Wa

1522 Words
Sepi dan hampa itulah yang kerap di rasakan oleh gadis penyuka musik bergenre folk jazz atau orang awam menyebutnya indie. Musik galau yang kerap kali di olok sebagai musik senja yang di sandingkan dengan secangkir kopi. Mungkin terdengar puitis namun Hira menyukainya bukan tanpa sebab, gadis itu jatuh cinta untuk pertama kalinya sejak ia melihat pertunjukan musik milik Figura Renata, grup musik lokal asal Semarang yang sekarang sudah banyak di kenal oleh beberapa kalangan anak muda. Jumat sore yang sepi membuat Hira memutuskan untuk memutar lagu indie tersebut. Lagu milik Amigdala ia sengaja putar agak keras untuk menutupi sepinya. Sang mama sedang tugas di luar kota, sedangkan Damar sedang lawatan lagi ke Papua. Sendiri tapi ia dikelilingi banyak mata-mata ayahnya. Saat sedang gabut-gabutnya tiba-tiba bel rumah berbunyi, gadis itu lantas berjalan cepat untuk membuka pintu. "Assalamu'alaikum, selamat sore," "Wa'alaikumussalam. Sore. Eh kak Gagat?" Di depannya menjulang tinggi tubuh Gagat yang sedang membawa sebuah kotak berwarna coklat. "Eh ini dik ada paket. Tadinya mau di antar ke rumah tapi sore ini perumahan sedang ditutup. Jadinya kurir menitipkan di pos. Atas nama Hira Nirbita Airlangga Hirawan." Kemudian Gagat menyerahkan paket itu pada Hira. Sedangkan Hira menatap paket tersebut senang. Akhirnya paket yang berisi tas ransel yang lama ia impikan sudah di tangan. "Makasih ya kak." "Iya sama-sama dik. Saya permisi dulu." Gagat hendak berbalik namun dicegah kembali oleh Hira. "Eh kak, besok kakak cuti atau libur nggak? kalau misalnya cuti atau libur, mau nggak aku ajak nonton, please, aku nggak boleh nonton kalau nggak ada yang nemenin," Gagat menatap Hira sambil berpikir. Apa tadi? di ajak nonton oleh anak komandannya? lantas Gagat langsung mengangguk mengiyakan. Mungkin ini kesempatan untuk dirinya agar lebih dekat dengan gadis yang sudah mencuri hatinya. Kali ini biarlah ia menantang takdir mungkin. Selagi ada kesempatan yang datang, akan ia manfaatkan sebaik mungkin. "Yes. Makasih ya kak. Besok pagi jam 10 ya. Aku udah bilang mama kok. Nanti pake mobil yang biasa aja." Gagat mengangguk sopan, lalu laki-laki itu pamit dari hadapan Hira. Kemudian Hira masuk kembali dengan wajah senangnya. Sedangkan di depan Gagat tersenyum sendiri melihat gadisnya yang nampak bahagia. Kapan lagi ia melihat Hira dengan wajah yang menurutnya menggemaskan itu. Apalagi bisa dekat dengan gadis itu. Biarpun mereka terhalang oleh tradisi tapi takdir siapa yang tahu? Sementara itu Hira langsung memberi kabar sang mama bahwa besok ia jadi nonton film yang sudah lama ia tunggu dengan Gagat. Mamanya memperbolehkan asalkan ada yang menemaninya. Entah itu teman atau orang yang di kenal Hira. Kencana tahu jika Gagat adalah salah satu prajurit di Batalyon yang cukup berprestasi dan mempunyai kepribadian baik sehingga ia memperbolehkan Hira keluar dengan laki-laki itu tanpa tahu jika Gagat ternyata ada rasa kepada putrinya. ***** Pukul 10 tepat, Gagat sudah berada di depan rumah Hira. Dengan memakai pakaian santai bukan dinasnya karena sedang libur, laki-laki itu on time dan menunggu dengan perasaan berdebar. Rasanya seperti kencan dengan pujaan hatinya, tapi kadang pikirannya melalang buana dan menganggap dirinya p*****l karena menyukai gadis SMA. Tapi bukanlah banyak juga teman-temannya yang memiliki pacar usia belia? "Eh kak Gagat udah siap. Lama ya nunggunya?" tanya Hira tak enak. Gadis itu terlihat cantik dengan celana baggy pans yang di padukan dengan kemeja lengan panjang bermotif bunga bunga kecil. Tak lupa juga rambutnya ia kuncir kuda supaya lebih rapi dan tak gerah. Sejenak Gagat merasa terpesona dengan Hira. Batinnya merutuki mengapa Hira terlahir dari keluarga Jendral yang sangat sulit ia gapai sendiri. Mungkin jika Hira dari keluarga di luar Jendral akan mudah ia gapai, tetapi gadis itu nampaknya sulit untuk di gapai. "Eh nggak kok." Gagat tersadar dari lamunannya. Lantas Hira berjalan menuju mobil yang biasanya ia gunakan kemana saja. "Kemana?" "Hah?" Hira tak fokus karena sedang bertukar kabar kepada salah satu sepupunya. "Ke mana ya? terserah kakak deh yang penting ada bioskopnya." Ucap Hira. Lagipula gadis itu juga tak mempermasalahkan dimana ia nonton yang penting keinginannya itu terwujud. "Oke baiklah." Kemudian Gagat melajukan mobilnya ke sebuah mall yang masih berada di jalan Pemuda. Hira lantas turun setelah mereka sampai. Sebenarnya Hira sudah mengajak Gaby untuk nonton tapi gadis itu ternyata ada acara keluarga di Malang sedangkan teman yang lain Hira sungkan karena kurang dekat dengan mereka. Barata? Hira masih tak enak dengannya karena penolakan yang ia layangkan pada laki-laki itu. Hira masih menjaga jarak dengan Barata begitupun dengan Barata yang sepertinya tak segencar kemarin ketika mendekatinya. Barata lebih sering menatapnya diam-diam. Barata juga sekarang jarang mendekati Hira walaupun mereka satu kelas. Kemudian mereka berjalan menuju bioskop yang berada di lantai atas. Hari sabtu menjadikan mall ramai oleh pemuda pemudi. Apalagi Semarang yang notabene banyak sekali sekolah kedinasan dan akademi yang rata-rata pesiarnya hari sabtu menjadikan mereka yang mendapat jatah pesiar pergi ke mall untuk sekedar jalan-jalan dengan teman maupun pacar. "Dik kenapa kok nggak ngajak temannya saja untuk nonton?" tanya Gagat saat mereka antri tiket bioskop. "Mereka ada acara semua kak. Mumpung minggu ini bisa soalnya minggu depan udah fokus buat UTBK." Gagat mengangguk mengerti. "Eh kamu mending duduk aja. Biar saya yang antri tiketnya." Ucap Gagat. Sebagai laki-laki apalagi prajurit, Gagat memiliki jiwa laki-laki sejati dimana akan memperlakukan wanita sebaik mungkin. "Eh beneran kak? nggak papa? soalnya aku yang mau nonton loh masak kakak yang antri. Nggak enak." Ucap Hira sungkan. Bagaimanapun juga gadis itu merasa agak bersalah dengan menganggu waktu libur Gagat yang semestinya digunakan untuk pulang mungkin karena prajurit juga jarang mendapat waktu libur jika sudah berdinas. "Nggak papa kok. Kamu duduk aja." Sementara itu di belakang antrian Hira nampak segerombolan remaja yang berbisik-bisik. "Aduh cowoknya gentle banget dan ganteng lagi. Pengen deh satu aja." Kalimat itulah yang berhasil Hira tangkap. Lantas gadis itu menatap penuh tanya ke arah remaja yang di taksir seumurannya itu. Kemudian Hira melotot tajam ke arah segerombolan remaja yang matanya tidak bisa di kondisikan dengan baik yaitu menatap Gagat tanpa berkedip. Gerombolan remaja itu lantas menunduk setelah merasa di pelototi pacar dari laki-laki yang menjadi bahan perbincangan mereka. Hira kesal lantaran mereka menatap tak sopan Hira lalu memilih duduk di kursi tunggu bioskop. Tak lama kemudian Gagat kembali dengan membawa dua tiket. "Maaf dapatnya jam satu. Tadi banyak yang antri." Ucap Gagat. "Eh iya nggak papa kak. Makasih ya kak." Ucap Hira. "Eh daripada kita nunggu lama. Kita makan aja yuk kak." Ajak Hira. Gagat yang tak tahu harus apa pun mengikuti Hira. Ternyata hari ini mall lumayan ramai. Banyak yang menggunakan weekend mereka dengan jalan-jalan ke mall. Banyak pula pasangan muda mudi yang dating berpasangan di mall tersebut. Hira menatap kedai makanan yang berjejer sambil mengingat uang yang ia bawa. Pikirannya jatuh ke uangnya yang tinggal tak seberapa itu. Ia ingin makan pasta tapi uangnya tak cukup. Hal itu membuat Hira menelan ludahnya dan memilih masuk ke kedai Boba Thai Tea. "Katanya makan? kok malah beli minum?" tanya Gagat. Hira hanya meringis. Mana mungkin ia jujur jika uangnya pas-pasan. Mana ATMnya ketinggalan pula. Jatah bulannya kali ini banyak yang berkurang karena ia belikan beberapa barang yang menurutnya penting. "Nggak jadi kak. Beli boba aja." ujar Hira. Gagat mengangguk dan tak bertanya banyak. Tugasnya hanya menemani anak atasannya saja. "Ini buat kakak." Hira memberikan satu boba ke Gagat yang sedang duduk di dekat pintu. Gagat lantas bingung menatap Hira yang menyodorkan satu buah boba. "Eh nggak usah dik." Tolak Gagat. Ia tak enak di belikan oleh Hira. Seharusnya ia yang mentraktir. Begitu pikirnya. "Nggak papa kak. Kakak udah nemenin aku ke mall kok." Ucap Hira. Kemudian Hira duduk di samping Gagat. Tempat mereka cukup strategis karena bisa melihat pengunjung mall dengan jelas. "Kok nggak pergi sama pacar dik? biasanya kalau weekend gini banyak yang keluar sama pacarnya." Setelah keheningan beberapa saat, Gagat memecahkan suasana dengan pertanyaan seperti itu. Hira yang sedang menyedot bobanya pun lantas menatap Gagat. Hira terkekeh kecil, "boro-boro pacar kak. Aku nggak ada." Gagat mangut-mangut dalam duduknya. Selain itu hatinya bersorak, ternyata gadisnya itu belum ada pacar. Eh gadisnya? mengapa ia terburu-buru mengklaim sebagai gadisnya? "Oh terus?" "Terus? ya nggak ada." Gagat tersenyum kecil, "eh kayaknya kamu panggil aku kak agak kaku. Panggil abang saja nggak papa kalau misalnya kamu kurang nyaman." Entah setan mana yang merasuki Gagat sehingga laki-laki itu berani menawarkan panggilan tersebut kepada gadis yang mungkin sulit ia gapai. Pikiran dan hati nuraninya bertolak belakang, hal itu membuat Gagat di rundung dilema berat. Hira sejenak diam. Lalu mengangguk, "boleh? apa nggak keberatan jika di panggil bang?" "Iya nggak papa kok dek. Panggil bang saja kalau misalnya kamu nggak nyaman soalnya aku denger kamu panggil kakak agak kurang nyaman." Gagat asal bicara itu. Laki-laki itu tak bisa menghentikan mulutnya yang lancang berkata seperti itu. Namun ternyata Hira menyambutnya dengan senyuman. "Hehe iya. Kemarin aku agak kaku ya maaf, tak kira kalau aku panggil bang agak nggak sopan soalnya kita juga bukan kakak beradik dan nggak terlalu dekat." 'Nggak terlalu dekat?' Gagat lalu terkekeh kecil, membuat laki-laki itu terlihat tampan. "Kamu sudah aku anggap adikku kok. Kamu mengingatkan abang sama adik abang yang sekarang di Sumatra. Kami jarang bertemu dan setiap liat kamu abang jadi ingat adik di sana." Gagat ingin sekali memukul mulutnya yang berkata seperti itu. Menganggap adik? bukankah hatinya menganggap Hira sebagai pujaan hatinya? tapi mana mungkin ia berkata jujur? Gagat belum siap dan masih ingin menikmati kedekatan dengan gadis yang sudah menguasai hatinya itu. "Kalau boleh tahu kenapa di Sumatra, nggak di Jawa?" "Kami berbeda ayah. Ibu menikah lagi setelah bercerai dengan bapakku dan melahirkan adik perempuan yang seumuran denganmu. Ibu ikut sama bapak sambungku yang bekerja di kebun sawit di Jambi." Hira ditempatnya mengangguk mengerti. Lalu gadis itu tak bertanya lagi dan fokus meminum bobanya. "Hira. Ngapain kamu disini?" Lantas Hira mendongak dan menemukan sesosok laki-laki yang berdiri menjulang tinggi dengan memakai jaket denim dan tatanan rambut rapi. "Barata?" .  .  .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD