The Truth (2)

1385 Words
Masih) Sepuluh tahun yang lalu.. Semenjak kejadian seminggu yang lalu, di mana Anna tidak dapat pengakuan dari ayahnya, Anna terlihat murung. Bahkan tak sesuap nasi pun masuk ke dalam tubuhnya kalau tak dipaksa oleh Marini. Anna pun sudah 4 hari ini membolos sekolah. "Ayah... " "Sakit...." "Anna kangen..." Marini nampak khawatir dengan Anna yang kini tengah mengigau tentang ayahnya. Keringat dingin mengalir deras di keningnya. Marini memeriksa suhu Anna, Anna demam. Karena panik, Marini langsung membawa Anna ke klinik terdekat yang dekat dengan rumahnya. Anna dinyatakan terkena tifus. Marini merasa bersalah dengan kondisi Anna saat ini. Ia tahu betul apa yang menyebabkan Anna sakit. Anna merindukan ayahnya. Merindukan ayahnya. Marini merasa dadanya begitu sesak. Ia tidak ingin Anna merasakan apa yang ia rasakan dahulu. Ia tidak ingin putri kesayangannya itu merasakan tidak diharapkan, tidak di akui bahkan dibuang oleh orang yang benar-benar amat dirindukan. Sakit. Anna bangkit dari tidurnya di sofa, semenjak pulang dari klinik tadi badan Anna terasa lemas. Kepalanya juga sangat pusing. Wajah Anna terlihat pucat. Marini yang melihat Anna langsung membantunya untuk duduk. Keduanya masih sama-sama diam, sibuk dengan pikirannya masing-masing. "Ibu..." Panggil Anna dengan suara lirih, begitu lirihnya sampai tak terdengar. "Apa yang terjadi? Ayah pasti bercanda kan Bu? Ayah.. Ayah pasti mau kasih aku surprise buat ulang tahunku. Iya kan, Bu?" Marini hanya diam, tak membalas pertanyaan Anna. Bulir-bulir air mata menetes membasahi rok yang dipakainya. "Kenapa Ayah tega sama kita, Bu? KENAPA?!" Emosi Anna meledak. Di tengah badannya yang terasa sangat lemas, Anna berusaha untuk mengeluarkan segala tenaganya. Marini langsung memeluk Anna dan mengusap punggung Anna dengan lembut. Sementara Anna tambah menangis dibahu ibunya. "Itu sebabnya ibu melarangmu bertemu dengannya. Ibu takut kamu merasakan apa yang ibu rasakan. Dan ketakutan ibu akhirnya terjadi juga." Marini merenggangkan pelukannya dari tubuh Anna, kemudian menatap wajah putrinya yang sembab, "ibu akan ceritakan semuanya padamu, Nduk." =Never Let You Go= Flashback Marini Marini berjalan di atas trotoar, mengesampingkan rasa panas akibat terik matahari yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Keringat membasahi kening dan seluruh wajahnya. Bahkan bajunya juga ikut basah di bagian-bagian penghasil keringat. Tangan kirinya menenteng tas belanjaan, sedangkan tangan kanannya membawa kardus. Marini terpaksa menjadi kuli panggul di pasar untuk menghidupi anak perempuannya yang kini masih duduk di bangku sekolah dasar. Dahulu semenjak suaminya masih ada, keluarga Marini termasuk dalam keluarga yang berkecukupan. Namun, semenjak kepergian suaminya, Marini rela menjadi tulang punggung keluarga kecilnya. Ia banting tulang setiap hari untuk mencari sesuap nasi dan biaya sekolah Anna, putrinya. Suaminya menghilang setelah mengalami kecelakaan pesawat terbang. Sampai saat ini Marini tidak tahu apakah suaminya masih hidup atau sudah meninggal dunia. Marini ingin sekali bertemu dengannya. Marini meletakkan tas belanjaan serta kardus di bagasi mobil berwarna hitam metallic milik ibu-ibu yang memakai jasanya. Ibu itu masih terlihat cantik, Marini menebak kalau umur ibu itu di bawahnya. Ibu itu memberi uang lima ribu rupiah sebagai tanda balas jasa. Marini pun berucap terima kasih dan langsung pergi. Ia menghentikan langkahnya saat melihat seseorang. Orang itu masuk ke dalam sebuah toko perhiasan yang letaknya tak jauh dari parkiran pasar. Ia berjalan mendekat, ia menunggu sampai seseorang itu keluar. Betapa terkejutnya ia saat melihat orang itu. Tebakkannya pasti benar! Seseorang yang selama ini di nantinya, orang yang selalu diharapkannya untuk pulang, kini berada di depan matanya. Jantung Marini berpacu sangat cepat dan kakinya bergetar hebat. Marini lari terseok menghampiri orang itu. "Mas Arman.. Kamu Mas Arman, kan?" Marini memastikan bahwa orang itu adalah suaminya, Ayah dari anaknya. "Maaf kamu siapa ya?" Mata Marini terbelalak karena terkejut. Bagai disambar petir ditengah hari rasanya ia menghadapi kenyataan ini. Iya yakin seratus persen kalau laki-laki dihadapannya adalah suaminya. Marini melirik kearah tangan laki-laki itu, tepatnya ke jari manisnya, tapi tak ada cincin nikah mereka di sana. Sedangkan yang dipanggil Arman sibuk menilai-nilai penampilan Marini dari atas sampai bawah. Ia mengerutkan keningnya dengan wanita sok kenal di depannya ini. "Mas Arman, suamiku.." Laki-laki itu berjengkit ngeri saat wanita dengan tampilan layaknya orang gila mengakuinya sebagai suami. Seingatnya istrinya hanya ada satu. Yaitu Hilda yang tengah menunggunya di rumah. "Kamu pasti salah orang!" Arman menepis tangan Marini yang memegang lengannya. Marini menggeleng, ia sudah putus asa sejak kepergian Arman, kalau saja tidak ada Anna mungkin Marini sudah bunuh diri. "Mas aku Marini, istri kamu. Ayo kita pulang ke rumah. Anna sedang menunggu kamu di rumah. Dia sangaaat merindukan kamu, Mas." Marini tak kuasa membendung tangisnya. Mati-matian ia menahannya, akhirnya pertahanannya itu runtuh seketika. Namun Arman tak mempedulikan tangisan Marini, ia berjalan begitu saja menuju mobilnya. "Mas.. MAS ARMAN!!!" Teriak Marini, ia tak menghiraukan pandangan mata dari orang-orang sekitar pasar yang menatapnya dengan tatapan aneh. Mungkin orang-orang berpikir bahwa dia gila. Gila karena kehilangan suami. ***** Marini telah sampai di depan rumah bergaya minimalis. Ia berjalan menuju pintu rumah itu kemudian memencet bel. Satu kali, tak ada yang membukakannya pintu. Hingga hitungan ke tiga pintu itu terbuka. Seorang wanita berumur tiga puluhan berdiri di depannya. Raut wajahnya terlihat bingung karena kedatangan Marini. "Maaf cari siapa ya Bu?" Tanya wanita itu. Meski umur mereka hanya terpaut sedikit, namun penampilan Marini jauh lebih tua dari umur sebenarnya. Karena Marini tidak lagi merawat tubuhnya. Boro-boro untuk perawatan, untuk makan saja susah. "Mas Armannya ada?" Wanita itu mengerutkan kening. Ia tidak tahu maksud Marini. "Sayang, siapa yang datang?" Tepat! Orang yang dimaksud Marini keluar. Jantung Marini hampir mencelos saat Arman merangkul bahu wanita di hadapannua ini. Marini mengatur napasnya sebisa mungkin. "Kamu lagi?" Tanya Arman sarkastis. Ia benar-benar tidak menyukai akan kehadiran Marini di sini lagi. "Mas kita perlu bicara." Wanita yang di panggil 'sayang' oleh Arman terlihat bingung dengan perkataan Marini. Tanpa mempedulikan Marini, Arman langsung membanting pintunya. ***** Hilda tak tega dengan Marini. Hampir setiap hari Marini mengunjungi rumahnya. Berjam-jam berdiri di depan halaman rumahnya agar diberikan waktu bicara oleh suaminya. Namun suaminya itu tak mau bertemu dengan Marini. Hilda sampai bingung sebenarnya apa hubungan antara suaminya dengan wanita ini? Karena penasaran, akhirnya Hilda membiarkan Marini masuk rumah. Marini sangat senang. Namun Arman tak ada di rumah sekarang, ia sedang berada di kantor. Namun hal itu tak masalah, Marini hanya ingin mendapat penjelasan dari Hilda kalau Arman itu benar-benar suaminya. Orang yang selama ini sangat dirindukannya. "Apa benar laki-laki itu bernama Arman?" Tanya Marini langsung tanpa basa-basi. "Bukan. Dia Ardy suami saya." Jawab Hilda dengan tenang. "NGGA MUNGKIN! DIA ARMAN SUAMI SAYA!!" Ucap Marini histeris. Air matanya sudah mengalir membasahi kedua pipinya. PLAK! Marini memegang pipi sebelah kiri yang baru saja di tampar oleh Hilda. Sakit. Marini yakin kalau tamparan itu akan membekas. "KALAU KAMU MENGAKU-NGAKU MAS ARDY ADALAH SUAMI KAMU, PERGI DARI SINI!!" Hilda berteriak tak kalah kencang. Ia benci dengan Marini, bisa-bisanya dia mengaku kalau Ardy adalah suaminya. "NAMANYA ARMAN, BUKAN ARDY!" "PERGI!!!" ***** Marini tertatih-tatih untuk sampai ke rumahnya. Kalau kenyataan ini akan menghancurkannya berkeping-keping, lebih baik selamanya ia tidak pernah tahu. Biarkan ia menyimpan nama Arman selamanya di hatinya. Tidak ada kebencian ataupun penyesalan. Tapi ia sudah terlanjur tahu. Dari pertemuannya dengan Arman dan Hilda tadi, Arman lebih memilih untuk hidup bersama dengan Hilda. Beberapa tahun lalu, saat Arman mengalami kecelakaan pesawat terbang, pesawatnya jatuh ke laut. Beruntung ada Hilda yang menolongnya hingga Arman selamat. Kondisi Arman saat itu sangatlah parah, bahkan ia sampai amnesia. Sebagian memorinya menghilang, ia tidak ingat lagi dengan Marini ataupun dengan putrinya. Langit mendung dan suara petir menggambarkan hatinya saat ini. Dan disaat hujan turun, Marini tak kuasa menahan air matanya untuk tidak terjatuh. Di saat yang bersamaan air matanya ikut meluruh. Marini tak kuasa menanggung beban yang dideritanya selama ini. Marini menangis tersedu-sedu bersamaan suara petir yang menyambar. Air matanya menyatu dengan air hujan. Alampun ikut menangis karena ikut merasakan penderitaannya. Marini berjalan menuju pinggir jembatan. Bisikan jahat di hatinya berkata bahwa ia lebih pantas untuk mati saja. Marini sudah lelah dan tak sanggup lagi untuk menanggung ini. Namun suara Anna yang sedang tertawa lepas terngiang-ngiang di kepalanya. Semua memorinya bersama Anna terekam begitu saja. Putrinya itu masih kecil, kalau ia mati siapa yang mengurus Anna? Kalau ia mati, apa Anna bisa tetap bahagia? Kalau ia mati, apa Anna tidak akan malu mempunyai ibu yang bermental kapas seperti ini? Sejak saat itu, Marini bertekad menjadi ibu yang kuat untuk Anna. Sebisa mungkin ia akan membesarkan Anna dan memberikan yang terbaik untuk putri kecilnya itu. Termasuk dalam pendidikannya Anna. Ia harus kuat, demi Anna. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD