I Miss You But I Hate You (2)

1728 Words
Ardy masih terjaga di ruangan kecil ini. Terduduk lemas sambil menyandarkan punggungnya di dinding. Sesekali ia menghelas napas panjang lalu membuangnya. Ardy tak menyangka bahkan tak pernah bermimpi sekalipun kalau masa tuanya akan berakhir di penjara. Sendirian. Sepi. Gelap dan pengap. Itulah yang menemani hari-harinya selama tiga bulan masa pemeriksaan. Kadang rasa itu datang. Rasa di mana ia lelah dan tak sanggup lagi. Rasa menyerah hadir bahkan bukan sekali dua kali hinggap di hatinya. Bahkan ia sempat ingin mengakui saja bahwa ia yang membunuhnya--memang kenyataannya seperti itu-- namun ia melakukan itu hanya untuk membela dirinya. Tanpa sengaja. Bahkan jika dibiarkan bisa saja saat ini, detik ini ia yang berada di liang lahat. Pikiran Ardy mulai melayang ke sosok wanita muda yang kemarin menemuinya. Ia perkirakan gadis itu seumuran dengan putrinya, Shelma. Gadis itu terlihat biasa-biasa saja awalnya, namun seketika ia berubah. Bahkan sepertinya gadis itu memendam dendam yang teramat untuknya. Padahal kemarin adalah pertemuan pertamanya dengan salah satu penguasa hukumnya. Ardy mengingat-ingat sesuatu. Wajah gadis itu seperti tidak asing lagi untuknya. Wajahnya sangat familiar. Tapi ia tidak bisa menemukan di mana ia pernah bertemu gadis itu. Ardy mencoba memejamkan mata. Tubuhnya berbaring di lantai dingin ruangan seukuran 2 x 3 meter ini. Ruangan yang sempit, bahkan hanya muat untuk tubuhnya saja dan sebuah kamar mandi di sudut ruangan. Perlahan rasa kantuknya mulai datang. Ia selalu berdoa kepada Tuhan, semoga setelah ia bangun nanti ia bisa terbangun di tempat tidurnya di rumah. Ia berharap ini adalah sebuah mimpi. Ya, mimpi buruk untuknya. ***** Edwin keluar dari ruang sidang di pengadilan Jakarta Pusat. Ia melihat arlojinya sekilas, kemudian ia langsung buru-buru ke tempat parkir di mana ia memarkirkan kendaraannya. Ketika sudah sampai di depan sebuah motor Ducati, ia mengeluarkan kuncinya dan langsung menaiki motor yang seharga dua kali lipat dari mobil itu. Tadi pagi, Edwin memutuskan untuk membawa Ducati-nya mengingat jalanan ibu kota sangat macet di pagi hari. Ia tidak mau kalau sampai telat di persidangan jika ia membawa mobil. Oleh karenanya ia meninggalkan mobil kesayangannya itu di garasi rumahnya saja. Dalam hati Edwin bersyukur, karena di jam-jam seperti ini jalanan ibu kota sudah tidak macet. Biasanya Jakarta akan macet di jam-jam pagi ketika orang berangkat kerja. Atau di jam sore hingga jam tujuh malam saat orang pulang kerja. Sedangkan saat ini adalah pukul setengah sepuluh malam. Siapa yang ingin pulang selarut itu? Palingan juga orang yang benar-benar lembur. Setelah sampai di depan rumah sakit dan selesai memarkirkan motornya Edwin berjalan menuju kamar inap camernya. Sekalian mengajak Anna makan malam bersama. Ia yakin kalau Anna pasti belum makan karena terlalu sibuk mengurus ibunya. Bertahun-tahun ia bersama gadis itu, ia sangat paham tentang Anna. Bahkan melebihi dari diri Anna sendiri. Suara pantofel yang menyatu dengan lantai adalah satu-satunya suara yang terdengar. Lorong rumah sakit ini begitu sepi, Edwin jadi parno sendiri. Ia kemudian menggeleng, mengesampingkan rasa takutnya. Langkah kakinya ia percepat, sesekali ia membenarkan letak jasnya yang ia sampirkan di lengan kirinya. Tepat dipersimpangan, ia melihat sosok wanita yang tak asing lagi untuknya sedang berjalan ke arah lift. Gadis itu masuk, Edwin mempercepat langkahnya sehingga setengah berlari. Namun ia terlambat, pintu itu segera tertutup, menghilangkan Anna dan membawanya. Edwin mendongak. Matanya tertuju pada atas lift yang menunjukkan lift itu sedang dilantai berapa. Matanya mengkerut, hingga alisnya menjadi satu saat penunjuk itu menunjukkan angka sepuluh. Ngapain Anna ke lantai sepuluh? Beruntung, lift sebelahnya menunjukkan lantai 3 dan turun ke bawah. Edwin langsung berpindah posisi. Setelah pintu lift terbuka, ia memasuki lift itu dan memencet tomol yang sama dengan Anna. Saat tiba di lantai sepuluh, Edwin di sambut oleh keheningan. Tak ada tanda-tanda manusia di situ. Bahkan bulu kuduknya sempat berdiri. Ia bingung harus mencari Anna di mana. "Arrrghh!!!" Edwin terlonjak saat ia mendengar suara wanita berteriak dan seketika rasa takutnya hilang berganti dengan rasa khawatir saat mengetahui si empunya suara itu. Edwin yakin kalau itu adalah suara Anna. Tapi ia bingung suara itu berasal dari mana. "Aaaaaaaaarrrrrrghhhh guaaaa benciiii!!!" Sekali lagi Anna berteriak. Suara itu berasal dari atas. Mungkinkah Anna di rooftop rumah sakit? Edwin mencari cara agar ia bisa sampai atas. Ketika ia menemukan sebuah pintu, ia menghela napas sejenak karena berhasil menemukan tangga. Dengan cepat, ia menaiki satu-persatu anak tangga. Setelah sampai, di berjalan dan langsung di sambut oleh angin malam yang menusuk tulang. "Kenapa dia harus hadir lagi??! Kenapa???! Di saat gue udah bahagia sama ibu, si b******k itu muncul! Ini ngga adil." Edwin melihat Anna yang tengah berdiri. Tubuhnya menghadap ke arah gedung-gedung bertingkat pencakar langit. Ia sengaja membiarkan Anna mengeluarkan segala unek-uneknya. Edwin tahu, Anna belum menyadari kehadirannya di sini. "HAHAHAHAH.." Anna tertawa, tapi jelas itu bukanlah tawa bahagia melainkan tawa pilu. Sedetik kemudian, Edwin bisa melihat Anna dari tempatnya berdiri sedang terisak. Ia masih bingung dengan keadaan Anna sekarang. Anna terduduk lemas. Heels yang dipakainya bahkan copot sebelah. Kakinya terasa kelu, ia tak sanggup lagi menahan beban ditubuhnya sekaligus beban di hatinya. Anna tersentak saat ia merasakan sebuah tangan kekar menyentuh kedua pundaknya. Tangan itu mengangkatnya berdiri, kemudian membalikkan tubuh rampingnya. Ia hanya menurut, selanjutnya tubuhnya itu condong ke depan hingga wajahnya mengenai d**a bidang seseorang. "Ada aku.. Kalau ada masalah kamu bisa curhat ke aku. Jangan curhat ke angin..." Suara bariton itu terdengar begitu lirih, namun Anna tetap bisa mendengarnya. "Aku sudah bilang ratusan kali kalau masalah kamu, juga masalah aku." Anna bisa merasakan rambutnya dielus seseorang. Tanpa Anna lihat wajanya, ia bisa tahu kalau itu adalah Edwin. Kenapa Edwin bisa ada di sini? Tanya Anna dalam hati. Namun rasa penasarannya ia urungkan dahulu. Ia terisak sejadi-jadinya mengeluarkan segala apa yang selama ini berkecamuk dalam hatinya. Tubuhnya sampai bergetar, bahkan kalau saja tangan Edwin tak merengkuhnya ia sudah luruh ke bawah. Lama mereka dalam posisi yang sama. Edwin membiarkan Anna menangis di dadanya hingga ia dapat merasakan bagian itu basah oleh air mata Anna. Ia tetap tak peduli. Rahangnya mengeras karena geram. Siapa yang membuat Anna seperti ini? Ketika dirasa Anna mulai tenang hingga tak terdengar lagi isakan Anna, Edwin mengulurkan tangannya untuk memberi jarak. Matanya menatap lekat mata bengkak Anna. Hidung gadis itu memerah. Wajahnya menunduk sambil menggigit bibir bawahnya. Lama keduanya terdiam. Edwin sengaja memberikan Anna waktu. Ia tidak ingin memaksa Anna untuk bercerita tentang apa yang terjadi padanya. Baginya ia berada di sisi Anna sekarang itu sudah cukup. Meski di hatinya yang paling dalam ia ingin tahu penyebab Anna seperti ini. Sangat ingin. "Gue–aku ketemu dia lagi." Suara Anna bergetar, "ba.. Bagaimana mungkin orang yang udah mati bisa hidup lagi." Kali ini Edwin benar-benar bingung dengan ucapan Anna. Kepalanya berputar ke kiri dan ke kanan mengamati sekitar, biar bagaimanapun saat ini mereka tengah berada di rumah sakit. Bisa jadi yang Anna lihat itu adalah...... Bulu kuduknya bahkan sudah berdiri tanpa harus ia sebut apa yang dimaksud. "Si brengsek... Kenapa dia datang lagi? Kenapaa??!!" Anna berteriak. Edwin langsung menarik tangan Anna untuk duduk di salah satu bangku yang tak jauh dari mereka. Edwin juga tidak sadar sejak kapan bangku itu ada di sana. Setelah keduanya duduk, Edwin mencoba bertanya pada Anna. "Si–siapa yang kamu maksud Ann?" Anna menatap lekat wajah Edwin. Edwin bisa merasakan ada pendaran kebencian dan rasa sakit dari tatapan itu. Melihat Anna seperti itu, jantungnya terasa di tusuk dengan belati. "Dulu.... Gue menyebutnya Ayah.." Kening Edwin mengkerut tanda bingung, "bukannya kamu bilang kalau Ayah kamu itu sudah meninggal?" Anna mengangguk. "Iya.. Dia udah meninggal tepat di saat gue datangin dia sepuluh tahun yang lalu." Edwin mendengus, mulai deh lo-guenya keluar dari mulut Anna. Tapi ia tak terlalu ambil pusing. "Lo inget ngga sepuluh tahun lalu tepatnya di ulang tahun gue yang ke tujuh belas kalau gue mau ketemu sama Ayah gue?" Edwin mengangguk, ia sangat ingat pada hari itu Anna sangat bahagia sekali, selama berteman dengan Anna baru kali itu mata gadis itu terlihat berbinar-binar. Bahkan ia yang ingin mengantarnya saja pun tidak boleh. Anna memaksa jalan sendiri. "Dan di saat itu dia udah meninggal, Win. Tepat bersamaan saat dia ngga ngakuin gue dan ninggalin gue begitu aja di cafe. Bahkan dia ngga peduli bagaimana gue yang ngeronta-ronta manggil namanya." Keristal bening jatuh begitu saja dari kedua mata Anna. Gadis itu langsung menyeka air matanya yang turun begitu saja tanpa permisi. "Dan di saat gue udah lupa, di saat gue udah menemukan kebahagiaan gue sendiri dengan ibu dia datang. Bahkan gue harus nanganin kasusnya dia. Padahal kalau boleh gue pilih, gue lebih suka dia mati membusuk di penjara. Gue lebih suka dia tersiksa dan merasakan sakit yang gue sama ibu rasain. Tapi gue ngga bisa! Ibu minta gue buat temuin ibu sama dia." "Ayah kamu di penjara sekarang?" Anna mengangguk lagi. "Kemarin gue ketemu dia. Awalnya gue ngga tau kalau dia itu..." Anna berhenti sebentar, kemudian melanjutkan. "Ayah... Karena gue ngga baca secara detil data-datanya dan gue terlanjur semangat buat nanganin kasus itu. Pas gue ketemu, gue ngga nyangka kalau orang itu adalah 'dia'. Satu-satunya orang yang paling ngga ingin gue temui lagi." "Anna.. Dengerin gue,"Edwin menarik dagu Anna agar menatapnya. "Biar bagaimanapun juga dia Ayah kamu. Darahnya dia mengalir di tubuh kamu. Jadi kamu ngga pantas membenci dia." "Lo ngomong kayak gitu karena lo ngga ngerasain apa yang gue rasain, Win." Anna langsung memotong ucapan Edwin, "lo enak, kehidupan lo begitu sempurna. Lo punya ayah seperti Om Reza yang bertanggung jawab dan sayang sama lo dan bunda lo. Gue yakin Om Reza ngga pernah berniat sedikitpun ninggalin bunda lo. Tapi beda sama dia!" Bahkan Anna tak lagi menyebut Ardy dengan sebutan 'ayah'. "Tapi Ann.. Sebentar lagi kita menikah. Dan dia pasti jadi saksi pernikahan kita." Anna mendengus mendengar perkataan Edwin, "itu sebabnya gue ngga pernah mau menikah, Win. Karena gue tahu kalau ayahnya masih hidup, ketika anaknya ingin menikah ayah harus jadi saksi. Itu juga yang buat gue ngga pernah percaya sama laki-laki." "Tapi kenapa kamu mau nerima aku ajak nikah?" Tanya Edwin. "Mungkin karena lo bukan laki-laki." Anna terkekeh saat raut wajah Edwin berubah. "Anjayyy gue akan buktiin kalau gue laki-laki perkasa nanti." "Oh yaaa? Bener nih laki? Kapan mau buktiin." "Nantilah kalau udah sah!" Skak mat! Anna langsung terdiam. Pipinya bersemu merah. Edwin jadi gemas melihatnya. "Betewe, ayah kamu terlibat kasus apa Ann?" Tanya Edwin lagi. "Pembunuhan. Lo tahu ngga berita mantan walikota yang ngebunuh calon ketua umum partai?" Edwin mengangguk. "Itu kasus ayah gue." Astaga! Bukannya itu kasus yang sama kayak Papanya Shelma? Jangan-jangan Anna dan Shelma itu? *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD