17-28

1330 Words

Bibirnya masih mengisap permen loli yang ia beli tadi di warung sekolah sebelum mampir ke kampus sang kakak. Kini dia berdiri menyandar ke pilar gerbang. Sekuriti di sana sesekali melirik cowok berseragam SMA itu. "Jemput dek?" sapa sekuriti yang berperawakan tambun. "Iya, Pak. Kakak saya. Kemaren kena bully sampe luka. Pake cctv dong pak kayak di toilet atau tempat-tempat tersembunyi gitu. Biar ketahuan, atau Bapak patroli kek." Azril mendongak. "Kena bully? Udah lapor?" "Percuma lapor juga Pak, yang bully anak penggede. Kakak saya anak seni musik. Nih ini fotonya. Pokoknya kalo nanti cewek ini dibully, tolongin ya Pak?" ujar Azril dengan wajah memelas yang dibuat-buat. "Oh iya Dek, nanti kami perhatikan." "Kok diiya-in sih? Nanti kita yang susah," bisik sekuriti yang satunya. "A

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD