Bab 14

1105 Words

12 Januari 1996 Malam itu suasana di rumah begitu menegangkan. Aku hampir tidak bisa tidur sama sekali bahkan untuk merangkak ke luar kamar pun tidak berani. Umpatan dan ucapan kotor dari mulut mereka masih terngiang-ngiang di kepala tiap kali kutatap pintu kamarku. Aku meringsut, memeluk kedua lutut dengan kedua mata yang sudah bengkak akibat terlalu banyak menangis. Aku sedih. Aku takut. Tapi, aku juga bingung mengapa mereka saling adu mulut seperti itu? Aku berjingkat ketika mendengar sesuatu yang dibanting. Segera, aku bersembunyi di bawah kolong meja belajar sambil menutupi tubuhku dengan selimut usang. Tubuhku gemetaran. Kurapalkan doa dalam hati berharap mereka berdua segera menghentikan percekcokan itu. Bruakk!!! Aku tercengang ketika ayah membuka pintu kamarku dengan brutal. D

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD