“Kamu sudah mengajukan one month notice ya, Shita?”
Pertanyaan dari Pak Heru itu membuatku mengangguk.
“Iya, Pak.”
“Sayang sekali. Padahal kalau kamu lanjut, akan sangat membantu saya. Bahkan Direktur Utama terpilih nanti.”
Aku hanya bisa tersenyum. Lagi pula delapan tahun sudah lebih dari cukup untuk mengabdi disini.
“HRD sudah mulai ajukan beberapa kandidat untuk saya interview. Tapi saya boleh minta bantuan kamu saja yang interview mereka? Nanti opsi dari kamu, baru di akhir saya tentukan.”
“Baik, Pak.”
Aku menyerahkan beberapa berkas untuk ditandatangan Pak Heru. Seraya menjelaskan berkas-berkas tersebut.
“Ngomong-ngomong, kamu dan Airlangga sedang dekat?” tanya Pak Heru kemudian.
“Maksudnya, Pak?” tanyaku.
“Dia sering sekali datang kesini untuk kamu. Orang-orang di kantor lumayan membicarakan. Setahu saya juga Airlangga dulunya tinggal di luar negeri, kan? Semenjak Pak Radja meninggal, dia jadi sering nongol di kantor ini. Saya malah kira kamu resign karena akan menikah sama dia.”
Selama aku mengenal Pak Heru, beliau adalah sosok yang cukup cuek mengenai gosip di kantor. Berbeda dengan Direktur-direktur lain yang ku kenal sejak lama. Beberapa memang suka approach padaku untuk make sure gosip-gosip yang ada di kantor.
“Sebenarnya saya tidak mau ikut campur ya, Shita. Tapi kalau kamu memang sedang dekat dengan Airlangga, saya mendukung sekali. Dia anak yang baik.”
“Saya dan Pak Airlangga hanya sebatas hubungan profesional saja, Pak.”
Pak Heru hanya manggut-manggut saja.
***
“Sudah makan malam belum?”
Pertanyaan itu muncul dari Airlangga yang menunggu di lobi. Dia menghampiriku begitu aku keluar.
“Sudah.”
“Mau langsung pulang?” tanyanya seraya mengikuti arah langkahku.
“Pak Airlangga bisa tolong berhenti antar jemput? Saya sudah mulai digosipkan sekantor.”
“Digosipkan apa?”
“Menggoda keturunan Pak Radja supaya tidak didepak dari sini,” sahutku.
“Gosip mereka salah. Yang menggoda kan saya.”
“Tapi mereka tidak tahu soal itu.”
“Padahal kan yang sering cari perhatian ke kamu itu saya? Masak mereka tidak tahu,” sahutnya.
Aku berhenti di luar. Taksiku seharusnya tiba sebentar lagi.
“Nah itu dia mobil saya,” ujar Airlangga.
“Saya sudah pesan taksi.”
“Tidak apa-apa nanti biar driver saya yang naik taksinya. Kamu naik mobil saya saja.”
“Pak Airlangga,” ujarku memohon.
“Kamu harus belajar menghargai niat baik orang lain, Shita.”
“Bapak juga harus belajar mengindahkan permintaan saya, Pak. Saya benar-benar minta tolong sekali. Saya hanya ingin resign dari sini dengan damai,” ucapku.
“Kamu tidak tahu sebahaya apa di luaran sana, Shita.”
“Sebenarnya bahaya apa yang harus saya hadapi sampai Pak Airlangga seberlebihan ini?” tanyaku.
“Kamu tidak tahu betapa keluarga saya membenci kamu, Shita.”
“Kenapa mereka harus membenci saya?”
“Kamu akan tau.”
Taksi yang aku pesan sudah tiba. Aku meliriknya dan kemudian pamit dulu dari Airlangga.
“Saya naik taksi saja. Maaf, Pak.”
“Kalau begitu saya ikuti dari belakang untuk memastikan kamu aman.”
***
Saat tiba di apartemen, aku terkejut bahwa aku mendapatkan seorang tamu. Pengacara Pak Radja yaitu Pak Paul ternyata sudah menungguku. Aku pun mengajaknya datang bertamu.
“Maaf saya mengganggu malam-malam ya, Shita.”
“Tidak masalah, Pak. Ada apa? Apa ada masalah?” tanyaku.
Pak Paul menyerahkan sebuah berkas padaku. Entah itu apa.
“Ini apa, Pak?” tanyaku.
“Ini adalah surat wasiat dari Pak Radja. Saya diminta untuk menyerahkan ini kepada kamu dan mengurus semuanya tanpa sepengetahuan keluarga.”
Aku mulai berdebar. Aku membuka berkas itu dan kemudian membaca isinya.
“Ini maksudnya apa?” tanyaku dengan mata membelalak.
Pak Radja memberikanku warisan berupa tanah, rumah, yayasan, serta harta lainnya. Aku jadi merinding. Ini terasa aneh dan sangat berlebihan. Aku bukan siapa-siapa beliau.
“Pak Radja memang menyisihkan beberapa hartanya untuk diwariskan kepada kamu. Permintaan ini secara pribadi dan tidak ada yang tahu. Saya juga minta tolong kamu agar merahasiakan ini supaya tidak timbul perseteruan keluarga.”
“Saya tidak bisa menerima ini, Pak.”
Keinginanku hanyalah segera pergi menjauh dari keluarga Dharmawangsa dan menjauh dari apapun itu hal yang berhubungan dengan mereka. Tapi malah tiba-tiba diberikan warisan seperti ini.
“Kamu tidak bisa menolak, Shita.”
“Saya merasa tidak pantas mendapatkan ini. Lagi pula saya bukan siapa-siapa,” ucapku.
“Pak Radja memberikan semua ini pasti dengan berbagai pertimbangan, Shita. Anggap saja ini bonus karena kamu sudah bekerja sangat baik sebagai sekretaris beliau selama ini.”
Aku menggeleng.
“Saya sudah cukup dapat banyak bonus selama bekerja jadi sekretaris Pak Radja, Pak. Warisan ini terlalu berlebihan untuk karyawan seperti saya.”
Pak Paul menghela napas.
“Saya menolak warisan ini, Pak.”
“Apabila saudari Shita menolak menerima warisan hari ini, seluruh bagian warisan akan tetap dikelola pelaksana wasiat selama dua tahun.”
Aku mendengarkan Pak Paul membacakan ketentuan penolakan warisan itu. Astaga kepalaku pusing sekali.
“Sebentar, Pak. Saya juga dapat saham Dharmawangsa Corp?” tanyaku ketika baru teringat.
Pak Paul mengangguk.
“Berarti saya juga bisa memilih Direktur Utama dalam RUPSLB?” tanyaku.
Pak Paul mengangguk lagi.
Oh sialan, kepalaku benar-benar terasa pusing sekali. Aku terjebak dalam pusaran perang keluarga ini.
“Pak Airlangga tahu soal ini?” tanyaku.
“Tidak ada pihak keluarga yang tahu. Jika ada, pasti mereka sudah mendatangi kamu, Shita.”
“Pak Airlangga mendatangi saya,” ucapku.
Apa Airlangga sudah tahu lebih dulu soal ini? Jadi dia mengincarku.
“Itu tidak mungkin. Kerahasiaan ini terjaga.”
Baiklah, berarti aku hanya berburuk sangka. Tapi gelagat Airlangga, seolah dia tahu semua ini. Dari caranya memperingatkanku bahwa aku dalam bahaya. Bahaya ini kah yang dia maksud?
***
Aku sangat jarang cuti bahkan sepertinya bisa dihitung jari cuti selama delapan tahun kerja. Lalu hari ini, aku sengaja mengajukan cuti untuk bisa datang ke panti asuhan tempat aku besar. Panti asuhan yang sebenarnya adalah yayasan milik keluarga Dharmawangsa. Seluruh hidupku benar-benar berhubungan dengan Dharmawangsa. Mulai dari tinggal dan besar disini, lalu diberikan beasiswa hingga kuliah. Bekerja sebagai sekretaris Pak Radja, adalah salah satu bentuk balas budiku pada mereka selama ini. Itu sebabnya tidak peduli betapa aku ingin menampar para lelaki di keluarga Pak Radja ataupun ingin menjambak rambut perempuan-perempuan di keluarga itu, aku selalu berusaha menahan diri sebagai bentuk penghormatan dan balas budi atas jasa mereka.
“Shita? Kamu tidak kerja?”
“Lagi cuti untuk hari ini, Bu. Lagi kangen kesini,” ucapku pada Bu Eni.
Beliau sudah aku anggap seperti ibuku sendiri.
“Sudah makan belum? Kalau belum, Ibu masakkin ya,” ucapnya.
“Aku cuma ingin ngobrol dengan Ibu.”
Bu Eni tersenyum. Kami melangkah menuju taman belakang panti. Duduk di salah satu gazebo yang ada disana.
“Kamu masih bersedih ya karena Pak Radja?” tanya Bu Eni.
Aku bingung harus menjawab bagaimana. Satu sisi aku memang sedih karena kepergian beliau. Sisi lain aku merasa bingung. Mendapatkan warisan sebanyak itu dari beliau.
“Aku sudah mengajukan resign dari perusahaan itu, Bu.”
Tangan Bu Eni pun mengusap pundakku.
“Ibu akan mendukung apapun keputusan kamu. Kalau memang sudah tidak kuat disana, tidak apa-apa.”
Aku mengangguk. Aku masih kuat saja bekerja disana. Bekerja disana menyenangkan. Hanya saja, aku malas terlibat lagi dengan keluarga itu.
“Pak Airlangga melamarku,” ucapku kemudian.
“Yang satu SMA dan kampus sama kamu itu?” tanya Bu Eni terlihat antusias.
Aku menganggukkan kepala.
“Wah bagus dong.”
Aku langsung menoleh pada Bu Eni.
“Dia itu kelihatan anak baik-baik, Shita. Dari semua keluarganya Pak Radja, selain Pak Radja, ya hanya dia yang ramah dan baik kesini. Kelihatan tulus juga.”
Aku melirik Bu Eni.
“Dia kan sering datang kesini dulu. Selama tinggal di luar negeri juga suka kirim orang kesini untuk donasi.”
Sepertinya aku salah jika ingin mencari pandangan netral dari Bu Eni. Bu Eni malah kelihatannya sangat pro kepada Airlangga.
“Sebenarnya Pak Radja itu dulu pernah bahas soal kamu dan Airlangga.”
Aku langsung menatap intens Bu Eni.
“Maksudnya, Bu?”
“Kayak menjodohkan. Oh iya. Sebenarnya Pak Radja juga ada titip pesan ke Ibu. Katanya jika beliau sudah meninggal, minta untuk diberikan ke kamu.”
Mataku membulat. Apalagi ini?
“Sebentar ya.”
Bu Eni pergi ke dalam terlebih dahulu. Tidak lama kemudian beliau memberikan sebuah kunci padaku.
“Ini apa, Bu?”
“Kunci. Sebenarnya Ibu juga bingung ini kunci apa. Pak Radja tidak mau kasih tahu. Intinya hanya titip ini saja.”
Baiklah ini seperti main tebak-tebakan.
“Oh iya. Ngomong-ngomong soal Airlangga. Dia hari ini mau datang kesini loh.”
“Kok bisa?” tanyaku.
“Dia lumayan sering kontakan dengan Ibu. Makanya kalau dia melamar kamu, Ibu akan sangat setuju sekali. Ibu mendukung kalian.”
“Kontakan?”
Bu Eni mengangguk.
“Ya, kirim-kirim pesan begitu sih. Bukan yang sering banget. Beberapa kali suka tanya kabar dan tanya kondisi panti. Intinya memastikan tidak ada yang kekurangan. Dia juga bantu biayai anak-anak sampai kuliah.”
“Hah?” tanyaku heran.
Bu Eni tersenyum.
“Dia minta ini dirahasiakan tapi Ibu pengen beritahu kamu soal ini. Mumpung kamu lagi cerita soal dia juga.”
Bu Eni melihat ponselnya.
“Nah ini dia sampe. Sudah di depan katanya. Yuk ke depan.”
Aku menggeleng.
“Ibu saja yang sambut. Aku disini saja.”
***
“Kamu ngikutin saya ya?” tanya Airlangga saat menghampiriku di gazebo. Aku tidak tahu kalau dia tiba-tiba datang kesini.
“Enggak,” sahutku.
Airlangga mulai cengar-cengir.
“Saya sudah jauh-jauh hari merencanakan datang kesini,” ucapnya.
Aku memutar bola mataku malas. Memang sih aku cukup impulsif datang kemari. Akan tetapi ya mana tahu kalau dia juga berencana datang kemari.
Lelaki itu kini mengambil posisi duduk di sebelahku.
“Disini adem ya. Banyak anak-anak. Kamu sering kesini?” tanya Airlangga.
Sesungguhnya aku cukup jarang datang kemari. Jika dipikir-pikir, iya juga sih. Aku jarang sekali datang kemari. Terlalu sibuk bekerja.
“Jarang karena sibuk bekerja ya?” tebak Airlangga.
Aku memilih untuk diam saja.
“Kalau nanti kita menikah, kamu boleh kok sering-sering kesini.”
Aku tiba-tiba merasakan pergerakan Airlangga yang menggeser duduknya agar semakin dekat denganku.
Dia kemudian berbisik.
"Pak Kerta sudah mulai bergerak untuk membentuk afiliasi. Saya juga sedang mata-matai keluarga yang lain. Mereka mulai bergerak juga, Shita."
Aku menoleh dan cukup terkejut karena kita jarak wajah kami terlalu dekat. Aku bahkan bisa merasakan deru napas Airlangga di wajahku. Reflek aku memundurkan kepalaku sedikit.
"Kamu ini memang ingin dikejar ya, Shita? Atau kamu mau kita main pacar-pacaran dulu supaya tidak membuat yang lain curiga?"
"Katanya kamu minta satu bulan untuk diberi kesempatan," ucapku mengingatkan ucapannya kemarin. Baru kemarin padahal Airlangga bicara begitu.
Lelaki itu lantas tersenyum.
"Kamu mau jadi pacar saya, Shita?"