Mobil hitam metallic milik Edwin berhenti di depan pekarangan rumah Anna. Rumah itu nampak sepi jika dilihat dari depan karena memang rumah itu hanya di tempati dua orang saja. Anna dan ibunya. Rumah yang cukup sederhana, bukannya Anna tak mampu merenovasi rumah itu habis-habisan, namun Anna lebih membiarkan rumah itu terlihat seperti dulu. Di mana semua kenangan masa kecilnya ada di rumah itu. Rumah itu adalah saksi bisu perjuangan Anna selama ini.
"Thanks ya, mau mampir?" Anna tersenyum tulus sambil melepas seatbelt.
Edwin mengangguk dan membalas senyum Anna, "boleh, sekalian mau ketemu camer." Katanya sambil menunjukkan seringaian jahil.
Anna memutar bola matanya jengah. Keduanya turun dari mobil.
Edwin menggenggam sebelah tangan Anna yang terasa pas di jarinya. "Ngapain sih pegang-pegang?" Anna menepis tangan Edwin.
"Takut diculik."
Alis Anna menyatu, "inikan rumah gu–aku, mana ada yang nyulik."
"Aku yang akan nyulik hati kamu."
Anna berlagak seperti orang muntah mendengar ucapan Edwin barusan, Edwin terkekeh. Keduanya menuju pintu kayu yang berjarak 1 merer di depan mereka.
Tangan kecil Anna menggerakkan engsel pintu, Anna terkejut saat mendapati pintu itu tak terkunci. Tak biasanya Marini begini. Biasanya kalau ibunya itu memilih tidur terlebih dahulu ia memilih untuk mengunci pintunya atau malah menunggu Anna sampai pulang jam berapapun meski sudah larut malam. Tak seperti malam ini.
"Ibu... Ibu.." Anna berteriak sambil berjalan mengelilingi isi rumah. Dari ruang tamu, kamar mandi, dapur dan terakhir kamar ibunya. Anna bisa bernapas lega saat melihat ibunya yang tengah berbaring di tempat tidur.
Anna masuk, ia mendekati ranjang ibunya. Tangannya terulur untuk menyelimuti tubuh ringkih sang ibu. Namun baru setengah tubuh ibunya berselimut Anna merasakan sesuatu yang mengganjal. Di telapak tangan Marini ada sebercak darah berwarna merah segar. Kemudian Anna mencoba untuk membangunkan Marini. Berkali-kali Anna memanggil dan menggerak-gerakkan tubuh Marini, namun tak ada sahutan ataupun pergerakan yang berarti. Mata Marini masih tertutup sempurna.
"EDWIN TOLOONGG!!!"
=Never Let You Go=
Anna terduduk lemas di depan ruang ICU. Kakinya mengatuk-ngatuk ke lantai seperti kebiasaan Anna jika sedang khawatir. Bibir tipisnya tak henti-henti merapalkan doa untuk kesembuhan ibunya. Edwin tak ada, ia sedang mengurus administrasi rumah sakit di depan lobby.
Di saat sendiri seperti ini pikiran Anna berkecamuk. Ia membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang paling ia takuti. Bagaimana kalau sampai ibunya tidak selamat? Ia belum sempat membahagiakan malaikatnya itu. Bahkan ia juga belum sempat memenuhi permintaan ibunya agar dirinya segera menikah. Anna menyesal sangat menyesal.
Seorang Dokter bersama dua perawat keluar dari ruang ICU. Dokter itu meminta Anna sebagai keluarga pasien untuk menemuinya di ruangannya. Secara bersamaan, kebetulan Edwin datang. Lalu keduanya masuk ke ruangan itu.
"Ny. Marini mengidap kanker paru-paru stadium akhir."
Kaki Anna terasa lemas seperti tak bertulang saat mendengar penjelasan dari Dokter. Kalau saja ia tidak sedang duduk, ia yakin kalau tubuhnya akan ambruk seketika.
"Kankernya sudah menjalar ke seluruh tubuhnya, sehingga untuk pengobatanpun sulit untuk dilakukan."
"Ba..bagaimana mungkin, Dok? Selama ini ibu terlihat biasa-biasa saja. Badannya mungkin terlihat lebih kurus, ta.. Tapi ibu seperti orang sehat." Ucap Anna dengan terbata-bata. Lidahnya sangat kelu sehingga ia susah untuk mengeluarkan suara.
"Apa belakangan ini pasien sering terlihat minum obat?" Tanya Dokter itu.
Anna mengangguk, "iya. Setahu saya ibu sering mengonsumsi obat, tapi ia bilang itu sejenis vitamin, Dok."
"Itu adalah obat untuk penghilang rasa sakit sementara."
"A..apa kemoterapi juga tidak bisa dilakukan, Dok?" Kali ini Edwin yang bersuara.
"Kami akan melakukan kemoterapi secepatnya jika pihak keluarga sudah mengizinkan. Tapi bisa saja hal-hal yang buruk bisa terjadi. Mengingat sel kanker sudah menyebar keseluruh tubuhnya."
"Lakukan yang terbaik untuk ibu Marini, Dok."
Dokter itu mengangguk.
BRUK!
Anna terjatuh di lantai. Kakinya meluruh karena tak bisa menopang beban tubuhnya. Anna meringkuk, mengecil dalam tangisnya. Kedua kakinya menekuk, menyembunyikan wajahnya dan isak tangis yang lama kelamaan begitu lirih tapi menyesakkan. Tubuhnya bergetar, ia pucat seketika seperti tak ada aliran darah yang mengalir di tubuhnya. Kabar ini begitu mendadak. Ia belum siap untuk kehilangan orang yang paling ia cintai di dunia ini. Ia belum siap untuk melepas malaikatnya.
Edwin mencoba membangkitkan tubuh Anna berdiri dari lantai dingin rumah sakit, tangannya terulur memegang bahu Anna yang bergetar. Kemudian, setelah berhasil membuat Anna berdiri, Edwin mendudukkan Anna di bangku tunggu depan kamar ICU.
Edwin tak bicara, ia lebih memilih untuk diam membiarkan Anna tetap dalam tangisnya. Ia membiarkan Anna mengeluarkan segala isi hatinya melalui airmatanya. Suara isakan Anna menderu bersatu dengan koridor rumah sakit yang dingin menusuk kalbu. Jauh di dalam hatinya, Edwin yang paling merasakan sakit karena melihat orang yang ia cintai menangis di hadapannya. Ia membawa Anna ke dalam pelukannya dan lama-kelamaan Anna tertidur akibat kelelahan menangis.
=Never Let You Go=
Pertama kali yang Anna rasakan saat memasuki ruangan ini adalah dingin yang begitu menusuk tulang. Seluruh tubuhnya menggigil akibat pendingin ruangan yang dipasang dengan suhu yang rendah. Ruangan ini berisikan alat-alat canggih kedokteran yang Anna sendiri tidak tahu namanya. Bahkan saat sebelum memasuki ruangan ini, Anna harus memakai baju steril di tambah dengan masker.
Anna berjalan lesu mendekati ibunya yang sedang tertidur di ranjang. Tubuh Marini terpasang selang infus, alat pendeteksi jantung dan juga selang oksigen untuk membantu pernapasannya. Anna memperhatikan tubuh ibunya yang kurus, dan wajah yang terlihat amat pucat. Anna merutuki dirinya sendiri karena saking sibuknya dengan pekerjaannya sekarang sampai ia tak memperhatikan kesehatan ibunya.
Padahal ibunya itu sangat penting dari apapun.
"I..ibu.. Ke kenapa engga bi..bilang sama Anna bu, ka..kalau i..ibu sakit?" Ucap Anna dengan terputus, ia tak mampu membendung airmatanya yang menggenang di pelupuk mata, alhasil airmatanya itu tumpah seketika. "Ma..maafin Anna bu, Anna durhaka sama ibu. Anna pingin ibu bangun. Anna pingin ngeliat ibu senyum lagi. Anna janji akan turutin semua mau ibu. Anna janji Anna ngga akan bandel lagi," Anna menahan napasnya, tangannya menghapus habis airmatanya yang turun ke pipinya yang putih. "Anna.. Anna minta maaf bu.. Maaf.." Anna terjatuh lesu di bawah ranjang. Tangannya memegang tangan Marini yang dingin. Ibunya masih terdiam tak membalas semua ucapan Anna. Yang terdengar di dalam ruangan ini hanya suara Anna yang menangis pilu dan juga suara dari alat pendeteksi jantung.
Di luar sana, dua orang berjenis laki-laki dan perempuan berjalan mendekati ruang ICU. Langkah keduanya cepat-cepat, dan keduanya menampilkan ekspresi sama, yaitu khawatir.
"Permisi, saya Nadia sahabat Anna. Saya dengar ibunya Anna masuk ICU?" Tanya Nadia pada Edwin. Gadis berambut bob itu terlihat sangat formal karena baru pertama kali bicara langsung dengan Edwin. Selama ini gadis itu tahu tentang Edwin hanya dari cerita Anna dan juga rekanan pengacaranya. Ini pertama kalinya mereka sedekat ini.
Edwin mengangguk, "Anna sedang di dalam, mungkin sebentar lagi dia keluar. Saya mohon doanya untuk kesembuhan ibunya Anna."
"Itu pasti," kata Nadia.
Edwin melirik ke arah laki-laki samping Nadia. Ia memakai setelan jas formal dengan rambut klimis karena memakai pomade. Edwin hanya bertanya-tanya dalam hati siapa laki-laki di hadapannya ini.
"Hm," laki-laki itu berdehem. "Saya Bagas rekan Anna di kantor." Bagas mencoba untuk memperkenalkan dirinya untuk memecahkan rasa canggung diantara mereka.
"Edwin," ia membalas uluran tangan Bagas. "Tunangan Anna." Seketika ia merasakan genggaman tangannya menguat dan rahang laki-laki itu mengeras sambil menampilkan ekspresi ketidaksukaannya. Sangat kontras dengan awal kehadirannya di sini.
******