Prolog

1122 Words
Berpapasan dengan Airlangga Ananta Dharmawangsa di rumah ini adalah sesuatu yang wajar. Mengingat selesai permakaman mendiang bosku—Pak Radja Agung Dharmawangsa—, semua keluarga beliau masih berkumpul di rumah ini. Aku hanya mengangguk singkat untuk sekadar menyapanya. Lalu aku melewatinya begitu saja. "Menikahlah dengan saya, Akshita. " Langkah kakiku terhenti ketika mendengar ucapan lelaki itu. "Pernikahan terdengar kurang elok setelah Kakek baru saja meninggal. Tapi kita bisa menikah 3 bulan lagi," imbuhnya. Aku membalikkan tubuh dan menatap lelaki itu dengan pandangan menelisik. "Dan akan lebih elok lagi jika Pak Airlangga menikah dengan perempuan dari keluarga yang setara," sahutku. Lelaki itu pasti sedang mabuk karena tiba-tiba menawarkan pernikahan. Atau mungkin memang wajar saja, karena begitu Pak Radja meninggal, keluarganya berebut untuk menjadi pengganti. Mungkin ini adalah salah satu trik Airlangga agar bisa mengamankan posisi itu, dengan cara memanfaatkanku. "Kita setara, Shita. Kita satu kampus." "Maaf, Pak. Bapak bisa cari perempuan lain untuk dinikahi." Aku kemudian membalikkan badan lanjut melangkah. Aku sudah bekerja menjadi sekretaris Pak Radja selama 8 tahun. Aku sudah mengenal seluk beluk keluarga Dharmawangsa cukup baik. Termasuk betapa ‘kompaknya’ mereka dalam hal perebutan menjadi penerus Pak Radja. Yang mengherankan adalah, perebutan itu akan menjadi semakin berkobar karena Pak Radja tidak menunjuk spesifik siapa yang bisa menjadi penerusnya. Seolah lelaki tua itu ingin menyaksikan pertumpahan darah di keluarga ini karena saling merebut. "Kamu akan punya anak dengan nama belakang Dharmawangsa nantinya, beserta segala privilege yang melekat pada nama itu." Langkahku kembali berhenti. Dari dulu aku memang memimpikan bisa memberikan kehidupan penuh privilege pada anakku di masa depan. Karena aku merasakan begitu sulitnya besar dan menjalani hidup tanpa privilege dari orang tua. Menikah dengan putra keluarga Dharmawangsa terdengar sangat menggiurkan bagi perempuan yang ingin menjadi orang kaya sepertiku. Terdengar seperti jalan pintas yang sangat mudah. Terlebih sekarang Airlangga yang menawarkan pernikahan, bukan aku yang mengejarnya. "Hidup kamu juga akan berubah, Shita. Tidak perlu melayani keluarga Dharmawangsa lagi, kamu yang akan dilayani." Lihat bagaimana caranya merayuku. Sangat manis sekali. Ucapannya memang benar dan terdengar sangat menggiurkan. Aku menghela napas. "Saya tidak berminat, Pak. Bapak bisa cari perempuan lain." Setelah itu aku melenggang pergi. Tubuhku sudah sangat lelah karena dari pagi mengurus pemakaman dan mengurus begitu banyak tamu kenalan mendiang bosku yang datang melayat. Ditambah besok aku harus masuk pagi untuk membereskan barang-barang bosku di kantor. “Saya antar kamu pulang.” Suara lelaki itu terdengar lagi di belakangku. Aku menoleh padanya. “Tidak perlu, Pak. Saya sudah order taksi.” “Kalau begitu biarkan saja. Nanti saya beri dia tip. Kamu tetap saya antar. Ini sudah malam. Akan lebih aman kamu pulang dengan saya.” Aku menatap lelaki itu. Tidakkah dia tahu bahwa sebenarnya akan jauh lebih aman jika aku pulang bersama driver taksi? Jika ada yang perlu diwaspadai disini maka itu adalah dia, Airlangga Ananta Dharmawangsa. Cucu Pak Radja yang selama ini tinggal di Amerika dan bisa dibilang hubungannya dengan keluarga Dharmawangsa sangat dingin. “Kalau Bapak mengantar saya hanya untuk membicarakan mengenai pernikahan, akan lebih aman bagi saya pulang naik taksi.” “Saya mengantar kamu sebagai bentuk terima kasih karena kamu sudah mengabdi untuk keluarga ini. Juga karena kamu selalu mengabdi pada Kakek sampai akhir," ucapnya terdengar tulus. Aku pun terdiam. “Tolong, Shita. Saya antar, ya? Kakek akan marah kalau sekretarisnya pulang sendirian setelah berhari-hari mengurus pemakamannya begini.” Kami lama terdiam dan saling bertatapan. Aku jadi ingin menangis lagi karena teringat pada Pak Radja. Ujung tenggorokanku terasa sakit sekali karena menahan tangisan. Aku lantas menganggukkan kepala. “Tolong tunggu disini. Saya ambil mobil dulu,” ujarnya. *** Sepanjang perjalanan, antara aku dan Airlangga hanya ada keheningan. Aku sedikit lega karena lelaki itu tidak membahas mengenai pernikahan. Aku dan Airlangga itu satu kampus. Bahkan kami sudah satu sekolah sejak SMA. Semuanya bermula dari saat SMP aku memenangkan lomba yang diadakan oleh perusahaan Dharmawangsa. Berkat kemenangan itu, Pak Radja selaku Direktur Utama jadi mengenalku. Beliau menawarkan beasiswa mulai dari SMA hingga aku lulus kuliah. Jadilah aku menempuh pendidikan di SMA dan Universitas yang sama dengan Airlangga—cucu Pak Radja—. Setelah aku lulus kuliah, aku menjadi sekretaris Pak Radja dan bekerja untuk beliau selama delapan tahun lamanya. Sementara Airlangga, lelaki itu melanjutkan S2 di luar negeri, juga berkarir di luar negeri. “Saya tidak bisa membiarkan Om Kerta atau yang lainnya menjadi Direktur Utama dan mengambil alih Dharmawangsa Corp, Shita.” Oh, sepertinya pembicaraan mengenai pernikahan akan segera dimulai. “Dan saya butuh bantuan kamu. Kamu yang paling tahu seperti apa DW Corp. Kamu sudah 8 tahun berada di sisi Kakek dan memperhatikan bagaimana Kakek memimpin semuanya.” Aku memilih memandang ke sisi kiri jendela. Memperhatikan gedung-gedung tinggi yang dilalui. Aku tidak berminat untuk ikur terlibat dalam pertumpahan darah keluarga ini dalam berebut kekuasaan. “Besok adalah agenda rapat luar biasa Dewan Komisaris untuk pemilihan Plt. Dirut. Setelah itu Plt. Dirut akan menjabat, mungkin 6 bulan? 12 bulan? Saya tidak tahu pasti. Tapi yang jelas, saya punya cukup waktu untuk mengambil alih posisi yang harusnya Papa dapatkan,” ujar Airlangga. Napasku seketika terasa tercekat. Aku langsung menoleh ke arah Airlangga. Memastikan seperti apa ekspresi lelaki itu ketika mengatakannya. Ayah dari Airlangga bisa dikatakan adalah putra favorit Pak Radja. Yang nahasnya meninggal dalam kecelakaan 8 tahun lalu. Rumor mengatakan bahwa kecelakaan itu adalah sabotase akibat keirian saudaranya. Bukan hanya ayah Airlangga, ibunya juga meninggal dalam kecelakaan itu. Meninggalkan Airlangga hanya seorang diri dan semenjak itu, ia tinggal di luar negeri. “Karena itu kamu kembali ke Indonesia?” tanyaku. Yang kemudian tersadar bahwa aku sudah mulai keluar jalur. Memanggil Airlangga tanpa embel-embel Pak, sebagai bentuk penghormatanku sekaligus batas bahwa aku menganggapnya sebagai keluarga bosku. “Iya, Shita. Saya muak dengan bagaimana keluarga ini selalu berebut harta dan kekuasaan. Tapi saat tahu Kakek bahkan tidak menunjuk pewarisnya. Saya pikir ini saatnya untuk membalas kematian Mama dan Papa.” Airlangga kemudian menatap ke arahku sebentar. “Saya bahkan tidak paham kenapa Kakek malah tidak menunjuk pewaris. Secara tidak langsung, Kakek malah membuat keluarga ini kembali berperang untuk saling merebut.” Keheningan kembali menyelimuti kami hingga aku tiba di gedung apartemen tempat aku tinggal. Apartemen yang aku dapatkan sebagai fasilitas karena menjadi sekretaris Pak Radja. Begitu mobil berhenti, aku melepas seatbelt dan bergegas untuk keluar. Akan tetapi pintu mobil itu masih terkunci. “Pintunya masih terkunci,” ucapku seraya menoleh pada Airlangga. “Saya mau bicara sebentar," ujar Airlangga. Aku pun menghela napas seraya menyandarkan tubuhku di kursi. Mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa keluar dari mobil ini. Memaksa keluar pun, aku tidak ada tenaga. Airlangga nampak merogoh saku jasnya dan kemudian mengeluarkan kotak beludru berwarna hitam dari sana. Airlangga membuka kotak itu dan aku bisa melihat cincin berlian yang berkilauan. “Menikahlah dengan saya, Akshita. Jadilah istri saya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD