"Mau makan apa?" Tanya Edwin pada Anna. Saat ini mereka tengah berada di jalan raya depan rumah sakit.
"Apa aja deh, yang penting warungnya masih buka." Jawab Anna. Anna melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul setengah sebelas malam.
Angin malam berhembus sangat kencang hingga menusuk sampai ke tulang. Anna memeluk dirinya sendiri karena kedinginan. Salahnya sih, karena lupa membawa sweaternya.
"Kode banget sih pengen di peluk." Anna melotot ke pemilik suara itu. Bukannya takut Edwin malah terkekeh geli. Sedetik berikutnya, Edwin menyampirkan jas hitam yang tadi dibawanya ke bahu Anna. Kemudian Edwin membantu Anna untuk memakai jas itu yang sangat kebesaran di tubuh Anna. Jas itu melahap sempurna tubuh Anna.
"Kurus banget sih." Ledek Edwin. Biasanya sih cewek suka kesal kalau membahas berat badannya. Edwin ingin tahu bagaimana reaksi Anna.
"Ini juga lagi usaha gemukin Win." Anna menoleh ke arah Edwin, kemudian pandangannya kembali fokus ke arah depan. Menatap jalanan yang mulai sepi. "Heran ya, diluar sana banyak cewek yang pengen kurus, lah gue di sini malah pengen gemuk." Anna terkekeh sendiri.
"Iya.. Bahkan sampe ada loh Ann yang diet super ketat gitu. Malah jadinya nyiksa diri sendiri. Kalo udah sakit kan ribet. Terus malah ada yang sampe sedot lemak. Mikirinnya aja ngeri."
Anna mengernyit, kok Edwin bisa tahu masalah cewek zaman sekarang?
"Kok lo–kamu tahu, Win?" Tanya Anna.
"Rekan aku di Kejari (Kejaksaan Negeri) ada yang program diet ketat gitu sampe masuk ke rumah sakit. Aku sempet nengokin dia, Ann."
"Oh..." Anna mengangguk.
"Ann..."
"Hm?"
"Bikin perjanjian yuk."
"Apa?"
"Kalo ngomong harus pake aku-kamu. Kalo keceplosan lo–gue dapet hukuman."
"Hukumannya apa?"
"Cium."
"Ish ogah!! Itu sih lo yang menang banyak."
"Ih itu ngomongnya! Sini cium!"
"Ngga mau, titik!"
Keduanya sama-sama tertawa, hingga tanpa terasa keduanya telah berjalan sejauh 500 meter. Mereka melihat tenda milik pedagang kaki lima yang dipasang di pinggir jalan. Keduanya lalu masuk.
"Mau pesen apa?" Tanya Anna. Keduanya duduk bersebelahan. Ohiya meskipun Edwin dari keluarga yang berada, tapi jaksa muda itu tidak malu makan di pinggir jalan seperti ini. Siapa lagi kalau bukan Anna yang ngajarin.
"Biasa." Jawab Edwin singkat.
"Tapi disini ngga ada menu ayam penyet loh." Anna tahu betul makanan kesukaan Edwin itu apa. Katanya ayam penyet di kaki lima lebih maknyusss dari pada yang di restoran-restoran. Jadi setiap mereka makan bersama seperti ini menu itulah yang Edwin pilih.
"Ayam goreng aja, terus minta di penyetin sama abangnya."
"Hahaha bisa aja kamu." Anna tertawa menunjukkan eyes smilenya. Buat laki-laki disampingnya itu gemas sendiri.
"Win.."
"Hm?"
"Kamu itu kalo di persidangan memukau banget lho, tapi kok takut sama hantu?" Tanya Anna menyelidik. Anna tahu banget tadi Edwin ketakutan gitu waktu turun dari rooftop rumah sakit. Sepanjang perjalanan yang mereka lewati hanya ada mereka saja berdua.
"Siapa yang takut?" Edwin mengelak, "aku cuma parno aja. Ya kita kan tadi lagi di rumah sakit. Siapa tau aja kan ada mayat yang lewat."
"Kamu kan biasa tuh bikin dakwaan kasus pembunuhan, terus kalo ada yang ngga sesuai gitu, misalnya yang seharusnya di penjara jadi ngga penjara korbannya ada yang gentayangin kamu ngga tuh?"
"Husss Anna ngomongnya." Tangan besar Edwin meraup wajah Anna. Anna tertawa geli sampai perutnya sakit. Ia suka saat melihat ekspresi Edwin yang ketakutan seperti ini saat sedang digodanya. Tawanya baru berhenti saat seorang laki-laki datang mengantarkan pesanan mereka.
Setelah Anna mengucapkan terima kasih, laki-laki itu langsung pergi. Anna meletakkan ayam penyet pesanan Edwin ke hadapannya dan juga piring yang berisi pecel lele. Menu pilihannya sendiri. Keduanya langsung menikmati makanannya karena sudah merasa kelaparan.
"Win besok aku sidang."
"Biasanya juga sidang terus kan?" Anna menggeleng.
"Ini sidang ayah, Win." Edwin berhenti menyerup es teh nya sejenak, kemudian menatap Anna. "Aku ngga yakin apa aku sanggup?"
"Aku percaya sama kamu, Ann. Kamu pasti bisa." Mata keduanya berpandangan. Anna menatap mata hitam pekat milik Edwin dan Anna seperti mendapat kekuatan di sana.
"Tapi masalahnya sidang itu akan ditayangin secara live. Aku takut ibu nonton, terus jadi sedih."
"Kalau masalah itu kamu tenang aja, nanti aku minta bantuan Mai buat jaga ibu." Mai itu adik kandung Edwin, mahasiswi kedokteran di UI. "Aku antar kamu pulang ya, biar ngga makin kemaleman. Kamu harus jaga stamina buat besok. Fighting!"
*****
Pukul setengah 8 mobil Edwin sudah berada di halaman depan rumah Anna. Edwin membunyikan klakson tiga kali sebagai tanda akan kehadirannya. Kemudian Anna muncul dari balik pintu dengan membawa setumpuk berkas-berkas. Edwin yang melihat Anna kesusahan, segera turun tangan membantu Anna. Peka banget sih, Win.
"Thanks, Win." Kata Anna setelah memasuki mobil Edwin. Anna duduk di samping kemudi. Edwin tak membalas hanya tangannya mengelus rambut Anna.
"Eh ada Mai, maaf ya ka Anna jadi ngerepotin." Kata Anna sedikit canggung, Anna yakin pasti Mai melihat perlakuan Edwin padanya.
"Ngga papa sih ka Ann, Mai juga ngga ada kerjaan di rumah." Ucap Mai tulus.
Dan percakapan lebih di d******i oleh Anna dan juga Mai. Biasalah perempuan, yang dibicarakan banyak. Mulai dari tentang kuliah Mai sampai olshop langganan masing-masing. Edwin hanya geleng-geleng kepala sambil sesekali menanggapi.
Mobil Edwin berhenti di depan rumah sakit. Niat awal memang rencananya mengantarkan Mai terlebih dahulu sebelum akhirnya pergi ke Pengadilan Negeri Jakarta Timur.
"Kamu tau kan apa yang harus dilakukan?" Tanya Edwin memastikan kepada Mai. Mai mengangguk.
"Makasih ya Mai, jadi ngerepotin kamu deh."
"Makasih terus deh kak Ann dari tadi, aku ngga merasa direpotin kok." Ucap Mai bersamaan dengannya yang turun dari mobil.
Do you hear me, I'm talking to you
Across the water across the deep
Blue ocean
Under the open sky, oh my, baby I'm trying.
Semenjak Mai pergi, keduanya terdiam. Yang terdengar hanya suara radio di dalam mobil.
I'm lucky i'm in love with my best friend
Lucky to have been where I have been
Lucky to be coming home again..
Edwin menguatkan pegangan pada stir kemudi. Lagu Lucky dari Jason Mraz feat. Colbie. C sangat tepat menohok hatinya. Entah kenapa ia jadi kesulitan meneguk ludahnya sendiri. Apa lagu itu sesuai dengan keadaannya sendiri?
Hingga sampai lagu itu habis dan berganti lagu lain keduanya masih diam sibuk dengan pemikirannya masing. Edwin penasaran dengan Anna, apa ya yang Anna pikirkan setelah mendengar lagu itu. Edwin melirik ke arah kirinya, ia mendengus saat Anna terlihat biasa-biasa saja seakan tidak terusik sama sekali. Apa hanya dia saja di sini yang merasakan itu sedangkan Anna tidak?
Ketika sampai di PN JakTim keduanya berpisah. Anna sudah bergabung dengan tim penasehat hukum, sedangkan Edwin berjalan memasuki ruang sidang. Benar kata Anna kalau sidang ini ditayangkan secara live, banyak kamera di depan ruang sidang.
Edwin tidak merasa asing lagi dengan kondisi seperti ini, karena ia berkutat dengan dunia hukum dan juga ia telah terbiasa ada di peradilan. Namun bedanya kali ini ia hanya duduk manis dibangku peserta sidang bersama puluhan peserta sidang yang lain.
Diam-diam Edwin tersenyum saat melihat Anna diantata tim penguasa hukum yang sudah duduk di tempat masing-masing. Wajah Anna tampak serius membaca berkas. Entah mengapa Edwin selalu suka bagaimanapun ekspresi yang gadisnya tunjukkan.
Gadisnya?
Apa Edwin sedang mengklaim Anna sebagai miliknya?
"Majelis hakim akan memasuki ruang sidang, hadirin dimohon untuk berdiri."
Edwin serta para peserta sidang yang lain bersama JPU dan juga penasehat hukum berdiri. Hakim masuk ke ruangan sidang melalui pintu khusus, kemudian hakim duduk di tempat duduknya masing-masing. Setelah itu para hadirin duduk kembali setelah mendapat perintah.
"Sidang pengadilan negeri Jakarta Timur yang memeriksa perkara pidana nomor PN/XII/2016 atas nama Ardyansyah pada tanggal 2 Desember 2016 dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum." Hakim ketua membuka sidang diikuti dengan ketukan palu sebanyak tiga kali.
"Edwin?" Laki-laki itu menoleh ke sumber suara saat namanya dipanggil.
"Shelma? Ngapain kamu di sini?"
Gadis itu terkekeh, "ada juga aku yang nanya Win, kamu kok ada di sidang Papa aku? Kamu ngga kerja?"
Papanya? Papanya Shelma berarti juga ayahnya Anna. Mereka bersaudara?
***