31 Mei 2019 Malam begitu kelabu saat sinar sang rembulan begitu redup dengan udara yang bagiku terasa dingin. Bising kendaraan di sekelilingku masih membuat terasa sendirian di dunia ini. Pandanganku lurus menatap hampa sambil menyetir motor perlahan menuju arah Wonokromo. Dengan hidung merah dan mata yang membengkak, pikiranku masih tertuju pada Ardan. Pria itu tidak menghubungiku lagi bahkan kurasa dia sudah terlanjur amat kecewa. Apa dia benar-benar lelah berjuang? Ah, Tuhan, bagaimana mungkin ada pria yang begitu tulus ingin menikahiku, Engkau persulit jalannya? Atau adakah seseorang yang Engkau siapkan untukku setelah luka yang teramat pedih seperti ini? Aku kembali terisak meski air mataku sudah mengering. Sungguh kadang aku merasa hidup ini sangat tidak adil. Di luar sana banya

