17 April 2019 "Mel," panggil ayah saat aku tengah sibuk membereskan kamar. Pria paruh baya yang sudah beruban itu duduk di pinggiran kasur. Sejenak dia memandangku lalu berkata, "Papa mau ngomong sama kamu," katanya. Kuletakkan bantal bersarung ungu lalu duduk di sebelah kanan ayah dengan kedua alis bertaut. "Kamu ini sudah nggak muda lagi, Mel. Sudah banyak temen-temen kamu yang berumah tangga, apa kamu tidak ingin mengikuti jejak mereka?" "Jika Papa mengijinkan pria yang dulu melamar Amel, mungkin sekarang Amel sudah memilik anak," sindirku dengan wajah datar. Ayahku terdiam. Kini sorot matanya menunjukkan ketidaksukaannya padaku. Aku yakin ayah tidak mungkin lupa dengan orang yang kumaksud. "Papa kan sudah bilang. Dia tidak memiliki masa depan. Buat apa kamu masih mempertahanka

