Chapter 1

1613 Words
Hari pertama bekerja di kantor setelah kemarin pemakaman Pak Radja. Kesibukanku adalah membereskan barang-barang mendiang Pak Radja di ruangannya. Entah berapa kali air mataku menetes setiap kali membereskan barang-barang milik beliau. Biar bagaimana pun, 8 tahun adalah waktu yang cukup lama untuk aku habiskan bekerja bersama beliau. Rasanya masih tidak percaya bahwa beliau sudah pergi meninggalkan dunia ini. HRD sebenarnya memberikanku cuti untuk berduka. Hanya saja aku tidak bisa. Ada begitu banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan. Termasuk hari ini akan ada rapat luar biasa Dewan Komisaris untuk memilih Plt. Direktur Utama atau pelaksana tugas Direktur Utama. Berhubung Pak Radja tidak menunjuk pewaris dalam surat wasiatnya, jadi Dewan Komisaris akan memilih pelaksana Direktur Utama untuk menjabat sementara, mengisi kekosongan jabatan yang Pak Radja tinggalkan. Pemilihan Direktur Utama mungkin 6 bulan lagi atau entah berapa bulan, tergantung hasil rapat Dewan Komisaris nanti. Masih ada cukup waktu untuk beres-beres sebelum aku ikut rapat itu untuk menjadi notulen rapat. Aku membereskan semua isi laci mendiang Pak Radja. Memastikan barang-barang itu dipindahkan ke ruang kerja di rumah beliau dengan aman. Saat membereskan laci, aku menemukan foto yang tersimpan ditempel dengan sebuah amplop. Untuk Akshita Saraswati Namaku tertulis pada amplop itu. Itu jelas tulisan Pak Radja. Lalu aku memandangi foto yang ada disana. Foto Pak Radja yang berada di tengah antara aku dan Airlangga. Foto itu saat aku dan Airlangga wisuda dari Universitas. Aku hendak membuka surat itu namun sebuah suara membuatku segera menyembunyikannya. “Butuh waktu berapa lama untuk beres-beres semua ini, Shita?” Suara Pak Kerta cukup mengangetkanku. “Mungkin 3 hari, Pak. Saya masih harus cek semua isi berkas-berkasnya lalu memilah mana yang harus tetap disini dan mana yang dibawa ke rumah.” “Hari ini memangnya tidak bisa selesai?” tanya beliau dengan ekspresi tidak suka yang begitu kentara. Aku pun mengalihkan pandangan menatap Sonya, sekretaris Pak Kerta yang juga turut masuk ke ruangan ini. “Plt. Dirut akan ditetapkan hari ini. Besok, ruangan ini harus sudah siap ditempati," ucap beliau mengingatkan. Sebenarnya aku bisa saja mengerahkan banyak sekretaris untuk membantu membereskan barang-barang Pak Radja supaya lebih cepat. Hanya saja, aku ingin menghormati privasi beliau dengan memastikan hanya aku yang membereskan ruangan ini. Lagi pula, kenapa Pak Kerta jadi begitu diktator? Aku bisa merasakan aura keangkuhannya begitu tinggi. Memangnya apa hak beliau memaksaku terburu-buru. Saat aku hendak menjawab ucapan Pak Kerta, tanpa ku duga, Airlangga datang masuk. “Biarkan Shita bekerja sesuai temponya, Om. Sonya atau siapapun, tidak berhak menyentuh barang-barang Kakek. Kalau Shita butuh bantuan, pasti dia sudah minta sejak awal.” Aku hanya diam menatap lelaki itu. Tidak heran kalau dia bisa dapat akses kantor ini meski tidak bekerja disini. Yang aku herankan adalah, apa yang dia lakukan disini? Pagi-pagi begini. “Justru kalau dibiarkan, dia akan santai. Dia harus tahu kalau perusahaan ini lagi hectic sekali karena harus mendadak transisi Dirut.” “Shita lebih tahu dari siapapun, Om. Shita yang paling dekat dengan Kakek selama ini. Dia jauh lebih mengerti betapa kacaunya perusahaan tanpa Kakek,” imbuh Airlangga. Pak Kerta kemudian tertawa. Jelas tertawa sarkas. “Shita. Saya mau ruangan ini sudah siap ditempati besok. Kamu bisa panggil Sonya kapan saja untuk bantu rapikan semua ini.” Setelah itu Pak Kerta pergi begitu saja meninggalkan ruangan, Sonya pun ikut pergi. Kini hanya tersisa aku dan Airlangga. “Kenapa masih disini?” tanyaku. Airlangga menatapku dan kemudian melirik sekeliling. Ia sengaja mengabaikan ucapanku. Aku memperhatikan pandangannya. “Ingin mengenang sebentar sebelum ruangan ini berganti pemilik,” ujarnya. Airlangga kemudian melangkah menuju sofa. Duduk disana dan menatapku. “Saya tidak akan mengganggu. Kamu bisa lanjut beres-beres.” Justru cukup dengan berada di ruangan ini saja, Airlangga sudah cukup menganggu. Aku jadi merasa diawasi. “Saya jarang datang kesini, Shita. Terakhir kesini apa waktu kita masih SMA? Seharusnya saya lebih sering kesini, ya?. Seharusnya saya berada di sisi Kakek dan belajar banyak padanya.” “Penyesalan memang selalu datang belakangan,” sahutku. Aku akan menyimpan surat dari Pak Radja dan membacanya nanti saja. Kehadiran Airlangga disini, benar-benar mengganggu suasana. “Kamu pulang jam berapa nanti?” “Belum tahu.” “Kalau sudah tahu, tolong kabari saya, ya? Nanti saya antar pulang.” Aku menatap Airlangga. “Ada Pak Tono yang antar saya pulang,” sahutku. “Drivernya Kakek?” Aku hanya mengangguk. "Kakek begitu sayang padamu, ya? Sudah meninggal pun, kamu tetap diperhatikan." Aku tidak tahu apa maksud ucapan Airlangga. Aku juga bingung harus bagaimana meresponnya. “Kalau besok berangkat ke kantor jam berapa?” tanya Airlangga setelah kami cukup lama hening saling berpandangan. “Saya diantar jemput Pak Tono,” jawabku. Jika maksud Airlangga menanyakan jam berangkat adalah dia ingin menjemputku, maka itu tidak perlu. Ada Pak Tono. "Driver Kakek, otomatis jadi driver kamu sekarang?" “Bisa tolong keluar dari ruangan ini? Maaf, kehadiran Pak Airlangga lumayan menganggu,” ucapku terang-terangan. "Kamu bisanya sekurang ajar ini pada Kakek?" Oh astaga kenapa dia ribut sekali dan banyak tanya?! Aku tidak tahu seperti apa ekspresi saat ini. Yang jelas aku menatapnya dengan pandangan tidak suka. “Padahal saya disini supaya kamu tidak kesepian. Supaya kamu tidak dikit-dikit menangis setiap lihat barang-barang Kakek. Kasihan mata kamu sudah bengkak begitu.” Aku menghela napas. Tidak habis pikir apa sebenarnya mau lelaki ini. “Kalau Bapak mau cari perhatian untuk tetap membujuk saya menikah, itu akan sia-sia saja. Saya sudah bilang kalau saya tidak mau,” ucapku. Airlangga berdiri dari duduknya dan melangkah mendekatiku. “Kenapa? Kamu sudah punya pacar?” Aku tidak puna pacar. Karena mana mungkin sempat berpacaran karena selama aku bekerja dengan Pak Radja, hidupku benar-benar terpusat hanya untuk beliau. Tidak ada waktu untuk berpacaran. “Bukan urusan Bapak.” “Urusan saya karena saya ingin menikahi kamu,” ujar Airlangga seraya berhenti di depan meja. Kini kami berhadapan dan hanya dipisahkan oleh meja besar. Aku menghela napas lagi. Entah sudah yang ke berapa kali ini. “Putri bungsu keluarga Soemitrodjoyo, lulus kuliah dalam waktu dekat. Pak Airlangga bisa menikahi dia dan akan dapat dukungan dari keluarganya untuk merebut status Direktur Utama,” ucapku memberi saran. Airlangga hanya butuh cara agar bisa merebut posisi Direktur Utama disaat ia tidak pernah terlibat di perusahaan ini sedikit pun. Akan sulit meyakinkan pemegang saham agar ia terpilih menjadi Direktur Utama. Selain minim pengalaman, usianya juga terbilang lebih muda dibanding paman-pamannya untuk memimpin. Gerilya politiknya apalagi. Jangankan berpolitik di perusahaan ini, Airlangga tinggal di luar negeri bertahun-tahun. Akan sulit mendapat dukungan dari pemegang saham mayoritas. Jadi saran yang bisa aku tawarkan adalah mencari keluarga cukup berpengaruh untuk menjadi besan yang bisa mendukungnya. “Michelle Soemitrodjoyo akan jadi trophy wife yang mengagumkan, tapi saya sedang tidak berminat menikahi ‘anak kecil’ seperti dia.” Jika melihat selisih usia antara Airlangga dan Michelle, memang terpaut 7 tahun. “Kalau begitu saya akan cari kandidat perempuan lain yang cocok untuk Pak Airlangga.” Airlangga tersenyum dengan hanya sudut bibirnya yang terangkat ke atas. “Saya maunya kamu, Akshita.” “Menikahi rakyat jelata seperti saya hanya akan membuat Pak Airlangga semakin sulit mendapatkan jabatan Dirut. Keluarga akan menjatuhkan dengan alasan tidak ada afiliasi keluarga mumpuni yang mendukung. Menikah dengan putri dengan keluarga konglomerat akan jauh lebih realistis. Pak Airlangga bisa minta bantuan mereka untuk beli beberapa saham dan membantu beri suara saat ada rapat. Atau minta mereka mengamankan afiliasi dengan pemegang saham mayoritas,” ucapku serius. “Saya sudah minta kamu jangan panggil Pak, kan? Panggil Arga saja.” Bukannya membalas ucapanku, dia malah membahas hal lain? “Bapak dengar tidak yang tadi saya bicarakan panjang lebar?” tanyaku mulai kesal. “Kamu tidak dengerin saya dan malah tetap panggil Bapak,” sahutnya. Oh astaga! Emosiku mudah sekali tersulut karena lelaki ini. Airlangga kemudian tersenyum. “Kamu menggemaskan kalau sedang marah begini.” Laporan tebal di tanganku ini, apakah boleh aku gunakan untuk menimpuknya? “Bapak tidak menghargai saya padahal saya sudah bicara panjang lebar tadi,” ucapku berusaha menahan kesabaran. "Kamu juga tidak menghargai permintaan saya untuk memanggil Arga saja." "Bapak yang tidak menghargai saya karena berada disini dan membuat saya jadi tidak fokus bekerja." "Saya memang semenawan itu, ya? Sampai kamu tidak fokus, Shita." Aku ingin membalas ucapannya namun berujung hanya membuka mulut karena kesal, sekaligus geli sekali mendengarnya yang begitu percaya diri. "Bapak berisik dari tadi." Airlangga tersenyum. "Kan saya sudah bilang. Saya tidak ingin kamu kesepian." "Saya butuh ketenangan untuk bekerja," sahutku kesal. Kami terdiam lagi dan saling berpandangan. Aku memilih mengalihkan pandangan dan berusaha lanjut lagi membereskan barang-barang. “Saya hanya butuh kamu untuk melawan mereka semua, Akshita. Saya akan sanggup melawan seluruh dunia, asal kamu membersamai saya. Saya tidak butuh putri dari keluarga konglomerat seperti yang kamu katakan. Dukungan dari keluarga Mama, sudah lebih dari cukup jika concern kamu adalah afiliasi pemegang saham mayoritas.” Aku hampir lupa kalau mamanya Airlangga adalah keluarga konglomerat yang memiliki cukup banyak saham di Dharmawangsa Corp. Pantas dia bisa seangkuh ini setelah bertahun-tahun seolah memutus hubungan keluarga dengan tinggal di luar negeri. “Saya hanya bisa membantu mencarikan kandidat yang cocok," ucapku menawarkan alternatif. “Kenapa tidak mau menikah dengan saya? Apa yang kamu mau? Saya akan turuti.” Aku mengangkat beberapa berkas yang begitu berat dan berniat meletakkannya dalam box yang akan diangkut ke rumah. Airlangga memperhatikan itu dengan cepat menghampiriku untuk mengambil alih itu. “Saya saja. Ini ditaruh dimana?” tanyanya seraya meraih berkas itu dari tanganku. “Box biru.” “Seharusnya kalau angkat yang berat-berat begini, kamu minta bantuan OB. Atau saya saja. Saya bantu angkat-angkat disini,” ujar Airlangga seraya menata berkas itu di dalam box biru. “Kembali ke pembicaraan kita tadi. Apa yang kamu inginkan, Shita? Apa yang harus saya lakukan supaya kamu menikah dengan saya?” tanya Airlangga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD