Da

1655 Words
"Yah?" Hira memberanikan diri untuk berbicara dengan sang ayah yang sedang menikmati secangkir kopi dengan koran di tangannya. Tak biasa sekali ayahnya itu memegang koran di pagi hari apalagi weekend. Kebanyakan sang ayah menghabiskan weekend untuk olahraga bersama dengan rekannya jika tak ada dinas. Lalu Damar menatap sang putri. Setelah seminggu kejadian di rumah eyangnya, Hira masih kepikiran hingga sekarang. Gadis itu masih saja memikirkan perihal yang sudah cukup membuatnya putus asa. Menentukan pilihan buat masa depan itu sulit dan penuh pertimbangan, namun bagi Hira ia sudah yakin dengan keputusannya walau ia sangat yakin bahwa keputusannya itu di tentang sang ayah. "Mengenai keputusan ayah saat itu yang bilang kalau Hira mau di FK, apakah itu benar? apa ayah nggak mau dengerin dari sudut pandang Hira?" tanya Hira takut-takut. Ia bertanya seperti ini pun sebenarnya membutuhkan keyakinan kuat sebelum akhirnya berani berbicara. Damar belum menjawab, lalu gadis itu di persilahkan duduk dulu oleh sang ayah, "kan dari dulu ayah udah pernah bilang kalau kamu akan ayah masukkan ke FK." "Tapi apa ayah pernah mendengar keinginan Hira? Please, kali ini ayah mendengarkan keinginan Hira bisa?" Tatapan memohon terpancar dari mata putrinya. Damar yang sudah bulat keputusannya lantas tak ingin berdebat panjang, ia yakin jika anaknya di FK itu lebih baik ketimbang di lainnya. Namun, ia juga ingin mendengar alasan sang putri juga. "Yah, bolehkan kali ini Hira memilih untuk masa depan Hira? bolehkan Hira mengambil langkah yang Hira inginkan sendiri? memilih zona nyaman Hira? selama ini ayah berperan andil dalam setiap langkah Hira dan bolehkan kali ini Hira memutuskan langkah Hira sendiri?" Kemudian Hira menarik nafasnya pelan, "selama ini ayah tahu jika Hira tak sedikitpun tertarik dalam dunia medis, Hira lebih tertarik mengikuti camp di luar but often failed. Hira terima karena ilmu bisa di ambil di mana saja. Hira lebih suka membedah alam dan seisinya ketimbang membedah manusia, ayah." "Artinya kamu nggak setuju sama pilihan ayah?" "Yes, iam want to be a geographer, dengan geografi Hira merasa jiwa Hira lebih tereksplorasi dengan baik. Hira akan berusaha mendapatkan universitas terbaik, ayah." Damar menatap serius sang putri, "sekarang ayah tanya, setelah itu kamu jadi apa? jurnalis alam, hmm?" Hira menggeleng keras, "Geografi tak sesempit itu ayah. I can to be geologist, cartographer, bahkan bisa bekerja di NASA kalau rezeki. Sama prestisiusnya dengan kedokteran." "Tapi ayah tetap dengan keputusan ayah. Kamu masuk kedokteran dan ayah sudah mempersiapkan untuk itu dan minggu depan kamu harus mengikuti les privat untuk masuk FK terbaik di Indonesia. Ayah tidak terima alasanmu itu. Sudah." "Ayah, kali ini biarkan Hira menentukan masa depan Hira yah." "Masa depan apa sih nak? Kedokteran lebih menjanjikan dari pada yang lain dan ayah ingin lihat anak ayah memakai jas putih." Lalu Damar memilih beranjak dari duduknya, hal itu membuat Hira semakin sakit hati dengan keputusan ayahnya yang sepihak. "Selama ini ayah hanya memikirkan keinginan ayah saja. Tidak pernah memikirkan kebahagiaan Hira itu bagaimana. Hidup bagai belenggu itu tidak enak ayah." Damar yang hendak melangkah mengurungkan niatnya dan menatap sang putri, "sejak kapan kamu membantah perintah ayah? sejak kapan kamu berani tidak sopan sama ayah Hira? jawab pertanyaan ayah." Lalu Hira sudah berkaca-kaca dibuat seperti itu. Baru kali ini ia dan sang ayah bersitegang, "ppa itu di sebut tidak sopan ayah? Hira tak pernah sedikitpun berniat melawan tapi tolong kali ini ayah mengerti keinginan Hira." "Tapi keputusan ayah sudah bulat." "Nggak, Hira nggak mau. Ayah hanya memikirkan keinginan ayah saja, ayah egois!" Setelah itu Hira langsung berlari menuju kamarnya. Ia kecewa dengan jawaban sang ayah. Ia kecewa dengan keputusan sepihak yang menyakitkan itu. Kemudian Hira berpapasan dengan sang mama yang bingung dengan dirinya yang tiba-tiba  berlari dan menangis. Namun, Hira memilih langsung berlari kecil ke arah kamar dan langsung masuk tanpa berkata-kata. Lalu Kencana menghampiri sang suami. "Mas ada apa?" Damar meletakkan korannya di kursi dan tidak menjawab, "Mas,” "Jangan kekang dia lagi mas, kasihan. Biar dia milih apa yang dia inginkan, kita dukung saja sebagai orang tua." ucap Kencana berusaha memberikan pengertian. Ia tahu jika sesuatu yang dipaksa itu tidak enak dan takutnya jika sang putri menjadi tertekan karena keputusan sang suami. "Kekang gimana? mas cuma ngarahin dia." "Ngarahin gimana? Mas itu memaksa loh." "Mas cuma pengen Hira dapat yang terbaik!" "Tapi bukan begitu caranya mas, apa selama ini mas pernah tanya apa yang dia nyamankan? Mas, aku sudah pernah bilang kan kalau jangan terlalu apatis untuk tujuan kita sendiri." Lalu Damar menatap sang istri lama, "tapi keputusan mas sudah bulat." Selanjutnya Damar memilih berlalu setelah adu argumen dengan sang istri. "Mas! pikirkan kembali untuk kebaikan bersama." Percuma, pada akhirnya keputusan laki-laki itu sudah bulat. Kencana hanya menghembuskan nafasnya pelan. Sejak dulu Damar memang jika mengambil keputusan, keputusannya selalu bulat dan terkadang terkesan memaksa.  ***** "Ehem!" Hira yang sedang melamun sontak tersentak dan menoleh ke arah sampingnya. "Jangan melamun!" Hira tak menjawab, gadis itu memilih untuk diam menatap lurus ke depan. Suasana Kota Lama di pagi ini tak sepenuhnya ramai. Hira memilih duduk di sudut kota Lama untuk mencari suasana berbeda, suasana yang mampu membuat hatinya sedikit berdamai dengan keadaan dirinya saat ini, tetapi niatnya itu justru diketahui oleh Barata. Entah sejak kapan laki-laki itu muncul di sampingnya. "Ra," Hira tetap bergeming dan tak menjawab. Ia terlalu malas untuk sekedar berbicara. "Sampai kapanpun aku akan tetap mengejar maafmu. Sekalipun itu bertahun-tahun. Aku salah dan aku akan berusaha memperbaikinya." Kata Barata sungguh-sungguh. Ia sangat menyesali perbuatannya. Tak seharusnya ia mendapatkan HIra dengan cara seperti itu. Lantas Hira tersenyum miring, bukannya membuat hatinya semakin tenang, namun kini justru terusik oleh adanya Barata. Padahal tujuannya ialah mencari ketenangan di Kota Lama. "Ini bukan tentang maaf, tapi tentang bagaimana melawan rasa takut untuk kembali membuka, melawan stigma yang perlahan merekat di bawah alam sadar." "Kamu melakukan tanpa sadar tapi aku sadar bahwa semuanya seakan terlambat. Semuanya seperti main-main tapi aku merasakan bahwa itu adalah ketulusan. Perasaan yang di anggap main-main itu menyakitkan sekalipun kita tak pernah satu." Lalu Hira menunduk, menghirup oksigen perlahan, melawan sesak yang selalu muncul ketika ia berhadapan dengan Barata. Rasa rindu nyatanya lebih mendominasi daripada rasa kecewanya, entah ia pun tak tahu. "Tapi aku bersungguh-sungguh Hira, sekalipun niat awalku hanyalah bermain-main saja, tapi ternyata Tuhan telah membalikkan hatiku sedemikian rupa hingga rasanya sulit bila harus di hapuskan. Kamu satu-satunya perempuan yang menetap lama di hatiku setelah ibuku. Kamu dekat tapi sulit di gapai." "Boleh kamu menganggapku dusta atau berlebihan. Kamu tahu juga bagaimana diriku ini. Kamu pasti tahu mana yang tulus dan mana yang hanya untuk kesenangan sementara saja." Lalu Barata menatap lama Hira. "Ayo ikut aku, kita ke suatu tempat yang mungkin bisa menghapus rasa kecewamu." ***** "Waduk Jatibarang?" Barata mengangguk setelah laki-laki itu memarkirkan kendaraan motornya. Selepas dari Kota Lama, Barata mengajak Hira yang ternyata mau ikut dengannya, sungguh itu peristiwa yang menyenangkan untuk Barata. Barata mengangguk, lalu ia mengajak Hira untuk masuk ke sana. Pertama kali mereka langsung di sambut oleh kawanan monyet yang menjadi penghuni tetap di sana. Beruntung mereka tak membawa makanan sehingga monyet-monyet tersebut hanya memandang mereka saja kemudian melanjutkan kegiatan mereka lagi. "Kenapa kamu ajak aku kesini?" tanya Hira yang masih penasaran mengapa ia diajak ke Waduk Jatibarang. Barata tersenyum dan tak menjawab. Ia lalu mengajak Hira ke jembatan yang berada di bawah. Mereka harus menuruni tangga yang cukup menanjak dan berkelok. "Kamu tahu, walaupun waduk ini tak begitu menarik bagiku, tapi aku selalu menghabiskan waktu bila sedang galau atau pusing dengan kehidupan ini. Kota Semarang banyak menawarkan tempat yang nyaman untuk disinggahi namun waduk ini tetap menjadi tempat yang paling aku sering datangi." Hira menoleh ke arah Barata yang menatap hamparan air di depannya. Laki-laki itu terlihat tenang dan nampak menikmatinya. "Terus apa alasannya kamu ajak aku kesini?" Lalu Barata menoleh ke arah Hira yang dilingkupi rasa penasaran. "Kamu satu-satunya perempuan yang aku ajak kesini. Satu-satunya perempuan yang tahu tempat dimana aku mencari sebuah pelarian." Barata tersenyum menatap Hira yang bergeming di tempatnya, "kamu nggak perlu memaksakan diri buat memaafkan diriku Ra. Biarlah waktu yang menjawab, aku sekarang sudah menerima jika mungkin saja kamu masih sakit hati sama aku dan aku hanya bisa berharap jika sakit hatimu segera lekas sembuh. Kamu pantas mendapatkan laki-laki yang bisa menghormati kamu sepenuhnya, bukan laki-laki bodoh yang menghancurkan dan mempermainkan perasaanmu." "Bar, "Aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kamu meminta maaf kepadaku. Aku hanya kecewa. Dan kamu nggak pantas buat merendah seperti itu." Sebenci apapun Hira, Hira juga masih punya hati untuk memaafkan kesalahan Barata. Hira sadar, mungkin semua itu adalah bentuk kehidupan remaja yang serba ingin mencoba sesuatu yang menarik untuk mereka. Hira menggigit bibir bawahnya, ia tak berani menatap Barata. Sungguh jantungnya menggila saat ini. Ia bingung dengan perasaannya kali ini. "Ra, "Ra," Hira mengangkat wajahnya pelan ke arah Barata. "Makasih." Ucap Barata sangat tulus. Ia bersyukur Hira tak membencinya itu sudah cukup baginya. Hira mengangguk dan kembali menatap waduk di depannya. Pemandangan alam disana cukup bagus karena didominasi oleh perbukitan. "Memang benar, luka bisa diobati tapi yang lama nunggu luka itu kering. Mengobati kadang lukanya masih berbekas, tapi setidaknya bekasnya itu tak terluka lagi atau menganga untuk kesekian kalinya." "Aku akan menunggu luka itu kering bahkan mungkin akan membantunya cepat kering, pegang janjiku, Ra." "Jika tak berhasil?" "Aku akan menghilang dari hadapanmu untuk selamanya," "Karena percuma kalau luka itu belum sembuh, aku akan jadi orang paling pengecut yang pernah kamu kenal." Hira tersenyum tipis, “tapi apa kamu sanggup?” Barata memilih untuk tersenyum, lalu mereka sama-sama diam, menikmati semilir angin yang berhembus perlahan menerpa kulit mereka. Beratapkan langit yang sedikit mendung di awal tahun ini, mereka menikmati semilir angina waduk yang lumayan panas. "Bar, "Iya?" "Kamu tau nggak bagaimana waduk ini terbentuk?" Barata lalu berpikir sejenak. "Kenapa?" "Dulunya Semarang sering banjir, tetapi dengan adanya waduk ini sekarang sudah berkurang. Air dari waduk ini pun di buat untuk PDAM dan pembangkit listrik, sebenarnya waduk ini berada di antara formasi Kerek dan formasi Damar. Hal ini mengakibatkan terbentuknya sesar sekunder. Oleh karena itu kontruksi waduk ini sempat menjadi perdebatan karena dikhawatirkan akan jebol atau mengalami patahan dan dapat berakibat fatal." Lalu Barata tersenyum, "sudah pantes jadi ahli geologi." Hira terkekeh kecil, "Mungkin jika semesta menginginkan. Tapi ini unik, setelah banyak perdebatan akhirnya proyek tetap jalan dan ternyata banyak manfaatnya juga.” Barata mengernyitkan dahinya heran, mengapa Hira bisa berkata seperti itu, "kenapa?" Hira menggeleng, memilih diam sembari kembali menatap ke arah waduk yang sudah menjadi penyokong kota Semarang itu. Nampaknya tempat ini nyaman untuk sekedar merenung sejenak dan melepaskan penat dari sumpeknya kota. 'Laki-laki itu diciptakan untuk menghormati, melindungi, dan memuliakan perempuan.' .  .  .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD