20 Mei 2019 Deru mesin motor honda berwarna hitam itu berhenti tepat di depan gerbang rumah sakit. Aku turun dari jok belakang lalu melepas helm. Kami berdua saling menatap dan melempar senyum seperti sepasang remaja dimabuk Asmara. Tangan kirinya terulur merapikan rambutku yang sedikit berantakan sambil berkata, "Semangat ya kerjanya." Kuanggukan kepala dengan rona merah di pipi dan desiran darah yang mengalir begitu cepat di tubuhku. Sentuhannya masih saja membuat diriku meremang. Sesuatu dalam diriku seperti sedang menggelitik perut hingga rasanya aku tidak berhenti mengulum senyum padanya. "Kamu ... juga," ucapku dengan nada malu-malu. Pria berkacamata itu tersenyum begitu manis menunjukkan gigi gingsulnya. "Makasih. Nanti aku jemput ya." Dia menghidupkan mesin motornya lalu mela

