I Miss You But I hate You (1)

1582 Words
Anna!! Ngapain kamu di sini?" Marini berdiri di depan pintu rental komputer sambil bertolak pinggang. Matanya melotot, wajahnya memerah karena menahan amarah. Mendengar teriakan Marini, seisi warnet melihat ke arah Marini, Marinipun tak acuh oleh pemandangan seperti itu. Gadis kecil berkuncir kuda dengan masih memakai seragam putih-merahnya berdiri, dengan langkah pelan-pelan ia menghampiri ibunya. Kakinya bergetar hebat, wajahnya menunduk, ia tak berani mengangkat wajahnya barang sedetikpun. "Ayo pulang!!" Marini menyeret Anna dengan menjewer kuping sebelah kiri Anna. Kuping Anna sampai memerah akibat tangan Marini. Namun sama-sekali Anna tak melawan. Anna paham, ini adalah resiko yang harus ia terima. Marini baru melepas jewerannya ketika sampai di rumah. "Ibu kerja dari pagi sampai malam buat sekolah kamu, Anna. Ibu pontang-panting kerja sana-sini jadi babu orang, cuma buat Anna. Buat sekolah Anna!! Supaya Anna jadi orang sukses, jangan seperti ibu yang kayak gini. Anna harus hidup enak nantinya, jangan mau direndahin orang terus kayak ibu." Plak!! Marini melayangkan pukulan tepat di b****g Anna dengan menggunakan sapu lidi. Ia tak peduli dengan jeritan dan tangisan Anna yang meminta ampun padanya. "Ampun, Bu.. Ampunnn.." "Ibu ngga ngajarin kamu bolos sekolah. Kamu boleh main, ibu ngga ngelarang. Tapi yang penting kamu sekolah dulu." Marini menghentikan pukulannya. Sapu lidi itu tergeletak begitu saja di lantai rumahnya yang berwarna putih gading. "Masuk kamu ke kamar!!" Anna berjalan dengan tergopoh-gopoh. Salah satu tangannya berada di bokongnya sebagai penahan rasa sakit. Sesaat setelah Anna masuk, Marini ambruk di tempatnya. Kakinya terasa kelu. Sekujur tubuhnya merasakan sakit yang tak terhingga. Marini melihat tangan kanannya yang bergetar, tangan yang beberapa detik lalu ia gunakan untuk memukul putri kesayangannya itu. Tangan yang harusnya ia gunakan untuk melindungi Anna, malah ia gunakan untuk menyakiti buah hatinya. Jauh di dalam hatinya, Marinilah yang merasakan paling sakit. "Anna makan dulu, Nak." Marini memasuki kamar Anna dengan membawa sepiring nasi beserta lauk pauk kesukaan Anna dan juga segelas air putih. Begitu kasih sayang sang ibu, meskipun ia sedang marah kepada anaknya namun di dalam hatinya ia tak akan membiarkan anaknya sendiri kelaparan. Marini berjalan ke arah ranjang, ia melihat Anna yang sedang berbaring di tempat tidurnya. Anna sedang tertidur lelap. Mungkin Anna kelelahan akibat menangis, begitu pikir Marini. Marini meletakkan nampan itu di atas nakas samping tempat tidur. Namun ada sesuatu hal yang menarik perhatiannya. Benda itu adalah sebuah buku diary milik Anna. Sepertinya Anna lupa menutup dan menyimpannya kembali. Di bagian bawah lembar buku itu basah, membentuk pulau-pulau kecil akibat air mata Anna. Marini mengangkat buku itu dan langsung membaca tulisan di dalamnya. "Dear Diary... Hari ini aku sebel sama ibu. Aku kecewa sama ibu. Ibu jahat!!! Ibu jewer aku di depan orang banyak, terus sampai di rumah ibu malah pukul aku pakai sapu lidi. Itu semua gara-gara aku bolos terus main di warnet sih, jadi ibu lakuin itu. Tetep aja aku ngga bisa terima, ibukan belum tahu apa alasan aku lakuin itu. Sebenarnya tadi pagi aku sudah sampai di sekolah, aku baru ingat kalau hari ini aku harus mengumpulkan pekerjaan rumah yang kemarin ibu guru kasih tentang sosok ayah. Hari ini satu-persatu akan maju ke depan untuk menceritakan kebersamaan dengan ayah. Kenapa hari ini aku bolos? Kamu kan tahu Diary, aku ngga punya ayah. Jadi apa yang harus aku ceritakan? Dari pada aku ditertawakan dan diejek lagi oleh teman-temanku, lebih baik aku bolos. Sebenarnya ayah itu siapa sih Diary? Edwin pernah bilang kalau Ayahnya adalah sosok idolanya dia. Dan dengan tugas ini, ia akan menceritakan bagaimana ayahnya yang bekerja sebagai pengacara hebat. Bahkan jika dia besar, dia akan menjadi pengacara yang hebat seperti ayahnya. Karina, teman sebangku ku juga bilang, ia akan bercerita tentang kebersamaan dengan ayahnya saat dia dan keluarga pergi jalan-jalan ke Disney Land saat liburan semester lalu. Adi juga, ia akan bercerita bagaimana ia setiap akhir pekan pergi dengan ayahnya hanya sekedar untuk memancing ikan di danau. Aah, dari ceritanya saja aku bisa merasakan kalau ia begitu senang. Sedangkan aku? Apa yang harus aku tulis? Apa yang bisa aku ceritakan pada teman-temanku? Untuk sekedar melihat wajahnya saja aku tidak tahu. Apakah ayah berkumis? Apakah ayah berkulit putih atau malah hitam? Apakah di rambut ayah sudah tumbuh uban? Aku ingin sekali mengetahuinya. Banyak yang bilang sosok ayah adalah sosok paling kuat, tapi aku tidak pernah merasa ayah melindungiku. Buktinya ayah tidak ada saat aku diganggu oleh teman-temanku. Ayah tidak pernah ada saat aku terjatuh, dan saat aku rapuh. Ayah tidak ada!! Aku ingin tahu rasanya dikhawatirkan oleh ayah. Aku ingin dimarahi oleh ayah karena terlalu banyak bermain. Aku ingin merasakan dipeluk oleh tangan hangat ayah. Aku ingin ayah bilang sama aku, kalau ayah bangga punya anak seperti Anna. Makanya dari aku kelas satu sampai sekarang kelas enam, aku selalu berusaha jadi yang nomor satu. Supaya kalau Anna maju ke panggung buat nerima piala, ayah dateng dan nemenin Anna. Aku akan tunggu sampai saat itu tiba." =Never Let You Go= Di atas ranjang kokoh rumah sakit, wanita itu masih terbaring tak berdaya. Alat pendeteksi jantung masih bergerak normal tak ada tanda-tanda aneh disana. Selang oksigen juga masih bertengger sempurna di hidungnya. Beberapa waktu sekali, suster masuk untuk mengganti infus yang telah habis. Namun ada yang tak biasa, setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya yang masih terpejam. Ia terisak, meski dalam keadaan yang belum sadar. Bayangan di mana ia telah melakukan kesalahan yang amat besar pada putri kesayangannya itu memutar di otaknya. Bagai memasuki mesin waktu, ia kembali lagi ke peristiwa itu. Peristiwa di mana ia menyesali seumur hidupnya oleh apa yang telah ia perbuat. Dan peristiwa itu juga yang membangunkannya dari koma selama tiga hari. Iya, ia telah koma tiga hari. =Never Let You Go= "Ini Bunda bawakan makanan kesukaan Anna." Naira menyerahkan sekantong plastik berwarna putih di bangku samping Anna yang kosong. Anna tersenyum ke arah Naira, meski senyum itu tak secerah biasanya. Ada yang ia sembunyikan di sana. "Makasih Bunda." Naira langsung memeluk Anna, ia mengelus punggung Anna dengan lembut. "Menangislah Nak, jika itu buat kamu tenang. Menangislah.. Bunda ngga bisa melihat kamu seperti ini." Anna mulai terisak, ia menyembunyikan wajahnya dibalik punggung Naira. Menyisakan bulatan-bulatan kecil akibat airmata Anna. "Keluarga Ny. Marini." Suster datang melepas pelukan yang terjadi antara Anna dan juga Naira. Anna menahan napasnya menunggu kata demi kata yang akan keluar dari mulut suster tersebut. Demi Tuhan Anna belum siap kalau harus kehilangan— "Ny. Marini," suster itu menahan kalimatnya. Sungguh, Anna tidak akan sanggup kalau itu adalah kabar duka. "Sudah siuman, dan akan kami pindahkan ke ruang rawat inap." Anna dan Naira bernapas lega. Keduanya sama-sama mengucapkan syukur yang tiada terkira. Sebuah senyum sumringah terukir jelas di wajah Anna. Anna buru-buru menyeka habis air matanya yang masih tersisa di pelupuk mata, ia tidak mau ibunya tahu kalau selama ibunya tidak sadarkan diri Anna banyak menangis. Anna dan Naira masuk ke ruang rawat Marini. Meskipun Marini sudah sadar dari komanya, ia masih terbaring lemas di ranjang rumah sakit. "Ibu Anna kangen!" Anna memeluk tubuh ringkih Marini. Marini tersenyum hangat bisa melihat Anna lagi. "Ibu juga kangen sama Anna." Marini mengusap rambut hitam sebahu Anna. Anna mendongak ke atas balas memberi senyum. "Apa kabar?" Tanya Marini. "Baik.." Marini menangkup wajah Anna dengan telapak tangannya. Ia mengusap pipi Anna dan naik ke atas hingga menyentuh bawah mata Anna. Ia tahu kalau selama ia tak sadarkan diri, pasti Anna tidak tidur. Kentara sekali dari kantung mata Anna yang terlihat. "Udah dong meluknya, ngga malu tuh sama camer?" Marini terkekeh, ia berhasil menggoda Anna hingga membuat pipi Anna memerah. Marini sempat melirik ke tempat Naira yang sedang berdiri, Naira juga ikut terkekeh menyaksikan ibu dan anak itu. Anna bangkit, ia nyengir ke arah Naira yang sedang melihatnya. Ia menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. "Maaf ya Bunda." Naira bisa mengerti, ia tahu kalau Anna sangat menyayangi ibunya. Maka dari itu ia paham akan kemanjaan Anna kepada sang ibu. Jangankan Anna, Edwin saja masih suka bermanja-manja dengannya saat ini. Naira berbincang-bincang sebentar dengan Marini. Bercengkerama dan menyemangati Marini untuk sembuh. Tidak lama kemudian ia harus pamit, karena ada jadwal mengajar yang tidak bisa ia tinggalkan. "Bunda pamit ya Ann." "Iya.. Makasih ya Bun.." Anna memeluk Naira sebentar, "hati-hati di jalan ya Bundadari." Naira terkekeh mendengar panggilan dari Anna untuknya. Bertahun-tahun yang lalu, Anna menjelaskan padanya kenapa ia dipanggil Bundadari. Kata Anna ia sangat cantik dan juga berhati baik, jadi Anna memanggilnya Bundadari. Istilah yang diambil dari kata Bidadari. Setelah mengantar Naira sampai lobby, Anna kembali ke kamar rawat ibunya. Ketika Anna masuk, Anna melihat ibunya menangis. Saat itu Marini langsung menyeka air matanya. "Ibu kenapa nangis?" Tanya Anna dengan khawatir. Takut kalau ibunya sedang merasakan sakit di tubuhnya. "Maafin Ibu, Ann.." Kening Anna mengkerut sampai kedua alisnya menyatu, "maaf untuk apa, Bu?" Dan Marini menceritakan tentang apa yang ada dihatinya. Tentang sebuah mimpi yang telah membangunkannya dari koma. Tentang sebuah kesalahan yang sangat ia sesali seumur hidupnya. Tentang maaf yang harus ia sampaikan pada putrinya. Mungkin karena itu ia diberikan waktu oleh Tuhan untuk kembali. Dan satu lagi yang mengganjal dihatinya. Jika semua keinginannya terkabul, mungkin ia bisa pergi dengan tenang. "Ibu ingin bertemu dengan Ayahmu untuk terakhir kali." Anna melotot tak percaya dengan apa yang dikatakan ibunya barusan. Bagaimana mungkin ia bisa bertemu dengan orang yang paling ia benci? Anna memang tidak menceritakan pertemuannya dengan Ardy tempo hari kepada Marini, karena ia tak ingin mengingat orang itu lagi. Dan sekarang ibunya ingin bertemu dengan orang yang sedang dipenjara. Anna tidak ingin melihat ibunya sedih dengan mengetahui tentang Ardy yang sedang berada di buih. Otomatis Anna harus maju untuk membantu mengeluarkannya. Apa Anna sanggup?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD