Annasentris

1810 Words
Anna terduduk lemas di kursinya. Semenjak dari Lapas tadi, kakinya terasa tak bertulang. Semua kenyataan yang baru saja ia hadapi seakan terasa mimpi. Mimpi buruk. Dan Anna ingin cepat-cepat terbangun dari tidurnya. Nyatanya ini bukan mimpi. Kenyataan yang harus ia terima. Ia bertemu lagi dengan orang yang sudah ia blacklist dalam hidupnya. Ia benci hari ini, ia benci dengan semua kebetulan yang ada, terlebih lagi ia benci akan dirinya yang malah rindu dengan orang tersebut. Benci sekaligus rindu yang bersamaan. Setiap orang mempunyai luka. Setiap orang pasti punya masa lalu. Namun tidak semua orang bisa memaafkan dan melupakan masa lalu itu. Terlebih jika luka yang ia dapatkan begitu dalam. Luka fisik saja butuh waktu yang cukup lama untuk hilang tak berbekas, apalagi luka hati. Anna tidak tahu berapa lama waktu yang ia butuhkan untuk menghilangkan luka itu. Satu tahun. Lima tahun. Sepuluh tahun. Bahkan seumur hidupnya luka itu akan tetap berbekas. Terlebih lagi trauma psikis yang sekarang dialaminya. Sejatinya, setiap anak yang terlahir kedunia menginginkan kehidupan keluarga yang harmonis. Orangtua yang lengkap. Ayah dan ibu. Bukan hanya ibu yang memerankan peran ganda sebagai ayah dan juga ibu. Apa Anna salah ingin mendapatkan kasih sayang dari Ayahnya? Apa Anna salah ingin merasakan dimarahi saat ia pulang larut malam, ketika Anna banyak bermain dengan temannya seperti anak yang lain. Atau yang salah adalah kelahirannya ke dunia ini? "Ann.. Ann..." Anna tersentak saat seorang laki-laki memakai kemeja berwarna cokelat berdiri di hadapannya. Alis laki-laki itu menyatu tanda bingung karena melihat Anna menangis. Setelah sadar, Anna langsung mengusap habis air matanya dengan kedua tangannya. "Kamu kenapa, Ann?" Tanya laki-laki itu. Anna menggelengkan kepalanya. Sebisa mungkin Anna bersikap biasa saja seperti tak ada sesuatu yang telah terjadi. "Boleh aku duduk?" Tanya laki-laki yang bernama Bagas itu sekali lagi. Ia adalah rekan kerja Anna di kantor advokat ini. "Silakan." Anna mempersilakan. "Aku dengar kamu baru saja menemui calon client kita ya? Menurut kamu bagaimana?" Anna mendengus, laki-laki dihadapannya ini membahas apa yang menjadi hal paling sensitif untuknya hari ini. "Semua berkasnya sudah saya pelajari." Ucap Anna. Dan laki-laki itu mendengar perkataan Anna dengan antusias, "saya mundur untuk jadi tim kuasa hukum orang itu." Lanjut Anna. Bagas terkejut, ia kira setelah Anna mempelajari semua berkasnya Anna akan menyetujuinya bergabung dengannya untuk membentuk tim. Namun kenyataannya sangat bertolak belakang. Anna malah menolaknya. Padahal setahu Bagas, biasanya Anna paling senang jika menangani kasus serupa. "Ke..kenapa Ann?" "Ada alasannya, dan saya engga bisa cerita sama kamu." Bagas menarik napas panjang. Sebisa mungkin ia mengontrol dirinya agar tidak lepas kendali. Biar bagaimanapun ia hanya ingin Anna merasa nyaman dengannya. Semenjak Anna memasuki kantor ini, tepatnya dua tahun yang lalu. Bagas telah menarih simpati pada Anna. Sosok Anna yang cantik tetapi introvert bisa membuatnya tertarik sekaligus penasaran dengan sosok Anna. Sebisa mungkin Bagas selalu mendekati Anna jika ada kesempatan dengan selalu melibatkan Anna dalam timnya. Itu semua ia lakukan agar bisa dekat dengan Anna dan mengenal Anna lebih dalam. Bagas sadar, Anna selalu memasang benteng pertahanan yang tinggi setiap ada laki-laki yang mendekatinya. Bahkan menutut cerita yang ia dengar, Anna keluar dari kantor advokatnya yang lama karena ia merasa tidak nyaman dengan laki-laki yang mencoba untuk menjadikannya kekasih. Namun justru hal itulah yang membuat Bagas yakin akan pilihan hatinya memilih Anna, bahwa Anna adalah sosok yang tak mudah di raih. Tak mudah di dapatkan. Dan itu merupakan suatu tantangan terbesar untuknya. "Pikirkan lagi baik-baik, Ann.." Ujar Bagas, mata hitamnya menatap mata Anna lekat, "lebih baik membebaskan seribu orang bersalah daripada menghukum satu orang yang tidak bersalah." Adagium yang baru saja Bagas ucapkan berhasil menohok hatinya. Bahkan saat ini Anna merasa kecil dihadapan rekanannya. Selama ini semenjak Anna menjadi Lawyer ia telah bertekad untuk memgabdikan dirinya membela kebenaran. Karena Anna meyakini kebenaran itu jauh di atas segalanya. Lalu bagaimana jika ia harus membela seseorang yang sangat ia benci, apakah Anna sanggup? =Never Let You Go= Seorang gadis tengah duduk sambil mengaduk-aduk segelas jus alpukat dihadapannya. Ia tak berniat untuk meminumnya dan terus mengaduk hingga s**u cokelat bercampur sempurna di dalam gelas itu. Sesekali pandangannya mengarah ke arah pintu masuk cafe, di tengah banyaknya pengunjung cafe ia belum melihat sama sekali batang hidung orang yang dinantinya. Gadis yang mempunyai rambut berwarna cokelat itu melambaikan tangan kearah pintu. Ia tersenyum karena orang itu sudah datang. Gadis itu menyambut laki-laki itu dengan binar bahagia. "Lama engga ketemu ya, Win." Gadis itu berbasa-basi. Ia memandangi wajah laki-laki dihadapannya, menurutnya tak ada perubahan di wajah itu. Hanya saja wajah Edwin semakin dewasa. "Iya ya..." Edwin menimpali, "berapa lama ya kita engga ketemu?" "Semenjak kita putus kamu susah banget diajak ketemu, Win." Gadis itu tersenyum kecut. Di dalam hatinya ia menyesal akan keputusannya dahulu karena telah gegabah mengambil keputusan. Dan akibatnya ia kehilangan sosok laki-laki yang sangat ia cintai ini. "Sudahlah Shel, yang lalu biarlah berlalu. Aku ngajak kamu ketemuan di sini buat ngomongin masalah Papa kamu." Shelma membenarkan posisi duduknya, ia tidak sabar dengan penjelasan dari Edwin akan kasus Papanya. "Aku sudah bilang ke Om Tito (Pemilik kantor advokat terkenal) masalah kasus Papa kamu, Beliau bilang dia akan membantu kamu, Beliau akan mengirimkan tim kuasa hukum yang hebat untuk membebaskan Papa kamu." Mata sipit Shelma berbinar-binar mendengar penjelasan dari Edwin. Refleks, tangannya menggenggam tangan Edwin yang berada di atas meja. Senyum dari bibir tipisnya pun ikut mengembang. Secara bersamaan, Edwin melihat sosok Anna di diri gadis itu. Ia pun ikut tersenyum. Edwin merasakan iPhone-nya bergetar. Layar iPhone itu berkedip-kedip menampilkan nama "Anna" tertera di sana. Tangannya langsung terulur untuk mengangkat panggilan itu. "Haloooo" "Kapan? Sekarang?" "Oke-oke.. Aku on the way nih, siap boss!" Mata Shelma mengerjap tak percaya, baru kali ini ia melihat Edwin se-ekspresif ini. Mata laki-laki itu sampai berbinar-binar menerima panggilan barusan. Seingatnya, ketika ia berpacaran dengan Edwin dahulu, Edwin termasuk laki-laki yang cuek bahkan terkesan dingin meskipun dengannya. Tapi mengapa kali ini ia melihat sisi lain dari Edwin yang tak pernah ia tunjukkan sama sekali saat bersamanya. Sebenarnya, siapa orang yang berbicara dengan Edwin dibalik telponnya itu? Tanya Shelma dalam hati. "Shel.. Shel..." Suara Edwin membuyarkan lamunannya. Shelma langsung tersadar. "Aku pergi duluan ya." Shelma masih tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. Bahkan saat Edwin keluar dari cafe ini, senyum laki-laki itu masih memgembang sempurna sambil mata yang berbinar memandang layar iPhonenya. =Never Let You Go= "Aku sudah di depan, Ann." Anna bergidik ngeri saat mendapat satu chat masuk dari Edwin di iPhonenya. Sejak hari lamaran itu, Edwin memaksa Anna untuk mengubah gaya bicara mereka dari gue-elo jadi aku-kamu. Anna yang merasa risih sempat menolaknya, namun bukan Edwin namanya kalau tidak bisa mempengaruhi orang. Terkadang, Anna merasa iri dengan kelebihan Edwin yang satu itu. Namun kadang juga ia merasa kesal, bisa-bisanya ia masuk dalam perangkap pesona sahabatnya itu yang suka memaksa. Setelah Anna berpamitan dengan Nadia, Anna langsung keluar dan menghampiri Edwin yang tengah bersandar di mobil miliknya. "Udah lama nunggu ya?" Tanya Anna pada Edwin. "Baru sepuluh menit." Jawab Edwin sambil melihat arlojinya. "Maaf ya." "Bertahun-tahun aja aku rela nunggu kamu. Apalahi cuma nunggu sepuluh menit doang." Ujar Edwin dengan suara lirih. "Hh apaan? Lo ngomong apa tadi?" Minta Anna agar Edwin mengulangi kalimatnya lagi. "Eng..engga.. Gue ngomong apa-apa kok." Edwin menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal, ia salah tingkah. "Win jangan bawa gue pulang ke rumah." Kata Anna saat keduanya telah berada di dalam mobil. "Hah kamu mau kabur, Ann? Atau jangan-jangan kamu mau kawin lari ya? Kita kan udah dapet restu dari orangtua kita, Ann. Aku ngga mau kawin lari ah, capek!" PLETAKK Anna menoyor kepala Edwin. Ia ingin membenarkan letak otak Edwin yang sudah bergeser dari tempatnya. "SIAPA JUGA YANG MAU KAWIN LARI SIH?" Anna misuh-misuh ditempat duduknya, "gue cuma mau nenangin pikiran gue dulu. Edwin mengangguk-anggukan kepalanya pura-pura mengerti. Ia tahu kemana harus membawa Anna saat ini. =Never Let You Go= Mereka tengah berada di sebuah taman di daerah Menteng, Jakarta Pusat. Meskipun mereka sampai pada malam hari, namun taman ini masih sangat ramai. Banyak orang yang sedang menikmati indahnya ibu kota dari sisi lain atau hanya sekedar mencari angin segar saja. Keduanya melewati sebuah bangunan yang mencolok dari tempat ini yaitu dua buah rumah kaca yang berbentuk piramid. Rumah kaca tersebut biasa difungsikan function hall. Edwin membawa Anna ke sebuah arena anak-anak. Tangan kanan Edwin menggenggam tangan kiri Anna. Seakan kalau tidak ia jaga Anna akan menghilang. Anna yang menyadari hal itu merasa dadanya berdegup sangat kencang. Anna memukul dadanya sendiri yang terasa sesak. Ia tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengannya saat ini. Keduanya menghampiri arena ayunan. Edwin mempersilakan Anna untuk duduk terlebih dahulu lalu dirinya duduk di ayunan samping Anna. Dengan gerakan perlahan, ayunan itu mulai bergerak ke depan lalu ke belakang. "Lihat deh Ann, lucu ya dulu kaki kamu itu ngga nyampe tanah tau." Edwin memperhatikan kaki Anna. "Eh sekarang malah udah lebih." Edwin terkekeh saat flashback masa kecil mereka. "Iya Win, dulu gue pendek banget ya, mana kurus banget lagi." Anna menimpali. "Item, jelek, dekil lagi. Hahaha." "Reseeeeek!" Ucap Anna sambil bersungut kesal. "Yang pentingkan aku sayang, Ann." Edwin mengacak-acak rambut Anna dari samping, Anna tambah kesal katena rambut hitam sebahunya jadi berantakan. "Win apa yang lo rindukan sekarang?" Tanya Anna. Edwin terdiam, ia mencoba berpikir untuk menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu, "aku kangen kebersamaan sama cewek kurus, tinggi, keras kepala, introvert, bawel, susah di tebak—" "Lo muji sekaligus ngehina gue, Win." "Kalau kamu?" Anna terdiam, gerakan ayunannya mulai melambat dan semakin lambat. Kakinya tertahan dan seketika ayunan tersebut berhenti. "Gue kangen sama orang yang paling gue benci di dunia ini, Win." Kening Edwin mengkerut, kedua alisnya menyatu. Ia diam, menunggu Anna memulai bicara lagi. Lama. Anna masih terdiam. Edwin paham, jika keadaannya seperti ini, ia tak mungkin memaksa Anna menceritakan masalahnya sebelum Anna bercerita lebih dulu. "Kayaknya dari tadi kamu masih pakai gue-elo deh Ann. Kamu harus di hukum." Edwin tahu, hal itu hanya untuk mengalihkan pembicaraan mereka. Edwin tidak mau melihat wajah Anna yang terlihat sedih. "Lo–maksudnya kamu mau ngehukum aku?" Edwin mengangguk, Anna mengerutkan kening tanda tak mengerti karena Edwin tengah menunjuk bibirnya sendiri sambil memonyongkannya. "Cium." Mata Anna terbelalak, "NGGA MAU!" "Disini deh," kali ini Edwin menunjuk pipinya sendiri. "Ngga mau juga! Kita belum sah Edwin!" "Berarti kalau udah sah boleh ngapain aja dong?" "YAK, EDWIN m***m! AWAS LO!!" Edwin berlari menghindar dari Anna yang ingin memukulnya dengan high heels yang dipakai, tingkat ketampanannya akan berkurang karena salah stu keningnya pasti akan membesar seukuran bola pingpong. Tanpa sadarkeduanya hanyut dalam canda tawa yang mereka buat sendiri. Anna masih mengejar Edwin tiada henti meskipun napasnya sudah kelelahan. Inilah jawaban atas pertanyaan Anna tadi tentang apa yang Edwin rindukan. Baginya, melihat Anna tertawa lepas seperti ini saja sedah membuat hantinya terasa hangat. Rasanya senyuman Anna sudah menjadi pusat hidupnya. Sebisa mungkin ia akan berusaha agar Anna bisa tersenyum seperti ini jika di dekatnya. Kalau bumi adalah pusat dari alam semesta, maka Anna adalah pusat dunianya Edwin Haristama. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD