Airlangga benar-benar membuktikan ucapannya. Lelaki itu datang menjemputku pagi ini. Dia bahkan sengaja memerintah Pak Tono agar tidak menjemputku. Tentu saja Pak Tono akan lebih mendengar perintah Airlangga yang merupakan bagian keluarga Dharmawangsa.
Aku terpaksa pergi ke kantor bersama Airlangga. Lelaki itu terus memaksa. Jadi aku biarkan saja dia mengantar ke kantor. Sebagai gantinya, aku hanya diam saja setiap dia mengajak bicara. Silent treatment karena aku juga sedang menghemat energi.
Kedatanganku di rumah utama rupanya disambut oleh Bu Fela, istri Pak Kerta. Wanita itu tersenyum sumringah padaku.
“Mau naruh barang-barang papa, ya?” tanyanya.
“Iya, Ibu.”
“Sebentar ya, Kris yang akan temani.”
“Oh bukan Tante yang temani di dalam untuk terima barang-barangnya?” tanyaku.
Bu Fela hanya menggeleng sambil senyum.
“Airlangga sayang, tumben berkunjung? Kita sarapan dulu yuk.”
“Saya datang untuk temani Shita, Tante. Thank you. Saya sudah sarapan.”
“Kenapa kamu menemani Shita?”
“Kak Kris juga kenapa harus menemani Shita?” tanya Airlangga balik.
Dari semua putra dan putri Pak Radja, hanya keluarga Pak Kerta yang tinggal di rumah utama ini.
Mungkin maksud Bu Fela adalah agar tetap ada tuan rumah yang menemani dan mengawasiku saat meletakkan barang-barang Pak Radja. Hanya saja kenapa harus Kris? Dari semua anggota keluarga Pak Kerta. Kenapa harus lelaki menyebalkan itu?
Bu Fela hanya tersenyum. Aku yakin beliau malas menjawab karena malas berdebat.
“Saya harus pergi karena ada urusan. Nanti bisa dibantu Kris ya, Shita. Airlangga, Tante pamit dulu ya.”
Wanita itu lantas pergi. Basa basinya tadi benar-benar basi ternyata.
“Mbak, kita bisa langsung ke kamar Pak Radja saja?” tanyaku pada asisten rumah tangga.
“Kuncinya dibawa Kak Kris, Mbak.”
“Kak Krisnya dimana?” tanyaku. Awas saja dia mempermainkan waktu.
“Disini,” sahut suara lelaki.
Aku menoleh pada lelaki itu yang muncul menghampiri kami.
“Airlangga? Tumben?” tanya lelaki itu.
Aku melirik Airlangga dan lelaki itu hanya mengangguk.
“Bisa kita cepat ke ruangan kakek? Ada banyak barang yang harus dipindahkan,” ujar Airlangga.
Kris pun mengangguk.
Kami melangkah menuju ruangan Pak Rajda. Dua OB dari kantor beserta Pak Tono dan dibantu tukang kebun rumah pun ikut membantu mengangkut. Di kamar Pak Radja aku berusaha menata beberapa barangnya. Aku lumayan beberapa kali kemari untuk mengambil beberapa baju atau pun perlengkapan yang Pak Radja butuhkan. Apalagi kalau sudah harus pergi ke luar negeri, biasanya aku yang packingkan bagasi beliau.
“Lo ngapain disini?”, pertanyaan itu dilontarkan oleh Kris kepada Airlangga.
“Nemenin Shita.”
“Wow. s**t? Yah sesuai nama. Abis tidur sama kakek, lo tidurin cucunya juga?”
Pertanyaan itu membuatku langsung menoleh pada lelaki c***l itu. Astaga, aku sesungguhnya sangat malas bertemu dengannya. Selain mulutnya suka bicara tidak sopan. Dia juga c***l.
“Maksud lo?” tanya Airlangga.
“Lah. Lo nggak tau, Air? Cewek ini jadi simpenan Kakek bertahun-tahun. Gimana sih? Lo digodain dia?”
Aku mengepalkan tangan karena kesal. Tuduhan itu sudah aku terima bertahun-tahun.
“Jaga mulut lo ya!”
Airlangga tahu-tahu sudah menarik kerah kaos polo yang Kris kenakan.
“Pak!” seruku panik. Aku langsung mendekati mereka. Para OB dan yang lainnya sudah jelas tidak berani melerai.
“Tuhkan. Lo udah tidur sama dia-”
Ucapan Kris itu tidak bisa selesai karena Airlangga tahu-tahu sudah melayangkan tinjunya.
“Pak Airlangga!” pekikku berusaha menahannya namun tenagaku tidak ada apa-apanya untuk menahan Airlangga.
“Tolong bantuin!” pekikku kepada Pak Tono atau siapapun. Akan tetapi mereka tidak ada yang berani bertindak.
“Gilak. Abis ini lo mau ditidurin siapa lagi, s**t? Bokap gue atau gue?”
“Jaga omongan lo ya!” pekik Airlangga malah mendorong Krisna hingga tubuhnya mentok di depan lemari.
Aku menyugar rambutku karena pusing harus bagaimana melerai dua orang itu.
“Loh bener kan. Dia itu cuma lonte.”
Lagi, Airlangga memukul Kris.
“Pak, jangan!”
Aku berusaha menahan tangan Airlangga.
Bingung harus bagaimana jadi aku memilih memeluk Airlangga saja dari belakang.
“Please, Pak. Jangan buat keributan. Tolong. Saya mohon.”
Kris kemudian terkekeh.
“Fix udah ditidurin juga kan lo,” ucapnya pada Airlangga.
“Bisa diem nggak!” pekikku pada Kris. Lelaki itu selalu saja menyulut emosiku tiap kami hanya berdua. Ya, lelaki itu hanya berani bertingkah saat berdua.
Dulu dia pernah hampir memperkosaku. Aku sudah melaporkannya pada Pak Radja. Tentu saja Pak Radja akan lebih membela darah dagingnya sendiri. Aku muak sekali saat itu. Yang bisa ku lakukan hanyalah meminta pertolongan profesional untuk memastikan mentalku tetap aman saat harus terpaksa bersinggungan dengannya.
“Wah, wah. Udah ada target baru makin sok-sokan ya,” ucap Kris.
“Sebenarnya lo ada masalah apa, sih? Sakit ya lo?” tanya Airlangga.
Kris hanya tertawa saja. Lelaki itu menepuk pundak Airlangga.
“Jangan sampe lo kena tipu daya l***e ini, Air.”
Aku yakin Airlangga ingin memukul sepupunya lagi. Aku masih memeluknya erat berusaha menahannya.
“Arga, please,” bisikku di punggungnya.
Lelaki itu lantas melangkah mundur dan aku pun melepas pelukanku pada Airlangga.
Aku kira sudah berakhir disana. Ternyata Kris bergerak menyerang. Terlalu cepat hingga aku hanya bisa memekik terkejut. Mereka jadi saling pukul.
“Pak tolong pisahin dong!” pekikku pada Pak Tono, OB, dan tukang kebun yang sejak tadi hanya diam saja.
“Nggak berani, Bu.”
Dua lelaki itu sudah saling baku hantam dan berujung Kris tumbang di atas lantai dengan Airlangga di atas tubuhnya.
“Mulut lo kayak orang nggak terdidik,” ucap Airlangga.
Aku langsung menarik narik lengan lelaki itu karena kini Airlangga hanya diam menatap Kris yang sudah lemas dan babak belur.
“Pak, please. Udah,” ucapku.
Aku tidak tahu apa yang terjadi antara dua lelaki ini.
Aku sudah biasa dihina oleh Kris seperti itu. Meski sangat ingin menamparnya, sejauh ini aku selalu berhasil mengendalikan emosi setiap berhadapan dengan Kris.
Airlangga bangkit berdiri sambil merapikan kemeja hitamnya.
“Barang-barang ini cukup ditaruh saja kan?” tanyanya padaku.
“Ada beberapa yang harus ditata,” ucapku.
Airlangga menoleh pada tukang kebun.
“Urusan menata kan bisa sama Mbak ART rumah ini,” ucap Airlangga.
Sebenarnya memang benar. Hanya saja, aku ingin melakukan pengabdian terakhirku. Mengingat Pak Radja selalu mengoceh karena tidak puas dengan kinerja ART rumahnya. Kurang rapi lah. Kurang ini lah. Kurang itu lah.
“Kita balik ke kantor sekarang, Shita.”
Sepertinya memang itu jalan terbaik. Aku mengangguk. Airlangga menarik tanganku dan kami keluar dari ruangan itu.
“Tolong diberesin ya,” pintaku.
Aku dan Airlangga berlalu meninggalkan Kris yang masih berada di lantai.
***
“Kenapa malah pukul-pukulan sih? Bisa bikin masalah,” ucapku begitu kami memasuki mobil.
“Orang aneh kayak dia emang harus dipukulin.”
Airlangga lantas berdecak.
“Kamu kenapa malah diam saja? Yang dia bicarakan tidak benar, kan?”
“Dia udah biasa buat ulah begitu. Sering caper. Jadi saya diamkan saja,” ucapku.
Airlangga menghela napasnya dan menyandarkan tubuh di kursi.
“Dia juga harus dapat balasan karena sikap jahatnya,” ujar Airlangga seraya memejamkan mata.
Aku memandang wajah lelaki itu yang kini terluka. Sudut bibirnya berdarah karena berkelahi tadi.
“Tetap saja bukan dengan keributan. Dia bisa saja manfaatin itu untuk hal yang malah bikin kamu rugi,” ucapku.
Airlangga membuka matanya dan kemudian menatapku.
“Dia harusnya dapat lebih banyak pukulan, Shita.”
“Ada P3K nggak?” tanyaku.
Sebab darah dari sudut bibir Airlangga terus mengalir. Jemari lelaki itu terulur ke depanku.
“Maaf,” ucapnya seraya mengambil barang dari dalam ruang penyimpanan dashboard depanku.
Aku lantas mengambil dari dalam sana.
“Lain kali jangan seperti itu lagi, Pak. Perkelahian keluarga sangat tidak elok disaat Pak Radja baru dikebumikan beberapa hari lalu,” ucapku seraya membuka kotak P3K tersebut.
“Pak? Kenapa jadi panggil Pak lagi sih?” tanya Airlangga.
Aku memilih diam saja sambil membersihkan luka di wajah lelaki itu.
“Kenapa diam?”
“Mending Pak Airlangga diam dulu karena saya harus bersihin ini.”
“Perih. Kamu bisa tolong pelan-pelan?”
Aku menghentikan pergerakanku.
“Maaf. Thank you tadi udah belain saya,” ucapku seraya lanjut membersihkan lukanya dengan lebih hati-hati.
Aku terlalu fokus hingga kemudian baru sadar bahwa jarak antara aku dengannya cukup dekat.
“Kakek bilang Kris pernah hampir memperkosa kamu. Saya heran apa yang ada di kepala Kakek. Harusnya, Kakek langsung bertindak saat itu juga. Tapi ya, namanya juga Kakek.”
Aku terdiam.
Pak Radja memberitahu itu pada Airlangga? Tapi kenapa? Untuk apa?
“Saya ingin pukuli dia lebih dari itu. Untuk setiap kata-kata buruk dia tentang kamu. Juga perilakunya yang kurang ajar. Pukulan saja sebenarnya masih kurang.”
Aku memilih untuk diam saja.
“Benar kan kata saya kemarin. Untung saya ikut. Kamu pasti akan direcoki oleh keluarga itu.”
Sepertinya kepalaku terlalu banyak pikiran sampai-sampai aku tidak ingat bahwa Kris yang luar biasa menyebalkan.
“Tapi mukanya jadi seperti ini,” ucapku.
“Kenapa? Kan tetap tampan. Aduh aw!” pekik Airlangga kesakitan. Dia bahkan reflek menyentuh tanganku seolah ingin menjauhkan tanganku dari wajahnya.
“Maaf,” ucapku. Sepertinya aku tidak sadar telah menekan lukanya terlalu kuat.
Airlangga memegangi tanganku dan mengarahkan agar aku lanjut lagi mengobatinya. Aku pun berusaha lebih lembut.
“Dulu waktu Kakek masih hidup saja, mereka berani berbuat seenaknya pada kamu, Shita. Sekarang Kakek sudah tidak ada. Kamu butuh power setidaknya untuk melindungi diri kamu sendiri.”
“Tidak perlu khawatir, Pak. Saya hanya tinggal satu bulan di kantor itu.”
“Arga,” ujar Airlangga protes. Lelaki itu bersikeras agar aku memanggilnya dengan sebutan itu. Sesungguhnya nama sebutan Arga itu adalah panggilan isengku pada saat SMP ketika baru mengenalnya. Sebab aku dulu keberatan memanggilnya Airlangga karena merasa terlalu panjang. Memanggil Ga, atau Air rasanya aneh. Jadi aku singkat sendiri saja menjadi Arga. Panggilan yang berlangsung hanya hingga SMA. Semenjak kuliah, aku mulai menjaga jarak darinya.
“Tetap saja. Bahaya bisa datang kapan saja, Sitha.”
Aku tahu Airlangga sedang menatapku lekat saat ini, namun aku berusaha fokus pada kegiatanku mengobati lukanya.
“Memangnya kamu tidak mau membalas semua perlakuan tidak menyenangkan yang mereka lakukan pada kamu?”
Aku menggelengkan kepala. Aku adalah tipikal orang yang tidak suka membalas dendam. Tipe yang menyerahkan semuanya agar Tuhan saja yang membalas. Aku hanya segera ingin selesai dari segala urusan dengan keluarga ini. Aku hanya perlu bertahan satu bulan lagi.
“Memangnya apa yang bisa saya lakukan, Pak? Tidak perlu sampai menikahi saya kalau Pak Airlangga ingin balas dendam.”
“Tapi saya butuh bantuan kamu. Akan lebih mudah kita bekerja sama dengan status pernikahan, Shita. Kamu tidak akan tersentuh mereka.”
“Saya tetap bisa bantu tanpa harus menikah, Pak.”
Airlangga terdiam. Lalu aku bisa merasakan elusan pada tanganku. Aku bahkan baru sadar sejak tadi tangan kiri Airlangga ternyata masih memegangi tangan kananku.
“Tolong beri saya kesempatan satu bulan. Untuk menunjukkan kenapa kamu harus menikahi saya.”