Hatiku hancur, sehancur-hancurnya hingga air mata telah terkuras habis. Tidak menyangka pula pilihan yang kubuat ini justru membuatku semakin kacau. Usai mengucapkan perpisahan kepada Ardan, lelaki itu pergi dengan mata memerah menahan amarah. Aku tahu aku salah, mungkin juga aku terlalu memberi harapan bahwa hubungan kami akan semakin baik. Nyatanya tidak! semua semakin runyam! Kebisingan di pinggir jalan itu tidak mampu mengisi kekosongan di hati. Cintaku telah pergi, mimpiku kembali menjadi buih yang akan hilang menjadi kenangan. Dadaku begitu sesak, kupukul dadaku dengan kepalan tangan memohon kepada Tuhan untuk mencabut nyawaku saja. Ah, Tuhan! Mengapa aku tidak pernah bisa bahagia? "Mel ...." suara Arion terdengar lirih, dia mencoba meraih bahuku namun aku menjauh. Bisa terlihat

