Bab 22

1510 Words

20 Agustus 2014 Malam itu aku dan keluarga besar menghadiri acara aqiqah salah satu saudara kami pasca melahirkan bayi kembar. Saat itu aku begitu bahagia melihat dua bayi perempuan bertubuh sehat dengan kedua pipi yang begitu merah merona. Kugendong salah satu dari mereka setelah acara aqiqah selesai. Ada rasa iri jika melihat perempuan telah menyelesaikan tugasnya. Menikah dan memiliki anak. Apalagi anak kembar. Sejak bangku SMA, aku selalu memimpikan bisa memiliki anak kembar. Hanya saja aku masih menunggu seseorang yang meminagku. Entah kapan. "Wih,  udah pantes gendong bayi nih," celetuk Budhe Susi duduk di sampingku. "Kapan kamu nyusul?" Yang bisa kulakukan hanyalah tersenyum tipis sambil menciumi pipi bayi itu. "Nanti Budhe. Kalau ada yang melamar." "Katanya kamu udah punya pac

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD