Chapter 2

1515 Words
“Dengan ini kami menetapkan Bapak Heru Santosa sebagai Pelaksana Tugas Direktur Utama, efektif hari ini. Selanjutnya Dewan Komisaris meminta Direksi untuk menyelenggarakan RUPS Luar Biasa dalam waktu enam bulan untuk memilih Direktur Utama Definitif.” Aku mengetikkan ucapan tersebut dalam notulen. Rapat komisaris berakhir dan sekarang posisi Direktur Utama akan dijabat oleh Pak Heru hingga enam bulan kedepan. Selesai rapat komisaris, aku mengucapkan selamat kepada Pak Heru begitu beliau terpilih sekaligus mohon maaf karena ruangan Pak Radja belum sepenuhnya aku bereskan. “Nggak masalah, Shita. Saya juga paham pasti ada begitu banyak barang. Saya tidak masalah.” Pak Heru memang cukup hangat dan ramah. “Saya mohon bantuan kamu ya, Shita.” Aku hanya tersenyum karir. “Saya juga mohon bantuannya, Pak.” *** “Kamu mau pulang jam berapa?” Aku yang sedang mengarahkan beberapa office boy untuk mengangkut barang pun menoleh ke arah pintu. Aku kira siapa yang tiba-tiba datang, ternyata Airlangga. “Belum tahu, Pak.” “Ini udah jam delapan malam, Shita.” Dua office boy sudah melangkah meninggalkan ruangan karena mereka membawa box berisi barang-barang Pak Radja. Tepatnya aku baru selesai membereskan barang dari ruangan pribadi Pak Radja. Seharusnya tinggal sedikit lagi, ruangan Pak Radja ini beres. “Biasanya juga saya pulang jam sebelas malam, Pak.” “Kakek sudah nggak ada tapi kamu masih saja pulang malam.” Aku melirik Airlangga. “Bapak ngapain kesini jam segini?” “Saya nungguin kamu.” “Buat apa? Saya pulang diantar Pak Tono.” “Buat ingetin kamu kalau ini sudah malam.” “Saya mau ini cepat selesai,” sahutku. Aku berharap besok ruangan ini sudah bisa ditempati Pak Heru dengan layak. “Masih bisa dilanjut besok. Kamu kelelahan begini. Menyiapkan pemakaman kakek saja kamu sudah cukup kelelahan. Tadi pagi juga kamu sendiri yang bilang ke Om Kerta kalau butuh 3 hari untuk bereskan semua ini.” Aku menghela napas. “Nanggung. Mending selesai sekarang.” “Kamu ini keras kepala sekali ya, Shita.” Aku memilih untuk mengabaikan ucapan Airlangga. “Saya boleh minta tolong nggak, Pak?” tanyaku. “Apa?” “Bisa tolong keluar dari sini?” pintaku. “Nggak bisa. By the way, kamu belum makan malam, kan?” Aku memang belum makan malam. Terakhir makan hanya saat siang, sebelum rapat komisaris. “Pasti belum. Saya bawakan makan malam. Kamu makan dulu.” “Nanti saja kalau sudah selesai.” “Kamu keburu pingsan kalau begitu.” Aku pun berdecak. Kenapa lelaki ini menyebalkan sekali? Kenapa dia jadi mengatur-atur begini. “Kamu makan setelah itu saya pergi dari sini.” Aku malas makan. Karena kalau makan sekarang, bawaannya jadi malas bekerja lagi. Sedangkan aku ingin agar beres-beres ruangan ini segera selesai. “Kamu nggak mau makan? Kalau begitu saya akan disini sampai kamu selesai.” “Terserah,” ucapku kemudian. Seorang OB datang kembali ke ruangan. “Bawa yang mana lagi, Bu?” Aku segera menunjuk beberapa box. Semua box itu sebenarnya sudah aku pisahkan dan pilah mana yang akan ditaruh di ruangan sekretaris untuk arsip khusus dan mana yang memang dibawa pulang ke rumah Pak Radja untuk diletakkan disana. “Yang box box ini di ruangan saya. Yang ini biarin aja ya besok pagi diangkut buat ke rumah,” sahutku. “Kamu besok ke rumah utama?” tanya Airlangga. Aku mengangguk. Besok pagi memang rencananya adalah meletakkan barang-barang pribadi milik mendiang Pak Radja di rumah beliau. Baru setelah itu aku kembali ke kantor untuk memulai hari baru sebagai sekretaris Pak Heru. “Saya ikut, ya?” “Untuk apa?” “Bantu bantu.” “Sudah banyak yang bantu,” sahutku. “Bantu kamu supaya tidak direcoki keluarga.” Memangnya keluarga Dharmawangsa akan merecoki apa? Aku kan hanya meletakkan barang di rumah Pak Radja. Itu juga akan dibantu asisten rumah tangganya. Lagi pula tidak ada barang berharga atau barang sensitif yang bisa memecah belah keluarga. Barang-barang di ruangan pribadi dalam ruang kerja ini kebanyakan hanyalah pakaian dan buku milik Pak Radja. Airlangga terkekeh. “Ekspresi kamu meremehkan sekali, Shita. Kalau kamu pikir mereka tidak akan merecoki kamu, kamu salah besar.” Airlangga yang sejak tadi duduk di sofa, kini melangkah mendekatiku. Dia melirik jam di tangannya kemudian menatapku. “Saat ini, di rumah utama, pembacaan warisan sedang berlangsung. Semua keluarga berkumpul disana untuk mendengar warisan apa saja yang mereka dapatkan.” “Dan kenapa Pak Airlangga malah disini? Bukannya ikut disana untuk rapat keluarga,” “Kenapa saya harus disana?” “Kan rapat keluarga. Apalagi ini pembacaan warisan.” “Saya tidak pernah menganggap mereka keluarga. Lagi pula soal warisan, saya akan dapat salinan wasiatnya nanti.” Kami saling menatap. “Harusnya Pak Airlangga ada disana. Untuk membaca gerak gerik yang lain. Supaya bisa menerka pergerakan yang lain juga. Kalau malah lain-lain begini, bisa saja tidak menyadari apa yang akan mereka lakukan.” Airlangga tersenyum. “Saya sudah bilang kan, Shita? Saya sanggup melawan mereka semua asal kamu membersamai saya. Kamu cerdas dan kamu paham taktik untuk menyikap keluarga Dharmawangsa lebih dari siapa pun,” ucapnya. “Tolong jangan bahas itu lagi, Pak.” “Menikah dengan saya tidak akan merugikan kamu, Shita. Kamu akan jadi Nyonya Dharmawangsa. Kamu tidak perlu lagi melayani kami. Kamu akan dilayani. Kamu bisa balas apapun perbuatan tidak menyenangkan yang dilakukan keluarga Dharmawangsa kepada kamu selama ini.” “Perbuatan tidak menyenangkan?” tanyaku pura-pura bodoh. “Iya. Memangnya mereka pernah menyenangkan kamu?” tanya Airlangga. Aku memilih tidak menjawab. “Harta saya juga banyak. Kamu bisa melakukan apapun yang kamu mau. Liburan, belanja.” “Pak Airlangga bisa cari perempuan lain yang menginginkan itu.” “Saya hanya punya waktu 6 bulan, Shita. Sebelum pemilihan Direktur Utama.” “Pak Airlangga punya cukup dukungan dari keluarga mamanya Pak Airlangga, kan? Jadi tidak perlu khawatir.” “Saya butuh bantuan kamu karena kamu yang paling tahu bagaimana kantor ini selama 8 tahun, Shita. Semua kebusukan orang-orang itu. Jelas kamu yang paling tahu.” Aku terdiam dan kami berpandangan cukup lama. “Hanya kamu yang bisa saya percaya.” “Dan kenapa saya harus percaya untuk menikahi Bapak?” tanyaku. Airlangga memajukan langkahnya. Membuat jarak antar kami menipis. “Saya sudah tanya pada kamu, kan? Kamu mau apa? Akan saya turuti, tapi jadilah istri saya Shita.” “Anu, Bu, Pak. Maaf banget. Ini boxnya sudah habis. Apa sudah selesai dulu saja untuk malam ini?” Pertanyaan itu membuatku menoleh pada OB. “Iya sudah. Kamu boleh pulang. Besok pagi tolong bantuin ngangkut barang lagi ya, Pak.” Dua OB itu pun mengangguk. Entah sejak kapan mereka masuk ruangan ini lagi. Aku hanya berharap mereka tidak mendengar terlalu banyak. “Sebentar,” ucapku. Aku melangkah menuju sofa dan mengambil tasku disana. Mengambil dompet dan mengeluarkan lembaran uang seratus ribuan. Tip untuk mereka karena mereka sudah membantu aku. “Terima kasih ya sudah bantu,” ucapku menyerahkan lembaran uang itu pada mereka. Dengan senyum sumringah, mereka pun berterima kasih kembali. “Wait,” ujar Airlangga. Aku pun menatap Airlangga yang mengeluarkan beberapa lembaran dollar dari dompetnya. Ah mungkin dia belum sempat tukar uang rupiah disini. “Apapun yang kalian dengar disini, anggap saja tidak dengar apapun ya,” ujar Airlangga menyerahkan lembaran dollar. Maksudnya uang tutup mulut? Dua OB itu pun menyengir kuda. “Aman kok, Pak. Kami kan bestinya Bu Shita.” Oh astaga kenapa mereka malah menunjukkan sikap santainya itu kepada Airlangga! “Terima kasih ya Pak, Bu. Bu Shita tolong jangan malam-malam pulangnya. Besok kan kerjaan masih banyak. Semangat ya, Bu.” Dua orang itu lantas pamit pulang “Makan dulu yuk?” ajak Airlangga kemudian. Dipikir-pikir, sebenarnya badanku juga rasanya seperti sudah rontok. “Saya makan di apartemen saja.” “Disini saja supaya perut kamu cepat terisi.” Aku menatap sekeliling untuk memastikan semuanya sudah selesai. Lantas pandanganku jatuh pada makanan di atas meja yang dibelikan Airlangga. “Terima kasih, Pak. Makanannya saya bawa ke apartemen saja,” sahutku. Aku melangkah menuju meja dekat sofa untuk mengambilnya, namun siapa sangka aku malah oleng. Langkah tidak benar dan aku malah hampir jatuh. “Tuhkan!” Aku kira akan jatuh ke lantai, ternyata Airlangga cukup sigap menahan tubuhku. Aku bisa merasakan dadanya yang kokoh di punggungku. Satu tangannya melingkar di pinggangku. “Kamu sudah hampir pingsan begini, Shita. Kita makan dulu disini.” *** Selesai makan bersama yang diselimuti keheningan, Airlangga memaksa untuk mengantarku pulang. Aku sudah tidak ada tenaga untuk mendebatnya. Alhasil aku meminta Pak Tono pulang dan Airlangga yang mengantarku pulang. “Besok kamu ke kantor dulu atau langsung ke rumah utama?” tanya Airlangga. “Ke kantor dulu.” “Besok saya jemput ya. Kamu mau jalan jam berapa?” “Nggak perlu, Pak. Ada Pak Tono.” “Saya lagi latihan jadi suami yang baik. Yang bisa antar jemput kamu.” Aku menghela napas mendengar omong kosong itu lagi. “Suami yang baik bukan berarti antar jemput setiap saat,” sahutku. “Lalu, suami yang baik idaman kamu seperti apa?” Aku masih diam dan Airlangga sudah bertanya lagi. "Saya harus jadi lelaki yang seperti apa supaya kamu mau menikah dengan saya, Shita?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD