bentar lagi mau kuliah, masa pacaran nggak boleh." "Pacarmu harus abang tes dulu. Uji mental sama ketahanan, kalau memble dan fakboy modelnya, mending abang lempar ke kolam yang nggak di kuras 10 tahun biar kena gatal-gatal akut!" Hira mendelik, merasa jika abangnya ini posesif dan sedikit psikopat. "Ya Allah bang jahatnya dirimu. Emang ya jiwa ayah menempel padamu semua sampai sifatnya juga, tapi sayang wajah mirip mama. Nggak sinkron." Memang Raksa cenderung memiliki wajah seperti sang mama dan Hira seperti sang ayah, namun percayalah jika sifat Raksa duplikat seperti Damar, sedangkan Hira masih labil dan cenderung seperti sang eyang putri. Hira lebih banyak ngomong dan pandai mendebat. "Anak kecil diem!" "Beda 5 menit doang belagu banget sih bang!" lagi, Hira tak mau kalah dengan sang abang. Gadis itu bahkan terang-terangan mendebat abangnya. Lalu Raksa memilih diam daripada menanggapi adiknya yang cerewet itu. Dibalik sifat yang terlihat acuh itu, di dalamnya menyimpan rasa sayang yang luar biasa terhadap sang adik. Bahkan mereka saling membutuhkan satu sama lain ketika berjauhan. Seperti saat ini dimana Raksa meminta sang adik untuk menemuinya di Magelang. Sebenarnya Hira ada acara di sekolahnya tetapi sang kakak dengan ngototnya ingin bertemu dengan sang adik. Hingga Hiralah yang mengalah dengan menemui sang kakak dari Semarang ke Magelang. Sekarang keluarga Damar pindah dari Jakarta ke Semarang. Damar menjadi pejabat tinggi Komando Daerah Militer IV/Diponegoro yang berkantor di sekitaran Banyumanik Semarang. Hira pun ikut pindah dan sekarang bersekolah di salah satu SMA terbaik di Semarang yang letaknya berada di depan kantor Balaikota Semarang. Sedangkan Kencana bertugas di Polda Jawa Tengah dan menduduki posisi strategis Dirlantas Polda Jawa Tengah. Pasangan suami istri ini pun sibuk dengan masing-masing tugasnya sehingga terkadang membuat Hira kesepian. Apalagi sang abang memilih bersekolah di salah satu sekolah favorit semi Militer di Magelang. Tiba-tiba datang segerombolan anak sebayanya Raksa dan Hira dengan memakai seragam pesiar mereka. Hira sempat kaget melihat gerombolan tersebut yang banyak di d******i oleh laki-laki. "Pacar lu Ngga?" Raksa berdecak mendengar pertanyaan Shandy, ia bukan mempermasalahkan pertanyaannya tapi, "udah gua bilang jangan panggil gue Angga Shan, Airlangga itu nama yakung gua, ya kali marga keluarga di pakai buat panggilan." "Iya nih si Shandy payah! Lu main-main sama cucunya Indra Airlangga loh, bisa-bisa lo nanti sampai asrama di panggil sama pelatih kan nggak lucu bro." Seloroh salah satu temannya. sedangkan Hira hanya bisa diam karena tak mengerti apa-apa. Sebenarnya mereka tak tahu asal usul Raksa tetapi gara-gara ia di panggil kepala sekolah dan terang-terangan bertanya tentang keadaan kedua kakeknya jadilah satu angkatan tahu jika Raksa bukan orang biasa bahkan bisa dikatakan sebagai keturunan 2 jendral yang cukup berpengaruh di masanya. "Kenalin semuanya, ini kembaran gue. Namanya Hira." Hira di perkenalkan untuk pertama kali di depan banyak teman-temannya. Selama ini hanya teman dekat Raksa saja yang tau jika Raksa punya kembaran perempuan. "Seriously? Ini kembaran lo? Kok beda?" Sahut kaget gadis berhijab dengan name tag Anggita Hanum Wahyuningtyas. "Iya ini beneran kembaran gue kok. Kalau nggak percaya tanya aja bokap gue." "Emoh! Weruh wajahmu bae aku ketar-ketir apamaneh weruh bapakmu, wis past luwih sangar." Celetuk laki-laki berwajah jenaka yang sering di jadikan bahan bullying oleh teman-temannya, Rizki. Lantas mereka tertawa mendengar ucapan Rizki yang masih kental sekali ngapaknya, khas sekali Banjarnegaranya. Memang kadang kala Rizki mengeluarkan logat ngapaknya yang terdengar lucu di telinga mereka yang asing, namun dengan begitu Rizki tak malu, justru ia bangga karena ora ngapak ora kepenak. Lalu Hira tersenyum dan bersalaman satu persatu sambil memperkenalkan dirinya.  "Kok lu nggak bilang-bilang punya kembaran cantik begini. Kalau tahu begini gu- Rizki belum selesai berbicara, langsung di potong oleh Raksa, "lo terusin gue timpuk pake sepatu PDL, mau?" Semua orang langsung menertawakan ekspresi Rizki yang kesal lantaran ada ancaman dari sang legenda angkatan 35 yang terkenal paling rawan. Kemudian Rizki langsung mingkem daripada harus kena timpuk sepatu PDL yang cukup membuat benjol kepala. Kan sayang, kepalanya adalah aset negara yang cukup di perhitungkan. Lalu mereka memilih duduk dan memesan makanan. Hira sedikit demi sedikit bisa nyaman di antara teman-temannya sang abang. "Sekolah dimana?" Tanya gadis bernama Cesilia kepada Hira. "Heleh! Palingan lu kagak tau kalau di nyebutin sekolahnya." Celetuk Rizki yang sedari tadi banyak omonganya. Sedangkan Cesilia memutar bola matanya malas dan mencebik, "minimal gua basa basi Kiki pekok! Ck! Dasar panci gombreng!" Hira terkekeh melihat keseruan teman-temannya abangnya, persis teman-temannya ketika kumpul dan bertingkah layaknya orang bodoh. "Aku sekolah di SMA yang deket Balaikota, tau nggak?" "Ohh, gue tau. Kebetulan aku anak Ungaran. Mantep juga sekolah disitu." "Hehe, semua sekolah sama menurutku, tergantung kitanya gimana, bisa mengembangkan diri apa tidak. Just opini ya." Jawab Hira bijak, lantas mereka semua mengangguk setuju. "Iya bener, berbanggalah ketika kamu bisa mengangkat nama almamater bukan bangga karena diangkat nama sohornya almamater." Ucap Cesilia. "Weh tumben lu bijak Sil, kadang rada lola lo." Semua tertawa dengan Cesilia yang berhasil menimpuk Rizki dengan buku menu. ***** Selesai makan, Raksa memilih memisah dengan teman-temannya dan memilih jalan dengan sang adik. Sekalian mereka jalan-jalan keliling Magelang. "Habis ini mau lanjut mana dek?" tanya Raksa di sela-sela perjalanan menuju Candi Borobudur. Mereka diantar oleh Om Ari, ajudan ayahnya yang memang sering mengantar Hira kemana saja. "Masih bingung bang. Aku masih cari-cari juga." "Kok masih bingung? Tinggal beberapa bulan loh dek masa nggak tau mau ambil apa?" "Hmm, aku sebenarnya pengen ambil Geodesi atau nggak Geologi, tapi ya masa di Semarang lagi bang? Aku pengen Jogja kalau nggak ya di Malang." "Mending kamu di Jogja aja dek, biar nanti rada deket sama abang. Biar kalau pesiar, abang bisa liat kamu." Lalu Hira mencibir, "bilang aja kangen sama Hira yang comel ini bang. Bwahahaha." "Hush! Perempuan nggak baik tertawa gitu." Lantas tangan Raksa membekap mulut mungil Hira. "Bang! Aku nggak bisa nafas!" sedangkan Raksa hanya menunjukkan cengirannya yang jarang ia keluarkan itu dengan konyolnya. "Tapi, ayah?" "Urusan ayah biar abang nanti yang bicara. Kamu fokus aja yang kamu pengen jalanin. Oke?" lalu gadis itu mengangguk dan menyenderkan kepalanya di bahu sang abang. "Bang?” "Hmm." "Kemarin ada yang ngajak kenalan Hira." "Siapa?" "Anak pelayaran." "Nggak usah di tanggepin!" sahut Raksa cepat tanpa berpikir panjang. Lalu Hira berdecak, selalu saja ia di tentang ketika dekat dengan laki-laki. "Terus dia ngajak makan di Paragon." Lanjut Hira lagi Raksa menaikkan sebelah alisnya, "kamu temuin si dia?" Hira menggeleng, "belum, Hira belum jawab bang. Hira takut ayah tau. Pasti nggak boleh ketemu cowok yang nggak di kenal." "Ya emang. Abang pun nggak bolehin kamu. Kamu fokus sekolah dulu, kalau ada yang deketin, tolak halus saja. Lagipula apa kamu kuat LDR sama anak pelayaran, hmm? Berat dek, abang bukannya melarang kamu atau apa, tapi coba pikirkan matang-matang, pelayaran jarang pulang dibanding dengan TNI." Lalu gadis cantik itu terdiam dan memikirkan ucapan sang abang. Benar, apakah dia kuat menjalani LDR? Bukankah selama ini ia kesepian dan apa harus mengulangi kesepian itu lagi di masa depan? Rasanya Hira dibuat frustasi oleh hal itu. "Maafin abang yang jarang ada waktu buat kamu. Abang juga minta maaf udah jauh dari kamu. Kamu sering kesepian di rumah, maaf." Hira mengangguk dan menatap sang abang dengan senyuman teduhnya, "iya bang, Hira nggak apa-apa kok. Abang fokus kejar cita-cita abang dan Hira juga fokus ngejar apa yang Hira impikan." .  .  . 

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Suamiku Bocah SMA

read
2.6M
bc

Perfect Honeymoon (Indonesia)

read
29.6M
bc

My Boss And His Past (Indonesia)

read
238.4K
bc

Bukan Istri Pilihan

read
1.5M
bc

DIA UNTUK KAMU

read
39.9K
bc

Everything

read
283.6K
bc

Perfect Revenge (Indonesia)

read
5.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook